
Alexa berdiri mematung, masih mencerna semuanya. Mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut Jackson. Ia tak menyadari bahwa ketiga wanita yang membicarakannya tadi sudah bersimpuh dikakinya meminta maaf.
"Kami minta maaf, tolong maafkan kami." Ucap ketiganya.
Alexa tersadar lalu segera mundur.
"Kalian tidak perlu seperti ini." Pekik Alexa. "Setidaknya jaga harga diri kalian sendiri. Apakah pantas sampai harus bersimpuh seperti itu demi sebuah pekerjaan?" Lanjut Alexa. "Kalaupun kalian tidak bisa bekerja disini lagi, kalian kan bisa bekerja di tempat lain. Be smart and responsible aja kenapa sih. Kalian sudah berbuat salah, ya kalian harus menerima resiko dan bertanggung jawab atas apa yang kalian lakukan. Jangan seperti ini."
Ketiga wanita itu hanya bisa tertunduk dalam diam. Sementara Jackson tersenyum melihat sikap Alexa.
"Mungkin karir kalian memang bukan disini, jadikan semuanya pelajaran agar kalian gak dengan gampang bergosip tentang sesuatu yang belum tentu benar dan ujung-ujungnya jadi boomerang juga buat kalian. Apalagi kesalahan fatal yang kalian lakukan adalah bergosip tentang Bos yang memberikan kalian gaji selama ini." Ujar Alexa lagi.
"Aku benar-benar minta maaf." Ucap wanita pertama disusul kedua wanita lainnya.
Jackson mendekati Alexa lalu merangkul pundaknya. Semua karyawan yang melihat kejadian itu semakin dibuat terkejut.
"Dengarkan baik-baik. Mulai hari ini aku tidak ingin mendengar siapapun yang membicarakan hal yang buruk tentang kekasihku ini. Jika tidak, kalian semua akan bernasib yang sama seperti mereka." Ucap Jackson lalu menarik Alexa untuk ikut ke ruangannya.
Setelah keduanya pergi, suasana jadi riuh. Semua karyawan mulai berbisik-bisik. Namun tak ada satupun yang berani berkomentar. Mereka menyimpan semua pertanyaan di dalam hati mereka.
'Sejak kapan Tuan Jackson dan Alexa berpacaran?'
'Bukankah Tuan Jackson sudah memiliki kekasih yang bernama Jennie?'
Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepala para karyawan, tapi sekali lagi mereka tidak berani berkomentar apa-apa. Mengingat sang Bos sudah memberikan peringatan.
Tiba di dalam ruangan Jackson, tubuh Alexa langsung di dorong untuk duduk ke kursi. Sementara Jackson kembali duduk di kursinya.
"Jangan berpikir yang macam-macam." Ucap Jackson.
"Maksudnya?" Tanya Alexa.
"Gue tadi terpaksa bilang kalau lo itu kekasih gue. Jadi lo gak usah berharap banyak apalagi mimpi jadi kekasih gue."
Alexa menghela napas panjang.
"Lalu untuk apa Anda sampai harus mengatakan hal seperti itu dihadapan semua karyawan Anda? Bukankah itu akan mengundang spekulasi mereka?" Tanya Alexa.
"Apa lo lupa kalau Maya mergokin kita lagi ngapain?" Ucap Jackson balik bertanya.
'Tentu saja gak akan bisa dilupain.' Alexa menjawab dalam hati.
"Gue cuma gak mau image gue rusak dihadapan Maya yang bisa jadi juga bakalan bergosip diluaran sana. Gue gak mau dikatain suka nyium sembarangan cewek yang gak punya hubungan sama gue. Lagian semuanya salah lo karena udah nyosor duluan."
Alexa melotot, wajahnya menampilkan raut tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Nyosor duluan? What the...."
"Apa? Ngapain lo mau nyangkal. Emang kenyataannya kan selama ini lo selalu berusaha buat goda gue. Tapi selalu gagal."
Alexa menggeleng-gelengkan kepalanya lalu bangun dari duduknya.
"Sudah ya Tuan Harry Jackson yang terhormat. Sepertinya saya sudah tidak cocok lagi menjadi asisten Anda, saya memilih mengundurkan diri." Ucap Alexa lalu berbalik dan berjalan ke arah pintu.
Namun dengan cepat Jackson menahan agar pintu tak bisa dibuka. Ia membuat tubuh Alexa bersandar di pintu, lalu tangan kedua tangannya bertumpu pada pintu membuat jarak keduanya sangat dekat.
"Sudah gue bilang, lo gak bisa pergi gitu aja apalagi sampai mau mengundurkan diri. Waktu lo tersiksa satu minggu lagi. Setelah itu, lo boleh milih untuk tinggal atau pergi dari perusahaan ini." Ucap Jackson dengan tatapan yang tajam ke arah Alexa.
Alexa memilih melihat ke arah kiri menghindari tatapan mata langsung dengan Jackson. Cukup lama posisi keduanya seperti itu hingga Alexa berdeham.
"Kheemmmm..... Tuan, apa anda bisa...."
Belum selesai Alexa berucap, Jackson sudah berbalik dan kembali duduk di kursinya. Alexa akhirnya bisa bernapas lega.
"Baiklah Tuan, saya akan melanjutkan pekerjaan saya sampai satu minggu ke depan. Tapi, setelah itu saya akan langsung berhenti." Ucap Alexa. "Saya permisi Tuan." Lanjut Alexa lalu berbalik.
"Hei....." Teriak Jackson yang membuat Alexa kembali berbalik memandangnya.
"Iya Tuan, apa Anda memerlukan sesuatu?" Tanya Alexa dengan menampilkan senyum terbaiknya meski tengah kesal.
"Mengenai tadi...."
"Sudahlah Tuan, jangan dibahas lagi. Kita sama-sama sudah dewasa, hal seperti itu sudah biasa terjadi dan tidak berarti apa-apa."
"Baguslah kalau lo mengerti. Gue cuma mau mengingatkan kalau semua yang terjadi tadi bukan berarti gue tertarik sama lo. Gak, gak sama sekali. Semuanya murni terjadi karena lo godain gue." Ucap Jackson. "Jadi, gue berharap sebagai asisten, lo tahu batasan lo. Sampai kapanpun, gue gak akan pernah jatuh cinta sama lo."
Alexa alih-alih emosi, ia lebih memilih tersenyum menahan amarahnya dalam hati.
"Baik Tuan. Jika sudah tidak ada lagi, saya mohon permisi." Ucap Alexa lalu keluar dari dalam ruangan Jackson.
Alexa keluar dengan membanting pintu ruangan Jackson dengan keras. Ia lalu memilih untuk duduk bersama Maya. Sementara Jackson sendiri, setelah Alexa keluar ia malah langsung meremas rambutnya kasar.
"Aaaahhh apa yang sudah aku lakukan? Kenapa harus berkata seperti itu?"
Alexa duduk dengan wajah yang sangat cemberut.
"Kamu kenapa?" Tanya Maya.
"Gak apa-apa kok." Balas Alexa.
Keduanya lalu terdiam, Maya mulai sibuk dengan menatap layar komputer yang ada dihadapannya. Alexa memilih menyibukkan diri dengan bermain ponsel.
"Aku tak pernah menyangka Jackson bisa mengakui seorang wanita sebagai kekasihnya dihadapan orang banyak." Ucap Maya akhirnya.
"Maksud kamu?" Tanya Alexa penasaran.
"Aku tidak tahu sejauh mana hubungan kalian, tapi hari ini untuk pertama kalinya aku melihat Jackson mau mengakui hubungannya dengan seorang wanita dihadapan orang banyak." Ujar Maya. "Apa kau tahu, bahkan dengan wanita yang bernama Jennie, yang selama ini diketahui oleh para karyawan sebagai kekasihnya tak pernah sekalipun Jackson memberikan statement seperti itu."
Alexa terdiam.
"Dan kau tahu, hal yang paling membuat aku terkejut adalah saat mendapati kalian berciuman." Lanjut Maya cekikikan.
Alexa langsung menepuk pundak Maya pelan, pipinya merona merah.
"Memangnya selama ini kau tidak pernah mendapati Jackson mencium Jennie?"
Maya menggeleng, masih dengan tawa yang ditahan.
"Jangankan dicium, berduaan dalam ruangan dengan waktu yang lama saja tidak pernah. Yang aku lihat, Jackson selalu berusaha menghindar dengan mengatakan sedang banyak pekerjaan. Jackson bahkan enggan hanya untuk sekedar memegang tangan Jennie dihadapan para karyawan. Tapi tadi, aku terkejut melihat Jackson bahkan berani merangkul mu dihadapan semuanya. Sepertinya kau memang sangat istimewa baginya."
"Istimewa apanya. Aku malah layaknya seorang pembantu." Protes Alexa.
"Hahahahaha....." Maya hanya tertawa mendengar ucapan Alexa.
Maya tak mau menjelaskan lebih detail mengenai sikap Jackson yang sesungguhnya pada Alexa. Ia ingin Alexa nantinya akan mengetahui sendiri bagaimana Jackson yang sesungguhnya.
Jackson yang diketahui Maya adalah seorang pria yang memang gengsian. Ia tak akan pernah mengakui rasa suka atau cintanya pada seorang wanita lebih dulu. Jackson akan lebih memilih menyimpan perasaannya daripada harus mengatakannya lebih dulu.
Telepon yang ada di meja Maya berbunyi. Dengan cepat Maya mengangkatnya.
__ADS_1
"Siapkan kopi untukku." Ucap Jackson.
"Baik Tuan, akan segera saya siapkan." Balas Maya.
"Aku bukan memintamu, berikan perintahnya pada asistenku itu."
"Baik Tuan." Maya tersenyum.
Maya menaruh kembali gagang telepon dan menatap Alexa.
"Ada apa?" Tanya Alexa.
"Pangeran mu minta dibuatkan kopi." Jawab Maya.
Alexa mencebik kesal.
"Pangeran apanya!"
Dengan malas, Alexa melangkah ke pojok ruangan dimana mesin pembuat kopi tersedia. Ia mulai meracik kopi yang akan dibuatnya untuk Jackson.
"Biar tahu rasa." Ucap Alexa dengan menaruh takaran lebih banyak kopi.
"Jika aku jadi kau, aku tidak akan melakukan hal itu." Ucap Maya.
Alexa menoleh ke arah Maya yang ternyata memperhatikan apa yang tengah dilakukannya.
"Biarkan saja, aku ingin memberinya pelajaran." Balas Alexa.
"Terserah kau saja, tapi jangan salahkan aku nantinya jika sesuatu terjadi padamu. Aku sudah memperingatkan mu ya."
Alexa tak mengindahkan peringatan Maya, ia memilih tetap melanjutkan aksinya.
Setelah selesai membuat kopi, Alexa segera masuk ke dalam ruangan Jackson dan memberikan secangkir kopi buatannya dengan penuh senyuman. Jackson menatap Alexa penuh tanya tanya.
"Silahkan dinikmati kopinya Tuan....." Ucap Alexa lembut.
Saat ia hendak keluar, Jackson kembali memanggilnya.
"Kemari lah." Ucap Jackson menunjuk posisi di samping kirinya.
"Ada apalagi Tuan?" Tanya Alexa.
"Tidak ada. Gue hanya ingin lo berdiri di samping gue sampai gue selesai minum kopi."
Alexa tak bisa melawan, ia memilih mengikuti perintah Jackson. Ia lalu berdiri tepat disamping Jackson.
Jackson mulai menyesap kopi yang sangat pahit itu. Namun, tak ada perubahan ekspresi apapun diwajahnya. Jackson malah seperti menikmati kopi itu.
'Apa lidahnya memang menyukai hal yang pahit?' pikir Alexa.
Jackson kembali menyesap kopi itu, kali ini dengan jumlah yang lebih banyak. Ia lalu langsung berdiri yang sontak membuat Alexa kaget karena ia langsung mendorong Alexa ke tembok dan memegangi dagunya kemudian langsung menciumnya tanpa apa-apa. Hal yang tak habis dipikir oleh Alexa adalah dimana Jackson menyemburkan kopi yang tadi diminumnya ke dalam mulutnya.
Alexa berontak ingin muntah, tapi Jackson tak melepaskan cengkraman dan ciumannya, hingga Alexa terpaksa menelan kopi itu.
Jackson lalu melepaskan ciumannya dan tersenyum. Ia lalu duduk di kursinya dan menatap Alexa dengan wajah yang memanas. Alexa mengusap bibirnya yang terasa belepotan karena kopi.
"Bagaimana sayang? Kopinya enakkan?" Ucap Jackson dengan nada genit.
Alexa terdiam, ia masih merasa begitu jengkel.
"Buatkan yang baru." Titah Jackson seraya menyerahkan cangkir kopi itu ke hadapan Alexa.
"Hei." Panggil Jackson lagi, namun Alexa tak berbalik. Ia memilih diam di posisinya.
"Dengerin gue baik-baik." Ucap Jackson penuh penekanan. "Setiap kali lo ngelakuin kesalahan, jangan salahkan gue untuk melakukan hal yang tadi." Lanjutnya.
"Maksud Anda?" Tanya Alexa berbalik.
"Setiap kesalahan yang lo lakuin, maka hukumannya adalah sebuah ciuman." Jawab Jackson santai.
"Dasar mesum." Cebik Alexa lalu keluar.
Maya menatap cangkir kopi yang dibawa Alexa keluar, ia lalu tersenyum.
"Dapat hukuman apa tadi?" Tanya Maya cekikikan.
"Gak usah dibahas." Balas Alexa.
Meski kesal, Alexa kembali membuatkan kopi yang baru untuk Jackson. Kali ini ia membuatnya dengan sungguh-sungguh. Pikiran Alexa kembali pada hal yang baru saja terjadi.
'Kenapa pria itu tiba-tiba jadi mesum begini? Bukankah aku yang sebenarnya harus menggodanya?' pikir Alexa.
Alexa mulai menuangkan kopi ke dalam cangkir.
'Apa karena aku sudah tidak berinisiatif menggodanya, hingga kali ini dia yang berbalik menggodaku?'
Alexa memandang cangkir kopi yang dibuatnya, lalu tersenyum.
"Tidak bisa begini. Aku akan membalikkan keadaan seperti semula." Ucapnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Maya. "Kesambet ya? Sampai kopi diajak bicara."
"Hahaha, sepertinya Tuan Jackson memang membuatku gila sampai aku berbicara dengan cangkir kopi." Balas Alexa seraya melangkah masuk ke dalam ruangan Jackson.
Maya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Saat Alexa masuk ke dalam ruangan Jackson, pria itu terlihat tengah berbicara dengan seseorang via telepon.
Tanpa basa-basi, Alexa melangkah ke samping Jackson lalu menaruh kopi dihadapannya dan berbisik ditelinga Jackson.
"Kali ini kopinya saya buat sesuai dengan selera Tuan Jackson."
Jackson tak bergeming, ia terus berbicara dengan lawan bicaranya.
"Baik...." Ucap Jackson.
Alexa tidak beranjak keluar. Ia malah beralih berdiri dibelakang Jackson dan memegangi kedua pundaknya kemudian memijit pundak Jackson dengan lembut.
"Saya rasa semuanya bisa dibicarakan jika Anda sudah bisa menunjukkan proposal nya secara langsung." Ucap Jackson lagi.
Alexa semakin melancarkan serangannya. Kali ini ia memegangi kepala Jackson kemudian memijatnya, entah mengapa, Jackson malah menyukainya dan merasa lebih rileks.
Perlahan Alexa memutar kursi Jackson agar menghadap ke arahnya, Jackson yang masih menelepon tak menghiraukan apa yang dilakukan Alexa. Hingga saat Alexa nekat duduk dipangkuan Jackson, mata Jackson melotot ke arahnya. Namun, Alexa hanya tersenyum seraya melanjutkan aksinya dengan kembali memegangi kepala Jackson.
Alexa memilih berdiri dengan posisi Jackson yang masih duduk dan berbicara dengan telepon. Dengan posisi yang seperti itu membuat dada Alexa tepat berada di depan wajah Jackson. Alexa sekilas melirik ke arah Jackson, namun tak ada perubahan sedikitpun pada wajah itu. Hingga akhirnya Jackson selesai berbicara dengan telepon. Ia lalu menarik pinggang Alexa.
"Mau apa lo?" Tanyanya.
"Apa saya sudah melakukan kesalahan?" Tanya Alexa manja. "Tapi, saya sama sekali tidak keberatan jika Tuan Jackson menghukum saya." Lanjutnya.
__ADS_1
Alexa mendekatkan wajahnya ke arah Jackson dan memejamkan matanya, namun yang terjadi malah Jackson mendorongnya.
"Keluar." Titah Jackson.
Tanpa bicara apapun, Alexa memilih keluar dengan senyum kemenangan.
'Hahaha, ternyata memang harus seperti itu.' ucapnya tertawa dalam hati.
"Dasar." Umpat Jackson. "Kenapa aku selalu bersikap aneh seperti ini."
*********************
Waktu bekerja di kantor pun usai, Alexa akhirnya bisa bernapas lega. Ia bisa kembali pulang ke rumahnya. Tadi siang, ia sempat menelepon orang suruhannya untuk mengemasi beberapa pakaiannya dari apartemen miliknya untuk dipindahkan ke rumah utama.
Saat akan masuk ke dalam mobil, dari arah belakang Jackson memanggilnya.
"Hei." Teriak Jackson.
"Nih orang gak pernah mau memanggil namaku, selalu saja hei, hai." Protes Alexa.
Jackson berjalan mendekat.
"Ada apa Tuan?" Tanya Alexa.
"Malam ini bersiaplah, besok pagi kita akan keluar kota untuk meninjau proyek baru di daerah X."
"Daerah X!" Seru Alexa.
"Iya, kita akan berada disana selama 2 sampai 3 hari. Sebagai asisten, lo harus ikut dan menyiapkan segala keperluan gue nantinya disana."
"Iya-iya, dimengerti." Balas Alexa. "Tapi, kalau boleh saya tanya proyek apa ya Tuan? Daerah X kan hanya hutan belantara."
"Emangnya lo tahu daerah sana?"
"Tahu banget." Balas Alexa.
Daerah X yang disebut Jackson merupakan tempat tinggal Kakek Parman dan Nek Aminah, tentu saja Alexa mengetahui tempat tersebut.
"Bagus kalau lo tahu. Kita akan meninjau lokasi pembuatan resort baru yang terletak di dekat air terjun yang ada disana."
"Bukannya jalanan nya jelek?"
"Itu sudah diatur, sekarang sedang dalam tahap pembangunan."
"Baguslah." Ucap Alexa.
"Sepertinya lo tahu banyak tentang daerah sana."
"Hehehe iya Tuan."
"Oke kalau begitu bersiaplah, besok pagi biar gue yang jemput lo di apartemen lo."
"Eng-gak usah Tuan, biar kita ketemu di kantor aja. Saya bisa nunggu Tuan di kantor."
"Terserah lo aja." Balas Jackson kemudian berlalu.
Alexa kemudian masuk ke dalam mobil. Ia lalu menelepon Kakek Parman dan memberitahunya bahwa besok ia akan berkunjung.
"Akhirnya, setelah sekian lama bisa kembali kesana juga." Ucap Alexa lalu menjalankan mobilnya keluar dari pelataran parkir kantor.
Jackson dari jauh menatap mobil Alexa yang berjalan ke arah yang berbeda dengan arah apartemennya.
"Mau kemana wanita itu?" Ucapnya.
Tepat saat Jackson ingin mengikuti Alexa, ponselnya berdering. Menampilkan nama sang Mama.
"Halo Ma." Ucap Jackson.
"Segera pulang, Mama mau bicara penting sama kamu."
"Ma, aku lagi ada urusan penting."
"Mama gak mau tahu, pokoknya Mama tunggu kamu di rumah."
"Iya-iya, aku pulang." Balas Jackson.
Mobil Jackson pun melaju ke arah yang berbeda dengan Alexa.
'Ada hal penting apa sampai Mama harus memintaku pulang.' pikir Jackson.
Butuh waktu satu jam bagi Jackson untuk tiba di rumah utamanya karena perjalanan yang memang macet karena jam sibuk saat para pekerja pulang dari kantor.
Jackson melangkah masuk ke dalam rumah dan langsung disambut sang Mama. Papa Jackson duduk di ruang keluarga seolah sudah menunggu dirinya sejak tadi.
"Ayo duduk sini." Ucap sang Mama.
Jackson duduk berhadapan dengan sang Papa sementara Mama nya duduk disampingnya.
"Ada apa?" Tanya Jackson tanpa basa-basi.
"Begini sayang, Mama dan Papa sudah mendengar berita tentang Jennie dan keluarganya yang ditangkap oleh polisi karena kasus pembunuhan terhadap puteri utama mendiang CEO Intan Jaya. Mama yakin kamu pasti sudah mengetahui tentang hal itu."
"Terus?" Ucap Jackson.
"Hubungan kamu dan Jennie sudah tentu berakhir." Balas sang Papa.
"Lalu?" Tanya Jackson lagi.
"Papa dengar puteri dari mendiang CEO Intan Jaya itu masih hidup. Maka Papa ingin kau berhubungan dengan dia."
"Maksudnya?"
"Sayang, selama ini perusahaan kita dengan Intan Jaya kan bekerja sama dengan baik. Kamu dan Jennie juga berhubungan dengan baik, jadi untuk melanjutkan hubungan baik itu, Mama sama Papa mau menjodohkan kamu lagi dengan puteri utama mendiang CEO Intan Jaya. Mama dengar namanya Dara."
Jackson langsung berdiri.
"Mama sama Papa sama-sama sudah gila." Pekiknya. "Oke, dulu aku memang masih mau mengikuti permintaan kalian karena aku ingin melupakan Alice dengan menyibukkan diri mengurus perusahaan dan menerima perjodohan dengan Jennie. Tapi kali ini tidak lagi. Aku sudah memiliki wanita yang aku sukai. Jadi kalian berdua tidak bisa mengatur hidupku lagi." Lanjut Jackson.
"Dengerin Mama dulu sayang...."
"Gak ada yang perlu didengerin lagi, kalau Mama mau biarkan Papa yang menikahi si Dara itu." Teriak Jackson lalu melangkah keluar rumah.
"Pa....." Ucap Mama Jackson melihat ke arah sang suami.
"Biarkan saja dulu. Kita yang akan menemui Dara lebih dulu, setelah itu kita bisa mempertemukan mereka. Papa yakin Jackson tidak akan menolak. Karena informan Papa mengatakan, puteri dari CEO Intan Jaya itu sangat cantik."
Bersambung......
Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan hadiah juga ya....
__ADS_1