
Deretan bangunan beton berlapis kaca berdiri menjulang di sepanjang akses utama pusat kota di ruas Jalan Pahlawan yang dituju Alexa. Di kala siang cerah, refleksi biru langit dan putih awan memantul dari sisi tubuh jangkung gedung. Sinar surya menemukan dinding pantul sempurna menciptakan kilau silau di puncak-puncak gedung. Di malam hari, kilau lampu dari tiap gedung tinggi ini tak kalah memukau.
Di bawah langit sore, Alexa memarkirkan mobilnya di depan minimarket di bawah gedung PT. Samudera Raya dan menurunkan jendela kaca mobil untuk menatap ke seberang. Mobil yang ia dapat dari Robby sebagai hadiah. Alexa benar-benar membuat pria itu mengeluarkan banyak uang untuknya.
Alexa mengambil selembar foto Jackson yang diberikan Laura padanya. Dan untuk pertama kalinya, dia melihat pria yang ada di dalam foto tersebut, sosoknya berdiri di antara cahaya oranye dengan tampang dingin. Dia sama sekali tidak terpengaruh oleh keramaian di sekitarnya. Jemarinya dengan santai memainkan sebuah korek api berwarna emas sehingga tak hentinya memancarkan cahaya silver.
Alexa terpana. Jackson lebih menawan dari kebanyakan pria yang pernah ditemuinya. Dia memiliki ketampanannya tersendiri, tidak bisa dibilang memukau, tapi cukup menarik. Diantara para pria yang pernah didekati Alexa, Jackson adalah pria yang mempunyai tampang paling manly. Dengan raut muram tersembunyi di antara alisnya.
Pada kenyataannya, Jackson adalah contoh klasik pria yang mempunyai hasrat besar. Tidak ada orang yang bisa menebak isi hatinya, termasuk Jennifer kekasihnya.
Alexa terus memandangi Jackson dari dalam mobil. Sesaat ia terpana, lalu tiba-tiba menyadari kalau pria ini sulit ditangani.
"Pria seperti ini sangat pandai mengontrol diri, tak ubahnya seperti sebuah tulang yang paling sulit untuk dikunyah." Ucap Alexa seraya bersiap untuk turun dari dalam mobil.
Alexa menghirup nafas dulu, lalu berjalan cepat ke hadapan Jackson.
“Maaf, Tuan Jackson, saya terlambat.”
“Nggak juga, gue juga baru sampai.” Balas Jackson santai.
Alexa mulai berakting dengan menampilkan wajah bersalahnya dihadapan Jackson.
“Datang setelah atasan memang kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Sekali lagi, saya minta maaf Tuan.”
Lagi-lagi Alexa mencoba meminta maaf pada Jackson. Tapi pria itu tak menggubris ucapannya, membuat Alexa menjadi semakin gusar.
"Dari mana Dion menemukan lo?" Tanya Jackson mengalihkan pembicaraan.
'Menemukan katanya? Memangnya aku seperti anak kucing yang bisa ditemukan dipinggir jalan? Huh dasar.' pikir Alexa.
"Kenapa lo diam?" Ucap Jackson lagi, kali ini dengan nada sedikit membentak dengan rasa menekan yang tampak seperti ingin menembus orang.
Alexa mencoba menjawab dengan tenang,
“Teman saya kebetulan kenal dengan Pak Dion. Saya yang memang mencari pekerjaan melamar kerja pada perusahaan Pak Dion. Tapi, Pak Dion memberikan resume saya kepada Tuan Jackson. Jadi...."
"Hmmm...." Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Jackson.
Pertanyaan yang diajukan Jackson membuat Alexa kembali menilai Jackson, sangat berbahaya, sulit ditebak. Dia sepertinya lumayan waspada terhadap orang baru yang dikenalnya dan curigaan.
__ADS_1
'Tingkat keberhasilan di misi kali ini tidak sampai 50%.' ucap Alexa dalam hati.
"Bukankah di resume lo mengatakan bahwa lo masih kuliah? Bagaimana caranya lo bekerja sama gue sementara lo sendiri masih sibuk dengan urusan perkuliahan?" Jackson benar-benar menginterogasi Alexa.
"Jadwal kuliah saya malam Tuan. Kadang-kadang juga perkuliahan dilakukan secara daring."
"Bagaimana jika gue memerlukan bantuan lo saat lo tengah berkuliah?"
"Selama itu tidak sedang ujian, saya pasti akan mendahului pekerjaan saya Tuan."
"Hmmm. Perlu lo tahu. Kalau gue lagi butuh bantuan lo, lo harus segera dateng. Gue gak perduli lo lagi ngapain, pokonya harus dateng. Walau lo lagi tidur dengan Lee Min Ho sekalipun."
'What?' Alexa berusaha menahan tawa saat Jackson menyebut nama itu.
"Kenapa ketawa?" Bentak Jackson yang membuat Alexa segera menggelengkan kepalanya. "Lo pikir gue bercanda. Udah gue bilang, gimanapun caranya lo harus datang kalau gue lagi butuh bantuan lo."
"Siap Tuan. Sudah menjadi pekerjaan saya, maka akan saya lakukan."
"Bagus. Sekarang lo boleh pulang. Pekerjaan dimulai besok."
"Terima kasih Tuan atas....."
"Aaaarrrggghhh...." Teriak Alexa di dalam mobil saat mobilnya sudah melaju di jalanan. "Apa-apaan itu tadi? Masa iya aku harus mengikuti semua perintahnya walau aku tengah berkencan dengan Le Min Ho sekalipun."
Ia kembali mengingat raut wajah Jackson dan seketika tertawa.
"Bisa-bisanya pria dingin seperti dia mengetahui nama Lee Min Ho. Apa dia penyuka drama Korea?" Alexa terbahak sendiri.
Hari semakin malam, Alexa menatap jalanan yang mulai ramai dilalui mobil. Kota X sebagai kota metropolitan sering dijuluki sebagai kota yang tidak pernah tidur. Hal tersebut menunjukan bahwa aktivitas di kota X tidak terhenti meskipun malam sudah semakin larut. Pada malam hari kota kelahiran Alexa ini menawarkan keindahan panorama kota yang tidak kalah menarik yang menambah sensasi berwisata malam.
Alexa menepi di sebuah warung makan untuk mengisi perutnya dengan menu sederhana. Pemilik warung yang melihat penampilan Alexa seperti tidak percaya bahwa Alexa akan memesan makanan di warungnya.
"Bu, ayam sambal hijau satu plus nasi hangatnya ya." Pinta Alexa. "Oh ya, sama teh hangat juga Bu." Lanjutnya.
Si pemilik warung hanya mengangguk lalu mulai menyiapkan pesanan Alexa.
Selesai makan, Alexa memberikan pemilik warung selembar uang seratus ribu. Saat si pemilik hendak memberikan kembalian, Alexa menahan tangannya.
"Kembaliannya buat Ibu aja."
__ADS_1
"Tapi, ini kebanyakan Mbak."
"Gak apa-apa." Balas Alexa lalu pergi.
Alexa kembali melanjutkan perjalanan pulang menuju apartemennya. Alexa menatap lampu yang menghiasi sejumlah gedung beserta jajaran lampu jalan ditambah kerlip lampu kendaraan menambah daya tarik dan memberikan suasana syahdu malam. Keindahan kota pada malam hari sebetulnya sudah dapat dirasakan ketika melintas dijalan-jalan protokol.
Terangnya cahaya lampu di malam hari, bukan hanya menarik untuk dipandang. Pancaran lampu kendaraan yang melintasi jalanan meninggalkan jejak cahaya berpadu dengan lansekap gedung-gedung bertingkat Kota X. Pesona malam selalu membuat kerinduan yang unik yang akan membuat terkenang dan panggilan untuk datang kembali.
Alexa tersenyum, kala mengingat masa dimana sang Papa masih hidup. Saat tidak sibuk bekerja, Papa Alexa selalu mengajaknya jalan-jalan di malam hari untuk berburu kuliner. Alexa yang dulu memang suka makan, membuatnya begitu senang saat sang Papa bisa membawanya berkeliling mencoba setiap makanan yang ada di pinggir jalan. Alexa dan papanya memang tidak memilih-milih untuk urusan makanan meski mereka merupakan orang kaya.
Mobil Alexa tiba-tiba berhenti di pinggir jalan kala melihat seorang kakek yang tengah berbaring disamping dagangannya. Alexa menepikan mobilnya lalu turun mendekati kakek penjual rambutan itu. Saat Alexa mendekat, kakek itu belum juga bangun.
'Sepertinya kakeknya tidur lelap.' pikir Alexa.
"Kek." Panggil Alexa yang sontak membuat kakek itu terbangun lalu duduk.
"Eh, iya maaf. Mau beli rambutan iya? Silahkan-silahkan. Kakek kasih diskon sepuluh ribu aja sekilo." Balas Kakek itu.
"Memang biasanya kakek jual berapa?" Tanya Alexa.
"Lima belas ribu Neng. Tapi dari tadi pagi belum ada yang beli."
Alexa merasa iba, ia lalu meminta kakek itu membungkus semua dagangannya.
"Ini beneran mau di borong Neng?" Tanya Kakek itu tidak percaya.
Alexa hanya mengangguk, lalu meminta Kakek itu untuk membagikan rambutannya kepada warga sekitar yang melintas.
Rambutan yang sebanyak dua keranjang itu ludes. Alexa lalu memberikan uang sejumlah sepuluh lembar. Dengan tangan bergetar sang kakek menerima uang yang diberikan Alexa.
"Ini kebanyakan Neng. Semuanya kurang dari lima ratus ribu." Mata Kakek itu berkaca-kaca.
"Gak apa-apa Kek. Anggap aja ini rezeki buat Kakek." Balas Alexa.
Alexa lalu memberhentikan sebuah taxi, meminta sang sopir untuk mengantarkan Kakek itu pulang ke rumahnya. Kakek itu tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada Alexa. Alexa hanya bisa membalas ucapan sang kakek dengan tersenyum.
'Kalau Papa masih ada, Papa pasti melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan. Iya kan Pa?'
Bersambung...
__ADS_1