
Pagi hari saat matahari belum menampakkan dirinya, terlihat langit masih gelap, beberapa bintang masih bertaburan membentang dan mengisi seluruh permukaan langit.
Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari, disaat semua orang masih tertidur dengan nyenyak nya, Nayra sudah harus mengutak atik segala keperluan dapur, membersihkan segala debu dan kotoran yang bertebaran di setiap sudut lantai maupun yang menempel diberbagai perabotan dan disegala hiasan pajangan yang terpampang nyata di seisi rumah.
Saat waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, semuanya sudah terselesaikan.
Hari ini tidaklah seperti hari biasanya, bahkan seisi rumah terutama Nayra pun begitu terkejut dengan perlakuan Rico secara tiba tiba. Bagaiman tidak, Nayra yang biasanya harus menunggu sampai semua orang yang berada dimeja makan selesai memakan makanannya, setelah itu baru lah dia juga makan, tetapi tidak untuk hari ini.
Setelah selesai meletakkan semua makanan diatas meja, ketika hendak berjalan pergi, seketika dicegah dan ditariklah tangan Nayra oleh Rico.
"Ehemm... mulai hari ini, makanlah di meja makan." ucap Rico dengan suara datar seraya melanjutkan santapannya.
"Maaf tuan, tapi saya tidak pantas berada diantara semua orang, saya sadar akan posisi saya.." jawab Nayra pelan.
"Aku tidak akan berkata untuk yang kedua kalinya!!" sambung Rico.
"Terimakasih tuan, saya merasa sangat beruntung.." lanjut Nayra.
Ketika hendak duduk di kursi pojok agar tidak mengganggu yang lainnya, segera di tarik oleh Beni.
"Nay, duduklah di sampingku.." Masih memegang tangan Nayra.
Nayra menyadari akan hawa dingin yang mencekam saat tidak sengaja menatap mata Rico dan Gea.
Sebelumnya, setelah menjalani kehidupan pahitnya di villa mewah itu, Nayra kerap beberapa kali memergoki Gea yang sedang diam diam memperhatikan Beni, dan dia menyadari satu hal, kalau sebenarnya Gea menyukai Beni.
"Maaf tuan, saya tidak ingin semua orang menjadi terganggu akan kehadiran saya, saya cukup duduk di pojok sebelah sana sudah merasa sangat terhormat dan bahagia.." ucap Nayra tersenyum tulus menarik lengannya perlahan dan berlalu begitu saja kearah pojok meja makan.
"Aku yang membolehkannya untuk bisa makan di meja makan ini, tapi mengapa dia hanya tersenyum pada Beni saja?" gumam Rico dalam hati, tanpa sadar dia mengepalkan tangannya menggenggam dengan sangat kuat pisau serta garpu yang dipegangnya.
"Aku senang jika seseorang ada yang sadar diri.." ucap Bella tersenyum licik.
"Haruslah seluruh manusia dibumi ini menyadari akan posisinya." sambung Gea seringai melirik kearah Nayra.
Nayra hanya diam membisu seraya menundukkan kepalanya. Dia masih tidak berani untuk mengambil makanannya, dan entah kenapa dia merasa tiba tiba kenyang, mungkin kenyang akan makian.
"Bella, Gea, berhentilah bersikap seperti itu. Aku harap kalian juga bisa menyadari akan posisi kalian." Ucap Beni.
Diketahui, posisi tertinggi dirumah ini dipegang oleh Rico dan Beni, walaupun secara resmi ini adalah villa milik Rico yang juga kakak Bella.
Bella dan Gea sama sama takut pada Beni, meskipun dia terlihat ramah dan humoris, tetapi saat sedang marah, dia bisa saja membuat orang disekitarnya merasa terancam termasuk Rico.
Rico pun sudah menganggap Beni seperti separuh dirinya setelah Alexa, karena sedari mereka duduk di bangku SMP, mereka sudah menjadi sahabat yang sangat dekat, bahkan jika kalian semua melihatnya dengan mata kepala kalian sendiri, kalian akan mengira bahwa mereka adalah sepasang gay.
Rico juga pernah mengatakan kalau posisi Beni dirumah itu, adalah setara dengannya, yang berarti semua perkataan Beni juga harus dan wajib untuk dituruti.
Rico selalu menghormati keputusan Beni, walaupun dia terlihat kejam dan tanpa belas kasih, tapi bisa diakui kalau Rico juga orang yang adil dan tidak memilih kasih pada siapapun itu.
"Maafkan kami kakak Beni.." ucap Bella dan Gea serentak.
"Bella, aku tidak takut akan posisi kakakmu dirumah ini, aku juga tidak peduli kalau kau istriku sekalipun, tetapi jangan sekali kali kau berkata buruk pada Nayra, ku peringatkan kau sekali lagi, aku tidak akan segan padamu.." ucap Bayu dengan tatapan tajam memotong pembicaraan.
Seketika tubuh Bella dan Gea bergetar hebat, keringat dingin mulai bercucuran membasahi permukaan kulit mereka.
Entah mengapa dia merasa hawa yang keluar dari tubuh Bayu, sama persis seperti aura dingin yang dikeluarkan oleh Rico maupun Beni saat sedang marah.
"Sayang, maafkan aku, aku hanya asal bicara saja tadi.." melirik ke arah Gea dan menyenggol bahunya pelan, seperti memberi tanda bahwa Gea juga harus meminta maaf pada Bayu.
__ADS_1
"Maafkan kami kakak Bayu, kami tidak akan mengulanginya lagi.." ujar Gea menundukkan kepalanya dengan wajah suram.
"Tunggu pembalasanku, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja Nayra.." gumam Bella dan Gea bersamaan sembari mengepalkan kedua tangannya.
Saat selesai sarapan, Rico hendak bergegas pergi untuk berangkat ke kantor bersama Beni dan juga Bayu, Nayra yang masih memakan makanannya juga secara sigap ikut berdiri.
"Duduklah, habiskan makananmu, aku tidak ingin ada yang membuang buang makanan dirumah ini.." ucap Rico masih dengan suara datar nya menatap lurus.
Nayra pun menurut, duduk kembali dan bergegas menyantap makanannya hingga habis tak tersisa.
Diketahui semenjak mereka resmi menjadi sepasang suami istri, Nayra selalu mengantar Rico sampai didepan pintu meskipun tidak dianggap sama sekali oleh Rico.
Nayra juga sering kali menunggu Rico saat pulang kerja, bahkan jika itu sampai larut sekalipun, hingga terkadang Nayra kedapatan oleh Rico yang baru saja pulang kerja, tertidur di sofa ruang tamu hanya untuk menunggunya pulang. Tetapi semua itu masih belum bisa membuka hati Rico sedikit pun.
Walaupun rasa bencinya terhadap Nayra perlahan mulai memudar, tetapi perasaan dinginnya sangat berlaku bagi Nayra, bahkan untuk semua orang yang berada dirumah itu termasuk Alexa, Rico masih merasa Nayra hanyalah orang asing baginya.
"Aku akan pulang larut, tidak usah menungguku.." ucap Rico yang ditujukan kepada Nayra.
"Ada apa dengan sikap Rico hari ini, seperti bukan dia saja.." gumam Beni.
"Apa kepalanya terbentur hingga membuat otaknya bergeser untuk sementara waktu?.." gumam Bayu.
"Mengapa kakak memperlakukannya dengan baik hari ini.." Bella.
"Mungkinkah kakak Rico hari ini salah minum obat.." Gea.
Nayra hanya mengangguk pelan, terlihat jelas rasa kecewa dari raut wajahnya.
Sebelumnya, semua orang dirumah itu sudah mengetahui kebiasaan Nayra yang sering ketiduran di sofa hanya untuk menunggu kepulangan Rico, bahkan masih menyempatkan diri untuk memasak ditengah malam untuk mereka yang baru pulang kerja.
"Benarkah?.. Yuyu, bisakah kau membawakanku permen coklat? aku selalu memimpikan berada di tengah kolam yang penuh dengan permen coklat, dan kau tau saat ingin memakan semua permen itu, seketika seluruh wajahku berubah menjadi bulat seperti permen coklat.." Berbicara serius sembari mengerutkan dahi dan memegang pipinya yang sengaja digembungkan.
""Deggggg......."
"Degggggg....."
Seketika jantung Bayu dan Beni berdetak dengan cepat saat melihat raut wajah Nayra yang seperti itu, terlihat sangat imut.
"Dasar wanita bodoh, apa kau tau betapa imutnya kau saat ini?..." gumam Beni pelan tersipu sembari membuang muka, dia tidak ingin seseorang melihatnya dengan pipi yang sedang merona.
"Nayra bodoh, berhentilah bersikap imut seperti itu atau aku benar benar akan menutup pintu hatiku untuk wanita lain saat ini juga.." gumam Bayu dengan mata yang berbinar binar, wajahnya merona seketika.
"Tiiinnn.... tiiiinnn......" Suara klakson mobil terdengar, memecahkan suasana haru saat itu.
Rico sudah duduk manis menunggu didalam mobil mewahnya yang berplat kan gold.
"Berhentilah memanjakannya seperti itu, dia akan lupa diri..." ucap Rico menatap jalanan lurus dihadapannya.
Rico sebelumnya sudah mengetahui rencana Beni dan Bayu yang ingin melepaskan Nayra dari belenggu Rico, walaupun begitu, Rico sekalipun tidak marah.
Entah rasa belas kasihnya yang begitu besar, atau hatinya yang perlahan mulai terbuka untuk Nayra.
Dulu, saat melihat Nayra mengeluarkan air mata saat sedang dikerjai olehnya, dia masih merasa biasa saja. Tetapi, entah kenapa belakangan ini Nayra sudah tidak pernah mengeluarkan air mata itu lagi, sebaliknya hanya senyuman tulus yang dilontarkan dari bibirnya.
Saat melihat senyuman Nayra untuk yang pertama kalinya, "Degggg..." Jantung Rico seperti terhenti saat itu juga. Dia merasa sangat familiar dengan senyuman itu.
***FLASHBACK ON***
__ADS_1
Hari biasanya saat Nayra merasa benar benar tidak enak badan, dia meminta izin untuk libur sehari dari pekerjaan rumahnya, tetapi Rico tidak menanggapinya, yang artinya dia tidak diperbolehkan untuk libur walaupun cuma sehari saja.
Saat akan mengambil pakaian kotor dikamar Rico, Nayra mengetuk pintu kamar itu degan perlahan, tetapi tidak ada yang membukanya.
Sudah hampir sepuluh menit Nayra berada disana hanya untuk menunggu pintu kamar itu dibukakan baginya. Nayra merasa sedikit pusing, penglihatannya pun menjadi samar samar.
Nayra tidak peduli lagi, asalkan dia cepat menyelesaikan pekerjaan rumah, lalu dia bisa segera beristirahat, dan mungkin saja Rico sedang berada diluar, pikirnya.
Saat sudah berada didalam kamar Rico, segeralah diambilnya semua pakaian kotor itu.
Ketika hendak berdiri dari jongkoknya, tubuhnya mulai tidak seimbang, kepalanya pusing berkubang kunang, ingin menggerakkan kaki pun sudah tidak sanggup lagi baginya, hingga akhirnya Nayra jatuh tergeletak dilantai marmer dingin itu.
"Cekleeekkk...." suara gagang pintu terbuka dari arah kamar mandi.
Rico sangat terkejut saat melihat pemandangan yang tidak diharapkannya berada didepan mata, lalu bergegaslah dia berlari kearah Nayra, dengan sebagian tubuhnya yang masih berbalutkan handuk.
"Nayra, apa kau baik baik saja?.. bangunlah.. Hei, apa kau tidak mendengarkanku? Aku memerintahkan mu sekarang untuk bangun!!.." untuk pertama kalinya Rico memanggil nama Nayra, Rico pun terkejut dengan apa yang baru saja dia ucapkan, karena selama ini dia tidak pernah sekalipun mengucapkan nama Nayra, tapi mengapa sekarang mulutnya bisa mengeluarkan kata itu, Rico masih bingung dengan dirinya sendiri.
Dia segera menelepon Beni untuk masuk ke dalam kamarnya untuk memeriksakan keadaan Nayra.
Saat merasa seperti dia tidak punya hati membiarkan Nayra yang masih terbaring di lantai marmer yang begitu dingin, dengan berat hati diangkat lah Nayra untuk berbaring diatas tempat tidurnya.
"Nayra, dengarkanlah baik-baik, aku akan membunuhmu jika kamu mati!!" gumam Rico seraya menggenggam erat tangan Nayra yang terasa dingin.
Saat ketika Beni telah sampai di kamar Rico, dia terkejut melihat tatapan mata Rico saat menatap Nayra, tatapan sendu bercampur kecewa dan cemas terpamang jelas dari raut wajah Rico yang belum pernah sekalipun dilihat sebelumnya.
Lalu mata Beni terhenti disatu arah dihadapannya, lagi lagi dia terkejut akan kelakuan sahabatnya itu saat melihat tangan Rico memegang erat tangan Nayra sesekali mencium tangan itu.
"Rico, kau membuatku terkejut dua kali dalam beberap menit saja. Dan, apa apaan dengan sikap bodohmu itu, apa seorang Rico Natahanael bisa memperlakukan wanita lain dengan lembut seperti itu selain pada Alexa?" gumam Beni pelan.
"Ehemmm..." Beni berdehem seketika membuyarkan kegiatannya barusan, segera dilepaskannya tangan Nayra lalu bersikap Coll seperti biasanya.
"Rico, apa kau.." Beni berbicara dengan tatapan seperti mengejek pada Rico.
"Berhentilah berpikir macam macam, aku hanya tidak ingin orang orang berpikir bahwa aku memperlakukan istriku dengan tidak baik." ucap Rico membuang muka sambil tersipu malu.
"Baiklah, kau yang menang kali ini..." jawab Beni berjalan kearah Nayra.
"Rico, apa kau akhirnya bisa membuka hatimu untuk Nayra?.." gumam Beni pelan.
"Dia demam.. Rico apa kau tidak bisa melepaskan nya saja? Aku tau kau sangat marah padanya soal kejadian itu, begitu pun aku. Tapi lihatlah, sekarang dia masih belum mengingat apapun, apa kau tidak merasa kalau kita sangat berdosa padanya? menculik, menghukum dan menyiksa orang yang bisa dibilang tidak tau apa apa sepertinya? Aku sangat tau sifatmu seperti apa, kau bukanlah orang jahat Rico!.." ucap Beni tegas menatap mata Rico secara intens.
Belakangan ini Rico juga sudah tidak terlalu keras pada Nayra seperti hari hari sebelumnya, salah satunya sekarang dia mulai mempercayakan Nayra untuk membangunkannya setiap jam setengah lima pagi untuk berolahraga lari pagi.
Sebenarnya tidak ada yang salah dari perkataan Beni barusan, pikir Rico, hanya saja untuk harus melepaskan Nayra begitu saja setelah sekian lama dia mulai terbiasa akan kehadiran Nayra disisinya, entah mengapa tidak rela rasanya.
"Aku akan membebaskanya setelah Alexa sembuh total." ucap Rico seraya berlalu begitu saja.
***FLASHBACK OFF***
Diruang kerja, Rico duduk di bangku kebesarannya, melamun sambil sesekali memutar kursinya, entah apa yang dipikirkannya kali ini, hanya dia dan Tuhan lah yang tau.
"Mengapa dengan raut wajahnya tadi, apa dia kecewa saat aku menyuruhnya untuk tidak menungguku pulang malam ini?..." gumam Rico sembari menatap langit langit ruangan serta memutar mutarkan pena diantara jari jarinya.
Saat tersadar akan lamunannya, seketika terlintas didalam benaknya tentang mimpi yang Nayra ucapkan tadi pagi. Mimpi yang dulu pernah diucapkan oleh Alexa saat waktu kecil ketika mereka bermain bersama.
Apa mungkin hanya kebetulan saja, pikir Rico.
__ADS_1