
******
Sesampai Rumah Aku dan Mas Agus di sambut Adikku Tita yang sedang belajar Titah masih kecil Dia baru sekolah kelas 2 SMP. Tita tingal bersama Nenek karena Ayahku sudah berpulang menghadap sang pecipta terlebih dahulu.
"Hey Mbak Renata pulang hore.. Hore.." Tita loncat-loncat kegirangan melihatku di bonceng Mas Agus dan turun dari sepedah motor gedenya.
"Alhamdulilah sudah sampai".
"Mas Ayo masuk"
"Kelihatannya Mas gak bisa mampir ya Dek, Mas mau segera pulang ada urusan keluarga"
"oh sayang sekali ya Mas, ya sudah tak apa makasih sudah mau me jemputku"
"Iya sama-sama"
Mas Agus melambaikan tangan kepadaku terlihat senyumannya yang terukir indah menghiasi wajah manisnya.
Aku dan Tita masuk ke dalam Rumag entah kenapa Tita celingukan seperti ada yang di cari.
"oleh-oleh nya mana"
Aku terkekeh melihat tingkah Adekku yang tidak pernah berubah.
"Ayo masuk dulu istirahat pasti capek"
Nenenkku keluar dari tempat sholat dan membawakan tasku Aku yerasa capek perjalanan Jakarta Jogja memang melelahkan.
"Kak mana oleh-oleh nya"Kata Adiku lagi sambil memanyunkan Bibirnya.
"Haha.. Aku tidak membawa oleh-oleh tidak sempat membeli nya kamu lebih memilih oleh-oleh atau Mbak balik ke jakata lagi" Ancamku.
"jangan-jangan, ya sudah mbak istirahat saja. kan biasanya Ibu kalau pulang bawa oleh-oleh jajan yang enak itu lo mbak ku kira Mbak juga bawah tapi ya suda lah"
"Ayo di lanjut belajarnya kan sebentar lagi ujian"Titah ku.
Aku duduk di meja tamu meluruskan kakiku yang sangat pegal.
Entah kenapa Aku teringat dengan Alex yang sudah merendahkan ku.
rasanya sakit sekali aku mnegutuk Alex smoga hidupnya tidak akan tenang.
Drtt.. Drt..
Ponselku berdering sudah terlihat kontak pangilan masuk bernama IBU.
"Assalamualaikum, Iya Ibu Renata sudah sampai barusan ini lagi Duduk".Kataku.
__ADS_1
"Siapa yang bertanya kalau kau sudah sampai, kenapa kau tak izin kepadaku kalau mau berhenti bekerja"Suara laki-laki di sebrang sana Aku mengrenyitkan keningku, Aku tau bahwa suara itu familiar di telingaku siapa lagi kalau buka Alex kenapa dia menelpon ku dengan ponsel milik Ibuku.
"Oh itu, bukanya Tuan yang meminta ku untuk pergi"jawab ku. Aku tidak takut karena kita kan jauh Aku ingin sekali memaki-makinya lewat ponsel namun aku sadar ibuku masih berada di sana.
"Tapi bukan berarti kau harus berhenti bekerja secara nendadak seperti ini"Katanya lagi
"Iya maaf"
"Tidak punya sopan sama sekali berhenti bekerja tidak izin dengan majikan terlebih dahulu".
tut..tut..tut..
Aku mencengkram tanganku dasar laki-laki tidak waras katanya menyuruhku pulang sekarang memarahi ku bukannya dia senang kalau aku sudah puĺang huh.. memang orang kaya selalu seperti itu tidak mau di salahkan semoga hidupmu tenang di sana Alex setelah merendahkan ku huh.. bikin Aku emosi saja.
"sudah makan malam belum"
"Belum nek tadi siang sudah makan sama Mas Agus skarang belum"
"Ayo bersihkan dulu Badanmu dan cepatlah makan lihat badan mu terlihat sangat kurus"
"Benarkah"
Aku melihat badanku ternyata benar saja Aku terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Aku melihat Tita yang masih belajar di meja belajar nya hari ini hari mingu Tita tetap saja fokus belajar memang Adikku ini sangat rajin.
*****
Pov Alexsander.
"sudah Bik makasih ya"Aku menyerahkan ponsel milik Bik Nina entah kenapa Aku ingin menghubungi bocah ingusan itu dan memarahinya.
"Tadi Renata sudah izin sama Nyonta besar Tuan"kata Bik Nina
"Oh iya tak apa"
Aku melangkah keluar dari kamar Bik Nina dan kembali ke kamar ku.
Ting Tong.
Alaram makan malam sudah terdengar di telinga ku, tapi Aku sangat malas untuk berada di meja makan menghadapi dua perempuan yang tidak bisa mengerti keinginan ku dan ujung-ujung nya yang di bahas adalah pernikahan.
"Ayo makan Malqm bersama"Suara lembut itu sudah bisa ku tebak itu Mamiku.
"Iya mi"berjalan malas menuju meja makan sudah terlihat wajah Sley tersenyum mengembang
Aku hanya diam dan duduk saja karena tadi siang dia sudah berhasil merampoku membuatku mengeluarkan uang ratusan juta rupiah hanya untuk membeli dua tas saja.
Sley berdiri mengambilkan Aku makanan dan menuangkan jus di gelasku
__ADS_1
"Makan lah sayang"
"Hem" Jawabku cuek
"Kenapa kamu terlihat murung Ada masalah pekerjaan apa sayang"Tanya Mamiku
"Tidak Mi Aku hanya tidak enak badan"jawabku
Entah kenapa sejak Renata pergi rasanya Aku ingin marah saja apa lagi kata Pak Hari Renata sengaja membawaku ke kamar dan melepas semua pakaian ku gadis ingusan yang terlihat baik ternyata juga bersifat seperti itu Aku menelan ludah getir ketika mengingat ucapan Pak Hari san Bik Retno.
Huh.. Aku sangat kesal ternyata dugaanku meleset ku kira Renata gadis yang polos dan lugu tapi ternyata dia lebih licik daripada Sley.
Aku harus mencari wanita yang baik di mana untuk ku nikahi Aku rasa wanita itu sama saja ingin mengincar hartaku saja.
Malam ini Aku tidak nafsu makan sama sekali Apa lagi Aku harus Drama setiap hari dengan Sley.
"Aku minta minggu depan kamu dan Sley segera meresmikan hubungan mereka Keluarga Sley yang berada di london juga akan hadir di sini"
Huh.. Aku sudah mengira kalau tidak pertunangan pasti juga pernikahan itu saja yang Mami ku bahas setiap harinya Aku hanya terdiam dan mencoba rileks. Aku melihat Sley tersenyum menatapku Aku membalas senyumannya.
"Apa kau menyetujui nya"
"Terserah Mami saja"
"Smoga rencana ku tidak berhasil dan kalian cepat-cepat menjadi sepasang suami istri yang sangat serasi"
Aku hanya membalas kata-kata Mami ku dengan senyuman, Huah serasi Kenapa hidupku selalu kau Atur Mami ingin rasanya Aku menolak tapi Aku tidak mau menyakiti hati Mami karena tolakan ku.
****
Pov Renata.
"Tadi di jemput Agus ya"Kata Ibuku di sebrang sana.
"Iya Bu"
"ya sudah kalau gitu Ibu ingin beristirahat jaga diri baik-baik dan jaga Tita jangan bertengkar membuat Nenek pusing ingat Nenek sudah tua".
"Iya Bu"
Ibuku memutuskan sambungan telepon Aku menengelamkan meletakkan ponsel miliku di atas nakas,
huah.. Enak sekali hidup ini tanpa bekerja, Aku mengeliyat terkaget melihat sesosok Tita yang sudah tersenyum nyengir di depanku.
"Apa jangan bilang kalau mau tidur satu ranjang"
"hehe.. Mbak Tita kangen mau bobok sama Mbak malam ini"
__ADS_1
Sudah bisa di tebak Tita membawa Guling dan selimut ke kamar ku.
"huh, baiklah hanya malam ini ya"