Menjadi Wanita Penggoda

Menjadi Wanita Penggoda
Bertemu


__ADS_3

Semalam tidurku tidak terlalu nyenyak. Entah kenapa, aku juga tidak mengerti.


'Apa mungkin karena aku terus memikirkan tentang seperti apa pria yang menjadi suamiku itu?'


Pagi setelah sarapan, Mama keluar dari kamar dengan tergesa-gesa mendekat padaku. Mama juga tampak menenteng sebuah tas, sementara Papa membawa dua buah koper.


'Mau kemana mereka?'


Mama menjelaskan padaku bahwa Mama akan pergi ke luar negeri sekarang juga.


"Maaf sayangku, ini semua sangat mendesak. Mama harus segera pergi. Tolong mengerti Mama." Ucap Mama padaku.


"Tidak apa-apa Ma. Di sini kan ada Papa bersamaku." Balasku.


"Itulah masalahnya sayang. Papamu akan ikut dengan Mama. Jadi kami akan meninggalkanmu sendirian." Ucap Mama dengan wajah sedih dan hampir menangis.


Mama mulai sedih lagi. Matanya tampak berkaca-kaca.


Ponsel Mama tiba-tiba berdering.


"Sebentar dulu sayang. Mama mau menjawab telepon ini dulu." Ucap Mama tersenyum dan pergi meninggalkan aku.


Setelah menunggu sekitar 5 menit, Mama pun kembali.


Ini benar-benar kesempatan yang baik bagimu untuk bertemu dengan tunangan mu karena orang tuanya juga akan pergi ke luar negeri untuk menyelesaikan beberapa hal pekerjaan mereka, maka kau akan tinggal di sana bersamanya termasuk para pelayan mereka." Ucap Mama panjang lebar.


'Apa aku akan tinggal dengan tunangan ku sekarang juga?'


"Tidak Ma, aku bisa di sini sendirian. Aku bisa melakukan apapun sendiri." Ucapku dengan begitu senang.


"Sayang, segera kemasi barang-barang mu. Nyonya Farah bilang, mobil akan tiba sekitar 20 menit lagi untuk menjemputmu." Ucap Mama bersemangat.


'Apa? Mama belum memutuskan panggilan telepon itu? Ah benar-benar tidak ada pilihan lain.'


Aku lalu menyiapkan semuanya setelah Mama dan Papa pergi. Mereka pergi ke luar negeri untuk sebuah urusan mendesak dan aku tidak tahu kapan mereka akan kembali.


Setelah 20 menit, sebuah mobil hitam tiba dan sopir mengambil barang-barang ku. Aku memutuskan untuk memasang earphone di telingaku saat berada di dalam mobil.


"Nona Muda, bangunlah! Kita sudah sampai."


Aku terbangun ketika aku mendengar seorang memanggilku. Saat aku membuka mata, aku dikejutkan dengan melihat sebuah rumah besar di depan mobil. Aku lalu turun dari mobil dan melihat sekeliling.


'Hmmm... mereka ternyata keluarga kaya.'


Rumah yang besar. Kolam renang seluas sekitar 200 meter persegi dan ada mobil balap Ferrari. Aku yakin putra pemilik rumah ini adalah anak manja.


'Atau, haruskah aku memanggilnya tunangan ku?'


Iya, rumahku memang besar tapi keluargaku tidak terlalu suka dengan kemewahan seperti ini. Kami memilih melakukan semuanya tanpa pelayan dan itulah kenapa Mama memintaku datang ke rumah ini karena jika tinggal di rumah, maka aku hanya akan sendirian.


"Nona Muda. Halo, nama saya Lia. Saya kepala pelayan di rumah ini. Ayo silakan masuk." Ucap seorang wanita tua yang kupikir berusia sekitar 50-an tahun menemui ku di pintu.


"Halo Bi Lia." Ucapku sambil melambaikan tangan. "Terima kasih." Ucapku dengan hormat.


Aku hampir saja jatuh ketika aku melihat bagian dalam rumah itu. Rumahnya sangat elegan dan membuat mulutku menganga. Semua interiornya begitu mahal. Sebagian besar merupakan benda antik yang kupikir berasal dari barang lelangan yang berharga begitu mahal. Mereka juga merupakan produk edisi langka atau terbatas.


"Nona Muda, koper anda ada di kamar anda bersama Tuan Muda." Ucap seorang wanita dengan wajah berbintik-bintik yang menurutku berusia sekitar 30-an tahun mengenakan seragam pelayan.


"Terima kasih. Jika kau masih sibuk, kau bisa melanjutkan tugasmu." Ucapku sambil tersenyum.


Aku lalu memikirkan tentang apa maksud ucapannya tadi yang mengatakan kamarku bersama Tuan Muda.


'Apa kami akan tidur dalam satu kamar? Apa mereka tidak punya kamar tamu?'

__ADS_1


"Baiklah Nona Muda, saya harus pergi. Jika Anda membutuhkan sesuatu, tolong panggil saya." Ucap pelayan itu lagi.


Aku hanya membalasnya dengan senyum ramah. Karena aku tidak tahu harus melakukan apa-apa, aku memutuskan untuk naik ke lantai atas di mana kamar-kamar itu berada.


Aku mulai masuk dari satu kamar ke kamar lainnya untuk melihat di mana barang-barang ku berada.


Ketika aku membuka pintu kelima yang ada di ujung, ternyata koperku ada di sana dan itu mungkin adalah ruangan yang dibicarakan oleh pelayan itu.


Aku melihat sekeliling dan melihat bahwa kamar itu dominan dengan warna hitam dan abu-abu. Ada tempat tidur ukuran besar dengan sebuah meja di sampingnya. Ada lampu dengan banyak bingkai foto.


Aku melihat foto seorang pria dengan seorang wanita. Pria itu tampak tersenyum lebar, dan begitu tulus. Sementara wanita disampingnya itu mengerutkan kening dengan tangan ke atas membentuk tanda damai.


Aku mengabaikan foto itu. Tapi ada sesuatu yang mendorong ku untuk melihat lebih dekat pada foto itu.


Aku lalu mengambil foto itu dan melihat dari dekat. Pria di foto itu tampak tampan dengan celana jeans compang-camping warna biru dan kemeja putih dengan dalaman yang serasi. Dia sangat tampan. Sementara wanita di sampingnya itu mengenakan gaun putih dan sepatu hak tinggi putih yang membuatnya tampak tinggi.


"Siapa kau?"


Aku terkejut ketika tiba-tiba aku mendengar suara bariton seseorang dari belakangku. Entahlah, tapi tiba-tiba aku merasakan ada hawa dingin dalam suaranya. Ketika aku baru saja tersadar dari keterkejutan ku, aku menyadari bahwa aku tiba-tiba menjatuhkan bingkai foto yang aku pegang.


Kaca bingkai foto itu pun pecah menjadi berkeping-keping. Aku dengan cepat mengambil setiap bagian dari pecahan kaca itu.


"Sial!" Umpat suara pria itu lagi.


Aku berhenti mengambil kaca itu ketika sebuah tangan mengambil foto di lantai. Ketika aku melihat ke atas, aku kembali terkejut saat melihat ternyata pria di foto itu sebenarnya adalah dia.


"Hei, aku bilang siapa kau?" Ucap pria itu seraya mengangkat alisnya.


"Ah... Aaa... Aa... aku..."


'Kenapa aku gugup?'


"Apa ini?" Dia bertanya sambil menunjuk ke arah koperku.


"Bi Lia, siapa wanita di kamarku ini?" Ucapnya berteriak.


"Ah Tuan Muda Joshua..."


'Jadi namanya Joshua?'


Namanya begitu keren. Begitu juga dengan orangnya.


"Bukannya Nyonya sudah memberitahu anda Tuan Muda bahwa..."


"Tuan, saya pembantu baru anda Ucapku memotong apa yang dikatakan Bi Lia. "Maaf saya salah kamar. Maaf saya merusak foto anda ini." Ucapku lagi.


Aku masih duduk di lantai. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku dan entah kenapa aku mengatakan itu kepadanya. Tiba-tiba aku gugup memikirkan jika Bi Lia akan memberitahunya bahwa aku adalah tunangannya.


"Tapi..."


Aku kembali memotong ucapan Bi Lia.


"Tidak apa-apa Bi Lia. Terima kasih dan maaf telah mengganggu pekerjaanmu." Ucapku berdiri dan merapikan pakaianku.


"Baiklah. Tolong bereskan kekacauan ini Bi Lia dan kau..." Ucap Joshua berhenti bicara.


Dia menunjukku dengan tatapan tajam.


"Lain kali berhati-hati ah. Jika kau datang ke kamarku lagi, aku mungkin akan memecat mu langsung." Ucapnya dengan mata penuh amarah.


'Astaga! Pria ini benar-benar menjengkelkan.'


Aku mengeluarkan dua koperku dan langsung pergi ke ruang tamu yang aku lewati tadi.

__ADS_1


Ponselku tiba-tiba berdering.


"Halo Ma..." Ucapku.


"Apakah kau sudah pergi ke sana sayang? Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Mama.


"Iya Ma. Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian?" Tanyaku.


"Mama baru saja masuk ke pesawat. Baiklah sayang, Mama menelpon untuk memastikan apakah kau sudah sampai di sana dengan selamat. Hati-hati ya sayang. Mama menyayangimu." Ucap Mama.


"Aku juga menyayangi Mama." Balas ku dan memutuskan sambungan telepon.


Aku meletakkan ponselku di saku jeans robek yang aku kenakan dan mengambil koperku dan terus berjalan menuju sebuah kamar lainnya. Aku lalu masuk ke dalam kamar itu dan meletakkan koper ku di atas tempat tidur.


Aku hendak membuka koperku ketika terdengar ketukan keras di pintu.


'Yang benar saja! Aku ini tidak tuli. Kenapa mengetuk pintu harus dengan suara yang keras.' ucapku pada diriku sendiri.


"Aku akan datang." Ucapku dan bergegas berjalan ke pintu.


Saat aku membuka pintu, wajah marah Joshua berada di hadapanku.


"Kenapa kau tidak memberitahuku yang sebenarnya?" Teriak Joshua.


'Kebenaran apa?' tanyaku dalam hati.


"Tuan...."


"Berhentilah memanggilku Tuan! Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau adalah wanita yang begitu putus asa yang telah setuju untuk menikah denganku?" Ucapnya.


Dia terlihat sangat kesal. Tapi astaga! Yang benar saja. Dia itu terlihat seperti kucing yang belum makan selama beberapa hari dan tengah melihat seekor tikus.


"Pergi!" Ucapnya sambil menunjuk pintu.


"Ha..." Ucapku dengan gugup.


"Aku bilang pergi...!" Teriaknya lagi.


Aku yang terlalu gugup dan terkejut dengan apa yang dikatakan pria itu, membuatku tidak bergerak Aku merasa bahwa ketika aku bergerak dia akan memakan ku hidup-hidup.


"Kau tidak mau pergi ya? Kalau begitu aku akan membuatmu pergi."


Dia berteriak lagi dan menarik pergelangan tanganku dan menyeret ku ke bawah. Aku berusaha meronta karena dia memegang tanganku terlalu erat.


"Hei, lepaskan aku! Tanganku sakit. Apa hak mu untuk menyeret ku seperti ini?" Teriakku padanya dengan kesal.


Sekarang kami sudah berada di area parkir rumahnya.


"Bi Lia, keluarkan barang-barangnya dari kamar tamu karena dia akan pergi dari tempat ini sekarang juga." Ucapnya dengan mata penuh kebencian saat dia mengatakan hal itu.


"Apa? Tidak. Kau tidak bisa melakukan ini." Ucapku mulai berdebat dengannya.


Jika Mama tahu tentang hal ini, Mama akan sangat mengkhawatirkan ku.


"Tentu saja aku bisa melakukannya. Aku akan mengusirmu. Aku tidak suka melihatmu, karena kau membuatku kesal dan perlu kau tahu, aku tidak suka pembohong seperti dirimu." Ucap Joshua berteriak lagi padaku.


"Baiklah aku akan pergi dari sini. Kau tidak perlu meneriaki ku seperti itu." Ucapku.


Jika dia tidak menyukaiku, maka aku juga tidak menginginkan dirinya. Dasar brengsek!


Butuh waktu hampir satu jam untuk menunggu taksi. Aku begitu beruntung ada taksi yang lewat di depan rumah mewah itu. Rumah itu sebenarnya adalah rumah yang sangat jauh dari kota.


'Joshua! Jika bukan karena dia, aku tidak akan sendirian di rumah seperti yang dikhawatirkan Mama.'

__ADS_1


Aku kesulitan memasukkan koper ke dalam taksi. Bahkan sopir taksi itu mengira aku kabur dari rumah.


Bersambung...


__ADS_2