
Di dalam pesawat, Bayu selalu kepikiran akan Nayra yang sedang terbaring di tempat tidur.
Dia masih terbayang bayang akan kebersamaannya dengan Nayra di desa kecil itu.
Perasaan bahagia dan nyaman tercampur menjadi satu didalam ikatan yang tak menentu antara dirinya dan juga Nayra.
"Padahal baru beberapa jam berlalu, entah kenapa aku mulai merindukan mu Nayra.. tunggulah beberapa hari, aku akan kesana lagi untuk menemuimu.." gumam Bayu seraya tersenyum sambil memandangi wajah Nayra yang sedang tersenyum dilayar ponselnya.
flash back on...
Dua hari sebelumnya..
"huhh...huuuhhh...huuhhh.. kumohon, seseorang tolong aku...." suara lirih seorang wanita berjalan tertatih tatih dengan beberapa luka di tubuhnya. Diantara luka lukanya, bagian kepala lah yang paling parah dan banyak mengeluarkan darah.
Setelah berjalan cukup jauh, dia menemukan sebuah desa kecil diantara rimbunnya pepohonan dihutan itu.
Ketika hendak memasukki desa itu, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik melihatnya dan segera membantunya tanpa bertanya apapun.
Perlu waktu beberapa jam sampai Operasi kecil itu selesai.
"Bagaimana dokter Li, apa dia baik baik saja?.." tanya wanita itu cemas.
"Tenanglah Zu, dia baik baik saja sekarang. Hanya saja...." Belum sempat melanjutkan perkataannya, wanita itu seketika menyambar tangan dokter Li seperti memohon lalu memotong perkataannya.
"Hanya saja apa?... Apa dia akan mati?..." ucapnya.
"Huufftt... tenanglah Zu, sudah kukatakan dia baik baik saja. beberapa menit setelah operasi kecil tadi dia sempat bangun dan seperti orang kebingungan, ditanya pun katanya dia tidak mengingat apa apa. Sepertinya dia mengalami amnesia karena pendaran hebat diotaknya, ingat untuk tidak memaksanya mengingat kejadian apapun padanya dulu, karena bisa membuat segala sesuatunya menjadi fatal." jawab dokter Li segera. Bibi Zu hanya diam tak bergerak mendengar kelanjutan penjelasan dokter Li.
"Padahal kita baru saja bertemu, tapi mengapa aku seperti merasa begitu akrab denganmu?.." gumamnya dalam hati.
Ya, dia adalah bibi Zu.
Setelah sadar, segeralah dilayani Nayra dengan penuh kelembutan oleh bibi Zu.
"Siapa namamu?.. sebenarnya apa yang terjadi sebelumnya padamu?.." tanya bibi Zu lembut.
Terdiam sejenak, mencoba mengingat ingat apa yang terjadi sebelumnya padanya, tetapi tidak mendapatkan jawaban sama sekali.
Seketika muncullah satu nama yang dia ingat dengan jelas.
"Nayra..." jawabnya pelan.
"Apakah namamu Nayra?.." tanya bibi Zu lagi.
"Ya, sepertinya begitu.." jawabnya dengan singkat.
__ADS_1
"Ahhh..." gumam Nayra pelan sambil memegang kepalnya.
Melihat Nayra seperti itu membuat bibi Zu tidak bertanya lebih dalam lagi kepadanya.
"Sudahlah, berhenti berpikir, itu bisa membuatmu terluka. Istirahat lah dengan tenang disini. Dokter Li mengatakan kau sudah baik baik saja sekarang dan Besok kita sudah bisa pulang.." tersenyum ramah sambil mengusap kepala Nayra dengan penuh kelembutan.
"Maaf, anda siapa?.." Tanya Nayra bingung.
"Panggil saja aku bibi Zu. Namaku Zusi, dan mulai hari ini kau akan tinggal bersamaku.."
"Baiklah bibi Zu, terimakasih..." jawabnya dengan senyum manisnya.
Bibi Zu yang melihat senyuman itu, entah mengapa membuatnya menjadi begitu tenang dan bahagia.
Sesampainya dirumah, bibi Zu mendapati Bayu yang sudah duduk dengan santainya di balkon lantai dua bangunan miliknya, akan tetapi dibiarkannya begitu saja duduk sendirian, karena dia tau kalau Bayu berkunjung kerumahnya pasti karena ada masalah dirumahnya.
Malam hari, bibi Zu membangunkan Bayu yang sedang tertidur lelap di sofa ruang tamu untuk makan bersama.
Mata Bayu seketika tertuju pada Nayra yang sedari tadi tidak disadarinya.
Melihat bibi Zu dan Nayra berbincang sambil tersenyum ria didapur mengingatkan Bayu pada ibunya.
"Siapa wanita itu?... Senyumannya terlihat seperti ibu. Sangat cantik.." gumamnya pelan, tersenyum bersandar dipintu dapur dengan kedua tangannya menopang diantara dada bidangnya.
Rasa penasaran muncul dari benaknya.
Saat makan tidak ada yang berbicara, tetapi sepasang mata selalu tertuju kearah Nayra. Ya, Bayu sedari tadi menatap Nayra dengan penuh arti.
"Ehemmm...." deheman bibi Zu seketika membuyarkan kegiatan Bayu tadi.
"Bayu, ini Nayra. Mulai hari ini dia akan tinggal disini bersama bibi.." ujar bibi Zu.
"Dan, Nayra ini Bayu ponakan bibi. Walaupun baru pertama kali bertemu, aku harap kalian bisa akrab.." lanjut bibi Zu
"uhhuukkk...uhhuuukk.." membuat Bayu tersedak seketika.
"Bibi Zu, aku kesini karena ingin menghindari perjodohanku dengan Bella, dan sekarang kau masih mau menjodohkan ku?..." ucapnya Bayu ketus.
Nayra yang mendengar perkataan Bayu seperti membuat Nayra merasa bersalah karena berada diantara keluarga yang sama sekali tidak dikenalnya itu.
"Maaf bibi Zu, sepertinya aku sudah selesai.. Aku akan membersihkan piringku terlebih dahulu.." seraya berlalu meninggalkan bibi dan ponakan itu.
"Bayu, aku tidak berharap kau bersamanya, tapi bibi mohon padamu untuk menemaninya satu hari penuh besok.." bibi Zu meminta belas kasihan kepada ponakannya itu.
"Tapi bibi, kenapa harus aku?.. Dan siapa dia sebenarnya?.." tanya Bayu dengan intens.
__ADS_1
Bibi Zu menjelaskan semua yang terjadi kepada Bayu, mulai dari awal pertemuannya dengan Nayra, penyebab kepalanya diperban, hasil diagnosa dokter Li, dan perasaan akrab yang dialaminya ketika berada di dekat Nayra.
Mendengar semua itu, mau tidak mau Bayu pun meng iyakan permohonan bibinya. Karena baginya, bibi Zu adalah ibu kedua nya setelah ibu kandungnya meninggal.
Ibu kandung Bayu meninggal sejak dia usia 7 tahun. Ketika ayahnya menikah lagi, Bayu yang tadinya diasuh oleh bibi Zu, tiba tiba diambil alih oleh ayahnya karena suatu alasan, yaitu menjadi penerus untuk perusahaan milik ayahnya. Sedangkan hubungan antara bibi Zu dan ayahnya baik baik saja. Walaupun Bayu sudah bersama ayahnya, dia masih selalu berkunjung ke rumah bibinya yang berada di desa yang kecil itu.
Hanya satu alasan bibi Zu ingin menetap di desa kecil itu dibandingkan hidup bergelimang harta di kota besar, karena rumah yang sekarang dia tinggali ini adalah pemberian dari mendiang suaminya yang sudah lama meninggal.
Bayu sangat menyayanginya bibi Zu, seperti dia menyayangi ibunya. Dan dia akan pastikan untuk tidak membuat bibi Zu kecewa padanya.
"Apa kau tau, senyumannya seperti senyum ibumu?.. Entahlah, mungkin senyuman itu yang membuatku merasa akrab dengannya.." ucap bibi Zu pada Bayu.
Bayu sendiri juga merasakan hal yang sama.
"Tapi, apa bibi tidak takut kalau dia adalah orang jahat?.." tanya Bayu.
"Bibi pikir sepertinya bukan hanya bibi saja yang mengira kalau Nayra itu berbeda dari gadis lainnya." ucap bibi Zu sembari melirik Bayu.
"Iya, sebenarnya waktu pertama kali melihatnya, aku sama sekali tidak merasa terancam apalagi terganggu dengan kehadirannya.. Aku akan coba mencari tau tentang kehidupannya sebelumnya." jawab Bayu spontan sambil memandangi punggung Nayra yang berada didapur.
"Ya, jika dipikir pikir lagi, aku akan mempertimbangkan permohonan bibi tadi, untuk menemaninya seharian penuh besok.." lanjut Bayu sambil tersenyum.
"Mungkin dengan bersamanya aku bisa melupakan wanita itu..." gumam Bayu pelan.
Keesokkan harinya, Bayu dan Nayra bersama selama seharian penuh. Entah mengapa Bayu merasa nyaman berada didekat Nayra. Dan saat itulah awal mula kedekatan antara Bayu dan Nayra.
Saat tiba waktunya Bayu hendak berangkat ke kota, Nayra yang melihat berita di televisi tentang sebuah kecelakaan yang mengakibatkan tunangan seorang presedir tampan bernama Alexa mengalami koma dirumah sakit, membuat Nayra terkejut.
Entah kenapa dia merasa begitu familiar dengan wajah Alexa yang terpampang jelas di layar televisi itu.
Nayra mencoba untuk mengingat ingat siapa wanita itu, dan akhirnya membuatnya seketika terjatuh dan pingsan.
"Sudah kukatakan untuk tidak memaksanya mengingat ingat kejadian apapun, kenapa masih keras kepala..?" ucap dokter Li dengan suara tegasnya.
"Tapi untung saja kalian cepat memanggilku,." lanjutnya lagi.
Bibi Zu dan Bayu hanya bisa terdiam memandangi Nayra yang sedang terbaring diatas ranjang masih dengan perban dikepalanya.
Karena desakkan ayahnya, Bayu sudah tidak bisa berlama lama lagi dirumah itu, dia pun berpamitan dengan bibi Zu dan memintanya untuk menjaga Nayra dengan ekstra hati hati.
Lalu berjalan ke arah Nayra, membisikkan sesuatu ketelinganya lalu berlalu pergi.
*flash back off....
Sesampainya di kota, Bayu mau tidak mau harus menerima kenyataan pahit bahwa dirinya akan menikah dengan seorang wanita yang tidak dicintainya atas permintaan ayahnya.
__ADS_1
"Nayra, tunggulah aku.. akan kupastikan untuk menjemput mu, dan aku akan melamarmu segera saat masalah ini selesai.." gumam Bayu mengeratkan pegangannya digagang koper.