MENJADI ISTRI YANG TIDAK DICINTAI

MENJADI ISTRI YANG TIDAK DICINTAI
BAB 19


__ADS_3

***FLASHBACK 1 BULAN YANG LALU***


Sore itu, dihotel tempat Nayra bekerja.


Nayra dan Luna baru saja selesai membersihkan lantai tiga puluh tiga, dan hendak menuju ke lantai berikutnya.


"Luna, kau pergi duluan saja, barangku ada yang ketinggalan. Aku akan menyusul mu setelah ini." ujar Nayra berbalik arah, hendak turun kelantai bawah dengan menggunakan tangga darurat.


Saat berjalan melewati kamar nomor 307, tiba tiba saja pintu itu terbuka, dan seseorang menarik lengan Nayra dengan cepat untuk masuk kedalamnya.


Kedua bola mata Nayra membulat, sekujur tubuhnya membeku seketika karena ketakutan, sedangkan mulutnya ditutupi dengan telapak tangan seorang pria tampan dihadapannya, dan pria itu adalah Bagas.


Nayra memberontak sebisa mungkin, tetapi sia sia saja, saat ini tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan karena sudah masuk dalam dekapan Bagas.


Nayra menatap wajah Bagas dengan teliti. Sepertinya ada yang tidak beres dari dirinya.


Tubuhnya terasa panas, dan nafasnya pun tidak beraturan.


"Bantu aku, atau aku akan membunuhmu!!" bisiknya pelan ditelinga Nayra.


Benar saja, ternyata pria ini telah diberi obat perangsang. Siapa yang melakukannya? Disini bahkan tidak ada siapapun.


Sekarang apa yang harus Nayra lakukan untuk membantunya? Dia tidak ingin dibunuh, dan dia juga tidak ingin menghianati pernikahannya dengan Rico, walaupun itu hanya pernikahan diatas kertas saja.


"Tuan, maafkan aku, tapi...." belum sempat melanjutkan perkataannya, seketika tubuh Nayra digendong secara paksa oleh Bagas, lalu dilemparkannya di atas ranjang miliknya.


Nayra sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena tubuh Bagas sekarang sudah berada tepat diatas tubuhnya.


Satu per satu kancing baju nya dilepaskannya, lalu mengecup leher Nayra dengan lembut.


"Kau tidak perlu cemas, aku akan membayarmu setelah ini.." bisiknya lagi ditelinga Nayra.


Kecupan demi kecupan mendarat disebagian besar leher hingga bagian tubuh Nayra.


Nayra sendiri hanya bisa pasrah sambil menangis sejadi jadinya. Kejadian seperti ini terulang kembali saat dulu pernah dilakukan oleh Rico padanya.


"Nayra, kau sungguh bodoh, sama sekali tidak bisa menjaga tubuhmu dengan benar!!" gumam Nayra pelan. Air matanya masih terus mengalir tanpa henti.


"Bruuukkk.." tiba tiba saja tubuh Bagas yang tadinya sangat bersemangat, seketika jatuh lemas tepat diatas tubuh Nayra.


Nayra yang masih sangat ketakutan hanya bisa diam mematung tanpa pergerakan sedikitpun dibawah tubuh Bagas.


Beberapa menit telah berlalu, dan Bagas masih belum sadar. Nayra memanfaatkan kesempatan untuk mencoba kabur dari kamar itu, dan untung saja usahanya berhasil dengan sempurna.

__ADS_1


"Tuhan, cobaan apa lagi ini!! Tuan, semoga saja kita tidak pernah bertemu lagi!" gumam Nayra pelan menghela nafas dan segera menyeka air matanya, lalu bergegas pergi dari neraka itu.


.


Malam harinya, Bagas baru saja terbangun dari tidurnya. Kepalanya terasa sangat sakit, dan bagian punggungnya pun masih terasa sedikit linu dan agak perih karena terluka akibat pukulan serta cakaran yang ditinggalkan Nayra sore tadi.


Bagas mencoba untuk mengingat ingat kembali kejadian sebelumnya, dan seketika terlintas semua perlakuan bejatnya kepada seorang pelayan wanita dihotel itu, yang tidak lain adalah Nayra.


"Dasar gila! Mana mungkin aku melakukannya dengan seorang pelayan!" gumam Bagas geram mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat.


Segeralah diambilnya ponsel dari atas nakas disamping tempat tidurnya, lalu menelfon seseorang untuk mencari tau informasi tentang kehidupan Nayra dengan jelas.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun tau tentang ini, bisa bisa reputasiku akan hancur! Dan apapun yang terjadi, aku akan menggunakan segala cara untuk membereskan wanita itu. Dengan statusnya saat ini, 2 miliar pasti sudah lebih dari cukup untuk biaya kompensasi dan tutup mulut." gumam Bagas tersenyum licik sembari memutar mutarkan ponsel dengan jemarinya.


.


***FLASHBACK OFF***


Kembali ke cerita utama, masih didalam mobil.


"Pffftttt...." Nayra tertawa kecil sembari menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.


Bagas yang melihat itu pun merasa sedikit kesal, karena bukannya menjawab "iya" atau "tidak", tapi Nayra malah tertawa. Apa yang lucu? apakah dia sedang meremehkanku? apa dia tidak tau siapa aku?! pikir Bagas.


"Uhukk.... Apa 2 miliar cukup?.." tanya Bagas datar tanpa menoleh kearah Nayra.


Sesekali mata Bagas melirik, ingin mengetahui respon apa yang akan dikeluarkan oleh Nayra setelah mendengar sejumlah uang yang baru saja diucapkannya.


Setelah kejadian sore itu, tidak butuh waktu lama, Bagas langsung mendapatkan informasi lengkap tentang kehidupan pribadi Nayra. Dia juga tau kalau Nayra adalah istri pengganti untuk Rico sang pengusaha muda yang sangat terkenal itu.


Dari informasi itu juga dia tau, kalau Nayra dan Rico sama sekali tidak akrab, hanya sesekali pernah keluar untuk sekedar berbelanja dan makan saja, selebihnya Rico menghabiskan waktunya untuk bekerja dan menemani Alexa yang juga adalah tunangan aslinya.


Bagas berpikir, tentu saja anak yang ada didalam kandungan Nayra adalah hasil dari benihnya saat malam itu. Bagas pun berniat untuk mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan Nayra dan bayinya sampai waktu persalinan terjadi.


Saat Nayra sudah benar benar melahirkan jabang bayinya, dia berencana akan segera merebutnya dari Nayra, karena bagaimanapun juga itu adalah gennya, dan gen langka miliknya tidak boleh berada jauh jauh dari keluarganya.


"Melihat reaksinya barusan, aku tidak masalah untuk mengeluarkan uang yang lebih jika dia memintanya, asalkan bayiku selamat dan harus berada di dekat ku. Tapi bagaimana jika dia meminta untuk dinikahi? Mengingat akan statusnya yang sebentar lagi akan bercerai dengan Rico, pasti dia akan meminta imbalan yang lebih bukan?!.." gumam Bagas pelan, berkeringat menunggu jawaban Nayra.


"Tuan, jangan salah paham! aku tidak akan mengambil sepeserpun darimu." ujar Nayra santai, tersenyum tulus.


"Deeggggggg...." jantungnya tiba tiba berdegup dengan sangat kencang, wajahnya pun merona seketika.


"Apa apaan senyumannya itu?.. Apa dia mencoba untuk merayuku? Uhuuukkk.... jika dilihat lihat, dia lumayan imut juga. Kurasa tidak masalah jika dia ingin aku menikahinya saat ini juga sebagai bentuk pertanggungjawabanku.." gumam Bagas membuang muka, agar tidak memperlihatkan sisi meronanya.

__ADS_1


Ya, jika dipikir pikir, siapa juga yang tidak akan terpesona akan senyuman manis Nayra? Setiap orang yang melihatnya seperti sedang mendapatkan sebuah anugrah saja, bahkan hati yang tadinya suram dan kosong, seketika akan berbunga saat itu juga.


"Tuan, anak ini bukan milikmu." ujar Nayra lagi.


Bagas yang mendengar itu pun seketika terkejut dan membatu. Bagaimana bisa itu tidak disebut anakku? Bukankah sore itu Nayra dan Bagas telah melakukannya?


Nayra pun langsung menjelaskan ke intinya, saat ditengah tengah kejadian itu, Bagas langsung pingsan dan tak sadarkan diri. Tapi sebelum itu Nayra sudah meminta maaf karena telah membawa kemeja milik Bagas untuk dipakainya, karena sebelumnya pakaian kerjanya telah dirobek paksa oleh Bagas. Nayra juga mengatakan, beberapa hari ini dia sudah mencari cari keberadaan Bagas untuk mengembalikan pakaian itu, tapi Nayra tidak pernah menemukannya, (Padahal itu hanya alasan saja, sebenarnya Nayra lah yang selalu sembunyi sembunyi agar tidak bertemu dengan Bagas secara langsung).


Bagas yang mendengar penjelasan itu seketika menelan silvanya. Walaupun dia merasa agak legah, tapi dia seperti merasa tidak senang saja dengan keadaan yang sebenarnya.


"Tunggu, tapi kan hubungannya dengan Rico tidak seintim itu, bagaimana mungkin mereka bisa sampai memiliki anak? Atau jangan jangan dia sengaja menyembunyikannya dariku? Dia tau kalau saat anaknya lahir, aku akan merebut bayi itu darinya dan meninggalkan dirinya begitu saja, makanannya dia tidak rela mengakui semuanya dan mencoba memberikan alasan yang tidak masuk akal!" pikir Bagas dengan serius.


"Hohoho... tidak semudah itu gadis kecil! Aku akan mencari taunya nanti, untuk saat ini aku akan terus berada di sisimu sampai bayi itu lahir dan membuktikan bahwa itu benar benar bukan milikku." gumam Bagas yang sangat yakin akan keputusannya.


"Gadis kecil, untuk saat ini aku akan menahanmu dirumahku sampai anak itu benar benar lahir. Aku tidak yakin kalau anak itu adalah milik Rico, karena aku sudah menyelidiki hubungan antara dirimu dengannya tidak sebaik itu, dan aku juga sangat tau kalau dalam satu bulan belakangan ini kau tidak pernah keluar dengan siapapun selain saat bekerja dan menemani Rico untuk sekedar jalan jalan saja. Jadi, untuk saat ini, aku meyakini bahwa bayi yang ada didalam kandunganmu adalah milikku!" ujar Bagas percaya diri.


Nayra pun tidak mau kalah, dia masih mencoba untuk meyakinkan Bagas akan kebenaran, tapi Bagas tidak membalas perkataannya dan tetap duduk tenang sambil tetap mengemudi tanpa menoleh ke arah Nayra.


"Hmm.. Gadis kecil, akhirnya aku punya alasan juga untuk kau bisa selalu berada di sisiku!" gumam Bagas dengan senyuman liciknya seperti sedang merasa puas akan keputusannya.


"Baiklah, berhubung sebentar lagi kau dan Rico resmi berpisah, aku akan segera menyiapkan resepsi pernikahan kita sebelum kau diambil orang! Uhuuukkk... jangan salah paham, aku melakukan ini karena tidak ingin kalau anakku dibesarkan oleh pria lain, itu saja!!.." ujarnya masih dengan wajah yang merona sambil menatap jalan lurus didepannya.


"Pria ini benar benar id*ot, benar benar sudah tidak bisa diselamatkan lagi!!" gumam Nayra pelan yang sudah tidak bisa lagi membalas perkataan yang dilontarkan Bagas kepadanya.


"Sudahlah, sekarang ikuti kemauannya saja, lagi pula perkataannya tadi ada benarnya juga. Karena sebentar lagi aku dan Rico resmi berpisah, aku sudah tidak punya tempat tinggal lagi, dan satu satunya jalan adalah memanfaatkan kesempatan ini untuk berlindung, karena bagaimanapun juga, Rico tidak boleh sampai mengetahui keberadaan anak ini." lanjut Nayra.


.


Waktu sudah menunjukkan pukul 22:30 malam. Nayra belum juga pulang, sedangkan Rico mulai mondar mandir dikamar karena sedang mencemaskannya.


"Biasanya jam segini dia sudah sampai dirumah, kemana dia pergi? Apa dia masih marah mengenai perkataanku kemarin soal perjanjian perceraian?.." gumam Rico cemas.


"kkkrrrriiiiinnnnggggggg......." Tiba tiba ponselnya berdering.


Segeralah diambilnya dari saku celana, lalu melihat dilayar tertuliskan nama Samuel. Seketika rasa semangatnya tadi hilang begitu saja. Dia mengira kalau Nayra lah yang menghubunginya untuk memberi tau kalau dia akan pulang terlambat malam ini, tapi harapannya pupus seketika.


"Klikkk..." diangkatnya panggilan telepon itu, dan seketika tatapannya menajam Seperti sebuah pisau yang baru saja diasah, kedua tangannya mengepal dengan sangat kuat, giginya bergeretak hebat, wajahnya pun menjadi merah padam, karena saat ini amarah tengah menyelimuti seluruh isi otaknya.


"Kau bilang Nayra sedang bersama seorang pria? dan pria itu adalah Bagas?.." teriak Rico masih mengepalkan kedua tangannya.


Ditutupnya langsung sambungan telepon itu, lalu membantingnya seketika hingga pecah dan beberapa bagian ponsel itu terlempar memencar kemana mana.


"Bagaimana mungkin Nayra bisa berhubungan dengan Bagas yang juga adalah partner Bisnisku!" gumam Rico geram.

__ADS_1


Sebenarnya Bagas bukan hanya partner bisnis Rico saja, dia juga dikenal sebagai anak dari Raja yang saat ini sedang bertahta dinegara seberang, ya bisa dibilang Bagas adalah keturunan Raja dan sebentar lagi akan menjadi Raja.


__ADS_2