
Mobil melaju membelah jalanan kota....
Sejak meninggalkan apartemen, Alexa terus saja menggerutu. Niat hati, hari ini ingin bersantai di apartemen, dirinya malah terjebak dengan Bos nya yang super menyebalkan ini. Alexa fokus menyetir, sementara pria yang duduk disampingnya memejamkan mata dengan wajah yang menghadap ke jendela.
"Stooopp...." Teriak Jackson tiba-tiba.
Alexa sontak mengerem mendadak. Ia begitu kaget, dan berteriak pada Jackson.
"Ada apa sih?" Teriaknya.
"Berhenti disana." Titah Jackson menunjuk sebuah taman.
"Ngapain?"
"Nggak usah banyak tanya. Kesana aja cepetan."
Tak mau banyak berdebat, Alexa berbelok ke arah taman yang ditunjuk Jackson.
Keduanya turun dari dalam mobil. Jackson berjalan lebih dulu, disusul Alexa yang tak mengerti untuk apa mereka berhenti di taman.
Angin mulai bertiup, daun-daun gugur menderai. Menutupi bangku yang ada di sisi utara taman yang berjarak tak jauh dari sebuah jalan. Jalan itu tak pernah lepas dari pandangan Alexa. Pohon-pohon cemara yang dilihat Alexa kemarin tingginya tak lebih tinggi dari pohon ceri itu sudah lama ditebang. Kayu-kayu nya masih ada di sana, di sebelah pintu masuk taman yang bergapura bambu-bambu berwarna biru langit. Sedari tadi angin berhembus ganas. Daun-daun yang tadinya masih bertengger di ujung ranting, akhirnya terlepas juga. Bunga-bunga yang sewaktu Alexa datang masih berbaris rapi membentuk tulisan ‘Taman Kaca’ kini lemas tak beraturan.
Di sisi langit barat, banyak awan yang menggantung berkerumun. Abu-abu warnanya. Matahari yang tadi seakan menyeringai panas, kini tertutup awan yang mungkin saja membawa kabar akan datangnya badai malam ini.
Angin bertambah kencang. Air-air mulai turun perlahan. Saluran irigasi kembali pada pekerjaan semula.
"Hujan." Ucap Alexa yang masih berjalan dibelakang Jackson mengikuti langkahnya.
"Ikut gue." Titah Jackson.
Alexa mengikuti langkah Jackson pergi ke seberang jalan depan taman untuk berteduh di depan toko barang-barang plastik. Ia heran, pada cuaca seperti ini kena Jackson malah mengajaknya kemari, bukannya kembali ke mobil.
Jalan kini basah kuyup. Banyak genangan di sana-sini. Pagi tadi, televisi di channel tiga belas memberitakan bahwa di kota ini akan terjadi badai yang lumayan besar. Suhu yang tercatat pada termometer menunjukkan angka 23°C. Badan Jackson terasa dingin. Bajunya basah tersiram air yang dicipratkan oleh mobil yang lewat dari arah barat tadi.
Tiba-tiba Jackson menarik lengan Alexa mengajaknya untuk ikut berteduh di sebelahnya. Baju Alexa juga basah kuyup setelah diguyur hujan yang baru saja turun. Tas jinjing berwarna hitam yang terbuat dari kain beludru juga basah. Alexa beruntung, isi dalam tas itu tidak ikut basah.
“Kita ngapain disini Tuan?” tanya Alexa.
“Neduh lah. Teritisan ini masih bisa menampung kita berdua.” Jackson bergeser sedikit ke kiri, memberikan isyarat kepada Alexa agar berteduh di sebelahnya.
Alexa lalu memandang jalan. Perasaannya mengatakan bahwa hujan akan turun cukup lama.
“Hujannya mulai deras,” ucap Jackson membuka pembicaraan setelah keduanya terdiam sekitar lima menit.
“Iya, sepertinya hujan akan turun cukup lama,” jawab Alexa ramah.
Gigi-giginya yang berderet rapi membentuk sebuah senyum yang hangat.
Benar saja, hujan turun bertambah deras. Gaduh air yang mengalir ke atap terdengar menggerutu. Langit sepertinya sedang sangat bersedih. Entah karena ditinggal kemarau atau karena sebab lainnya.
"Kita kembali ke mobil aja Tuan." Usul Alexa.
"Sudah. Diam disini saja." Balas Jackson.
Alexa hanya menghela napas panjang. Keduanya berdiri dalam diam sambil melihat ke arah hujan yang semakin deras.
Tiba-tiba Alexa menanyakan sebuah pertanyaan yang membuat Jackson begitu bingung.
“Bagaimana menurut Tuan tentang hujan?” Sederet kalimat tanya muncul dari sela-sela bibir Alexa.
"Gue gak terlalu menyukai hujan. Hujan selalu menjadikan gue perhitungan terhadap waktu,” jawab Jackson dengan muka kebingungan.
“Bagi saya, hujan itu terlalu kejam,” sebuah pernyataan keluar dari mulut Alexa sambil mengibaskan rambutnya yang basah.
Rambutnya menutupi bahunya yang tak cukup lebar.
“Iya, seperti itulah hujan. Selalu datang saat tak diharapkan. Burung-burung pun tak menyukainya,” pangkas Jackson.
Jackson tak terlalu paham mengapa Alexa menganggap hujan sebagai sesuatu yang kejam.
'Apakah ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku tentang hujan?'
Keduanya kembali terdiam dalam kerasnya suara hujan.
Di dekat toko barang-barang plastik tempat keduanya berteduh, ada sebuah kedai teh yang tak cukup ramai. Hal itu lumrah karena di kota ini kedai kopi menjadi salah satu tempat destinasi untuk para penikmat malam.
__ADS_1
“Bagaimana kalau kita ke sana, ke kedai kopi di sebelah toko ini? Mungkin segelas kopi bisa menemani kita sembari menunggu hujan reda,” seru Jackson yang tiba-tiba mengajak Alexa menuju kedai kopi di sebelah toko tempat mereka berteduh.
“Hm?” sahut Alexa sambil mendekatkan telinganya ke bibir Jackson meminta pengulangan.
“Ayo, ke kedai kopi sebelah toko ini, gue dengar ada jenis kopi baru yang kini menjadi minuman favorit orang-orang,” nada Jackson bertambah tinggi. Ia tak berniat memarahinya, hanya saja suara hujan begitu gaduh. Suara Jackson menciut dibuatnya.
“Boleh,” jawab Alexa menyetujui.
Alexa berjalan lebih dulu di depan Jackson. Jackson mengikutinya di belakang. Rambut Alexa yang mengkilat basah terlihat sangat indah. Tas jinjing beludru itu kini ada di bahu kirinya. Langkah keduanya beriringan mencari tempat kering yang tidak tergenang air. Tak terasa, keduanya sudah berada di depan pintu masuk kedai itu. Gedungnya cukup bagus, terlihat seperti bangunan kuno yang mencolok mata. Bangunan di sekitarnya sudah setinggi dua kali bangunan kedai itu. Di depannya tertulis ‘Kedai Kaca’. Tanpa pikir lama, keduanya masuk, dan terdengar bel yang menandakan ada pelanggan yang datang.
Di dalam kedai, hanya ada beberapa orang yang saling berpasangan. Raut wajah mereka menyiratkan rasa terima kasih kepada hujan. Mungkin karena hujan, mereka bisa menghabiskan sedikit waktu untuk bersama dengan seseorang yang mereka kasihi.
Dua gelas kopi arabika hangat mereka pesan untuk sekadar menghangatkan tubuh yang kedinginan karena hujan dan angin yang turun secara bersamaan. Alexa perlahan mencicipinya. Tangan yang tadinya menggigil kedinginan, kini sudah terlihat sedikit mendingan. Mungkin karena hangatnya kopi telah merasuk ke dalam aliran darahnya.
“Tuan, bolehkah saya tahu kenapa kita ke taman dan malah terjebak hujan disini, bukannya kembali ke mobil?” Tanya Alexa sambil menyelidiki wajah Jackson yang basah.
“Gue lagi pengen nyari udara segar aja.” Jawab Jackson sambil membenarkan posisi duduknya.
'Cari udara segar apanya. Bukankah didalam mobil juga dingin karena AC.' ucap Alexa dalam hati.
Alexa lalu merenggangkan tangannya lalu kembali memegang cangkir kopi, kuku-kukunya terlihat bersih, dan cantik.
Keduanya lalu tenggelam pada sebuah dialog yang hangat. Hujan di luar tak kunjung reda. Rintiknya semakin menjadi-jadi, hembus anginnya semakin membabi buta. Namun, syukurlah karena keduanya menemukan sebuah kedai kopi yang hangat di dalamnya.
Setelah empat puluh lima menit, keduanya kehabisan pokok pembicaraan. Alexa kembali terdiam, begitu pula dengan Jackson. Kembali, suasana menjadi asing bagi mereka berdua. Jackson melihat di luar jendela kaca, hujan semakin menjadi-jadi. Gemuruh yang menggelegar menggetarkan kaca kedai. Ingin sekali ia kembali berbincang dengan Alexa, setelah tadi pembicaraan keduanya yang membahas tentang kehidupan di masa lalu. Namun, Alexa lebih banyak berbohong tentang masa lalunya pada Jackson.
'Mungkin hujan bisa jadi pokok pembicaraan yang menarik bagi kami berdua.' pikir Jackson.
Setelah cukup lama mereka berdua terdiam memandangi jalanan di luar yang basah, Jackson memberanikan untuk menyambung pembicaraan.
“Oh iya, tadi lo bilang jika hujan itu kejam? Kenapa bisa seperti itu?” Jackson berpindah posisi ke sebelah jendela dan matanya tak pernah terlepas dari Alexa.
“Hujan pernah merebut seseorang dari saya. Beberapa tahun lalu, seorang lelaki pernah berkata kepada saya bahwa saya ini seperti hujan yang rintiknya menyejukkan mata siapa saja yang memandangnya. Saya sungguh mencintai hujan saat itu. Tapi setelah beberapa lama, lelaki itu pergi untuk selamanya. Selepasnya, hingga saat ini saya tak lagi terlalu menyukai hujan,” wajah Alexa berpaling dari jendela, lalu menatap Jackson.
Alexa terlihat sedih. Matanya yang tadinya sayu, kini berkaca-kaca memperlihatkan kerinduan yang teramat sangat pada seseorang. Seorang pria yang disebutnya tak lain adalah sang Papa. Malam itu hujan turun sangat deras saat sang Papa meninggal dan dirinya hendak dibunuh Robby, Gea dan Jennifer. Hal itu tak pernah dilupakan Alexa hingga saat ini. Bahkan saat tinggal bersama Kakek Parman dan Nek Aminah, Alexa selalu menghindari hujan dan memilih berada di dalam rumah.
Jackson pun sama, ia pernah mencintai hujan dengan sangat. Mungkin melebihi ia mencintai dirinya sendiri. Berkat hujan, Jackson pernah terjebak di suatu tempat bersama orang yang sangat ia cintai. Orang itu adalah Alice. perempuan yang telah ia titipkan hatinya padanya. Sudah 5 tahun Alice pergi luar negeri. Katanya, dia ingin menamatkan sekolahnya menjadi sarjana ekonomi dan akan kembali menemui Jackson saat sewindu setelah ia pamit akan pergi ke luar negeri. Dia berkata akan kembali saat hujan benar-benar lebat, dan saat angin benar-benar kacau.
Sudah beberapa kali hujan seperti ini turun mengguyur kota, tapi Alice tak kunjung pulang. Jackson tak tahu berapa lama lagi ia harus menunggunya untuk pulang. Kabarnya pun Jackson tak tahu, mungkin dia sudah melupakan Jackson untuk selamanya. Sejak saat itu, Jackson sudah tak lagi mencintai hujan dengan sangat. Menurutnya, setiap hujan mengguyur kota, ia hanya akan kembali mengingat tentang Alice yang mungkin tak akan kembali kepadanya.
Setahun belakangan, orang tua Jackson menjodohkannya dengan Jennie. Jackson yang sudah tak lagi mengharapkan Alice memilih setuju-setuju saja dengan perjodohannya. Apalagi perjodohan itu bukan hanya tentang menyatukan dirinya dengan Jennie tapi juga menyatukan kedua perusahaan besar milik keluarganya dan Jennie.
'Gadis ini cantik, rambutnya pun menarik. Sepertinya aku mulai tertarik padanya. Baris giginya yang putih tertata rapi. Besit senyumnya sungguh manis melebihi gula-gula. Aku menyukainya. Mungkin dengan mengenalnya, aku akan kembali mencintai hujan.' ucap Jackson dalam hati.
Rasa benci Jackson kepada hujan, sepertinya akan berangsur-angsur menghilang. Sebab dengan hujan kali ini, ia bersama dengan Alexa. Seorang gadis yang tak pernah ia bayangkan bisa datang dalam hidupnya. Tanpa sadar, Jackson tak lagi memikirkan Alice lagi sedari tadi. Mungkin hujan sengaja mengurungnya bersama Alexa di hari ini.
'Terima kasih hujan, untuk waktu dan kesempatan yang kau berikan kepadaku saat harapanku kepada Alice sudah sampai pada puncaknya. Setidaknya, setengah hati yang Alice tinggalkan akan menemukan pasangannya kembali.'
Alexa heran, sudah satu jam setengah hujan tak kunjung reda. Mungkin siang tadi, matahari sedang terik-teriknya. Atau mungkin laut yang sedang jahil-jahilnya sehingga mengganggu matahari yang sedang cemburu kepada gunung-gunung yang selalu mendapat perhatian dari angin muson yang berhembus manja. Di luar jendela, di seberang jalan sana, seorang laki-laki berumur sekitar dua puluh tahunan duduk di bangku taman. Jackson tak pernah melepas pandang pada lelaki itu.
“Kasihan lelaki itu. Dia kehujanan,” seru Alexa membangunkan Jackson dari lamunannya.
“Tidak, mungkin dia menyukai hujan. Atau mungkin dia sedang menunggu orang yang dicintainya.”
“Mana mungkin ada orang yang rela duduk di bawah rinai hujan yang lebat ini?” tanya Alexa penasaran.
“Mungkin saja. Gue pernah seperti dia. Gue pernah duduk berjam-jam hanya untuk menunggu seseorang. Sudah gue bilang tadi kan? Gue pernah mencintai hujan dengan sangat,” jawabannya sungguh mengguncang Alexa.
Alexa tak tahu, ternyata masih ada orang lain yang seperti dirinya dulu. Mencintai hujan dengan sungguh-sungguh. Rela menghabiskan waktu yang sangat berharga demi menunggu seseorang yang dicintainya di bawah rintik hujan yang selalu membisikkan agar seseorang menyerah untuk bersabar menunggu.
'Jackson pria hebat. Masihkah dia berharap pada seseorang yang pernah ditunggunya?'
“Lalu, bagaimana kabar seseorang yang Anda tunggu Tuan?” tanya Alexa menyambung pernyataan Jackson.
“Gue sudah lama menyerah untuk terus menunggunya.”
“Sepertinya kita sama, Tuan. Anda sudah menyerah untuk menunggu seseorang. Saya pun sama, karena sejatinya orang yang saya rindukan tidak akan pernah mungkin untuk kembali.”
“Ha-ha. Ternyata kita sama-sama menyerah soal tunggu-menunggu?”
“Ha-ha. Benar, Tuan,” tawa Alexa menutup perbincangan sesaat.
Bertepatan dengan akhir tawa Alexa. Hujan di luar mulai reda. Reda hujannya sungguh tiba-tiba. Padahal bagi Jackson ia kembali menyukai rintik air yang turun tanpa diminta.
“Tuan, sepertinya hujan di luar sudah berhenti. Apakah kita sudah bisa kembali ke mobil?” Tanya Alexa seraya mengikat rambutnya yang sudah mulai mengering.
__ADS_1
“Hmm, Oke." Balas Jackson.
Setelah membayar tagihan kopi yang mereka minum, keduanya keluar dari kedai. Orang-orang yang tadi ada di kedai, kini masih di sana. Tawa mereka sungguh lucu, menggambarkan kebahagiaan yang besar. Alexa iri dengan mereka. Sudah sangat lama ia tak tertawa seperti itu.
Keduanya berjalan bersebelahan. Alexa di kiri, dan Jackson di kanannya. Tinggi Alexa tak menyamai tinggi Jackson. Tingginya hanya setinggi bahu Jackson. Baju keduanya sudah sama-sama mengering. Kini di setiap jalanan yang mereka lewati, selalu ada burung-burung gereja yang keluar dari sarang merayakan hujan yang sudah reda. Tanpa mereka sadari, burung-burung itu menjadi pokok pembicaraan keduanya.
“Lihatlah burung-burung itu, Tuan! Mereka sangat senang hujan sudah reda.” Tangan Alexa diangkatnya setinggi mata Jackson. Menunjuk ke arah burung-burung gereja tadi.
“Hmmm. Burung-burung itu sungguh bahagia melihat jalanan tak lagi menggenang,” jawab Jackson menyetujui pernyataan Alexa.
Tak puas dengan jawaban Jackson, Alexa kembali bertanya. Kini tangannya sudah tak lagi menunjuk burung-burung itu.
“Lalu, pernahkan mereka mencintai hujan seperti kita?” Pandangan Alexa kini kosong melihat ke depan. Entah apa yang sedang dipikirnya.
“Mungkin pernah. Saat kemarau misalnya. Semua yang hidup pasti membutuhkan hujan! Mungkin burung-burung itu sama seperti orang yang kita tunggu. Dia hanya membutuhkan hujan sesaat. Namun jika ia sudah tak membutuhkannya, ia akan berpaling dan berbalik membenci hujan.”
'Tumben banget bisa bicara halus.' gumam Alexa dalam hati.
“Benar Tuan, mungkin mereka hanya cinta secukupnya kepada hujan. Tak seperti kita. Kita benar-benar mencintai hujan dengan sangat. Seperti cinta sungai kepada sawah-sawah yang ikhlas.”
Tak terasa, keduanya sudah sampai di parkiran tempat mobil Jackson berada. Di parkiran itu, tampak banyak air yang menggenang.
“Lihat, Tuan. Kita sudah sampai. Ayo cepat sebelum hujan turun lagi.” Alexa berlari menuju mobil yang ditunjuknya.
“Hati-hati." Teriak Jackson. "Jalanan licin akibat hujan.” Ia menyusul Alexa.
Alexa tak menghiraukan perkataan Jackson. Dia masih saja berlari tanpa takut tergelincir, karena jalan yang licin.
'Ini cewek bener-bener energik.'
Dan benar saja, Alexa yang berlari hampir saja terjatuh karena terpeleset. Untungnya Jakson dengan cepat menahan tubuhnya agar tak terjatuh. Bak adegan sinetron, keduanya saling menatap dengan jarak yang begitu dekat. Alexa dapat melihat mata Jackson dengan sangat jelas. Entah sudah kali berapa posisi keduanya sedekat ini. Meski Alexa selalu berusaha untuk menggoda Jackson. Tapi, setiap kali Jackson menatapnya, Alexa tetap saja tak bisa mengontrol detak jantungnya yang berdegup kencang.
"Mmmm Tuan, bisa lepaskan saya." Ucap Alexa.
"Lain kali hati-hati." Balas Jackson seraya mendorong Alexa dengan kasar.
'Dia kenapa sih?' pikir Alexa.
Keduanya kembali masuk ke dalam mobil. Kali ini giliran Jackson yang menyetir. Mobil mulai melaju membelah jalanan yang masih basah karena hujan. Kini sudah tak ada burung-burung yang berkeliaran. Pelangi menghiasi langit kota. Jingga senja menutup hari ini, hari baik di bulan yang tak terlalu buruk.
"Apa kita masih harus kembali ke kantor lagi?" Tanya Alexa. "Bukankah sudah terlalu sore, dan sebentar lagi kantor juga tutup." Lanjut Alexa.
Jackson memilih diam, pandangannya lurus ke jalanan.
"Tuan...." Panggil Alexa yang lagi-lagi tak mendapat jawaban Jackson.
Alexa menghela napas panjang. Ia ingin kembali ke apartemennya. Pakaian yang ia kenakan masih terasa lembab karena hujan.
"Bisakah Tuan mengantar saya kembali ke apartemen?" Tanya Alexa lagi.
"Lo pikir gue ini supir lo."
'Apaan sih? Kenapa sikapnya berubah begitu cepat. Tadi, cara bicaranya begitu tenang. Sekarang sudah kembali ke mode jutek dan dingin.'
Alexa kembali memilih diam dan membiarkan Jackson menyetir kemanapun ia inginkan.
Dua puluh menit berlalu, mobil Jackson malah mengarah ke arah apartemen miliknya.
'Kok malah kesini?' pikir Alexa.
"Gue mau ganti baju dulu. Gue kedinginan."
'Lah, kenapa cuma mikirin dirinya sendiri. Terus aku gimana?'
"Maaf Tuan, saya turun disini saja. Saya bisa kembali ke apartemen saya menggunakan taksi. Dan Tuan bisa kembali ke apartemen Tuan...."
"Siapa yang ngasih lo izin buat pulang?" Ucap Jackson.
Alexa terdiam, ia menatap Jackson dengan bingung.
"Lo ikut gue. Malam ini masakin makan malam buat gue."
"Tapi...."
"Gak ada tapi-tapi...."
__ADS_1
Bersambung....
Semuanya... Jangan lupa buat klik like, komen, vote dan kasih hadiah juga ya.... 🥰🥰