
"Sialan...." Teriak salah seorang pria berusaha menendang Jackson.
Alexa sendiri masih terdiam, ia masih tak percaya Jackson ada dihadapannya tengah membela dirinya yang hampir dilecehkan dua orang pria bejat.
Kedua orang pria itu berusaha memukuli Jackson.
Sebelumnya Jackson tak pernah sampai turun tangan seperti ini hanya untuk menghajar seseorang. Kali ini untuk pertama kalinya ia harus mengotori tangannya, dan itupun untuk seorang wanita yang tak penting baginya.
Jackson mulai mengambil posisi defensif dalam sikap seperti berdoa. Ia sama sekali tidak mengepalkan tangannya seperti kebanyakan orang yang siap untuk berkelahi. Sebaliknya, Jackson menyatukan kedua telapak tangannya dan memposisikan di depan tubuh. Jackson menjaga agar sikunya tetap rendah dan menyentuh bagian samping tubuh, dengan kakinya yang direntangkan selebar bahu. Jackson lalu menempatkan kakinya untuk dominan sedikit di depan. Dengan posisi itu, Jackson siap melindungi bagian tubuh yang vital.
Jackson mengangkat tangannya untuk menangkis pukulan dari salah seorang pria itu yang mengarah ke wajahnya. Alexa yang masih mematung sangat takut jika sesuatu terjadi pada Bos nya itu.
Kemudian Jackson mencoba untuk melakukan sesuatu untuk memperlambat orang tersebut, yaitu dengan menendang selangkangannya. Namun karena gagal, Jackson kembali mencoba memukul hidung pria itu dan ternyata berhasil hingga membuat pria itu tersungkur.
Satu orang lagi maju ke hadapan Jackson dan sudah siap untuk bertarung.
Jackson menjaga agar kepalan tangannya tetap lurus. Karena jika tidak lurus, pergelangan tangannya bisa patah ketika dirinya mendaratkan pukulan yang keras.
Jackson kemudian menyerang lawan menggunakan lutut dan sikunya. Yang dilakukan Jackson adalah berusaha membuatnya berhenti menyerang. Jadi, ia menggunakan apa saja yang memungkinkan. Jackson menyerang perutnya dengan siku, dan mengarahkan lututnya pada kaki dan ************ pria itu. Jackson terus menggunakan siku dan lutut untuk menyerangnya sampai orang tersebut berhenti menyerang dirinya.
Seorang pria yang tadinya tersungkur kembali bangkit dan hendak memukul bagian belakang Jackson.
"Jack..... awaaas." Teriak Alexa.
Jackson dengan cepat menghindar dan memanfaatkan peluang ketika lawannya berputar ke arah samping. Jackson memukul bagian samping kepala lawannya lalu mendorongnya ke bawah dan menghunjamkannya ke tanah.
Jackson memanfaatkan kesempatan untuk menguncinya di sana. Ia lalu duduk di atas tubuh lawannya saat pria itu tetap ingin berkelahi. Jackson terus menindih tubuhnya sampai dia menyerah. Melihat pria itu sudah tak berdaya, Alexa mendekat melerai.
"Berhentilah memukulinya. Anda bisa membuatnya terluka parah." Ujar Alexa memegangi punggung Jackson.
Seorang pria lainnya sudah berlari tunggang langgang meninggalkan temannya yang terkapar karena terus dipukuli Jackson. Sementara Lika sudah keluar dari dalam mobil Alexa dan masih berdiri dengan gugup.
Jackson lalu berdiri, sementara pria yang menjadi lawannya masih berbaring di tanah memegangi perutnya yang ditendang habis-habisan oleh Jackson. Perlahan pria itu merangkak dan berbalik lalu menjauhi Jackson dan Alexa kemudian berusaha berlari.
"Pengecut." Teriak Jackson.
Jackson lalu berbalik dan menatap Alexa dengan raut wajah penuh amarah. Sudut bibirnya berdarah, membuat Alexa terkejut dan berusaha menyentuhnya. Dengan cepat Jackson menghindar.
"Ngapain lo malam-malam disini?" Teriaknya di wajah Alexa. "Mau godain pria mana lagi lo?"
"Anda terluka Tuan." Balas Alexa tanpa menghiraukan pertanyaan Jackson.
Alexa meraih tissue yang ada di dalam tasnya lalu berusaha mengusap darah yang ada disudut bibir Jackson. Namun, Jackson lagi-lagi menghindar dengan menepis tangan Alexa.
"Gue tanya, lo ngapain malam-malam disini?" Ucapnya lagi.
"Saya cuma cari angin saja dengan sahabat saya." Balas Alexa.
Ia merasa bersalah karena Jackson terluka disebabkan oleh dirinya.
"Maaf karena saya, Anda sampai terluka."
__ADS_1
"Gue ngelakuin ini semua karena gue gak suka lihat laki-laki berlaku tidak senonoh pada perempuan yang lemah. Jadi, mau itu orang lain, gue juga bakal bantu." Ucap Jackson. "Lo belum jawab pertanyaan gue? Ngapain lo malam-malam disini? Mau ketemu siapa? Atau jangan-jangan lo emang mau ketemu sama cowok yang udah berhasil lo goda." Lanjutnya. "Cih, murahan." Ucapnya lagi dengan suara berbisik.
"Cukup Tuan." Teriak Alexa. "Anda tidak berhak mengatakan hal itu kepada saya. Pertama, terima kasih karena sudah mau menolong saya. Kedua, sepertinya saya tidak perlu menjelaskan apa yang saya lakukan disini. Anda bukan siapa-siapa, hubungan kita hanya sebatas Bos dan karyawan. Anda tidak berhak mengatur-atur hidup saya di luar jam pekerjaan." Ucap Alexa. "Lagian, Anda sendiri ngapain disini? Kok bisa tiba-tiba muncul bantuin saya. Apa jangan-jangan, Anda mengikuti saya karena naksir?"
"Nggak usah kege'eran ya. Mana mungkin gue naksir sama perempuan gatel kayak lo."
'Gatel?' Raut wajah Alexa berubah marah.
"Terus ngapain Anda disini? Jarak apartemen Anda dengan pantai ini kan jauh. Kok bisa ada disini. Jadi emang bener kan buntuti saya." Ucap Alexa.
"Cih, lo pikir ini pantai nenek moyang lo? Suka-suka gue dong datang kesini. Dasar, wanita sok cantik."
"Lah, emang saya cantik. Dari pada Anda muka triplek." Ejek Alexa.
"Lo ngatain gue muka triplek?" Teriak Jackson.
"Emang iya? Kenapa? Gak suka?" Bentak Alexa.
"Lo berani bentak gue?" Balas Jackson berteriak. "Mau gue pecat." Ancamnya.
Alexa menghela nafas panjang. Ia berusaha menahan emosinya.
'Bagaimanapun, tujuanku untuk menghancurkan kebahagiaan Jennie belum tercapai.'
"Sabar Alexa." Ucapnya pelan seraya mengusap dadanya.
"Kenapa diam?" Teriak Jackson lagi. "Lo beneran mau gue pecat."
"Pulang sekarang." Titah Jackson.
"Baik." Balas Alexa berbalik lalu berjalan meninggalkan Jackson.
Lika yang sedari tadi menjadi penonton hanya bisa menahan tawa melihat sang sahabat berdebat dengan Bos nya.
"Ngapain senyum-senyum?" Ucap Alexa. "Sana masuk." Lanjutnya.
Keduanya lalu masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan area pantai. Sepanjang perjalanan, Lika tak henti-hentinya tertawa mengingat kejadian yang dianggapnya lucu.
"Emang lucu ya?" Tanya Alexa.
"Ya lucu lah. Secara, kalian berdua itu berantemnya bikin gemusssh. Udah kayak pasangan real yang udah pacaran gitu."
"Masa sih?"
"Iya." Balas Lika.
Mobil Alexa terus melaju melewati jalanan menuju rumah Lika. Setelah selesai mengantar Lika, Alexa melanjutkan perjalanannya menuju apartemen miliknya. Tanpa ia sadari, dari arah belakang Jackson terus mengikutinya sejak tadi.
Di dalam mobil, Jackson terus menyesali perbuatannya sendiri. Ia sendiri bingung, dengan apa yang dia lakukan.
"Sebenarnya apa yang sedang aku lakukan?" Ucapnya.
__ADS_1
Jackson di dorong oleh perasaan ingin melindungi Alexa dan memastikan agar ia selamat sampai rumah.
"Sebenarnya, dimana wanita itu tinggal?" Ucapnya lagi.
Mobil Alexa berhenti di lampu merah, dan berjarak tiga mobil dengan Jackson. Namun, Jackson masih dapat melihat dengan jelas ke arah mobil Alexa.
Alexa tiba-tiba turun dari dalam mobil, ia terlihat mendekati seorang bapak-bapak yang berjualan kacang rebus dipinggir jalan. Alexa terlihat memberikan sejumlah uang kepada pria yang rambutnya sudah memutih itu.
"Sedang apa dia?" Tanya Jackson yang melihat Alexa dari dalam mobil.
"Pak, bungkus semuanya ya. Terus bagiin ke orang-orang." Ucap Alexa setelah memberikan uang.
"Makasih ya Neng. Neng baik sekali. Semoga Neng senantiasa dalam lindungan Tuhan. Diberikan umur yang panjang, rezeki yang banyak, dan semoga lekas dapat jodoh ya Neng." Ucap Bapak itu.
"Aamiin." Balas Alexa lalu kembali masuk ke dalam mobilnya.
Lampu merah tempat Alexa berhenti memang terkenal lama, hingga ia bisa leluasa keluar dari dalam mobil.
Dibantu sang isteri, pria tua dengan cepat membungkus dan membagikan kacang rebus pada semua orang yang berhenti di lampu merah. Hingga tiba giliran mobil Jackson.
Istri dari pria tua itu mengetuk kaca mobil Jackson. Dengan cepat Jackson membukanya.
"Maaf ganggu. Ini, ada orang baik bagi-bagi rezeki. Mungkin Mas nya suka."
Jackson menerima bungkusan berisi kacang rebus itu.
"Terima kasih." Ucapnya, dibalas anggukan oleh wanita itu.
Lampu mulai menyala, semua kendaraan yang berhenti bergegas berjalan lagi. Sesaat Jackson menatap bungkusan yang ada ditangannya lalu mulai menjalankan mobilnya.
'Jika kau punya begitu banyak uang untuk membantu setiap orang yang kau temui? Lalu, untuk apa kau bekerja padaku dengan hanya mendapatkan gaji yang kecil?' pikir Jackson.
Setelah 30 menit perjalanan dari rumah Lika, Alexa akhirnya tiba di gedung apartemen miliknya. Mobilnya mulai masuk ke tempat parkir, sementara Jackson berhenti dan hanya melihat dari kejauhan.
"Apa dia tinggal sendiri?"
Alexa keluar dari dalam mobil dengan membawa kamera dan tripod nya. Ia terlihat sedikit kerepotan dengan barang bawaannya. Entah kenapa, hal itu terlihat lucu dimata Jackson. Jackson lantas tersenyum melihat Alexa yang berjalan keluar mobil.
Jackson lalu menjalankan mobilnya meninggalkan areal apartemen Alexa.
*************
Malam semakin larut. Setelah berganti pakaian, Alexa bergegas naik ke atas tempat tidur dan mulai memejamkan matanya. Sementara di tempat lain, Jackson masih terjaga dengan menatap bungkusan berisi kacang yang ia taruh diatas nakas.
Jackson tersenyum, mengingat wajah Alexa.
'Apa yang terjadi padaku?' pikirnya.
Jackson lalu memejamkan matanya, berusaha untuk tidur. Ia berharap malam segera berlalu, agar ia bisa melihat wajah Alexa entah kenapa membuatnya candu.
Bersambung .....
__ADS_1