Menjadi Wanita Penggoda

Menjadi Wanita Penggoda
MT 14: Apartemen Jackson


__ADS_3

Setelah perjalanan yang terasa cukup panjang karena adanya kemacetan, Alexa dan Jackson akhirnya tiba di apartemen milik Jackson. Saat turun dari dalam mobil, Alexa hendak menolong Jackson yang mabuk. Alexa takut, jika Jackson tidak bisa berjalan hingga ke apartemennya.


"Gak perlu." Ucap Jackson menepis tangan Alexa yang hendak menyentuh pundaknya.


"Tapi Anda terlihat...."


"Udah gue bilang gak usah." Potong Jackson. "Gue bisa sendiri."


Alexa lalu mengangkat kedua tangannya kemudian melangkah mundur menjauhi Jackson.


"Lo boleh pergi." Titah Jackson.


Alexa tak berkata apapun, ia masih berdiri diam. Tak beranjak pergi, hanya memandangi punggung Jackson yang hendak berjalan masuk ke gedung apartemen. Namun, baru dua langkah Jackson berjalan, ia sudah kelimpungan dan hampir terjatuh. Alexa dengan cepat menahan tubuh Jackson agar tak terjatuh.


"Mari saya antar." Ucap Alexa seraya merangkul Jackson.


Jackson tak punya pilihan lain, selain menerima bantuan Alexa.


Keduanya tiba di depan pintu apartemen Jackson. Alexa ikut masuk ke dalam apartemen. Mata Alexa mulai melihat sekeliling isi apartemen.


"Saya numpang ke kamar mandi Tuan." Ucap Alexa tanpa mendengar jawaban dari sang pemilik apartemen.

__ADS_1


Masuk ke dalam kamar mandi, Alexa melihat terdapat pisau cukur dan keperluan pria lainnya. Sama sekali tidak ada rambut panjang wanita, di dalam kloset juga tidak ada bekas alat kontrasepsi, semua tanda yang ada menunjukan kalau Jackson memang tinggal sendirian dalam waktu yang lama.


Sejak masuk ke dalam apartemen pun, Alexa tak melihat ada tanda-tanda bahwa Jackson pernah membawa wanita manapun ke dalam apartemennya.


'Bukankah gosip mengatakan bahwa dia adalah pria yang suka main dengan wanita. Meski ia berstatus pacaran dengan Jennie.'


"Sudahlah, aku lebih baik keluar."


Alexa benar-benar tidak menemukan apapun yang menunjukkan bahwa Jackson adalah pria yang suka dikelilingi wanita. Alexa awalnya tidak percaya pria yang punya uang dan kekuasaan seperti Jackson bisa berhati murni dan tidak punya hasrat, apalagi di usia yang terbaik bagi seorang pria. Tapi kenyataan membuat Alexa harus percaya kalau memang ada pria yang bisa menahan diri hingga tahap seperti ini.


Alexa keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Jackson duduk di atas sofa dengan tampang kelelahan. Alexa lalu membuka sedikit gorden jendela, tapi Jackson memerintahkannya untuk menutup kembali.


"Tutup." Titah Jackson.


“Biar saya saja.” ucap Alexa.


Alexa lalu membantu Jackson mencoba suhu air dengan bibirnya sendiri. Lalu bertanya pada Jackson dengan genit, "apakah airnya panas?"


Jackson tak merespon.


"Aiiiihh, airnya manis." Ucap Alexa lagi. "Tuan Jackson coba deh manis nggak?" Tanya Alexa.

__ADS_1


Semua yang dilakukan Alexa adalah rencana rayuan untuk menggoda Jackson.


Jackson terlihat tersenyum, tapi tatapan matanya tetap saja dingin.


"Kerjaan asisten gue termasuk memberi minum?” Tanya Jackson.


Alexa sudah mempersiapkan diri menghadapi pertanyaan Jackson, dia tidak tergoyahkan.


“Aku bertanggung jawab untuk semua kebutuhan pribadi Anda.”


Jackson melepaskan kancing kemejanya, lalu melepaskan ikat pinggang. Jackson duduk dengan malas-malasan, senyum di bawah matanya bertambah banyak, “Kebutuhan pria tidak bisa diatasi oleh sembarangan wanita.”


Jari tangan Alexa menyusup ke dalam pengait logam ikat pinggang Jackson. Suara gesekan yang halus membuat hati orang terasa gatal di malam hari.


“Apa aku boleh mengatasi kebutuhan Anda?” Tanya Alexa.


Alexa sudah memberikan kode secara terang-terangan, tapi Jackson malah mengambil gelas dari tangannya dan menarik tangannya dengan sikap yang terbilang cukup asing, lalu berjalan menuju kamar.


“Gue tidur dulu, lo boleh pulang.” Ucap Jackson.


Jackson menutup pintu tanpa ragu. Alexa ditinggalkan sendiri di ruang tamu, rasa frustasi yang belum pernah dirasakannya menelan dirinya seperti gelombang air laut yang pasang.

__ADS_1


'Dia masih saja menolak ku.'


Bersambung....


__ADS_2