Menjadi Wanita Penggoda

Menjadi Wanita Penggoda
MT 28: Sikap Jackson


__ADS_3

Jackson berjalan keluar dari gedung apartemen menuju mobilnya. Ia terus merutuk dirinya sendiri karena hampir jasa melakukan tindakan bodoh.


"Bodoh... Bodoh.... Bodohhh..." Teriaknya sambil memukuli stir mobil.


Saat akan menyalakan mobil untuk pergi dari gedung apartemen Alexa, ia kembali bimbang.


"Tidak, aku tidak boleh pergi begitu saja. Bisa-bisa wanita itu berpikir bahwa aku menyukainya."


Jackson keluar dari dalam mobil dan berjalan kembali menuju apartemen Alexa. Saat masuk ke dalam lift, ia ragu apakah harus menemui Alexa lagi atau tidak.


"Tapi, apa yang akan aku katakan padanya? Bagaimana jika dia bertanya tentang.... Aaahhhh...."


Jackson kembali keluar dari dalam lift menuju pintu keluar. Namun, saat berdiri tepat di pintu keluar. Ia kembali berbalik masuk ke dalam lift.


"Tidak. Aku harus memintanya untuk bekerja. Apa tadi itu, dia izin tidak masuk karena sakit. Kenyataannya dia sehat-sehat saja."


Tekad Jackson sudah bulat untuk menemui Alexa. Ia memencet tombol lantai 10 dan bergegas berjalan ke arah apartemen Alexa saat pintu lift terbuka. Tadi ia sempat melihat yang mana apartemen milik Alexa saat membuntutinya.


Saat berdiri di depan pintu apartemen milik Alexa ia tiba-tiba berkeringat, membuatnya jadi ragu-ragu untuk mengetuk pintu.


"Ada apa denganku? Kenapa jadi berkeringat begini?"


Sementara itu, di dalam apartemen, Alexa masih terbayang dengan kejadian tadi dimana ia berdiri sangat dekat dengan Jackson.


"Kenapa aku jadi deg-degan begini? Bukankah aku malah sering sekali menggodanya?"


'Hufftt....' Alexa menghembuskan nafas panjang.


Ia lalu masuk ke dalam kamar berganti pakaian dengan memakai kaos berwarna putih dan celana sepaha. Kemudian kembali keluar untuk mulai memasak makan siang. Saat tengah asyik memotong-motong sayur, suara bel berbunyi. Alexa mengerutkan dahinya, berpikir siapa yang datang mengunjunginya.


"Robby? Gak mungkin. Lika juga gak mungkin. Lalu siapa?" Ucapnya.


Alexa bergegas menuju pintu dengan mulutnya yang mengunyah buah apel. Dengan rambut yang ia kuncir tinggi membuat lehernya yang putih terlihat sangat jenjang. Perlahan Alexa membuka pintu dan terkejut mendapati Jackson yang berdiri dengan menatapnya dingin.


Jackson seperti menelan saliva nya melihat penampilan Alexa yang berbeda. Rambut di kuncir tinggi, mengenakan kaos dan celana pendek yang membuat dirinya semakin terlihat seksi.


"Tuan Jackson..."


"Ikut gue." Ucap Jackson menarik tangan Alexa.


"Sebentar dulu..." Alexa berusaha melawan.


"Lo harus kerja." Teriak Jackson tanpa melihat ke arah Alexa.


"Tapi....."


"Gak ada tapi-tapi."


Jackson terus menarik Alexa hingga masuk ke dalam lift.


"Hentikan." Alexa menghentakkan tangan Jackson lalu berjalan keluar lift.


"Lo mau melawan perintah Bos lo?" Tanya Jackson yang ikut keluar dari dalam lift.


Alexa menghela nafas panjang. Ditangannya masih ada apel yang sudah ia gigit sejak tadi.


"Gini ya Tuan Jackson yang terhormat. Pertama, lihat dulu dong bagaimana penampilan saya. Masa iya Tuan Jackson mau bawa saya ke kantor dengan dandanan seperti ini. Kedua, saya sedang masak dan pintu apartemen saya belum di tutup. Dan yang terakhir, saya sudah izin hari ini untuk tidak masuk. Kenapa Tuan Jackson harus memaksa saya untuk bekerja."


"Dengerin gue baik-baik. Sebagai asisten pribadi gue, lo gak bisa seenaknya izin lewat sekretaris gue. Lo harus izin langsung sama gue. Lagi pula lo izin itu bukan karena sakit, tapi lagi males kerja. Mana ada orang sakit keluyuran dan segar bugar begini."


"Terserah saya dong, yang jelas saya sudah izin. Pokoknya hari ini saya gak akan masuk."


"Gak bisa, pokoknya lo harus ikut gue." Jackson rak mau kalah.


Alexa mendengus kesal lalu memilih berbalik ke arah apartemennya.


"Woi, lo udah mulai kurang ajar ya sama Bos lo." Teriak Jackson yang mengikuti Alexa.


"Di jam kerja Anda memang Bos saya. Tapi diluar jam kerja, kita sama saja." Balas Alexa.


"Sialan. Lo pikir sekarang jam berapa, ini juga masih jam kerja lo."


"Gak perduli." Ucap Alexa santai.


Hidung Jackson menangkap bau sesuatu yang gosong.


"Bau apa ini?" Ucapnya.


Alexa yang menyadari ia tengah memasak salmon di atas wajan, dengan segera berlari ke arah apartemennya. Jackson juga ikut berlari menyusul Alexa. Saat tiba di depan pintu masuk apartemen Alexa, Jackson menutup hidungnya karena bau gosong yang menyengat.


"Aaauuu...." Teriak Alexa dari arah dapur.


Jackson yang kaget segera masuk dan mendapati Alexa tengah meniup-niup tangannya.


"Ada apa?" Tanya Jackson.


"Ini semua gara-gara Anda. Lihat, masakan saya jadi gosong. Tangan saya juga ikut terbakar. Aduhhh...."


Jemari Alexa memang terlihat sedikit memerah karena ia langsung menarik wajan panas itu dari atas kompor.


"Sini biar gue lihat." Ucap Jackson menarik paksa tangan Alexa.


Jackson melihat jemari Alexa yang memerah, kemudian mengambil tomat yang ada diatas meja lalu memerah airnya di atas jemari Alexa.


"Aaaihhh...." Alexa meringis karena perih.


"Udah tau panas, kenapa main pegang-pegang aja." Jackson mengomel.


Alexa menatap Jackson tanpa berbicara sepatah katapun. Hari ini, ia melihat Jackson dari sisi yang berbeda. Jackson yang biasanya cuek, dingin dan arogan ternyata bisa penuh perhatian dan bersikap manis.

__ADS_1


"Gimana? Udah mendingan?" Tanya Jackson.


Alexa tak menjawab, karena ia seperti terpana oleh pesona Jackson.


Jackson lalu menatap Alexa lalu tersadar dengan apa yang tengah dilakukannya.


'Ngapain aku pegang tangan cewek ini?' pikirnya.


Detik berikutnya, Jackson langsung menghempaskan tangan Alexa hingga membuat Alexa tersadar dari lamunannya.


"Ngapain lo lihat gue kayak gitu?" Teriaknya.


"Tuan Jackson ganteng." Jawab Alexa.


Suasana jadi sunyi setelah Alexa mengucapkan kata itu. Jackson terlihat salah tingkah, ia lalu memilih duduk di meja makan.


"Gue laper. Sebagai asisten, lo harus sediain makanan buat Bis lo." Titahnya.


"Idiihh, ini tuh sudah diluar jam kerja Tuan. Anda tidak bisa dong sembarangan nyuruh begitu." Protes Alexa.


"Kalau gue bilang siapin, ya siapin. Cepaaaat." Jackson berteriak.


"Bisa gak sih, mintanya baik-baik. Gak usah pakai acara nyolot begitu."


"Terserah gue. Gue kan Bos."


"Iya... Iya... Bos. Bekas Orang Sinting." Ucap Alexa pelan.


"Apa lo bilang?"


"Gak ada. Ini saya mau pakai gunting." Ucap Alexa.


"Gue kasih lo waktu 10 menit buat siapin makanan gue."


"Ya gak bisa gitu dong Bos. Mana bisa masak cuma dalam waktu 10 menit. Emang mau makan mi instan?" Protes Alexa.


"Terserah gue. Pokoknya 10 menit. Waktu dimulai dari sekarang."


"Iiihhn..." Alexa mencebik kesal. "Namun ia dengan cepat memasak untuk Jackson."


'Apa yang bisa masak dalam waktu 10 menit?' pikir Alexa.


Alexa mulai merebus telur, asparagus dan memotong-motong sayuran. Ia juga memasak mi instan dalam panci dengan tambahan sayuran hijau seperti sawi dan yang lainnya. Sementara Jackson duduk manis sambil terus menatap ke arah Alexa yang sibuk berkutat dengan alat-alat masak.


10 menit kemudian, dihadapan Jackson sudah tersedia mi instan yang direbus dan disajikan dengan sangat baik, telur rebus dengan asparagus dan juga salmon panggang yang masih juicy dan untuk minuman Alexa hanya menyediakan air putih. Tak lupa di atas meja makan juga tetap tersedia buah segar yang memang selalu di konsumsi Alexa.


"Apa ini?" Tanya Jackson menunjuk mi rebus yang disajikan langsung dengan pancinya itu.


"Makan saja, ini enak." Jawab Alexa.


"Tapi, gue gak suka makan sesuatu yang instan. Gak baik buat kesehatan. Bukannya lo juga suka olahraga dan ngebentuk tubuh, ngapain makan beginian."


Alexa lalu menunduk sebentar lalu mulai memegang sendok nya.


"Selamat makan." Ucapnya seraya mulai menyeruput mie instan yang sudah di rebus nya itu."


Jackson hanya terdiam, ia menyaksikan bagaimana lahapnya Alexa memakan mi instan yang kelihatan enak itu. Dengan cepat Jackson merebut panci yang ada dihadapan Alexa. Mie yang tengah dikunyah Alexa menggantung begitu saja di bibirnya.


Jackson mulai mencoba mencicipi mie itu dan merasa cocok dengan rasanya. Jackson pun mulai lahap memakannya tanpa memperdulikan pandangan Alexa padanya.


"Katanya gak doyan, malah habis dimakan." Protes Alexa.


Jackson tak memperdulikan ucapan Alexa yang dianggapnya angin lalu itu. Ia terus menyeruput mie hingga tersisa pancinya saja.


"Jangan dimakan sama pancinya juga. Baru beli itu." Ucap Alexa.


"Diam." Bentak Jackson. "Mana minuman gue?" Pintanya. "Gue mau jus jeruk."


"Aduuhh gak usah yang aneh-aneh deh. Saya lagi gak punya stok jeruk. Minum air putih aja biar sehat."


"Harus jus buah."


Alexa semakin kesal, ia lalu memeriksa isi kulkas dan hanya tersisa wortel saja.


"Mau wortel gak?" Tanya Alexa seraya memperlihatkan wortel pada Jackson.


"Kan gue udah bilang jeruk. Ngapain mau dikasih wortel, lo pikir gue kelinci."


"Ampuun dah. Kan saya sudah bilang Tuan, gak ada jeruk. Adanya wortel, kalau gak mau ya minum air putih saja."


Alexa lalu duduk begitu saja di depan Jackson dan lanjut menyantap hidangan telur rebus dan asparagus dihadapannya.


"Udah numpang makan, pakek acara merintah-rintah lagi." Bisik Alexa kesal.


"Lo keberatan gue makan disini?" Tanya Jackson.


"Gak kok Tuan Jackson yang ganteng dan baik hati. Sebagai asisten pribadi, saya kan harus mengurus anda dengan baik." Balas Alexa seraya senyum terpaksa. "Setelah ini, apa Anda mau tidur siang Tuan? Apa saya juga perlu menina bobo kan Anda?" Lanjut Alexa dengan nada mengejek.


"Boleh juga." Balas Jackson santai.


'What? Nih cowok udah gila ya?'


Setelah selesai dengan makan siangnya, Alexa masih disibukkan dengan mencuci piring bekas makanan. Sementara Jackson memilih duduk dan menonton televisi dengan ngemil buah segar. Sesekali ia tertawa saat melihat adegan film kartun yang ditontonnya.


"Hih, enak banget dia ongkang-ongkang kaki duduk di sofa sambil makan semua buah aku. Udah kayak apartemen milik dia sendiri." Alexa mengoceh sendiri.


Setelah selesai cuci piring, ia lalu mendekati Jackson, berdiri tepat di depan Jackson dan menghalangi pandangan Jackson ke arah televisi.


"Ngapain berdiri disitu. Sana minggir." Titah Jackson.

__ADS_1


"Boleh saya bertanya?" Ucap Alexa.


"Mau nanya apa? Cepat sana minggir." Jackson berteriak.


"Jangan berteriak, ini apartemen saya. Bukan milik Anda Tuan. Lagipula, kenapa Anda bisa tahu dimana saya tinggal?" Ucap Alexa.


Jackson terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa.


"Kenapa diam? Apa selama ini Anda mengikuti saya?"


"Pede banget lo. Siapa juga yang kurang kerjaan ngikutin lo."


"Terus gimana Anda bisa tahu saya tinggal disini? Dan kemarin malam, kenapa Anda bisa tiba-tiba ada di pantai yang sama dengan saya?"


"Itu.... Itu...."


"Apa?" Bentak Alexa.


"Lo berani bentak gue?" Jackson terbangun dari duduknya dan berdiri dihadapan Alexa.


Perlahan Alexa mundur, entah mengapa sorot mata Jackson membuatnya takut. Jackson menarik tangan Alexa lalu memegangi dagunya.


"Denger gue baik-baik." Ucap Jackson dengan wajah yang sudah berjarak lima senti dengan Alexa. "Gue udah bilang, kalau gue kebetulan lewat dan ngelihatin lo diganggu sama berandalan. Sebagai orang yang waras, gue punya hati buat nolongin orang yang sedang dalam kesusahan. Gak perduli itu lo atau bukan. Dan mengenai apartemen ini. Kenapa gue bisa tahu, karena di resume lo terpampang dengan jelas alamat lo tinggal dimana."


Setelah mengucapkan itu, Jackson melepas dagu Alexa dan kembali duduk. Alexa berusaha mengatur napasnya agar kembali normal. Jarak yang terlalu dekat dengan Jackson membuat napasnya menjadi sesak.


"Karena semua sudah clear, sekarang buatin gue kopi." Titah Jackson.


Alexa kembali mencebik kesal, namun ia sendiri tak bisa menolak apa yang diperintahkan Jackson. Ia kembali ke dapur lalu membuatkan Jackson kopi.


Setelah selesai membuatkan kopi, Alexa masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu. Jackson tak menghiraukan apa yang dilakukan Alexa dan memilih menyesap kopi hitam buatan Alexa sambil fokus pada layar televisi yang menayangkan berita seputar dalam negeri.


Sepuluh menit kemudian, ia merasa bosan karena Alexa tak kunjung keluar dari dalam kamarnya. Jackson beralih melihat ke arah pintu kamar Alexa dan perlahan berjalan mendekatinya. Jackson lalu mengetuk pintu kamar Alexa. Tak lama Alexa membuka pintu dengan wajah yang sudah ditutupi masker berwarna putih.


"Apalagi?" Tanya Alexa.


"Bersiaplah. Kita harus kembali ke kantor."


"Gak bisa gitu dong. Saya kan...."


"Gak mau tahu. Gue kasih waktu 15 menit buat siap-siap. Gak usah dandan yang aneh-aneh." Ucap Jackson lalu berjalan kembali ke arah sofa.


Alexa kembali menghela napas panjang. Ia sama sekali tak pernah menyangka bahwa pria yang ingin digodanya bisa bersikap seperti ini padanya. Biasanya setiap lelaki yang di godanyalah yang menuruti semua perintahnya.


"Sabar.... Sabar...." Ucap Alexa mengelus dadanya seraya kembali menutup pintu kamar.


Alexa lalu bersiap-siap. Seperti biasa, mengenakan kemeja dipadukan dengan rok sempit selutut dan hells yang tidak terlalu tinggi. Menggunakan make up tipis dan memolesi bibirnya dengan lipstik yang berwarna natural. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai. Setelah mengambil tas, ia lalu keluar dari dalam kamar dan mendapati Jackson tengah tertidur di sofa dengan mulut yang menganga.


Alexa tersenyum, lalu merogoh ponsel dari dalam tasnya dan memotret Jackson dari jarak dekat. Alexa semakin mendekat dan sedikit menunduk lalu memotret Jackson dengan wajah yang penuh di dalam kamera ponsel miliknya. Alexa menahan tawanya, meski terlihat lucu. Jackson tetap terlihat sangat tampan.


Alexa sama sekali tak menyadari bahwa rambut panjangnya mengenai wajah Jackson dan membuatnya geli. Jackson sontak menarik tangan Alexa dan menjatuhkannya di sofa. Jackson menindih Alexa dan memandangi wajahnya dengan jarak yang begitu dekat.


"A-apa yang Anda lakukan?" Tanya Alexa kaget.


"Apa yang kau tertawa kan?" Jackson balik bertanya.


"Ti-dak ada." Balas Alexa.


"Jangan bohong. Lo pasti melakukan sesuatu saat gue terlelap. Apa lo coret wajah gue dengan pena? Atau lo...."


"Tidak. Tidak seperti itu."


Jantung Alexa berdegup kencang. Posisi keduanya yang ambigu membuat Alexa semakin tak dapat mengontrol dirinya. Wajahnya memerah karena malu.


"Lihat, wajah gadis yang selama ini berusaha menggoda gue malah memerah seperti udang rebus." Ledek Jackson.


'Gak boleh gini terus. Aku harus membalik keadaan. Bukannya aku yang harusnya menggoda laki-laki ini.' pikir Alexa.


Alexa kemudian mendorong tubuh Jackson dan membalikkan keadaan. Kini Jackson yang berbaring, sementara Alexa yang berada diatas dengan tangannya yang bertumpu pada sofa.


"Apa Tuan sudah mengakui bahwa Anda menyukai saya?" Tanya Alexa dengan nada manja.


"Siapa bilang?"


"Tuan Jackson dengar sendiri kan. Apa Tuan sudah mengakui bahwa saya bisa menggoda Anda?"


"Tidak sama sekali." Balas Jackson dengan wajah yang berubah dingin. "Sekarang bangun, waktunya berangkat."


Jackson mendorong tubuh Alexa hingga membuatnya jatuh ke lantai.


'Iiiihhhh...' Alexa mencebik kesal.


Ia bangun lalu memperbaiki pakaian dan rambutnya yang kusut.


"Ayo cepat." Teriak Jackson.


"Iya...." Balas Alexa yang juga berteriak kesal.


Tiba di parkiran, Alexa hendak masuk ke dalam mobilnya, namun Jackson menarik tangannya.


"Ada apa lagi?" Tanya Alexa.


"Gue ngantuk. Gak usah bawa mobil." Ucapnya. "Nih, lo yang nyetir." Jackson melempar kunci mobilnya yang tak bisa ditangkap Alexa dan malah mengenai kepalanya.


'Dasaaar....' Alexa ingin sekali berteriak di wajah Jackson.


Bersambung.......


Semuanya, jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan beri hadiah juga ya ..... 😘

__ADS_1


Salam sayang dari Alexa dan Jackson ❤️


__ADS_2