
"Sayang, kamu belum pulang?" Tanya Robby saat melihat Alexa masuk ke dalam apartemennya.
"Aku dengar semuanya Mas." Alexa langsung duduk di sofa. "Isteri Mas akan ngelakuin semuanya agar Mas gak dapetin apa-apa. Kalau begitu, bagaimana Mas bisa menghidupi aku nanti saat kita menikah kalau Mas gak punya apa-apa." Lanjut Alexa.
"Kamu tenang saja sayang. Mas gak akan biarkan dia menghalangi niat Mas untuk bercerai atau mengambil bagian Mas dari harta gono-gini."
"Susah Mas. Sedangkan Mas sejak awal kan memang gak bawa apa-apa saat nikah sama si Gea itu. Perusahaan yang Mas kelola itu juga kan sebenarnya milik Gea yang diberikan Mamanya."
"Sayang.... Kamu tenang saja. Mas pasti bisa mendapatkan semuanya. Toh semua aset perusahaan, mobil, dan sejumlah uang itu atas nama Mas. Jadi, Gea gak akan bisa ngambil gitu aja."
"Apanya yang gak bisa Mas? Dimana-mana harta itu tetap milik bersama, apalagi Mas itu punya anak. Mas gak akan mungkin bisa bawa semua aset atas nama Mas itu dengan gampang. Gea pasti akan nerima bagian Mas."
Robby terdiam, matanya memandang lurus ke arah pintu.
"Kecuali....." Ucap Alexa.
"Kecuali apa?" Tanya Robby.
"Mas alihkan semua aset yang Mas miliki atas nama aku. Otomatis Gea gak akan bisa ganggu gugat lagi."
Robby terlihat berpikir dan sesaat kemudian mengangguk.
"Benar juga. Kalau sudah atas nama orang lain, Gea gak akan bisa mengambilnya." Ucap Robby. "Tapi, bukannya akan mengungkap identitas kamu nantinya?" Tanya Robby lagi.
"Nah, kalau gitu pakai nama Kakek aku aja Mas. Bilang aja kalau itu kakek nya Mas."
"Boleh juga." Balas Robby. "Kalau begitu, besok Mas langsung urus semuanya. Kamu kirim aja semua data Kakek kamu ke email Mas."
"Siap Mas." Alexa mencubit hidung Robby membuat pria itu langsung memegang dagu Alexa hendak menciumnya.
Alexa dengan cepat menghindar dan bangun dari duduknya.
"Sekali lagi sayang." Ajak Robby.
"Lain kali aja ya Mas." Alexa memegang pipi Robby yang duduk bersandar di sofa. "Sekarang aku mau pulang dulu. Besok harus kerja pagi-pagi."
"Sebenarnya kamu kerja dimana sayang?"
__ADS_1
"Mas gak perlu tahu, pokoknya rahasia. Nanti kalau kita udah nikah, aku akan kasih tau semuanya sama Mas. Udah ya, aku pulang dulu." Alexa mencium pipi kiri Robby.
"Biar Mas antar sayang." Robby menarik tangan Alexa.
"Mas belum mandi. Lebih baik bersihin diri dulu. Lagian aku juga bawa mobil sendiri Mas."
Robby lalu berdiri dan memeluk Alexa erat, kemudian mencium kening Alexa.
"Mas sayang banget sama kamu. Hati-hati di jalan ya."
"Iya Mas." Balas Alexa lalu berjalan keluar dari kamar hotel.
Sepanjang perjalanan pulang ke apartemen, Alexa tak hentinya tertawa mengingat apa yang baru saja terjadi.
"Robby.... Robby, kau benar-benar bodoh." Ucap Alexa tertawa sendiri di dalam mobil.
Tiba di apartemen, Alexa segera masuk ke dalam kamar berganti pakaian dan membasuh wajah dan kakinya. Setelah itu Alexa menatap wajahnya di cermin yang sudah bersih dari make up yang sepanjang hari ia kenakan.
"Ternyata kecantikan memang bisa berguna untuk menghadapi pria seperti Robby."
********
Suasana pagi ini begitu sepi dan muram. Angin diam, seperti tertahan oleh suatu duka yang mendalam. Dibalut kabut dan awan kelabu yang berarak pelan. Bulir-bulir embun yang jatuh dari langit pun beku di atas daun-daun kemarau yang menguning kering. Begitu sunyi, tak ada kicau burung atau kokok ayam jantan sebagaimana pagi-pagi biasanya. Bahkan tak terlihat adanya lalu-lalang para manusia yang saban hari menjalani takdir sebagai peniup terompet-terompet kehidupan. Benar-benar tidak ada satupun.
'Pagi macam apa ini?' Alexa bergumam dalam hati.
"Bukankah seharusnya pagi menjadi simbol dari semangat memulai segala sesuatu? Tapi ini? Ini sungguh aneh."
Tidak ada tanda kehidupan yang bisa dirasakan Alexa. Begitu sunyi, seolah-olah pagi sengaja mengasingkan dirinya sendiri.
Alexa tersenyum pahit sembari bangkit menuju jendela, berharap angin segar menyapu wajahnya. Namun lagi-lagi yang ia dapat hanya sepotong pagi yang sunyi, dengan langit kelabu, aroma tanah kering, dan debu-debu kemarau yang terasa hinggap di jendela apartemen miliknya.
Sama-samar, detik berdetak dari dalam jantungnya. Hingga Alexa bisa mendengar lirih suara jiwanya sendiri. Entah bagaimana bisa begitu, Alexa sendiri tidak tahu. Yang jelas tiba-tiba ia merasakan sebuah kesedihan. Seperti terlempar dalam pusaran nestapa. Air matanya meleleh pelan layaknya sungai di awal musim hujan. Dan mahluk bernama kenangan pun datang. Dengan dera dan luka di tangannya, ia memaksa Alexa untuk kembali menengok tahun-tahun silam yang tolol itu.
Bayangan akan kejadian dirinya yang berusaha dibunuh dimalam pernikahan oleh pria yang baru saja mengikrarkan diri sebagai suaminya itu. Bayangan dimana sang Papa yang harus meregang nyawa di malam itu juga.
"Kenapa aku jadi melow begini?" Ucap Alexa pada dirinya sendiri seraya mengusap air matanya yang mengalir di pipinya.
__ADS_1
'Dara Alexandra, kau harus kuat. Kau sudah setengah jalan. Bukti-bukti sudah mulai kau dapatkan.'
Alexa berusaha menguatkan dirinya sendiri. Ia berusaha tersenyum, lalu bergegas bersiap untuk pergi ke kantor.
"Sekarang bukan waktunya untuk bersedih. Masih ada hal yang lebih penting untuk dilakukan." Ucap Alexa setelah selesai berdandan dan segera berangkat ke kantor.
Hari ini, menjadi begitu tidak biasa saat Alexa tiba di parkiran kantor dan melihatnya. Sesosok pria dengan senyum yang berbeda. Pria yang tak pernah dilihatnya tersenyum selama ini. Untuk pertama kalinya, Alexa melihat Jackson, sosok pria yang selama ini ingin ia goda tampak tersenyum lepas. Jackson terlihat tengah menelepon dengan seseorang.
Jackson yang kali ini mengenakan kacamata itu, seperti kupu-kupu dengan paduan warna yang khas. Terbang dalam suasana pilu hati Alexa. Hati Alexa yang masih pilu, sebab belum lama tertusuk sembilu. Luka, mungkin tak terlalu menganga, tapi cukup membuatnya mempunyai cara pandang yang berbeda tentang pria, apalagi baru pertama berjumpa.
Semua berlangsung begitu saja. Entah kenapa, tiba-tiba wajah Alexa seperti pucat ketika berhadapan dengan Jackson yang berjalan ke arahnya. Mata Jackson yang tegas, cukup membuat mata Alexa kelu ketika beradu tatap dalam sekejap. Sepersekian detik, seperti ada yang janggal dengan aliran darah Alexa. Jantungnya pun berdegup lebih kencang dari biasanya. Satu-satunya cara untuk menghilangkan itu, Alexa harus berpaling dari wajah Jackson.
'Ada apa denganku?' pikir Alexa.
Apalagi saat Jackson tersenyum, Alexa seperti mati kutu. Sungguh, tanpa ragu. Senyum pangeran sekalipun menjadi kecut seketika saat Alexa melihatnya menyunggingkan seutas senyum. Sinkronisasi bibir, sedikit lekukan di pipi Jackson, dan tajam matanya menjadi paduan maha dahsyat yang mampu menusuk relung hati Alexa. Tak ada yang bisa meniru.
"Ada apa?" Tanya Jackson seraya menyentuh kening Alexa.
Dan kembali, untuk pertama kalinya suara Jackson terdengar mengalun merdu bagi Alexa. Intonasi yang pas dengan suara yang lembut membuat Alexa tersipu. Lebih dari itu, melalui jas yang Jackson kenakan saat ini, membuat Alexa semakin terpana.
"Ti-tidak apa-apa Tuan." Balas Alexa gugup.
"Ikut gue." Titah Jackson dengan raut wajah berubah tegas.
Perasaan Alexa yang berbunga-bunga, seketika pudar. Ia mengikuti langkah Jackson yang berjalan cepat didepannya.
"Sepertinya anda bahagia sekali hari ini Tuan!" Ucap Alexa basa-basi. "Apa Tuan akan segera menikah?"
"Bukan urusan lo."
Alexa berdecak kesal.
"Mmmmm Tuan...."
"Bisa diam gak!" Ucap Jackson tegas saat keduanya masuk ke dalam lift.
Bersambung.....
__ADS_1