
Di kota Xx tepatnya disebuah kamar hotel yang letaknya tepat dipusat kota itu, dua sejoli baru saja menghabiskan seluruh tenaga mereka setelah selesai melakukan kegiatan panas ditengah dinginya malam.
"Alexa, apa kau tidak takut, Rico akan marah padamu jika kau tidak pulang malam ini?.." tanya seorang pria kepada Alexa.
"Reno, malam ini aku ingin bersamamu, jadi biarkan aku disini ya?.." ujar Alexa manja.
"Kau tidak perlu mencemaskanku, Rico tidak akan marah padaku hanya karena masalah sepele. Biarkan saja dia, lagipula saat ini aku sedang marah padanya, bagaimana mungkin dia lebih memilih istrinya dibandingkan aku!! lanjutnya sembari menggembungkan kedua pipinya seolah memberi tanda kalau dia sedang merajuk.
Ya, seorang pria yang sekarang sedang bersama Alexa adalah Reno yang juga rival abadi Rico.
Saat masih duduk dibangku SMA, seluruh sekolah telah digemparkan oleh rumor mengenai tiga dewa tampan, dan mereka adalah Rico, Beni dan juga Reno.
Selain tampan dan kaya raya, mereka bertiga juga memiliki otak yang sangat cerdas melebihi siapapun, hingga beberapa kali para guru merekomendasikan mereka untuk mengikuti olimpiade antar sekolah dan tentu saja kemenangan selalu berada ditangan mereka.
Mereka dulunya adalah sahabat yang sangat dekat, kemana mana selalu bersama, hingga suatu hari Reno menyatakan perasaannya kepada seorang adik kelasnya yang bernama Alin.
"Apa kau tau, aku sangat benci pada adikku itu, hanya dalam beberapa hari saja sudah bisa merebut hati Rico." ujar Alexa.
"Maksudmu Nayra? apa kau sedang bercanda? mana mungkin seorang Rico yang cinta mati padamu bisa luluh hanya karena wanita seperti Nayra!" jawab Reno seperti tidak percaya.
"Reno, bukankah kau sudah melihatnya dengan sangat jelas? waktu itu aku kan sudah memberimu kesempatan dengan memberikan obat pada minuman Nayra, agar kau bisa membawanya pergi dari acara ulang tahun kakek malam itu, tapi Rico membelanya mati matian dan mencoba mengambil Nayra kembali darimu, apa kau ingat?!.." ujar Alexa serius.
"Benar juga apa kata Alexa, apa mungkin Rico mulai mencintai Nayra? Kalau itu benar, kurasa aku harus mengganti targetku ke Nayra mulai sekarang." gumam Reno.
"Huuhh.. kalau bukan karena ingin mewujudkan ambisi ku, mana sudi aku menghabiskan malam berhargaku bersama wanita j*Lang sepertimu!! gumam Reno pelan yang ditujukkan pada Alexa.
"Hei lihatlah, wajah cantikmu mulai hilang, berhentilah cemberut seperti itu. Oke oke, baiklah, sekarang coba ceritakan apa saja yang dilakukan Rico akhir akhir ini? ungkapkan segala keluh kesahmu padaku, aku akan menemanimu malam ini, dan sebagai gantinya aku juga ingin mengetahui perkembangan apa yang terjadi diperusahaan milik Rico saat ini.." ujar Reno membujuk serta membisikkan ketelinga Alexa dengan lembut.
"Aku akan menceritakannya setelah kau membuatku puas.." jawab Alexa sembari mencoba merayu Reno dengan trik yang sebelumnya selalu dia gunakan untuk memancing g*irah Rico.
"Baiklah, ayo kita mulai, dan akan kupastikan besok kau tidak akan bisa berdiri tegak dengan kedua kakimu ini.." mengelus lembut kaki Alexa, membalas segala sentuhan manja Alexa ditubuhnya.
"Rico, Alexa, kehancuran kalian akan datang seiring berjalannya waktu. Janjiku untuk membalaskan dendam pada kalian berdua akan segera terpenuhi.." gumam Reno lagi.
**FLASHBACK ON**
Hari Senin, pukul setengah tujuh pagi semua siswa tengah mengikuti upacara bendera ditengah lapangan.
Terik matahari hari ini terasa sangat panas.
"Bruuukkkk...." seorang siswi tiba tiba pingsan karena tubuhnya tidak bisa menahan panasnya matahari saat itu.
Dengan sigap, Reno seorang anggota MPR yang saat itu ditugaskan untuk berjaga, mengangkat tubuh siswi itu untuk dibawa ke ruang UKS.
Beberapa jam telah berlalu, dan siswi itu akhirnya terbangun.
"Klekkkk..." suara pintu terbuka, Reno masuk dengan membawa secangkir teh hangat dan sebotol kecil minyak terapi.
"Hei, kau belum boleh bergerak secara berlebihan. Kembalilah berbaring seperti sebelumnya." ujar Reno meletakkan cangkir teh yang dibawanya tadi keatas nakas disamping tempat tidur UKS, lalu membantu siswi itu untuk berbaring.
"Minumlah ini, dan jangan lupa untuk mengusap minyak ini keperutmu, dan akan lebih baik jika dihirup langsung, itu akan membantumu menjadi lebih baik." lanjut Reno memberikan sebuah botol kecil yang berisikan minyak terapi kepada siswi itu.
"Terimakasih.."ucapnya sembari tersenyum tulus.
__ADS_1
"Deggggg.." seketika jantungnya berdegup dengan kencang, wajahnya pun merona tanpa sadar.
"Uhuukkk... kalau boleh tau, siapa namamu?.." tanya Beni sembari membuang muka karena tidak ingin memperlihatkan wajah merona nya kepada gadis itu.
"Alin, namaku Alin.." jawabnya.
Seketika ruangan itu menjadi sangat sunyi. Tidak ada lagi kata kata yang terucap antara keduanya. Bagi mereka, sangat sulit untuk membuka suara untuk memulai percakapan antara pria dan wanita saat sedang bersama.
"Situasi macam apa ini, sangat canggung.." gumam Rico pelan, sembari tersenyum paksa.
Sedangkan dihadapannya, Alin masih terlihat biasa saja dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.
"Hei, apa kau tidak bisa membuka mulutmu barang sedikit saja? apa kau tidak berniat untuk mengucapkan kata kata walaupun hanya sekedar basa basi? Kau bahkan mengabaikan orang yang sudah menolongmu tadi! Hei, siapa tadi namamu? ahh iya Alin, aku sudah menolongmu tadi, tapi kau mengabaikanku begitu saja, apa kau tau siapa aku? dan apa kau tau berapa tenaga yang sudah aku keluarkan hanya untuk menggendong tubuhmu itu?! Huuhhh tidak disangka tubuh kecilmu itu memiliki berat yang tidak main main, aku bahkan langsung menghabiskan dua botol air mineral setelah menggendongmu tadi.." ujar Reno menjelaskan tanpa memiliki jeda sedikitpun.
"Ppfffttttt...." Alin yang mendengar itu pun tertawa kecil sambil menutup mulutnya.
"Hei, kau sedang menertawai ku ya?.." ucap Reno mengerutkan kedua alisnya.
"Hahahaha... maaf maaf, aku hanya tidak mengira kalau dewa tampan sekolah ini ternyata memiliki sifat yang sangat lucu..." jawabnya sembari tertawa lepas.
Alin berkata saat pertama kali melihat gaya, sikap hingga tutur kata yang keluar dari ketiga dewa tampan sekolah, dia sudah bisa memastikan kalau mereka adalah orang yang sombong dan angkuh. Dan siapa sangka, ternyata salah satu dari mereka adalah orang yang sangat terbuka dan humoris seperti Reno.
Reno pun menjawab perkataan Alin dan mengatakan kalau sifat mereka bertiga sebenarnya sama, hanya saja karena mereka terlalu terobsesi akan pelajaran jadi tidak terlalu menghiraukan lingkungan sekitar.
Percakapan antara Reno dan Alin tidak terasa mulai menyambar kemana mana. Ekspresi senang, kaget, sedih, marah, keluar secara bergantian dari raut wajah Alin sesuai dengan alur percakapan yang mereka ucapkan.
Tanpa sadar senyuman kecil keluar dari bibirnya.
Dimulai dari pertemuan yang tidak terduga, hingga percakapan yang terjadi diruang UKS antara Reno dan Alin telah membuat hubungan antara keduanya menjadi semakin dekat dari hari ke hari, hingga disuatu malam, Reno pun bertekad untuk menyatakan perasaannya kepada Alin secara terbuka.
"Alin, aku mencintaimu. Jadilah pacarku..." ujar Reno tersenyum sembari menggenggam kedua tangan Alin dengan erat.
Sedangkan Alin, tanpa mengeluarkan ekspresi sedikitpun sembari melepaskan genggaman tangan Reno dengan perlahan, dan tanpa diduga yang keluar dari mulut Alin bukanlah kata kata yang diharapkan oleh Reno, tapi malah justru sebaliknya.
"Reno, maafkan aku, tapi aku hanya menganggapmu sebagai sahabat dan tidak lebih. Aku sudah mencintai orang lain. Maafkan aku.." ujar Alin masih dengan tatapan datarnya, seolah tidak terjadi apa apa.
Alin pun mengatakan alasan sebenarnya mengapa dia menolak Reno, bahwa orang yang dicintainya itu tidak lain dan tidak bukan adalah Rico yang juga sahabat baik Reno. Dan dia juga mengatakan, kalau perasaannya itu mulai timbul saat melihat Rico untuk pertama kalinya.
Seperti inikah rasanya dicampakkan? huuuhhh ternyata tidak buruk juga. pikir Reno sembari tersenyum kecil.
Tapi mengapa hatiku sangat sakit, apalagi saat mengetahui kalau orang yang mencampakanku sebenarnya telah lama memendam perasaannya terhadap pria lain, dan pria itu adalah Sahabat dekatku.
Pikiran Reno mulai kacau dan tidak stabil, tanpa sadar air matanya menetes dengan sendirinya.
"Ehh, ada apa denganku? apakah aku sedang menangis? itu hanya seorang wanita saja bukan, mengapa harus ditangisi?" gumam Reno yang sedang menatap kosong setetes air mata dijarinya yang telah dia dapatkan setelah memegang pipinya tadi.
.
Alin sudah dari tadi pergi meninggalkannya sendiri ditempat yang menurutnya sudah dia tata dengan begitu sempurna.
Tempat yang seharusnya menjadi tempat bersejarah bagi dirinya dengan Alin untuk memulai suatu hubungan, kini menurutnya telah menjadi tempat yang sangat menyedihkan.
Pemandangan yang sebelumnya indah dan menyegarkan mata dengan sejuknya udara angin malam, kini sudah terasa biasa biasa saja, bahkan terasa begitu hampa menurutnya.
__ADS_1
Dan mulai saat itulah, Reno yang dulunya adalah pria baik baik, telah membulatkan tekad dan memutar segala kepribadiannya untuk tidak memikirkan perasaan pribadinya, dan lebih mementingkan kebutuhannya saja.
Kini, Reno, telah resmi menjadi Playboy hanya dalam satu malam saja.
.
Hari telah berlalu, hubungan keduanya masih terlihat dekat seperti biasanya, seolah kejadian sebelumnya tidak pernah terjadi.
Dan suatu hari, saat Alin sudah bertekad akan menyatakan cintanya kepada Rico, seketika diujung lorong kelas, dengan nyata dihadapannya telah memperlihatkan sebuah kejadian yang sangat mengejutkan baginya.
Kejadian saat Rico baru saja menyatakan cintanya kepada Alexa, yang juga adalah sahabatnya itu.
Hati Alin seketika hancur tak tersisa. Air matanya mengalir dengan derasnya.
Tanpa sadar, Reno yang tidak jauh dari tempat Alin berdiri dan menyaksikan semua kejadian antara Rico dan Alexa barusan, mengepalkan kedua tangannya, giginya bergeretak hebat, wajahnya menjadi merah padam karena geramnya.
Sebenarnya dia sudah mengetahui itu sejak lama, hanya dengan melihat segala apa yang dilakukan antara Rico Alexa dan Beni sebelumnya, dia pun telah menarik kesimpulan dan menyadari satu hal, kalau mereka bertiga telah memiliki hubungan yang tidak mudah, alias rumit, yang artinya adalah sebuah cinta segitiga telah terjadi diantara mereka.
Karena tidak ingin membuat Alin tersakiti seperti halnya dirinya waktu itu, dia lebih memilih untuk tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Alin saat waktu dia ditolak mentah mentah malam itu.
.
Esok harinya, hari seperti biasanya berjalan lancar dengan semestinya, sampai kabar mengenai Alin telah pindah dari sekolah baru saja terdengar ditelinga Reno.
Entah mengapa dia seperti sudah tau alasan mengapa Alin tiba tiba saja pindah. Pikiranya seketika langsung tertuju pada Rico dan Alexa.
Reno semakin geram lagi saat melihat hubungan antara Rico dan Alexa kian hari semakin lekat.
Apa apaan perbuatan mereka itu? Mereka sudah membuat Alin menderita hingga tidak sanggup untuk bertahan disekolah ini lagi, dan mereka malah makin terlihat bahagia saja. pikir Reno geram.
"Walaupun aku telah bermain main dengan berbagai wanita diluar sana, tapi hatiku hanya mempunyai satu tujuan, yaitu kau Alin.." gumam Reno pelan.
Mulai hari ini, Reno sudah bertekad akan membalaskan dendam Alin kepada Rico dan Alexa.
Kebenciannya terhadap dua sejoli itu semakin hari terus menjadi jadi tanpa alasan tertentu.
Reno mulai menjauhkan diri, dan memulai hidup barunya sendiri tanpa harus bergabung dengan mereka seperti sebelumnya, hingga akhirnya dia mengungkapkan kata kata mengejutkan untuk menantang Rico sebagai rivalnya.
Hanya karena wanita, hubungan persahabatan mereka seketika mulai retak dan menjadi hancur tak tersisa.
Apakah begini rasanya, saat seseorang jatuh cinta, dan seketika itu juga kita menjadi jahat, lupa, buta bahkan tuli, akan kehidupan sebenarnya yang ada didepan mata, hanya karena takut kehilangan kepercayaan orang yang kita cintai.
**FLASHBACK OFF**
"Beni, besok pulanglah untuk makan malam bersama keluarga, jangan lupa untuk mengajak Rico dan Alexa untuk ikut serta." ujar seorang wanita dari sambungan telepon.
"Baiklah bu, tapi lain kali buatlah alasan yang lebih masuk akal, mana mungkin kau memintaku pulang hanya untuk makan malam saja. Aku tau itu hanya sebuah omong kosong karena sedang merindukanku, aku juga sangat merindukanmu kok." jawab Beni tersenyum rayu.
"Dasar bocah nakal, kau selalu bisa membuatku kehilangan kata kata.." ujarnya lagi dalam sambungan telepon.
"Baiklah baiklah, ibu menang kali ini. Sekarang aku sedang bekerja, jadi aku akan menutupnya. Aku akan menghubungi mu lagi nanti, by..." ujar Beni sembari menutup sambungan teleponnya.
"Huuhhh... sebenarnya aku sedang malas pulang karena hal itu. Saat menelfon barusan, ibu juga tidak terlihat seperti biasanya saat sedang merindukanku. Atau jangan jangan kali ini ayah yang memintaku pulang? Ahhh sudah pasti nanti akan membahas soal pertunangan lagi.." gumam Beni kecewa.
__ADS_1