
Lah bukanya tadi dia bilang terpaksa ngajak boyongan ke Jakarta sekarang dimintain cerai bilang ''Jangan ngarep kamu'' terus aku harus gimana Buambang.
Shitt... Aku berdecak kesal melihat Alex tidur di ranjangku tanpa mengunakan busana.
''Hey, emangnya pungung kamu bagus apa?''
''Apasih?'' lagi-lagi Aku melototinya netraku melihat wajahnya yang begitu rupawan seperti pangeran yang Tuhan kirim secara mendadak.
''Kok dikasih pungung?,"ujarnya.
''Terus mau di kasih apa? jangan aneh-aneh, deh"
Aku melengos menutupi wajahku dengan selimut males banget dia minta yang aneh-aneh.
''Hey!"
''Apa?!"
''Sini!"Dia menepuk kasur di sebelahnya. Hey, jangan harap kalau aku harus tidur bersampingan dengan kamu Buambang.
''Eh, sini''Alex menepuk kasur sebelanya lagi.
''Apasih?!"
''Pijitin"Lagi-lagi dia menepuk pundaknya lalu tengkurap.
Hah, gak pake baju cuma pake ****** ***** doang minta dipijiti ogah banget aku.
''Tuan, pake baju dulu. Renata geli ngelihatnya,"kataku dengan halus agar dia menurut.
''Gerah!"
''Sini!"
''Gak, Renata gak mau kalau, Tuan gak pake baju!" tegasku.
''Sini gak?''
''Tapi...?''
''Sini!"
Tanganku ditarik olehnya super duper zebel aku ngelihatnya.
''Hey, setidaknya kamu berterimakasih denganku! kamu gak diusir dari desa gara-gara mesum.''
What, itupun gara-gara dia, jangan sok jadi pahlawan deh, kalau gak ada dia gak mungkin digrebek warga dasar bule sableng.
Drtt..Drtt..
__ADS_1
Ponselku bergetar padahal sudah malam, aku meraih ponselku melihat isi pesan dari Agus kekasihku.
["Segampang itu ya kamu, giliran ada bos tajir kamu langsung campakin aku, Ren! benar-benar matre ya kamu, Ren! nyesel aku kenal kamu'']
Lemes langsung jiwaku Agus menuduhku seperti itu bahkan pernikahan ini tidak sesuai yang aku rencanakan pernikahan grebeg.
[''Maaf"]
Jawabku.
Alex merebut ponselku dan membaca isi pesan Agus dia meringis kesenangan wajah sinisnya terlihat menakutkan.
''Haha, habis patah hati ya?''
''Jadi dipijit, Gak?''
Dia kembali tengkuram, Hih geli-geli gimana gitu lihat pungungnya tanpa mengunakan busana, apa lagi tubuhnya putih mulus dibandingkan dengan kulitku kalah jauh.
Ku raih pundaknya ku pijit dengan keras.
''Hey, apa mau remukin tulangku,"katanya.
Aku memelankan pijatanku
''Hey, gak punya tenaga ya?''
"Terus mau, Tuan. Gimana?''tanyaku sewot.
''Dengan perasaan, dong. Pijitinya!"
Hah, gila kali dengan perasaan, kalau dengan perasaan ya gak kerasa pijitnya mending aku merem terus aku pijit dengan rasa dihati.
''Iya,Tuan." Dari pada aku harus berdebat unfaedah mending aku mengalah saja.
''Tuan, aku gak mau kamu pangil aku, Tuan!"Katanya.
Hih, nyebelin gak sih serba salah banget aku dibuatnya.
''Terus, mau dipangil apa?"Jawabku lagi-lagi sewot.
''Ay, Sayang, Bebeb, Suamiku, Honey atau Pangeran,"
Hah, gak salah denger aku, haha ingun sekali ku muntahkan isi perutku ke pungungnya masa iya aku harus pangil dia Bebeb.
''Tapi, Tuan.."
"Pangil aku, Suamiku Ganteng!"
Hah, gila benerkan bule sableng satu ini masa iya aku harus pangil dia Suamiku ganteng haha ingin sekali aku loncat dari ranjang dan gulu-gulung di lantai mendengar aku harus pangil dia dengan sebutab ''Suamiku ganteng''.
__ADS_1
''Tapi..?''
''Gak usah tapi-tapi!"
Aku diam saja daripada salah bicara mending ku tuntaskan tugasku menijit badanya ini, biar bisa istirahat dengan pulas, apa lagi badanku capek sekali.
''Ren!"
''Apa?"
''Maaf, waktu malam kamis, aku yang salah''
Berdengung seketika telingaku mendengar Tuan muda ini meminta maaf.
''Sudah jangan dibahas, yang lalu biarlah berlalu, Tuan,"ujarku.
''Tuan?''
Dia berbalik badan ketika aku menyentuh pungungnya seketika aku terkaget dan jatuh ke dalam pelukannya. Wah, tubuhnya harum sekali mungkin ini Pafum malah yang ada di toko-toko besar itu.
''Jangan pangil aku, Tuan!"Bentaknya.
''Maaf, aku rasa memangilmu dengan sebutan, ''Suami ganteng'' terdengar sangat lucu,''kataku sambil menahan tawa.
''Terus maunya pangil, apa?''
''Mas Alex''Jawabku tersipu malu.
''Emang aku ini Kakak angkatmu? enak saja pangil, ''Mas'' ogah aku, pangil aku Suamiku ganteng!"
Duh, dasar orang ini kesambet setan apa sih.
''Tuan, eh maaf, Suamiku ganteng''
Huah, ingin terjungkal-jungkal aku mengucapkan kata-kata ''Suamiku ganteng'' apa lagi di depan banyak orang.
''Apa?''
''Lepasin''
Aku sedari tadi dipeluknya apa dia gak sadar kalau aku dipeluk erat sampai gak bisa napas.
''Coba ulangi lagi ''Suamiku ganteng'',"
Hah, ini orang kesurupan beneran deh aku rasa.
''Iya, Suamiku Ganteng''
Hih, terpaksa dong aku ngucapin lagi. bener-bener membuat perutku kaku melihat tingkahnya malam ini kenaoa dia jadi seperti ini sih.
__ADS_1