Menjadi Wanita Penggoda

Menjadi Wanita Penggoda
MT 39: Menyatakan Perasaan


__ADS_3

Jackson tiba di rumah Kakek Parman sudah pukul 2 siang. Turun dari dalam mobil, ia kembali menggendong Alexa. Melihat Alexa digendong seperti itu, membuat Nek Aminah histeris memanggil sang suami yang tengah sibuk di kebun samping rumah.


Meski tubuhnya sudah renta, Kakek Parman masih sanggup berlari lumayan kencang. Setelah mendengar teriakan Nek Aminah yang memanggilnya, Kakek Parman bergegas datang.


"Ya Tuhan, ini kenapa bisa sampai begini?" Tanya Kakek Parman saat Jackson menurunkan Alexa dari gendongannya untuk duduk di kursi teras.


"Jatuh Kek." Balas Alexa.


"Dimana?" Tanya Nek Aminah. "Kenapa bisa sampai lebam-lebam begini? Aduuhh..."


"Nek, aku gak apa-apa." Ucap Alexa berusaha meyakinkan Nek Aminah yang terlihat cemas.


"Sok jagoan." Cibir Jackson yang ikut duduk disamping Alexa.


"Ini perlu diurut sedikit. Kalau tidak akan terus sakit dan bengkak." Ujar Kakek Parman.


"Terserah Kakek saja, yang penting saya bisa cepat sembuh." Balas Alexa.


Kakek Parman mulai mengurut kaki Alexa secara perlahan. Awalanya, Alexa masih bisa menahan sakit karena masih sekedar di elus-elus menggunakan minyak. Namun, saat Kakek Parman mulai menekannya Alexa berteriak dan refleks menarik tangan Jackson lalu menggenggamnya dengan sangat erat.


"Aduuuh, sakit Kek." Rintih Alexa.


Nek Aminah hanya bisa berdiri seraya mengelus pucuk kepala Alexa.


"Gitu aja cengeng. Tahan dong." Cibir Jackson.


"Gue tahu. Makanya lain kali tuh gak usah sok-sok mau pergi sendirian ke tempat yang rawan buat celaka kayak gitu. Bahaya, gimana coba kalau lo gak bisa jalan untuk pulang?"


"Tapi kenyataannya saya bisa balik kan. Hmmmm untung saja tadi ada cowok baik." Ujar Alexa.


"Cowok baik. Siapa?" Tanya Nek Aminah penasaran.


"Namanya Morgan Nek. Dia baik banget. Dia yang gendong aku dari bawah sampai bisa naik ke tempat parkiran." Jawab Alexa.


"Oh ya!" Seru Nek Aminah.


"Hmmmm, dia juga pria yang tampan." Alexa terkekeh.


Raut wajah Jackson terlihat tidak suka saat Alexa membicarakan Morgan.


"Apakah orang sini?" Tanya Kakek Parman yang masih mengurut kaki Alexa dengan perlahan.


"Bukan Kek. Dia dari kota juga, namanya Morgan."


Jackson langsung berdiri tanpa basa-basi lalu masuk ke dalam rumah dan terdengar suara pintu kamar yang dibanting keras.


"Kenapa dia?" Ucap Alexa.


Kakek Parman dan Nek Aminah saling pandang. Keduanya tersenyum samar, sepertinya mengerti apa yang dirasakan Jackson. Sementara Alexa sendiri masih terlihat bingung.


Akhirnya kaki Alexa selesai diurut. Nek Aminah membantunya masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.


Sore menjelang....


Suasana desa semakin sejuk karena terik matahari sudah tidak begitu menyengat. Alexa memilih untuk duduk dibawah pohon rambutan yang rindang disamping rumah. Sementara Jackson, sejak tadi siang tak kunjung keluar dari dalam kamar.


'Mungkin sedang tidur.' pikir Alexa.


Nek Aminah datang menemani Alexa duduk berdua sambil mengobrol. Sebuah mobil berhenti tepat dihadapan rumah. Nek Aminah menatap Alexa seolah bertanya siapa yang datang. Alexa hanya mengangkat bahunya.


Tak lama muncul sosok Morgan yang turun dari dalam mobil dengan membawa setangkai bunga dan mengalungkan kamera milik Alexa di lehernya.


"Morgan!" Seru Alexa.


"Itu yang kamu ceritain tadi?" Tanya Nek Aminah dibalas anggukan kepala Alexa. "Tidak kalah ganteng dari Bos kamu."


Alexa tersenyum, Morgan melambai ke arah Alexa dan berjalan mendekat.


"Hai...." Sapa Morgan.


Alexa mengangguk, sementara Nek Aminah memilih untuk meninggalkan keduanya untuk mengobrol setelah mempersilahkan Morgan untuk duduk. Morgan lalu menyodorkan bunga pada Alexa.


"Buat aku?" Tanya Alexa sembari menunjuk dirinya sendiri.


"Iyalah, masa buat Nenek kamu." Gelak Morgan.


"Makasih." Balas Alexa.


"Aku gak tahu kamu suka makanan apa. Jadi aku bawain bunga aja. Lagian, disini agak susah untuk nyari makanan, beda dengan di kota. Tapi, aku janji nanti kalau sudah kembali ke kota aku bakal ajak kamu makan. Itupun kalau kamu bersedia."


"Tentu saja." Balas Alexa. "Ngomong-ngomong, kamu tahu aku disini darimana?" Tanya Alexa.


"Aku minta supir untuk ikutin kamu tadi siang." Jawab Morgan.


Alexa tersenyum, keduanya melanjutkan mengobrol santai sambil menikmati suasana sore yang menyejukkan.


Di dalam rumah, Jackson baru keluar dari dalam kamar mandi dan berpapasan dengan Nek Aminah.


"Nek..." Jackson mengangguk.


"Gak ikut duduk sama Alexa?" Tanya Nek Aminah.


"Gak Nek, saya lelah." Balas Jackson. "Saya ke kamar dulu." Lanjut Jackson.


Dari arah liar rumah, Kakek Parman masuk dan mengangguk saat berpapasan dengan Jackson.


"Bu, siapa orang yang sedang duduk dengan Alexa?" Tanya Kakek Parman.


"Morgan Pak, pria yang diceritain sama Alexa tadi. Ganteng ya." Balas Nek Aminah seraya melirik ke arah Jackson yang masih berdiri di depan pintu kamar.


"Hmmmm iya-iya."


Rahang Jackson mengeras, ia masuk ke dalam kamar dan segera berganti pakaian. Lantas ia keluar rumah dan hendak mendekati Alexa dan Morgan yang sedang mengobrol. Tapi, ego kembali menguasai dirinya.


'Tidak. Untuk apa aku harus kesana.'


Jackson memilih duduk di teras rumah sambil memainkan ponselnya. Sesekali mata Jackson melirik ke arah Alexa yang terdengar tertawa renyah saat mengobrol dengan Morgan. Mata Jackson, memicing saat melihat bunga yang terdapat di pangkuan Alexa.


"Aku boleh minta nomor hp kamu gak? Mmmmm biar bisa...."


"Sini hp kamu, biar aku tulis sendiri." Balas Alexa.


Morgan terlihat sangat senang, ia dengan sigap mengambil ponsel yang ada di dalam sakunya lalu memberikannya pada Alexa.


"Aku bakal balik besok siang ke kota, kamu sendiri kapan?" Tanya Morgan.

__ADS_1


"Kayaknya sih besok juga. Tapi gak tahu kapan, bisa pagi, siang atau juga sore. Semuanya tergantung si Bos." Jawab Alexa.


"Sudah berapa lama kamu bekerja dengan Jackson?"


"Dua hari lagi, baru satu bulan."


"Baru sebulan?" Tanya Morgan tak percaya.


Alexa menganggukkan kepalanya. "Kenapa?" Tanya Alexa.


"Gak ada apa-apa. Oh ya kalau kamu bosan kerja sama dia, hubungi saja aku. Aku bakal jadiin kamu sekretaris aku."


"Hehehe iya." Balas Alexa.


Dari depan rumah, Jackson terus melirik ke arah Wlexa dan Morgan. Ia penasaran apa yang dibicarakan oleh mereka berdua.


'Aku tidak bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan.'


Kakek Parman menepuk pundak Jackson hingga membuatnya kaget.


"Ada apa?" Tanya Kakek Parman.


"Gak ada apa-apa." Balas Jackson seraya memperbaiki posisi duduknya. "Kakek mau kemana?" Tanya Jackson.


"Mau mancing di kolam, buat makan malam nanti."


"Ohh..." Balas Jackson.


Kakek Parman berlalu meninggalkan Jackson yang masih bengong, saat melewati Alexa dan Morgan, giliran Morgan yang bertanya pada Kakek Parman.


"Boleh saya ikut?" Tanya Morgan saat Kakek Parman memberitahunya tentang kegiatan yang akan ia lakukan.


"Tentu saja." Balas pria yang rambutnya sudah putih itu.


"Kalau begitu aku ikut juga. Ya walaupun gak bisa ikut mancing, aku mau jadi penonton aja." Ucap Alexa.


Ketiganya lalu berjalan menuju empang yang masih berada dalam satu lingkungan dengan rumah. Morgan membantu Alexa untuk berdiri dan memegangi tangannya untuk membantunya berjalan.


"Mau kemana mereka?" Ucap Jackson.


"Mau mancing." Balas Nek Aminah yang tiba-tiba sudah berdiri di pintu. "Kamu tidak ikut?"


"Tidak." Balas Jackson cepat.


"Ya sudah, sepertinya Alexa akan bersenang-senang dengan Morgan." Ucap Nek Aminah lalu masuk ke dalam rumah.


Jackson tak bergeming, hatinya mengatakan untuk segera menyusul Alexa. Namun, egonya terus menahan dirinya untuk pergi. Jackson memilih berjalan ke luar pekarangan rumah, dengan maksud hendak berjalan-jalan menikmati suasana sore.


Sekilas Jackson melirik ke arah dimana kolam ikan berada. Alexa terlihat duduk berdampingan dengan Morgan yang tengah memegang pancing. Alexa terus menampilkan senyuman manisnya, entah apa yang dikatakan Morgan padanya hingga Alexa terus saja terlihat tertawa.


"Untuk apa aku melihat mereka, lebih baik aku pergi." Ucap Jackson kesal.


Cukup lama Jackson berjalan-jalan hingga saat ia kembali, ia mendapati Alexa dan Morgan tengah sibuk membakar ikan hasil tangkapan mereka tadi. Alexa tampak sibuk mengipas-ngipasi bara api, sementara Morgan terlihat mengibaskan kipas ke wajah Alexa yang memang berkeringat.


"Kok kamu malah kipasin aku sih? Ikannya dong." Ucap Alexa tertawa.


"Habis kamu keringetan banget sih." Morgan ikut tertawa. "Sini biar aku aja." Morgan mengambil kipas yang terbuat dari anyaman bambu itu dari tangan Alexa kemudian mulai mengarahkannya pada bara api.


Mata Alexa tiba-tiba kelilipan karena kemasukan abu dari bekas kayu bakar yang berterbangan.


"Maaf, maaf. Aku kekencengan kipasinnya. Sini biar aku tiup."


Morgan langsung memegang kepala Alexa lalu mengangkat kelopak mata Alexa yang sebelah kanan dan meniupnya perlahan. Jackson yang melihat adegan itu semakin panas, lalu tanpa sadar segera mendekati mereka.


"Ngapain lo masi disini?" Ucap Jackson dengan nada tinggi pada Morgan.


"Apa urusannya sama lo, gue disini atau gak. Lagian pemilik rumah sudah mempersilahkan gue untuk makan malam bersama disini." Balas Morgan.


Alexa menatap Jackson dengan heran. Mata Alexa masih memerah dan berair. Jackson langsung menarik tangan Alexa untuk mengikutinya.


"Apaan sih Tuan." Pekik Alexa.


"Gak usah duduk dekat asap. Lihat mata lo udah merah. Kalau terus duduk dekat api, bisa-bisa mata lo iritasi karena perih disebabkan asap."


Jackson langsung meminta Alexa untuk duduk di depan rumah berdampingan dengan dirinya. Sementara Morgan hanya bisa menggerutu dan melanjutkan membakar ikan.


'Kalau bukan karena Alexa, aku tidak akan mau melakukan semua ini.'


************


Hari mulai gelap, semua orang sudah duduk di ruang makan. Karena meja makan yang terlalu kecil, mereka semua memutuskan untuk duduk lesehan di lantai. Bagi Morgan, ini adalah pengalaman pertamanya makan dengan menu yang menurutnya sangat sederhana.


Di hadapan mereka semua sudah terhidang berbagai menu, mulai dari ikan bakar, sayur bening, sambal tomat, tahu dan tempe goreng dan ada beberapa butir telur rebus.


Alexa mulai menyajikan makanan untuk Morgan diatas piring. Saat Alexa menyodorkannya pada Morgan, dengan cepat Jackson mengambilnya. Semua orang terdiam melihat tingkah aneh Jackson.


"Seharusnya lo layani gue, gue ini bos lo. Bukan dia."


Alexa menghela napas panjang, karena tak mau berdebat di hadapan makanan, Alexa memilih untuk tetap diam dan mengambil piring lain untuk Morgan.


"Ini..." Alexa menyodorkan piring berisi nasi dan beberapa lauk kepada Morgan. "Kamu bisa makan ini kan?" Tanya Alexa.


"Tentu saja." Balas Morgan.


"Halah, pembohong." Cibir Jackson. "Dia mana pernah makan yang beginian, seleranya itu western atau makanan luar. Kalau makanan seperti ini....."


"Siapa bilang?" Ucap Morgan menyela ucapan Jackson. "Jangan sok tahu deh."


"Sudah-sudah, gak baik gaduh di depan makanan. Ayo lebih baik segera dinikmati hidangannya." Ujar Nek Parmin.


Sepanjang acara makan malam, ada saja kelakuan Jackson yang membuatnya menjadi pusat perhatian. Alexa hanya bisa menggeleng terlebih saat Jackson selalu merebut semua makanan yang hendak diberikannya kepada Morgan. Sementara Nek Aminah dan Kakek Parman hanya bisa menahan tawa.


Makan malam pun selesai, Morgan mengajak Alexa untuk duduk diluar, sementara Jackson tengah sibuk dengan menerima panggilan telepon.


"Aku mau balik sekarang, malam sudah semakin larut." Ujar Morgan.


"Ya udah, hati-hati ya." Ucap Alexa.


Morgan tiba-tiba menggenggam tangan Alexa.


"Alexa, aku tahu ini terlalu cepat. Bahkan sangat cepat, tapi aku mau jujur sama kamu. Aku suka sama kamu, aku harap kamu mau memberikan aku kesempatan untuk deketin kamu." Ucap Morgan.


Alexa terdiam.


"Kita memang baru bertemu tadi siang. Tapi gak tahu kenapa rasanya aku tuh seneng banget bisa dekat sama kamu. Bolehkan?"

__ADS_1


"Aku gak mungkin bisa larang orang untuk menyukai aku. Aku hargai kejujuran kamu, tapi seperti yang kamu bilang tadi semuanya terlalu cepat untuk kamu menyatakan rasa suka. Tapi kembali lagi, kita gak tahu kapan dan dengan siapa rasa suka itu muncul. Kalau kamu nanya apakah kita bisa berhubungan baik sebagai teman tentu saja aku setuju. Tapi, untuk....."


"Tidak-tidak. Aku tidak akan memaksamu untuk balik menyukai aku. Tapi biarkan aku menunjukan semuanya sama kamu."


Alexa kemudian mengangguk. Wajah Morgan sumringah, ia lalu bangun dan berpamitan untuk pergi.


"Sampai ketemu di kota. Aku akan terus mengejar mu." Ucap Morgan.


Alexa hanya tersenyum, Morgan melambai di samping mobilnya lalu segera masuk dan pergi. Sementara di sisi rumah, ternyata Jackson mendengar semua ucapan yang dikatakan Morgan pada Alexa tadi.


Jackson berjalan mendekat dan berdiri dengan congkak dihadapan Alexa. Alexa mengerutkan dahinya.


"Ada apa Tuan?" Tanya Alexa.


"Lo jadi cewek murahan banget ya." Ucap Jackson.


"Maksud Anda?"


"Lo baru aja bertemu dengan Morgan tadi siang, dan lo langsung setuju gitu aja untu dia deketin lo. Cih... Dasar...."


Alexa berusaha berdiri, hatinya begitu sakit mendengar ucapan Jackson.


"Apa hak Anda menyebut saya murahan? Memangnya saya ini sudah menjajakan tubuh saya pada banyak pria? Tahu apa Anda tentang saya. Dan terserah saya mau setuju atau tidak untuk berteman dan lebih dekat dengan Morgan. Dia pria yang baik, lembut dan setidaknya berani bicara jujur dan blak-blakan tentang perasaannya terhadap saya. Tidak seperti Anda yang lain di mulut lain di hati."


"Apa maksud lo? Apa lo pikir gue suka sama lo? Heh, gak usah mimpi. Lihat dulu diri lo siapa, seperti apa. Lo gak pantas buat gue."


"Huh gak pantas? Benarkah? Jika tidak pantas, kenapa Anda seberingas itu mencium dan menjamah tubuh saya? Hah?" Teriak Alexa.


"Lo itu ya...."


"Apa?" Teriak Alexa lagi. "Dengar baik-baik ya Tuan Jackson yang terhormat. Saya mengundurkan diri sekarang juga. Saya tidak mau lagi bekerja bersama Anda. Saya ingin bebas, bebas agar bisa berduaan dengan Morgan tanpa diganggu oleh Anda."


Alexa kemudian berusaha berjalan masuk ke dalam rumah. Jackson terdiam, ia terlihat menyesali semua yang telah dikatakannya. Ia lalu duduk di kursi depan rumah dan meremas rambutnya.


"Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa lagi-lagi aku menyakitinya?"


Dari dalam rumah, sosok Kakek Parman keluar dan duduk disamping Jackson lalu mengusap punggung Jackson.


"Kalau suka bilang suka, jangan gengsi." Ucap Kakek Parman.


Jackson menatap Kakek Parman.


"Saya sangat sering menyakiti hatinya dengan kata-kata saya."


"Turunkan sedikit ego mu itu. Jangan sampai karena gengsi bisa membuat kamu kehilangan dia. Kakek lihat, dia juga sangat menyukaimu. Tapi, dia juga pasti malu untuk mengungkapkan perasaannya lebih dulu."


Jackson menunduk. Kakek Parman kembali menepuk pundaknya lalu masuk ke dalam rumah. Jackson masih memilih duduk di luar hingga malam semakin larut. Beberapa lama ia berpikir, dan tekadnya pun sudah bulat untuk mengakui perasaan yang ia punya pda Alexa.


Jackson berjalan masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Kamarnya memang berdampingan dengan kamar Alexa. Ia berdiri di depan pintu kamar Alexa, menimbang-nimbang apakah ia akan memberitahukan Alexa saat ini juga atau besok.


"Sepertinya dia sudah tidur." Ucap Jackson lalu beralih masuk ke kamarnya.


Namun, sampai pukul 12 malam. Jackson belum juga bisa tidur.


"Aku tak bisa menunggu sampai besok. Bagaimana jika ia menerima cinta Morgan lewat telepon." Ucap Jackson seraya meremas rambutnya. "Aku harus mengatakan semuanya sekarang."


Jackson keluar dari dalam kamar dan berdiri di depan kamar Alexa kemudian berpikir bagaimana caranya untuk membangunkan Alexa.


'Jika aku mengetuk pintu, semua orang di rumah bisa bangun.' pikir Jackson.


Jackson lalu kembali ke kamar mengambil ponselnya dan menelepon Alexa.


Tuttttt......


Panggilan pertama tak ada jawaban. Jackson kembali berusaha, hingga panggilan kelima kalinya Alexa baru menjawab panggilannya.


"Ada apa?" Pekik Alexa kesal.


"Buka pintu." Ucap Jackson.


"Mau apa sih? Sudah malam, kalau mau minta maaf besok saja. Saya ngantuk."


"Gue hitung sampai tiga, kalau lo gak buka pintu gue teriak. Biar seisi rumah pada bangun." Ancam Jackson.


"Gilaaa..." Pekik Alexa lalu memutus sambungan telepon.


Jackson tersenyum dan kembali berdiri tegas di depan pintu kamar Alexa. Perlahan terdengar suara kunci diputar dari dalam kamar. Dengan perlahan Alexa membuka pintu dan menatap Jackson kesal.


"Apalagi?" Ucap Alexa dengan berbisik.


"Maaf." Balas Jackson.


"Hhmmmm iya. Udah ya, tidur du...."


Lagi-lagi, Jackson mencium Alexa secara tiba-tiba. Alexa yang terkejut berusaha mendorong Jackson, namun Jackson balik mendorongnya hingga masuk ke dalam kamar. Setelah masuk ke dalam kamar, Jackson langsung menutup dan mengunci pintu.


"Mau apa?" Tanya Alexa gugup.


Jackson tak kalah gugupnya, ia mengarahkan tubuh Alexa agar duduk ditepian tempat tidur, sementara ia duduk berjongkok dibawah.


"Dengarkan aku." Ucap Jackson dengan tatapan mata yang penuh keseriusan. "Aku memang bodoh, sangat bodoh. Aku pria yang tidak tahu bagaimana caranya mengatakan rasa suka pada wanita. Egoku terlalu tinggi, aku selalu berharap bahwa wanitalah yang lebih dulu menyatakan rasa sukanya padaku. Aku bahkan sampai tega menyakitimu karena egoku ini. Alexa, aku...."


"Aku menyukaimu...." Ucap Alexa memotong ucapan Jackson.


Jackson tersenyum.


"Mari berpacaran." Ucapnya, Alexa mengangguk.


Jackson lalu duduk disamping Alexa dan mulai menciumnya dengan lembut. Keduanya berciuman dengan sangat liar diatas tempat tidur. Tangan Jackson dengan bebas berselancar di tubuh Alexa. Keduanya benar-benar dimabuk cinta. Alexa bahkan sudah tak merasakan sakit dikakinya lagi. Jackson benar-benar pria yang hebat dalam hal bermesraan, Alexa dibuat seperti melayang di udara.


Tepat saat Jackson hendak menyentuh bagian yang sangat terlarang, Alexa menghalangi tangan Jackson.


"Tidak. Jangan sekarang." Ucap Alexa.


"Kenapa?" Tanya Jackson.


"Aku ingin mempersembahkannya pada suamiku kelak."


"Tapi, aku akan menjadi suamimu."


"Ku mohon, tunggulah sampai waktu itu tiba." Ucap Alexa.


Meski terlihat kecewa, Jackson pun setuju dan berusaha untuk menahan dirinya. Meski begitu keduanya melanjutkan aksi berciuman mereka hingga tanpa mereka sadari keduanya tertidur dalam posisi berpelukan.


Bersambung......

__ADS_1


Jangan lupa beri like, komen, vote dan hadiahnya juga yaa... 🥰


__ADS_2