
Mobil Jackson melaju pelan di jalanan yang mulai sepi menuju apartemen miliknya. Alexa menguap beberapa kali, perjalanan menuju apartemen Jackson memang memakan waktu satu jam. Alexa terus fokus menyetir, sedangkan pria yang tampak tidur disampingnya itu sesekali membuka mata dan melirik ke arah Alexa.
Jackson tersenyum, dan saat itu juga Alexa sempat melihatnya. Namun, Jackson dengan cepat kembali ke mode tidur.
"Apa aku salah liat? Atau mungkin dia memang tersenyum saat tidur." Ucap Alexa.
Setelah perjalanan yang terasa cukup panjang, mobil yang dikendarai Alexa akhirnya tiba di apartemen Jackson. Setelah memarkirkan mobil dengan benar, ia lalu membuka seat belt nya kemudian menatap Jackson dan mulai menepuk-nepuk pipi Jackson untuk membuatnya bangun.
"Jack...." Panggil Alexa, namun Jackson tak kunjung membuka matanya. "Jackson, ayolah...." Alexa berkali-kali menepuk pipi Jackson. Namun pria itu belum juga mau bangun.
"Jacksooonnnn....." Teriak Alexa di telinga Jackson yang membuat pria itu langsung tersentak.
"Apaan sih." Ucap Jackson seraya memegangi telinganya.
"Habis kamu gak bangun-bangun. Ayo turun udah sampai. Aku gak mungkin bisa gendong kamu ke atas." Balas Alexa.
"Iya... Iya. Bawel banget sih." Gerutu Jackson.
Alexa keluar lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Jackson kemudian membantunya turun dan membantunya berjalan masuk ke dalam gedung apartemen.
"Kamu tuh berat banget. Bisa gak sih jangan terlalu lemas gini." Protes Alexa.
"Namanya juga mabuk, ya mana bisa menopang tubuh sendiri. Kepalaku pusing." Ucap Jackson.
Alexa hanya bisa menghela napas panjang. Meski terlihat menyusahkan, Alexa terus membantu Jackson untuk menuju apartemennya.
Tiba di depan pintu apartemen Jackson, Alexa langsung merogoh saku celana Jackson untuk mengambil kunci untuk membuka pintu berupa sebuah kartu berukuran seperti kartu kredit itu.
Pintu terbuka, Alexa langsung membawa Jackson masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuh Jackson.
"Habis makan apa sih? Berat banget." Gerutu Alexa lalu hendak keluar kamar Jackson.
Alexa kembali berbalik dan menatap Jackson yang terlihat tidur pulas. Ia menghela napas lalu membuka sepatu dan kaos kaki yang dikenakan Jackson.
"Kenapa aku harus melakukan semua ini?" Tanya Alexa pada dirinya sendiri.
Setelah selesai, Alexa pun keluar kamar dan beralih ke dapur untuk meminum segelas air. Seperti rumahnya sendiri, Alexa yang merasa lapar membuka lemari pendingin dan mengambil beberapa buah untuk dimakannya.
Satu bowl buah berisi satu buah apel, satu buah pir, dua buah jeruk dan anggur dibawa Alexa kedepan televisi. Ia menyalakan televisi dan mulai memakan buah itu hingga tanpa disadari ia tertidur pulas setelah menghabiskan buah itu dengan televisi yang masih menyala.
*************
Pagi menjelang....
Jackson keluar kamar dengan rambut yang masih basah, ia baru saja selesai mandi. Ia hendak memasak untuk sarapan pagi. Namun pandangan matanya beralih pada sosok Alexa yang tertidur di sofa ruang tamu.
"Kenapa dia bisa ada disini?" Tanya Jackson.
Jackson lalu mendekat ke arah Alexa. Ia kembali mengingat apa yang terjadi semalam. Jackson duduk berjongkok dihadapan Alexa, memandangi wajah wanita yang terlihat cantik meski tengah tertidur itu.
Tanpa sadar Jackson mengusap pipi Alexa perlahan. Alexa menggeliat, membuat Jackson semakin gemas. Ia lalu menusuk-nusuk pipi Alexa menggunakan jari telunjuknya.
"Adduuhhh sakiit." Ucap Alexa yang tiba-tiba terbangun.
Jackson langsung berdiri dan menatap Alexa dengan melipat tangan di dadanya.
Alexa menguap dan meregangkan semua ototnya. Perlahan ia mengusap matanya dan duduk lalu menatap ke arah Jackson.
"Sedang apa kau disini?" Tanya Jackson dengan tatapan dingin.
"Aku rasa kau lupa tentang kejadian semalam." Ujar Alexa.
"Memangnya apa yang sudah terjadi? Apa kau menyelinap masuk ke apartemen ku?"
"Huh..." Alexa menghembuskan napasnya dengan kasar. "Semalam kau mabuk sampai tidak bisa apa-apa, dan aku lah orang yang membawamu pulang kemari." Ucap Alexa. "Menyusahkan saja." Lanjutnya lagi.
"Omong kosong, aku tidak mungkin sampai mabuk seperti itu."
"Terserah kau saja." Balas Alexa. "Sekarang minggir, aku mau ke toilet dulu." Alexa mendorong tubuh Jackson agar menyingkir dari hadapannya.
Alexa lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Jackson tertawa kecil lalu beranjak menuju dapur kecilnya.
Jackson mulai sibuk menyiapkan menu sarapan, sementara Alexa tengah membersihkan diri di kamar mandi.
"Aku tidak bawa baju ganti. Sementara untuk kembali ke rumah butuh waktu satu jam, sedangkan aku harus meeting dalam waktu satu jam lagi. Huh, menyebalkan sekali." Gerutu Alexa.
__ADS_1
Setelah selesai mandi, Alexa bergegas memesan setelan baru lewat online shopping dan meminta pengantaran kilat ke alamat apartemen Jackson.
Jackson selesai memasak dan meletakkan sarapan buatannya berupa omelette dan roti panggang di atas meja makan. Sementara Alexa tengah duduk di ruang tamu dengan mengolesi bedak dan lipstik di bibirnya.
"Ayo sarapan." Ajak Jackson.
Alexa melihat ke kiri dan kanan lalu ke arah belakangnya.
"Kau mengajak aku?" Tanya Alexa menunjuk durinya sendiri.
"Cih, kalau saja bukan karena kau menolongku semalam, aku tidak akan berbaik hati padamu." Balas Jackson.
Alexa tersenyum lalu beranjak menuju meja makan.
"Kau yang memasaknya?" Tanya Alexa lagi.
"Memangnya kau melihat ada orang lain disini?" Jawab Jackson ketus.
"Tinggal jawab iya saja susah sekali."
Jackson tak membalas ucapan Alexa, ia mulai sibuk mengunyah roti. Alexa terlihat memotong omelette buatan Jackson dengan pisau dan mulai mencicipinya.
"Hmmmm .... Lumayan enak. Untuk ukuran pria dingin sepertimu, ku pikir masakan buatan mu juga akan terasa hambar. Sama seperti ekspresi mu yang datar itu." Ejek Alexa.
Jackson tak bergeming, ia memilih terus melanjutkan sarapannya. Alexa melirik sekilas, karena Jackson tak menggubrisnya, Alexa meneruskan sarapannya hingga tak ada yang tersisa di piring.
"Apa kau punya jus jeruk?" Tanya Alexa.
"Lihat saja sendiri. Kau punya mata, jadi tidak perlu bertanya padaku." Jawab Jackson.
'Dia kenapa sih?' Alexa bergumam.
Setelah mendapatkan jus jeruk, Alexa kembali duduk di meja makan dan menikmati segelas jus nya. Sementara Jackson terlihat menyesap kopi hitam buatannya.
"Terlalu banyak minum kopi tidak baik untuk kesehatan." Alexa mencoba berkomentar lagi.
"Bukan urusanmu. Urusi saja keperluan mu, setelah itu cepat pergi dari sini." Balas Jackson sinis.
Alexa mulai kesal, ia kemudian memilih bangun dan berpindah ke ruang tamu sembari menunggu kurir datang mengantarkan pesanan setelan baru nya untuk ke kantor hari ini.
Lima menit kemudian, Jackson beranjak menuju kamarnya. Ia hendak berganti pakaian untuk berangkat ke kantor. Alexa sendiri, pergi ke dapur untuk membilas piring dan cangkir kopi serta gelas bekas jus jeruk yang diminumnya. Tak lupa Alexa menyapu dan sedikit mengepel lantai dapur yang tampak berminyak.
Jackson yang sudah selesai berganti pakaian, keluar dari dalam kamar dan sudah siap berangkat menuju kantor.
"Kau masih disini?" Tanya Jackson. "Kenapa belum pergi juga?"
"Ayolah Jack. Izinkan aku sebentar lagi menunggu disini." Jawab Alexa.
"Kau sedang menunggu apa?" Tanya Jackson dengan nada yang mulai meninggi.
"Aku sedang menunggu kurir mengantarkan setelan baru untuk bekerja. Aku tidak mungkin kan ke kantor dengan pakaian seperti ini." Ucap Alexa seraya memegangi dress yang ia kenakan sejak semalam.
Jackson tak bergeming, ia masih berdiri menatap Alexa dalam diam.
"Ku mohon." Rengek Alexa.
"Ku beri kau waktu 10 menit. Lebih dari itu, kau tunggu di luar saja." Ucap Jackson lalu ikut duduk di ruang tamu dengan kaki yang menyilang.
Menit demi menit mulai berjalan, tak ada tanda-tanda bahwa kurir akan datang. Jackson mulai melihat jam di tangannya dan sudah lewat 10 menit. Ia pun bangun dari duduknya.
"Waktumu sudah habis, sekarang keluarlah. Aku harus berangkat ke kantor."
"Tapi...."
"Aku tidak perduli." Balas Jackson lalu menarik tangan Alexa untuk membawanya keluar apartemennya.
Alexa menggerutu, namun tepat saat pintu dibuka seorang kurir berjaket merah berdiri di depan pintu dan menatap ke arah Alexa dan Jackson.
"Ada kiriman atas nama Nona Alexandra." Ucap kurir itu.
"Benar Pak, saya Alexa." Ucap Alexa dengan cepat merebut paket tersebut dari tangan kurir. "Makasih ya Pak." Lanjut Alexa seraya berlari masuk kembali ke dalam apartemen bergegas menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.
Sementara kurir yang berdiri di depan pintu terdiam dan menatap Jackson. Ia bingung karena belum sempat memotret paket yang telah sampai ke tangan Alexa.
"Ada apa lagi?" Tanya Jackson. "Apa dia belum bayar?"
__ADS_1
"Bukan... Bukan." Kurir itu menggeleng. "Hanya saja, saya belum sempat mengambil gambar sebagai bukti bahwa barang telah sampai."
"Kalau begitu tunggulah sebentar." Balas Jackson.
Benar saja, tak butuh waktu lama Alexa keluar dengan mengenakan setelan barunya. Setelan itu tampak sangat pas ditubuh Alexa, namun roknya terlihat sedikit pendek dari ukuran rok biasa yang dikenakan Alexa.
Kurir itu tampak melongo melihat penampilan Alexa. Pahanya yang putih terekspos, beberapa kali Alexa terlihat menurunkan rok nya itu.
"Eh, Bapak belum pergi?" Ucap Alexa.
"Maaf, tapi saya belum mengambil gambar."
"Ah, saya lupa. Kalau begitu sekalian saja. Barangnya sudah saya pakai." Ujar Alexa.
Alexa kemudian berpose dengan tawa ceria saat kurir itu mengambil gambarnya. Setelah itu kurir berpamitan pergi. Tanpa disangka, Jackson malah mendorong Alexa keluar dari apartemennya dengan kasar.
"Kenapa kasar begini sih?" Gerutu Alexa.
"Pergilah, aku sudah terlambat karena kamu." Ucap Jackson lalu kembali masuk ke dalam apartemennya untuk mengambil tasnya.
Alexa yang kesal memilih berlalu meninggalkan apartemen Jackson. Ia terlihat sibuk dengan ponselnya berusaha memesan taxi online yang bisa mengantarnya ke kantor.
"Jika meminta sopir untuk menjemput ku, akan memakan waktu yang lama." Ucap Alexa.
Namun di karenakan jam sibuk, sangat sulit bagi Alexa untuk mendapatkan taxi online.
"Apa aku harus menggunakan ojek saja?" Ucap Alexa saat berada di dalam lift.
'Tapi, tidak mungkin pergi ke kantor dengan ojek mengenakan pakaian seperti ini.'
Alexa tiba di sebuah halte di pinggir jalan. Penampilannya yang seksi dan tampak cantik menjadi perhatian para pekerja yang ikut menunggu datangnya bus. Para pekerja yang didominasi pria itu tampak mulai berusaha menggoda Alexa.
"Neng, cantik amat. Kerja dimana Neng." Ucap salah seorang pria berkemeja biru muda.
Alexa hanya tersenyum dan tak menjawab pertanyaan pria itu.
"Cuek banget sih Neng." Ucap pria lainnya.
Sementara para wanita kantoran lain yang ikut menunggu di halte tampak cuek saja. Mereka justru terlihat mencibir Alexa yang berpenampilan terlewat batas untuk sekelas karyawan perusahaan.
"Neng, udah punya pacar belum? Pacaran sama abang aja. Abang ini kerja di perusahaan besar loh. Tahu Intan Jaya gak? Nah, Abang kerja di bagian produksi."
"Sama Abang aja Neng. Abang kerja di Samudera Jaya. Perusahaan terkenal itu loh Neng." Ucap pria lainnya dan hendak memegangi pundak Alexa.
Entah dari mana datangnya, Jackson tiba-tiba menarik pria itu dan meninju tepat di hidungnya hingga membuat pria itu tersungkur.
"Sialan." Teriak pria itu. "Berani-beraninya....." Pria itu tak melanjutkan ucapannya karena melihat sosok Jackson yang berdiri menatapnya penuh amarah.
"Tu..... Tuan...." Pria itu terbata-bata.
"Siapa namamu?" Tanya Jackson.
"Aa-Ardi Tuan!"
"Jangan datang ke kantor lagi. Karena mulai hari ini kamu dipecat." Ucap Jackson tegas.
Jackson lalu menarik Alexa dan menggenggam tangannya berjalan menuju mobilnya yang terparkir tidak terlalu jauh dari halte bus. Dengan kasar Jackson mendorong Alexa agar masuk ke dalam mobilnya.
Jackson lalu membanting pintu mobilnya dan ikut masuk lalu mobil mulai berjalan.
"Kau sudah gila ya?" Teriak Jackson pada Alexa. "Untuk apa kau berdiri di halte bus dengan mengenakan pakaian seperti itu?"
Alexa terdiam.
"Apa kau tidak tahu ada banyak sekali pria hidung belang yang menatapmu dengan tatapan yang..... Aaaarrrgghhh sudahlah." Teriak Jackson lagi.
Alexa memilih diam dan tak mengatakan apapun. Ia masih terbayang wajah pria yang mengatakan dirinya bekerja di perusahaan miliknya itu.
'Aku akan menunggumu di kantor, Bayu.' ucap Alexa dalam hati.
Tadi, di halte bus, Alexa sempat melihat name tag yang tergantung di leher pria yang berusaha menggodanya itu.
Setelah beberapa saat berkendara, mobil Jackson akhir ya berhenti tepat di depan kantor Alexa. Alexa bergegas turun, dan menunduk hendak mengucapkan terima kasih. Namun Jackson langsung tancap gas sebelum Alexa sempat mengatakannya.
"Dasar aneh." Ucap Alexa lalu masuk ke dalam gedung perusahaannya.
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan beri hadiah juga ya.... 🥰