MENJADI ISTRI YANG TIDAK DICINTAI

MENJADI ISTRI YANG TIDAK DICINTAI
BAB 3


__ADS_3

Nayra merasa sangat bosan setelah kepergian Bayu beberapa hari lalu. Dia tidak tau harus berbuat apa.


Nayra ingin sekali membantu bibi Zu di sawah belakang rumah tetapi dengan tegas dilarang oleh bibi Zu.


Bukan tanpa sebab bibi Zu melarangnya, dia hanya tidak ingin Nayra kelelahan, apalagi Nayra belum sepenuhnya pulih dari luka lukanya.


"Ahh... aku merasa sangat bosan..." Gumamnya sambil menjatuhkan tubuhnya di ranjang.


"Nayra, bisakah bibi meminta tolong padamu?.." tanya bibi Zu memasukki kamar Nayra.


"Katakan, bibi perlu bantuan apa dariku?.." seketika berlari kearah bibi Zu, menggenggam dengan erat kedua tangannya dengan kedua bola mata yang berbinar binar...


"Emmm,,, bisakah kau pergi ke pasar untuk membelikan ku sesuatu?..." sembari memberikan kertas kecil yang berisikan apa saja yang harus dibeli kepada Nayra.


"Baiklah bibi, terimakasih..." perlahan melepaskan genggamannya, lalu pergi dengan cepat.


Di suatu tempat tampak sepasang mata yang sedang mengintai dari jarak yang cukup jauh.


"Tuan, aku sudah menemukannya.." ucap seorang pria memegang ponsel dengan telepon yang masih tersambung dengan seseorang.


""Baiklah tuan..." lanjutnya singkat.


Suatu sore di sebuah vila mewah dikota, terdengar suara wanita berteriak dengan sangat lantang memenuhi seisi ruangan.


"Siapapun tolong aku...." teriaknya.


"tapppp...tappp...tappp...." suara sepatu mendekat kearahnya.


Membuka penutup matanya sambil menyeringai.


"Apa kau bahagia dengan kehidupan barumu?.." tanya pria itu dengan ketus.


"Nayra membuka matanya perlahan, melihat dua orang pria dihadapan, salah seorang dari mereka tengah duduk di sofa dengan sangat anggun.


"Terimakasih tuan sudah menyelamatkan ku, tapi bisakah kau melepaskan ikatanku?.." ucap Nayra yang masih sibuk dengan kedua tangannya yang masih terikat.


"Ahh.. sayang sekali, tapi aku tidak sebaik itu nona.." ucapnya sambil mencengkram dagu Nayra dengan sangat kuat.


"Tuan, kumohon lepaskan aku... bibiku sekarang pasti sedang mencemaskan ku..." ucap Nayra lirih. Tanpa disadari bulir bulir cairan bening jatuh dipipinya.


melihat air mata itu, salah seorang lainnya yang berada disitu seketika berdiri.


"Hey, tidakkah itu terlalu kasar?..." Ucapnya sambil menatap sendu kearah Nayra.


"Mulai besok dia akan menjadi pengantinku, tentu saja aku bisa melakukan apapun padanya.." ujarnya kembali dengan senyuman licik.


"Baiklah Rico, sesuai keinginanmu.." seraya berjalan menuju pintu lalu berhenti sejenak karena ucapan Rico.


"Mengapa pergi? kita sudah sepakat bukan, untuk menyiksanya bersama.. Sudahlah, aku tau betul sifatmu seperti apa. Keluarlah sekarang juga sebelum kau melihat adegan yang lebih sad*s dari ini..." ucap Rico pada Beni yang akhirnya keluar begitu saja.


"Aarrggghhhh.... sakitt..." jerit Nayra.


"Tuan, apapun kesalahan ku padamu sebelumnya, maafkan aku, tolong lepaskan aku... Aarrrggghhhhhh...." suara Nayra semakin menjadi jadi karena kesakitan.


"Heyy Beni, bukankah ini yang kau mau? melihat orang yang mencelakai Alexa juga ikut menderita? Mengapa kau begitu lembek hanya dengan air matanya saja?!.... gumamnya dalam hati.


Beni masih terdiam mematung, berdiri di sebalik pintu luar ruangan tempat Rico dan Nayra berada. Terdengar jelas suara jeritan Nayra memenuhi seisi bangunan.


"Tuan, aku akan melakukan apapun padamu, tolong jangan pukul aku lagi...." suara lirih Nayra membuyarkan lamunan Beni.


Ketika hendak melangkahkan kakinya menjauh, Beni mendengar ucapan memohon Nayra kepada Rico, tanpa sadar Beni membuka pintu itu secara spontan.

__ADS_1


Seketika matanya membola karena begitu terkejut melihat Nayra yang terbaring dilantai dengan tubuh lebam dan dipenuhi dengan luka say*tan benda tajam. dar*h merah segar yang mengalir dilantai itu membuat Beni tidak tega akan meninggalkannya dengan Rico yang begitu sadis menurutnya.


"Rico, kurasa sudah cukup untuk hari ini.. Biarkan dia ku obati, setelah itu lakukan sesukamu.." ujar Beni sambil menopang Nayra.


"Terimakasih tuan untuk menolongku...." ucap Nayra lirih sambil tersenyum tulus pada Beni.


"Deegggg...." Jantungnya berdetak kencang, Beni yang melihat senyuman itu entah mengapa membuatnya merasa kasihan dan juga luluh seketika terhadap Nayra.


Beni dan Rico sudah mengetahui semua hal mengenai Nayra saat ini. Setiap ditail hiruk pikuk kehidupan Nayra semenjak kecelakaan itu, mulai dari Nayra yang terkena amnesia sampai bibi Zu yang merawatnya.


Tapi, ada satu hal yang mereka lewatkan, yaitu antara Nayra dan juga Bayu.


Di tempat lain, bibi Zu yang sangat mencemaskan Nayra akhirnya menghubungi Bayu segera. Dijelaskannya perlahan kepada Bayu, dan itu membuat Bayu sangat geram.


"Tenanglah bibi, tunggulah kabar dariku, aku akan menyuruh beberapa pengawalku untuk mencarinya, dan akan aku pastikan Nayra baik baik saja sekarang.."


Mendengar perkataan Bayu, bibi Zu merasa sedikit legah. Dia tau kalau Bayu sangat bisa diandalkan.


"Baiklah Bayu terimakasih, bibi akan menunggu kabar darimu secepatnya.." ucapnya lagi dalam sambungan telepon yang akhirnya di tutup oleh Bayu.


Segeralah Bayu menyuruh beberapa pengawalnya mencari keberadaan Nayra saat ini.


Bayu sangat cemas mengenai hilangnya Nayra melebihi cemasnya pada pahitnya pernikahannya yang akan dilangsungkan sore nanti.


"Saya berjanji akan menerima Bella dalam keadaan susah atau senang dengan penuh rasa bahagia.." ucap Bayu sebagai janji pernikahannya dengan Bella.


"Saya berjanji akan menerima Bayu dalam keadaan susah atau senang dengan penuh rasa bahagia.." sambung Bella kepada Bayu sebagai janji pernikahannya.


"Prookkk...prrookkk...prroookkkk..." suara tepuk tangan menggema seketika.


Bayu menggenggam tangan Bella, lalu mencium keningnya perlahan dengan sangat lembut.


Wajah Bayu memang terlihat bahagia, tetapi jauh didalam lubuk hatinya, dia sangat merasa cemas, gelisah, marah, bercampur aduk menjadi satu.


.


Setelah acara selesai, Bayu dan Bella pulang ke rumah Rico.


"Kakak, sudahkah kau mengenal suamiku? tanya Bella pada Rico manja.


"Ya, aku sudah tau semua tentangnya." jawab Rico singkat.


Jauh sebelum hari pernikahan mereka, Rico telah diam diam mencari tau informasi tentang kehidupan Bayu saat tau kalau Bella akan dijodohkannya. karena dia ingin memastikan kalau orang yang akan menikahi adiknya itu adalah orang yang baik, dan setelah itu Rico pun yakin dengan pilihan kakeknya untuk Bella.


"Mulai hari ini kalian berdua akan tinggal disini bersamaku. Aku tidak ingin Bella kenapa kenapa karena keteledoran mu nantinya." lanjutnya Rico ketus sambil melirik tajam pada Bayu.


Bayu hanya diam saja tanpa memperdulikan perkataan Rico barusan, karena seluruh isi kepalanya saat ini hanya dipenuhi Nayra.


Rico dan Bella adalah saudara tiri. Walaupun beda ibu, Rico sangat menyayangi Bella sepertinya adik kandungnya sendiri, karena sedari Bella dilahirkan, Rico lah yang menjaga dan terus menemaninya hingga akhirnya dia menikah.


Karena begitu menyayangi adiknya, Rico sangat mencemaskan Bella yang sekarang baru saja menikah.


Rico sangat trauma terhadap kejadian yang menimpa Alexa baru baru ini. Entah kenapa dia takut orang yang begitu dipercayai dan sangat dicintai Bella itu membuatnya berakhir tragis seperti Alexa nantinya, maka dari itu Rico secara tegas menyuruh Bella dan juga Bayu tinggal dirumahnya, setidaknya untuk memastikan bahwa Bella akan baik baik saja setalah menikah dengan Bayu..


"Nayra, sebenarnya kamu kemana?..." Bayu duduk melamun di balkon kamarnya sembari menyesap sebatang benda kecil panjang lalu menyembulnya hingga kepulan asap keluar dari mulutnya.


Entah kenapa saat ini pikirannya hanya dipenuhi oleh Nayra yang memenuhi isi kepalanya.


Bayu masih menatap banyaknya bintang berkelap kelip yang membentang di langit malam. Seketika terlintas kenangannya bersama Nayra saat berada di desa kecil beberapa hari lalu, sesekali dia tersenyum kecil.


"Apakah Sekarang aku sudah gila, tersenyum malu hanya karena memikirkan senyuman wanita lain yang sekilas mirip ibu?..." gumamnya sembari tersenyum lagi.

__ADS_1


"Mungkinkah sekarang aku sedang jatuh cinta? ahhh.. tapi mana mungkin ini di sebut cinta, bukankah kita baru saja kenal.." gumamnya lagi.


"Tunggu, mengapa sekarang aku memikirkannya, dia hanya orang asing bukan?,.."


"Tapi kenapa saat berada didekatnya aku merasa begitu akrab dan nyaman?.."


"Bahkan sebelumnya aku sempat berpikir untuk kembali kesana dan melamarnya setelah urusan disini selesai*.."


Beberapa jam berlalu, Bayu masih terus beradu argument dengan pikirannya sendiri.


"Sudahlah, sekarang aku akan fokus untuk menemukannya terlebih dahulu. Urusan perasaan aku akan mengatakan padanya nanti saat Nayra sudah ketemu.." gumamnya lagi.


Perasaan Bayu kali ini sudah dipastikan dengan jelas, bahwa dia sekarang benar benar sudah jatuh cinta pada Nayra.


"Sayang, apa kau tidak menginginkannya?..." ucap Bella memeluk tubuh Bayu dari belakang.


"Bella, kita sudah lama berteman, apa menurutmu menikah dengan cara seperti ini akan membuat kita sama sama bahagia? Aku tau kau pasti juga terpaksa melakukannya, kita berdua sama sama terpaksa bukan?!..." melepaskan pelukan Bella, lalu menatapnya dengan intens.


"Bayu, aku mencintaimu.." seketika membuat kedua mata Bayu membola.


Menyentuh pipi Bayu, lalu perlahan mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Bayu dengan lembut.


Bayu tidak memiliki perasaan sama sekali terhadap Bella, tetapi tidak dengan tubuhnya.


Walaupun tanpa perasaan cinta, Bayu terpaksa melakukannya karena tubuhnya yang sama sekali tidak bisa diajak kompromi.


Bayu membalas ciuman Bella dengan lembut, tangannya mulai meraba kemana mana.


Menjatuhkan tubuh Bella diatas ranjang besar dikamar itu, lalu mulai melepas satu demi satu kancing baju miliknya.


"Baiklah, kau yang minta..." ucap Bayu dengan nafas yang sedikit naik turun tak beraturan.


"Sayang, lakukan dengan perlahan..." Sebelum Bella melanjutkan perkataannya, dilu*atnya langsung bibir Bella.


"Bella, akan kum*sukkan perlahan., katakanlah jika itu sakit, aku akan segera menyudahinya.." ucap Bayu sambil memandang wajah Bella dengan penuh arti.


Sekarang tubuhnya sepenuhnya benar benar sudah hilang kendali.


"Sayang, tubuhku sepenuhnya milikmu. Maka lakukanlah sesuai keinginanmu.." jawab Bella sambil menyentuh pipi Bayu.


"Aahhhh..." keduanya mengerang bersamaan saat tubuh mereka sudah saling menyatuh satu sama lain.


"Sayang, walaupun itu sakit, selama kau merasa n*kmat aku akan memberikannya padamu kapanpun kau mau..." ucap Bella kemudian mencium bibir Bayu lagi.


Hentakan demi hentakan diluncurkan Bayu, sampai akhirnya pelepasan pun akan datang.


"Nayra, aku sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi.." ucap Bayu dengan suara tertatih dengan nafas yang tidak beraturan.


Mendengar perkataan Bayu barusan, Membuat Bella sedikit terkejut. Tetapi Bella tidak terlalu memikirkannya, mungkin saja dia salah mendengar, pikir Bella.


"Nayra, bersiaplah aku datang.... ahhhhh...." de*ahan Bayu keluar begitu saja saat pelepasan itu datang, begitu kuat diakhiri dengan nama Nayra, bukan Bella.


Bella hanya diam membisu, ternyata perkataan Bayu tadi benar adanya. Pendengarannya masih sangat jelas.


Bayu memanggil nama Nayra, bukannya aku. pikirnya lagi masih diam membisu menatap langit langit ruangan kamar yang tadinya begitu ramai menjadi sunyi sepi.


Bayu membaringkan tubuhnya di sebelah Balla, tanpa berkata kata lagi.


"Maaf Bella, entah kenapa dihati dan pikiranku saat ini hanya ada nama Nayra.." gumamnya Bayu pelan masih dengan nafas yang terengah engah.


Karena merasa kelelahan, Bayu pun tertidur sambil membelakangi Bella yang masih diam mematung disana.

__ADS_1


"Nayra? apa mungkin Nayra adiknya kak Alexa?..." gumamnya pelan sambil menatap punggung Bayu.


__ADS_2