MENJADI ISTRI YANG TIDAK DICINTAI

MENJADI ISTRI YANG TIDAK DICINTAI
BAB 18


__ADS_3

Di rumah utama kediaman keluarga NATHANAEL.


"Aku tidak setuju! Nayra, bisakah orang tua ini sedikit egois? Tunggulah sampai waktu perjanjian itu usai, aku akan menggunakan segala cara agar Rico mau menerimamu sebagai cucu menantuku seutuhnya." ujar Kakek Rico menggenggam kedua tangan Nayra dengan raut wajah memelas.


Nayra sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Rico sebelum perasaannya benar benar akan menjadi permanen.


"Kemarilah, aku akan memberitahu mu sesuatu.." ucap kakek Rico menggandeng tangan Nayra kearah meja kerjanya.


Nayra hanya bisa menuruti permintaan itu, karena menurutnya walaupun dia sudah benar benar berpisah dengan Rico nantinya, dia tidak ingin memutuskan hubungan dengan kakek Rico. karena hanya kakek Rico lah yang benar benar menyayanginya. Dia juga sudah menganggap kakek Rico sebagai kakeknya sendiri. Dan mungkin inilah yang terbaik, mengabulkan segala keinginan kakek untuk terakhir kalinya sebagai cucu menantunya.


.


Waktu berjalan begitu cepat, semalaman Nayra terus termenung memikirkan ucapan kakek saat siang tadi.


"Apa benar aku adalah orang yang telah membuat janji kepada Rico saat kecil dulu? lalu mengapa bisa berubah menjadi kak Alexa?.." gumam Nayra penuh tanda tanya.


Ternyata kemarin kakek Rico telah mengatakan identitas Nayra sebenarnya kepadanya.


Tapi, dia masih belum yakin kalau perkataan kakek kemarin adalah yang sebenarnya, mungkin saja dia mengatakan itu agar Nayra tidak mengajukan cerai kepada Rico terlebih dahulu.


Saat ini ingatan Nayra belum sepenuhnya pulih, dia sudah mencoba segala cara untuk bisa mengingat ingat kembali apa yang telah terjadi padanya di masa lalu.


Saat sepintas ingatannya lewat dipikirkannya, kepalanya tiba tiba saja terasa sangat sakit, maka dari itu, dia tidak ingin mengingat apapun lagi, biarlah sekarang dia mengikuti arus kehidupan saat ini, dan mencoba untuk melupakan masa lalu, karena baginya kehidupannya yang sekarang mungkin bisa lebih baik dari yang sudah lewat.


"Aku tidak ingin memulai kembali masa lalu, walaupun aku mengatakan yang sebenarnya kepada Rico, dia juga tidak akan mungkin percaya begitu saja, apalagi dihatinya sudah tertanam jelas nama kak Alexa. Biarlah mereka hidup bahagia bersama bayi mereka, aku tidak akan menggangu lagi. Kak Alexa, anggap saja ini hadiah perpisahan dariku untuk kalian. Aku harap kau tidak membenciku sebagai adikmu, karena sebelumnya telah mencoba untuk masuk diantara kalian." gumam Nayra pelan tanpa sadar meneteskan air matanya.


.


Di hotel tempat kerja Nayra, seperti biasanya dia sudah selesai membersihkan lantai tiga puluh dua, sekarang waktunya untuk membersihkan lantai selanjutnya.


"tiiiinnngggggg......" suara lift terbuka.


Nayra dan Luna segera berjalan keluar dari lift.


"Huffttt... semoga saja aku tidak bertemu dengan pria gila itu. Aku harus menyelesaikannya dengan segera, sebelum dia datang!" gumamnya pelan.


Luna merasa ada yang tidak beres saat setiap kali melihat Nayra yang selalu cemberut dan terburu buru saat bekerja dilantai tiga puluh tiga ini.


Apa yang sebenarnya terjadi padanya?


"Nay, apa ada sesuatu yang mengganggumu dilantai ini? Aku selalu memperhatikanmu loh! Kau selalu dalam keadaan buruk ketika memasuki lantai ini." tanya Luna kepada Nayra.

__ADS_1


Nayra seketika tertegun dengan pertanyaan Luna barusan.


Jangan, Luna tidak boleh tau apa yang sebenarnya terjadi padanya.


"Ahh tidak ada, kau tidak perlu mencemaskanku. Aku hanya terlalu lelah saja. Oh iya, setelah ini kau ingin makan apa, tenang saja, aku yang traktir.." ujar Nayra tersenyum paksa, mengalihkan pembicaraan.


Luna yang mendengar itu pun seketika mendadak gembira tidak karuan, dan melupakan pembahasan mereka tadi. Nayra sangat tau apa yang harus dia lakukan untuk memancing kesukaan Luna.


Luna adalah sahabat dekat Nayra setelah bekerja dihotel itu. Mereka pun sangat dekat.


"Baiklah kalau kau memaksa, aku akan menerimanya dengan senang hati. Aku juga tidak akan segan untuk membolongkan isi dompetmu." ujar Luna bercanda.


"Yaahh.. kali ini sepertinya alasan yang kubuat akan memasukkan ku kedalam lubang kemiskinan! Uangku, kuharap kau pergi dengan tenang.." gumam Nayra tersenyum paksa.


Ketika setengah lantai baru saja selesai di bersihkan oleh Nayra dan Luna, Tiba tiba saja kepala Nayra terasa sangat pusing, penglihatannya pun menjadi samar samar.


Sebelum dia benar benar pingsan, pandangannya sekilas melihat sosok pria yang begitu dia benci.


"Kau...." gumam Nayra pelan.


"Bruukkkk...." Dan Nayra pun pingsan saat itu juga.


Walaupun matanya sudah terpejam sepenuhnya, tetapi samar samar ditelinganya terdengar suara Luna yang sedang panik, dan suara seorang pria yang tidak asing lagi baginya.


.


Sedangkan disamping ranjang tempat tidur Nayra, terdapat ruangan kecil yang hanya tertutup kan tirai berwarna biru langit untuk memisahkan antara ranjang pasien dan ruangan dokter.


"Bukankah sebagai seorang suami, kau harusnya lebih memperhatikan istrimu?.." ucap dokter tegas.


Saat ini, diruangan dokter hanya terdapat Luna dan Seorang pria, yang tidak lain adalah Bagas, yang juga pria yang sangat dihindari oleh Nayra saat menjalankan pekerjaannya di hotel lantai tiga puluh tiga.


Luna dan Bagas pun hanya bisa pasrah mendengarkan penjelasan serta sedikit sindiran yang tentu saja ditujukan untuk Bagas.


"Tuan, istrimu sekarang sedang mengandung, jadi tolong biarkan dia beristirahat secara total, karena keguguran sangat rawan diawal kehamilan seperti ini." ucap dokter lagi.


"Deeeggggg...." seketika Luna dan Bagas terkejut hebat.


"Apa??.....hamil!!!!!..." gumam mereka serentak.


.

__ADS_1


Nayra baru saja terbangun dan mendapati bahwa Luna sudah berada tepat di samping ranjangnya, sedangkan Bagas tengah duduk diam mematung disudut kursi ruangan.


Terlihat jelas tatapan menyelidik diantara keduanya.


"Situasi macam apa ini..." gumam Nayra menundukkan kepalanya.


Hawa kamar pasien seketika mencekam, dan aura yang tidak menyenangkan seperti sedang mengelilinginya.


"Anu, mengapa aku bisa berada dirumah sakit?.." ucap Nayra basa basi memecahkan keheningan.


"Nay, jujurlah padaku! siapa yang menghamilimu?!.." tanya Luna.


"Deeggggg...." jantung Nayra seketika seperti berhenti sejenak.


Dia tidak menyangka kalau hari ini akhirnya akan terjadi juga.


Kedua bola mata Nayra membulat, dan sekujur tubuhnya pun bergemetar hebat tidak karuan.


"Hanya pria baji*an." ujar Nayra santai seraya tersenyum tulus.


Nayra sedang mencoba untuk menutupi rasa kegelisahannya didepan Luna dan mencoba untuk terlihat baik baik saja, Seperti sedang mengatakan kalau tidak ada yang perlu dicemaskan.


Akan tetapi, dibawah selimut, kedua tangannya sedang menggenggam kuat kain bajunya. Benar saja, ternyata senyuman adalah satu satunya cara terbaik untuk melepaskan diri dari kesulitan, meskipun itu PALSU.


Sebelumnya, ketika Nayra sedang berjalan bersama Rico, dia sempat memandangi seorang wanita yang sedang menggandeng tangan anaknya,. Dan tanpa bertanya, Rico langsung berkata bahwa untuk saat ini dia tidak ingin memiliki anak dari siapapun.


Nayra pun sangat terkejut akan perkataan Rico, seolah olah dia tau apa yang sedang dipikirkannya.


Rico juga pernah berkata, jika suatu saat Nayra atau Alexa tiba tiba mengandung benihnya, dia tidak akan segan segan untuk menggugurkannya bagaimanapun caranya.


Tapi, baru saja Alexa hamil, dan Rico tidak menunjukkan sisi kejamnya itu, sekarang dia bahkan memperlakukan Alexa seperti layaknya Ratu.


Yang ada dipikiran Nayra saat ini adalah, jika kabar ini terdengar ditelinga Rico, dia takut kalau anaknya nanti akan diambil olehnya.


Waktu dua hari tidak akan terasa, perjanjian perceraian antara dirinya dan Rico akan segera terjadi. Dan sekarang ini yang dia punya hanya bayinya saja. Jika anaknya diambil, dia sudah tidak memiliki siapa siapa lagi.


"Bagaimanapun caranya, aku harus menyembunyikan bayiku." gumam Nayra pelan mengelus lembut perutnya.


.


Diluar rumah sakit, Bagas mencoba untuk meyakinkan Luna, kalau Nayra akan baik baik saja dan dia akan mengantarkan Nayra pulang sampai tujuan dengan selamat.

__ADS_1


Saat di perjalanan, Bagas mencoba untuk membuka percakapan terlebih dahulu.


"Gadis kecil, apakah bayi itu adalah milikku? dan pria bajin*an yang kau maksud sebelumnya adalah aku bukan?.." ucap Bagas pelan tanpa menoleh kearah Nayra, dan masih mengemudi, menatap lurus ke jalanan.


__ADS_2