Menjadi Wanita Penggoda

Menjadi Wanita Penggoda
MT 30: Dinner


__ADS_3

Jackson tengah berganti pakaian di kamarnya. Sementara Alexa duduk sambil memeluk lututnya di ruang tamu. Setibanya di apartemen Jackson, Alexa tak langsung menuju dapur untuk memasak sesuai perintah Jackson karena ia merasa kedinginan. Bajunya yang masih sedikit lembab ditambah dingin suhu ruangan apartemen karena AC membuatnya semakin kedinginan.


"Tega sekali orang itu. Bukannya mengizinkanku pulang, malah mau menyiksaku dengan menjadi pembantunya." Cebik Alexa.


Dari arah belakang, Jackson melempar sebuah kemeja berwarna putih miliknya tepat di kepala Alexa.


"Pakai itu untuk sementara. Gue sudah pesan pakaian buat lo. Tapi kayaknya bakal lama nyampe', diluar hujan kembali deras." Ucap Jackson.


'Apa?' Alexa mengangkat kemeja yang terlihat kebesaran itu.


"Tapi...."


"Lo mau mati kedinginan?" Ucap Jackson yang duduk dengan kaki dijulurkan ke atas meja.


Alexa menghembuskan napas dengan berat. Lalu berdiri dengan tangan menggenggam kemeja yang diberikan Jackson.


"Mmmm Tuan, saya harus ganti dimana?" Tanya Alexa.


"Gak usah pura-pura deh. Lo kan udah pernah tidur disini malam itu. Lo juga udah nyuri makanan gue di kulkas. Jadi lo udah tau kan dimana kamar tamu." Ucap Jackson yang membuat Alexa tersipu malu.


Alexa berjalan perlahan menuju kamar tamu tempat dimana ia pernah tidur diam-diam malam itu. Alexa berpikir bahwa malam itu Jackson tak pernah menyadari kehadirannya, tenyata ia salah.


"Cepetan. Gak usah sok lelet gitu. Gue lapar." Teriak Jackson.


"Cih, dasar." Alexa berjalan cepat ke arah kamar.


Dengan cepat ia melepas pakaiannya lalu menggantinya dengan kemeja yang diberikan Jackson.


"Baju macam apa ini. Ini kebesaran. Aku malah tak harus mengenakan celana lagi." Ucap Alexa terkekeh didepan cermin memandangi dirinya yang mengenakan kemeja milik Jackson.


Alexa berjalan keluar dari dalam kamar ruang tamu menuju dapur. Jackson belum menyadari bagaimana penampilan Alexa yang memang sebenarnya sangat terlihat seksi. Alexa mulai menyiapkan bahan-bahan untuk ia masak sebagai menu makan malam Jackson.


Jackson yang merasa haus berjalan ke arah lemari pendingin dan tak menoleh sedikitpun ke arah Alexa.


"Tuan, Anda mau makan apa malam ini?" Tanya Alexa yang membelakangi Jackson.


Jackson menutup pintu lemari pendingin seraya meminum air yang sudah dituangnya dalam gelas lalu melihat ke arah Alexa.



"Prufftttt......"


Air yang diminum Jackson menyembur keluar karena ia kaget melihat tampilan Alexa dari belakang yang mengenakan kemejanya.


"Ada apa Tuan?" Tanya Alexa berbalik.

__ADS_1


Wajah Jackson memanas. Ia berusaha menahan gejolak di dalam dadanya.


"Kenapa lo gak ikat rambut dulu kalau lagi masak? Makanan gue bisa terkontaminasi nanti kalau sampai kemasukan rambut lo." Teriak Jackson seraya berlalu menuju ruang tamu.


"Dia kenapa sih?" Ucap Alexa bingung. "Gimana mau ikat rambut, kalau rambut masih lembab gini." Sambungnya kesal.


Alexa melanjutkan memasak. Selain membuat hidangan berat untuk makan malam, ia juga membuat dessert yang dipikirnya akan disukai oleh Jackson. Alexa memang pandai memasak, mengingat dirinya dulu yang doyan makan membuatnya menyukai semua hal tentang makanan.


Setelah berjam-jam berkutat di dapur, akhirnya Alexa menyelesaikan agenda masak-memasaknya. Sudah banyak hidangan yang tersedia diatas meja makan. Aroma makanan yang sejak tadi menguar sudah menggelitik hidung Jackson. Bahkan sebelum Alexa memanggilnya, Jackson sudah duduk manis di depan meja makan.


"Wow, apa yang lo masak?" Tanya Jackson. "Look so delicious."


"Saya gak tahu apa makanan favorit Anda Tuan. Jadi saya memasak ini semua. Ada goulash atau yang lebih dikenal dengan nama gulyas. Ini berasal dari Hungaria." Ujar Alexa.


Goulash merupakan makanan berbentuk sup yang berisi daging dan sayuran seperti kentang, wortel, serta paprika. Goulash sangat populer sebagai menu makan malam di kawasan Eropa Tengah, Eropa Selatan, dan Skandinavia.


"Ada juga paella yang berasal dari Spanyol. Rasanya pedas dan segar karena penambahan irisan lemon." Lanjut Alexa.


Jackson menatap menu makanan yang ditunjukkan Alexa. Paella merupakan nasi yang dicampur dengan aneka macam seafood seperti udang, kerang, cumi, dan lain sebagainya.


"Ada juga steak and vegetables, dan terakhir ada pasta." Alexa menjelaskan semua dengan rinci bak seorang chef yang tengah menjelaskan makanan kepada pelanggannya. "Pasta ini saya buat dengan bumbu aglio olio. Bumbu ini menjadi pilihan terfavorit dibanding pasta dengan bumbu lainnya, karena rasanya yang lebih light dibanding bumbu carbonara atau bolognaise."


Jackson mengangguk-angguk.


Jackson menunjuk ke arah dua buah dessert box yang disajikan Alexa.


"Oh itu Tiramisu. Saya pikir gak ada salahnya kan menyajikan dessert yang manis sebagai penutup makan malam ini. Lagi pula ada yang bilang makan dessert dimalam hari itu bisa buat tidur nyenyak." Balas Alexa.


"Lo tahu banyak ya tentang makanan ala kebarat-baratan."


"Seperti yang saya bilang sebelumnya Tuan. Saya memang menyukai segala hal yang mengarah kesana, budayanya, orang-orangnya, fashionnya, makanannya bahkan saya pernah bermimpi untuk bisa menikah dengan sosok pria bule." Ujar Alexa blak-blakan.


"Hmmmm, apa kelebihan yang pria bule punya dibanding pria lokal, sampai lo mengidam-idamkan mereka?"


"Sebenarnya pria lokal juga banyak yang keren kok. Tapi, kembali lagi ke selera ya Tuan. Saya emang lebih sukanya yang seperti itulah. Tapi, yang mix seperti Tuan juga gak masalah." Ucap Alexa mencoba menggoda Jackson.


Sekuat tenaga Jackson berusaha untuk menjaga raut wajahnya agar tidak terlihat berubah. Ia ingin selalu menjaga imagenya dihadapan Alexa.


Alexa sekilas melirik ke arah Jackson, tak ada sedikitpun perubahan dari mimik wajahnya yang diharapkan Alexa.


"Hmmmm...." Alexa menghela napas panjang. "Oh ya, ayo dimakan Tuan." Ucap Alexa.


Keduanya mulai menikmati makan malam dalam diam. Yang tersisa hanya suara denting garpu dan sendok yang mengenai piring. Hingga keduanya selesai menyantap dessert, barulah Jackson berucap.


"Kalau lo mau, malam ini tidur di kamar tamu aja. Gue capek dan ngantuk banget, jadi malas buat nganterin lo."

__ADS_1


"Saya bisa pesan taxi online Tuan." Balas Alexa.


"Lo mau naik taxi online dengan pakaian lo yang seperti itu?" Tanya Jackson tidak percaya. "Hmmmm itu sama artinya dengan lo ngundang kucing buat makan ikan."


"Tapi, tadi Tuan bilang sudah memesankan pakaian untuk saya."


"Kan gue udah bilang, diluar hujan deras. Kali aja kurirnya susah buat nganterin kemari."


"Kalau gitu, saya pulang pakai baju saya yang tadi aja." Ucap Alexa hendak masuk ke kamar tamu.


"Upsss.... Baju lo lagi diputer tuh sama mesin cuci." Balas Jackson.


"Apa?" Alexa beranjak menuju ruangan laundry.


Ia dapat melihat dengan jelas bahwa pakaian yang ia kenakan tadi memang berada di dalam mesin cuci.


'Kenapa bisa ada disini?' tanya Alexa dalam hati lalu menatap Jackson.


"Kenapa lihatin gue?" Tanya Jackson. "Salah lo sendiri kenapa gak cuci baju lo dari tadi. Gue paling gak suka ya ada baju berserakan gitu aja diatas tempat tidur."


Alexa mengingat bahwa pakaian yang ia kenakan tadi pagi memang ia biarkan tergeletak begitu saja diatas tempat tidur.


'Tapi kapan Jackson mengambilnya?'


"Kenapa anda sembarangan masuk kamar itu dan mengambil pakaian saya tanpa seizin saya?" Pekik Alexa.


"Suka-suka gue. Ini apartemen gue." Balas Jackson berteriak.


"Iihhh...." Alexa semakin kesal.


Tiba-tiba suara bel berbunyi.


"Itu pasti kurir yang antar baju." Ucap Alexa girang seraya mendekat ke arah pintu.


Saat pintu terbuka, Alexa dibuat kaget dengan sosok yang berdiri di depan pintu.


'Jennie?'


Alexa terdiam, berharap Jennie tak mengenalinya. Sementara Jennie sendiri, menatap Alexa penuh amarah karena bisa ada di apartemen Jackson berduaan dengan mengenakan kemeja Jackson dan tampak begitu seksi.


"Siapa?" Tanya Jackson. "Kenapa lama seka...." Ucapan Jackson terhenti saat melihat Jennie yang menatap ke arahnya dengan penuh emosi.


"Jen-nie...." Ucap Jackson terbata-bata.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2