
PoV Joshua
Itu pantas untuknya! Dia bahkan berani berbohong kepadaku. Dasar wanita licik! Aku masih tidak percaya apa yang Mama katakan kepadaku sebelumnya.
"Dia tunangan mu Joshua. Bukankah dia cantik?" Ucap Mama dengan riang.
"Apa? Tunangan? Ma, bukankah kita sudah membicarakan hal ini sebelumnya? Aku tidak mau wanita lain, selain Leoni." Balasku.
"Tidak Joshua. Hal ini sudah diputuskan. Dia bahkan siap untuk menjadi tunangan mu." Ucap Mama.
"Tidak. Mama harus batalkan pertunangan ini atau Mama tidak akan melihat aku lagi." Ucapku mengancam Mama.
"Tapi Joshua...."
"Tidak ada tapi-tapian. Mama pilih saja." Ucapku.
"Kau pikir kau bisa mengancam Mama dengan mudah? Apa kau pikir Mama takut kehilangan dirimu? Tidak Joshua, karena kau bukanlah siapa-siapa tanpa Mama dan Papa." Ucap Mama dan mengakhiri obrolan kami.
Itu ternyata adalah peringatan dari Mama.
Mama sudah bersiap kehilangan aku untuk wanita licik itu.
...****************...
PoV Jessica
Aku tiba di rumah sekitar pukul 15.30 dan langsung menjatuhkan tubuhku ke sofa empuk. Karena malas memasak, aku memesan makanan dari toko makanan online. Notifikasi di telepon mengatakan bahwa makanan akan diantar secepatnya. Sementara itu aku memutuskan untuk menonton televisi.
"Lola tolong tetaplah bersamaku. Aku tidak bisa kehilangan dirimu. Maksudku, kau adalah seluruh dunia bagiku." Ucap pria di televisi.
Cih! Terlalu klise. Aku mematikan televisi dan pergi ke dapur. Aku membuka lemari pendingin dan mengambil minuman ringan sedingin es. Aku menghabiskan seluruh isi botol itu hanya dalam waktu 1 menit dengan tegukan besar.
Aku akan pergi ke kamarku untuk memeriksa beberapa barang sambil menunggu makanan, tapi bel pintu berbunyi tepat pada waktunya.
'Ah aku benar-benar lapar!'
Saat aku membuka pintu...
"Maaf Nona, ini tagihan listrik anda." Ucap seorang pria bertopi sambil tersenyum dan memberikanku nota tagihan listrik.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk lalu menutup pintu.
"Ah yang benar saja kenapa makanannya terlambat!"
Aku melihat jam di tanganku yang sudah menunjukkan pukul 05.00 sore dan aku memesan makanan di jam 04.00 sore aku hendak memasuki rumah ketika aku mendengar bel pintu berbunyi lagi.
"Ah..." Teriakku frustrasi.
Aku melangkah mundur dan berjalan menuju pintu dengan kaki yang berat.
__ADS_1
Saat aku membuka pintu...
"Nona, ini kiriman untuk anda." Ucap seorang pria bertopi hitam.
Tapi anehnya dia bahkan tidak melihatku dan wajahnya tertutup. Dia mengenakan jaket hitam, topi dan masker hitam, juga sepatu karet hitam, jeans hitam dan sarung tangan hitam.
"Nona..." Ucapnya lagi.
Aku sedikit terkejut mendengar suaranya. Aku lalu menerima kiriman itu dan menandatangani sebuah kertas sebagai tanda terima. Bahkan sebelum aku bisa menutup pintu, dia mendorong pintu yang menyebabkan ku menjatuhkan makanan dan dia memaksa masuk ke dalam rumah.
Dia menutup pintu dan menarik sesuatu dari jaketnya.
'Senjata api!'
Dia dengan cepat mengarahkan senjata api yang dia keluarkan dari jaketnya itu kepadaku.
'Oh sial, seorang mata-mata!'
Aku langsung menendang senjata api yang dia arahkan kepadaku. Untungnya Aku berhasil mendapatkan kekuatanku untuk tendangan itu karena aku terkejut dengan apa yang baru saja dia lakukan, yaitu mendorong pintu dengan paksa.
Dia mencoba untuk meninju ku, tapi aku bisa menghindari pukulan itu. Aku segera mengambil paper bag berisi makanan yang aku pesan dan melemparkan paper bag itu ke wajahnya. Aku lalu menendang lututnya secepat mungkin dan meninju perutnya yang membuatnya mengerang kesakitan.
Dia menatapku dan dengan marah. Dia lalu melemparkan pukulan ke arahku yang membuatku mundur. Saat aku mendapatkan waktu yang tepat, aku meninju wajahnya dengan keras yang membuatnya menggelengkan kepalanya.
"Ayo penjahat!" Ucapku dengan senyum di wajahku.
'Dor...'
"Sial..." Umpat ku.
Aku terkena tembakan di lengan kiri ku. Dia dengan cepat menendang lenganku yang terluka yang menyebabkan terlalu banyak darah yang keluar dari sana.
'Sial!'
Aku mendapatkan kekuatanku untuk meninju wajahnya.
"Wah kau ternyata kuat juga ya." Ucapnya lalu memuntahkan darah dari mulutnya.
Dia kembali berusaha meninju ku, tapi aku bisa menghindari setiap pukulan yang dia berikan. Aku berhenti melangkah mundur saat kakiku membentur sebuah pot bunga.
"Kau tidak bisa menghindar lagi." Ucapnya sambil menyeringai.
"Brengsek!" Umpat ku.
Dia mencoba meninju wajahku. Tapi aku segera duduk. Aku mengingat bahwa aku menyembunyikan pisau atau senjata api di setiap pot bunga yang ada di rumah tanpa sepengetahuan orang tuaku.
Dia menendang lenganku yang terluka lagi. Dia benar-benar ingin membiarkanku menderita.
Aku berdiri sambil menarik tanaman di atas pot yang ku gunakan untuk memukul wajahnya yang membuatnya jatuh ke lantai. Sebuah pisau di dalam pot muncul dan aku mendapatkannya sebelum dia bisa berdiri.
__ADS_1
Saat dia berdiri, aku menyayat pisau di lengannya yang menyebabkan dia terluka. Lalu aku dengan cepat menikam perutnya.
Satu..
Dua...
Tiga...
Empat...
Lima...
Aku menghitung setiap tusukan yang aku berikan padanya. Pada tikaman kelima, tubuhnya roboh dan dia jatuh ke tanah. Lengan kiri ku menjadi kaku dan nafasku menjadi tidak stabil karena pertarungan ini.
Semenit kemudian, aku memutuskan untuk melepas topengnya, dan aku pun mengenalinya.
'Sialan kau Scorpio!'
Aku harap Mama tidak akan tahu tentang hal ini karena Mama pasti akan khawatir. Sebelum menyingkirkan tubuh penjahat ini, aku harus membersihkan lukaku terlebih dulu.
Aku membuka pintu dan langsung naik ke kamarku. Aku masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan lukaku dan mengeluarkan pelurunya. Aku mencoba yang terbaik untuk tidak berteriak karena rasa sakit. Setelah pelurunya keluar, aku menaruh obat dan menutupi lenganku dengan perban.
Setelah membersihkan lukaku, aku mendengar polisi datang.
'Apa-apaan ini? Siapa yang menelpon polisi? Sial!'
Aku bergegas keluar dan ada sebuah mobil polisi berhenti di depan rumah. Aku membuka gerbang dan polisi dengan cepat mendekati mayat dan memeriksa apakah dia memiliki denyut nadi.
"Dia tidak bernapas. Dia tidak memiliki denyut nadi. Dia meninggal sekitar 5 menit yang lalu." Kata seorang polisi di TKP.
Aku memperhatikan mereka saat mereka mencoba menghidupkan kembali mata-mata yang memasuki rumah kami.
"Hai Jess, apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka?"
Seseorang di belakangku bertanya dengan nada yang terdengar familiar.
"Leo." Ucapan lalu menghadapnya.
"Kau terluka. Biar aku periksa. Ayo pergi ke rumah sakit. Kau mungkin kehilangan banyak darah." Ucap Leo panik sambil memegang lenganku dan memeriksa lukaku.
"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir." Ucapku dengan tersenyum.
"Kau benar-benar keras kepala." Ucapnya.
"Kapten Leo, periksa ini." Ucap seorang rekan polisi sambil melambaikan tangannya memberikan isyarat kepada Leo untuk pergi ke sana.
"Aku akan segera kembali." Ucapnya sambil tersenyum.
Bersambung...
__ADS_1