MENJADI ISTRI YANG TIDAK DICINTAI

MENJADI ISTRI YANG TIDAK DICINTAI
BAB 4


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, waktu menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh. "sreeeekkkk...." suara gorden dibuka. Silauan cahaya matahari pagi yang begitu terang dan hangat perlahan masuk menyinari seisi ruangan kamar.


Sekarang waktunya pemeriksaan.


Beni berjalan kearah Nayra yang sedang terbaring lemah dengan balutan perban di beberapa bagian tubuhnya.


Beni dengan penuh hati hati memeriksa keadaan Nayra.


"Tidakk,, aku mohon padamu jangan sakiti ibuku lagi.. tidakkk jangannnn!!...." teriak Nayra seketika terbangun dari tidurnya dengan satu tangannya mengarah ke atas seperti seseorang yang mencoba menggapai sesuatu yang berharga baginya.


"Ada apa denganmu? apa kau baik baik saja?.."


"apa kamu merasa tidak nyaman?.."


"Apa lukanya masih sakit?.."


"Dibagian mana yang terasa sakit?..." tanya Beni beruntun dengan tatapan mengelilingi bagian tubuh Nayra yang luka.


Seketika tersadar dari lamunannya, dan tanpa menjawab, Nayra hanya mengangguk pelan sambil tersenyum kepada Beni.


Sebenarnya dia masih merasa sangat kesakitan dan takut, tetapi dia berusaha untuk terlihat baik baik saja agar tidak membuat orang disekitarnya cemas.


"Cciihhhh... mengapa senyuman itu lagi?..." decak Beni dalam hati kesal.


"Beristirahatlah dan cepatlah sembuh, karena malam nanti kau akan menikah dengan pria yang kemarin bersamamu. Ingatlah baik baik, nama suamimu nanti adalah Rico, Rico Natanael." ujar Beni seringai.


Mendengar perkataan Beni barusan entah mengapa membuat Nayra terkejut hingga terduduk seketika. Dia seperti merasa tidak asing dan seperti terasa akrab dengan nama itu.


Mencoba mengingat ingatannya kembali, tapi malah membuat kepala Nayra menjadi terasa sangat sakit.. Nayra mengerang pelan sambil memegang kepalanya.


"Heii, kau masih belum boleh terlalu banyak bergerak dan berpikir apapun sesukamu seperti itu, nanti luka lukamu bisa terbuka. Berbaringlah kembali.." spontan Beni dengan gercap membaringkan tubuh Nayra perlahan.


Bani merasa aneh pada dirinya sendiri, mengapa dia begitu peduli pada wanita ini. Bukankah ini yang dia inginkan? melihat Nayra menderita juga, seperti penderitaan yang dialami Alena saat ini? entah itu rasa kasihan dan cemasnya atau karena mengingat karena profesinya saat ini adalah dokter, makanya tubuhnya secara spontan bergerak sendiri untuk melakukan yang terbaik buat seorang yang dianggapnya pasien saat ini.


"Tuan, sebelumnya aku sangat berterimakasih padamu karena sudah mau menolongku kemarin, tapi aku tidak mau menikah dengan pria jahat itu, aku juga tidak ingin bertemu dengannya lagi. Dan kau tau pernikahan juga bukan dilakukan dengan cara main main seperti ini tapi dengan cinta dan kasih sayang yang tulus dari kedua belah pihak..." ucap Nayra pelan.


Mendengar itu Beni merasa sangat geram, sorot matanya menajam seketika setajam sebilah pisau yang baru saja di asah, kedua telapak tangannya dikepal dengan sangat kuat, gertakan giginya pun terdengar sangat jelas.


Beni berjalan mendekat, Nayra sangat ketakutan, dia mencoba bangun dan ingin menjauh pergi dari tempatnya berbaring saat ini, tetapi sia sia saja, karena tenaganya begitu lemah untuk sekarang ini.

__ADS_1


Kedua bola mata Nayra membola, keringat dingin bercucuran, membanjiri seluruh permukaan kulitnya.


Nayra sangat ketakutan melihat perubahan sikap Beni yang begitu tiba tiba, dia sangat berbeda dengan yang tadi.


Sebelumnya perlakuannya sangat lembut dan hati hati saat berbicara dan membantunya berbaring, apa dia masih orang yang lembut tadi? pikir Nayra.


"Apa orang sepertimu masih bisa berkata cinta dan kasih sayang setelah apa yang sudah kau lakukan sebelumnya, haaa?!...." ucap Beni dengan nada tinggi karena kesal mengingat kecelakaan yang menimpa Alexa sebelumnya.


"Hey wanita bodoh, kurasa pelajaran kemarin masih belum cukup untukmu ya?..." lanjutnya.


Beni mendekatkan wajahnya dengan wajah Nayra.


"Tuan, katakan kesalahanku sekarang, aku berjanji akan menebusnya bahkan jika kalian ingin nyawaku sekalipun akan aku berikan, tapi tidak untuk menikah, apalagi dengan pria jahat itu. Tuan kumohon, aku sudah berjanji pada ibuku akan menikah dengan pria yang aku cintai, dan aku tidak akan melanggarnya..." ujar Nayra.


"Degggg....." seketika jantung Beni berdetak kencang mendengar perkataan Nayra barusan, sepertinya pernah mendengar perkataan janji itu dari seseorang, tapi entah siapa. Pikir Beni.


"Tuan, kau tau sebelumnya aku mengalami amnesia kan, dan aku tidak tau kesalahan apa yang sudah aku perbuat di kehidupanku sebelumnya. Aku minta maaf yang sebesar besarnya pada kalian jika aku benar benar salah, dan sebagai permohonan maaf ku, aku akan mengikuti segala perkataan mu dan temanmu. Kalian juga boleh memukulku, memperlakukanku sebagai budak, pembantu, bahkan sebagai hewan sekalipun, tapi aku mohon padamu dan temanmu untuk tidak memaksaku menikah, terlebih untuk tidak menyiksaku menggunakan pisau seperti kemarin, aku sangat merasa kesakitan dan takut.. huuu..huuuu..huuu..." ujar Nayra menggenggam tangan Beni dengan penuh antusias dan perlahan melemah menjadi sendu.


Air mata Nayra segera keluar dengan derasnya membasahi kedua pipinya.


"Nona, simpan air mata busukmu itu, aku tidak memerlukannya." ujar Beni menggenggam dagu Nayra dengan kuat.


Mata Nayra seketika membola, seluruh badannya pun gemetar hebat tidak karuan. Sekilas terlintas di dalam pikirannya, seorang anak kecil yang sedang menangis ketakutan ketika menyaksikan seorang wanita dewasa yang sedang disiksa dan disayat hingga tewas menggunakan sebilah pisau kecil.


Entah kenapa dia meyakini bahwa wanita itu adalah ibunya, dan anak kecil itu adalah dirinya.


Kepalanya kembali terasa sakit karena sebuah pikiran aneh itu.


"Tuan, aku tidak ingin kehilangan seseorang yang berharga di hidupku untuk yang kedua kalinya karena sayatan pisau. Baiklah... baik, aku akan menikah dan kalian juga boleh menyatku lagi sesuka kalian seperti kemarin, tapi jangan sakiti bibi Zu, Karena dialah satu satu nya orang yang kumiliki saat ini...." Nayra memohon kepada Beni hingga terjatuh dari atas tempat tidur yang cukup tinggi.


Merangkak kearah kaki Beni lalu bersujut memelas dibawah kakinya.


"Mengapa dia begitu antusias seperti ini?.. "


"Apa maksudnya dengan sayatan pisau?.."


"Apa dia mengingat sesuatu?..."


"Apa sebelumnya dia juga pernah mengalami trauma yang begitu hebat?.."

__ADS_1


"Apa maksudnya dengan kehilangan orang yang begitu berharga baginya untuk yang kedua kalinya?.."


"Dan siapa orang yang berharga itu?.." penuh tanya Beni pada dirinya sendiri dengan tatapan sendu memandang tubuh Nayra yang masih bersujud dikakinya.


melihat itu Beni perlahan meluluh.


Walaupun dia sangat membeci Nayra, tapi jauh didalam lubuk hatinya masih tersimpan secuil rasa kasih untuknya.


"Heyy tenanglah.. Walaupun kau tidak memohon seperti ini juga kau akan tetap menikah dengan Rico.. Dan untuk perkataanku mengenai bibi Zu mu itu hanya bercanda saja.." ujar Beni lembut.


Menundukkan tubuhnya perlahan, tangan Beni secara spontan mengelus rambut hitam lurus Nayra.


Nayra menyadari itu lalu mendongakkan kepalanya kearah Beni, menatapnya dengan tatapan sayu. Air matanya masih mengalir deras membanjiri kedua pipi merahnya.


"Terimakasih tuan, aku tau kau sangat baik..." ucap Nayra lirih sambil tersenyum tulus.


"Deggggg...." untuk kedua kalinya, entah kenapa membuat jantung Beni berdetak lagi dengan sangat cepat, wajahnya merona seketika.


"Perkataan dan tatapan matanya, sama seperti kejadian waktu itu.." gumamnya pelan sambil tersenyum. Tanpa sadar telapak tangannya mengelus pipi Nayra dengan lembut, lalu menghapus air mata itu.


Beni mengangkat tubuh Nayra ala ala bridal style, lalu membawanya keatas tempat tidur lagi, karena dia tau tubuh Nayra masih sangat lemah.


"Aku ingat sekarang.. Nayra, kau mengingatkanku padanya lagi. Kau harus bertanggung jawab saat kau sembuh nanti.." gumamnya pelan disebalik pintu kamar Nayra.


"Kau tau, tatapan dan perkataanmu itu sama persis dengan Ale saat masih kecil dulu.. Aku sekarang memang masih mencintainya walaupun dia sudah bertunangan dengan Rico, tapi entah kenapa aku lebih menyukainya saat masih kecil dulu.. Sikap dan sifatnya dulu begitu polos dan berani saat itu, sangat berbanding terbalik dengan sekarang. Kami dulu begitu dekat karena pertemuan yang tidak disengaja. Aku ingat, saat itu dia menangis karena terluka terjatuh dari pohon, lalu aku memarahinya karena terlalu bodoh untuk memanjat pohon yang cukup tinggi hanya untuk menyelamatkan seekor kucing kecil. Karena melihat sikapnya yang begitu peduli bahkan dengan hewan kecil sekalipun, akupun membantunya untuk menyelamatkan kucing itu juga. Dan kau tau, Ale juga mengatakan yang kau katakan tadi kepadaku dengan tatapan yang sama. Dan kau tau, saat itulah aku mulai menyukainya.." lanjutnya seraya tersenyum haru.


"Ahh sial,, apa yang sedang aku pikirkan!!.." menggelengkan kepalanya pelan, membuyarkan lamunannya agar tidak mengingat ingat kejadian itu*.


Walaupun Beni sangat mencintai Alexa, tetapi dia akan tetap merelakannya untuk bersama Rico, karena dia tau Alexa hanya mencintai Rico, dia bahagia bersama Rico. Dan selain untuk menjaga ikatan tali persahabatannya, dia juga tidak ingin memaksakan keegoisannya sendiri, dia sangat tau posisinya.


Malam harinya, Di sebuah gedung mewah kelas atas, para tamu undangan yang hadir sudah berkumpul di sebuah ruang utama acara, gaun dan jas bermerek yang dikenakan para tamu terlihat dimana mana, karena yang hadir mulai dari kalangan menengah hingga kalangan atas saja, tidak lupa para pendiri perusahaan perusaahan ternama di kota itu juga turut hadir untuk memeriahkan acara, sekaligus ingin membangun hubungan baik dengan Rico yang juga seorang presedir tampan dan kaya raya, yang memasukki urutan nomor 1 di dunia.


Rico sudah berdiri elegan di panggung pernikahan menunggu kedatangan mempelai wanitanya, yaitu Nayra.


"tappp.... tappp... tappp..." terdengar jelas suara sepatu high heels berjalan kearah panggung itu.


Seorang wanita berambut hitam lurus panjang, berkulit putih cerah, dengan riasan ringan diwajahnya, tetapi sangat terlihat cantik apalagi dipadukan dengan gaun pengantin berwarna putih cerah ditubuhnya.


Tepat dibawah sinar lampu ditengah ruangan berhentilah Nayra disana. Seluruh mata tertuju padanya, terutama beberapa orang yang berdiri di beberapa area disana yang sdang menatap dalam padanya.

__ADS_1


"Nayra adalah mempelai wanitanya?..." guman kaget. Bella, Bayu, Gea, dan beberapa orang yang mengenal Nayra sebelumnya.


__ADS_2