Mentari Ku Kembali

Mentari Ku Kembali
Bab 5. Kalung Bintang


__ADS_3

Tok tok tok


Tok tok tok


Tidak ada jawaban, akhirnya mama Desi masuk dan melihat ternyata Tari seperti biasa belum bangun.


"Bangun Tari bangun." Ucap mama Desi dengan membuka gorden kamar Tari.


"Iya ma" Jawab Tari denganmenggeliatkan tubuhnya.


"Cepetan mandi, terus makan. Mama tunggu dibawah." Ucap mama Desi dan langsung pergi.


Tari yang masih ngantuk terpaksa mengambil handuk.


Dinginnya air yang seperti masuk ke tulang tulangnya membuat Tari merasa segar segar.


Selesai mandi, Tari turun untuk makan.


"Pagi ini Tari diantar sekolah sama kak Asa aja ya sayang." Ucap papa Santoso yang masih dengan suasana makan bersama.


"Gak mau ah pa, nanti ka Asa genit-genit sama temen-temen Tari." Jawab Tari dengan mengerucutkan bibirnya.


"Pokonya Tari harus dianter kak Asa ya, soalnya mang Yudi mau anterin papa. Karena mobil papa sedang di bengkel." Jawab Papa Santoso dengan melirik kearah Tari.


"Tuh dengerin." Ejek kak Asa yang merasa gemas melihat ekspresi adik kecilnya itu.


Sesampainya disekolah, semua murid pandangannya tertuju pada Tari dan kak Asa.


"Wah Tari dianter sama siapa tuh."


"Ganteng banget."


"Apa jangan-jangan cowoknya ya."


Begitulah ucapan-ucapan yang terdengar oleh Tari dan kak Asa.


"Besar tuh kepala karena dipuji." Ejek Tari dengan mengangkat alisnya sebelah.


"Udah sana masuk ke kelas." Lagi dan lagi kak Asa mengacak rambutnya Tari.


"Ih lo mah nyebelin, gue udah rapi-rapi mau sekolah malah di acak-acak." Ucap Tari sambil pergi ke kelas.


Pas Tari mau duduk di kursinya, tiba tiba ada suara teriakan. Ternyata itu Yesi yang datang bareng dengan Shila.


"Tariiiiii..." Teriak Yesi dan Shila yang mampu membuat seisi kelas melihatnya.


"Kalian berdua ngapain sih teriak-teriak, tuh ayang gue ke ganggu." Ucap Aldi yang melirik kearah Yesi dan Shila kemudian kearah Tari.


Tari tahu apa maksud kedua temannya berteriak, karena ingin menanyakan soal kak Asa yang tadi mengantarkannya.


"Apa apa apa, gue gak salah denger. Mimpi lo, lagian suka-suka gue mau teriak ataupun gimana itu hak gue." Jawab Yesi yang langsung berjalan kearah Tari berada.


"Tar, tadi lo dianter sama siapa, pacar lo?


" Tanya Shila yang masih penasaran siapa sosok cowo tadi.


"Hahaha, lo berdua lari-larian terus teriak cuma gara-gara mau tanyain hal ini?" Ucap Tari sambil geleng kepala.


"Emang dia siapanya lo Tar, kepo nih."  Tanya Yesi


"Eh iya tadi gue juga liat. Kalo itu bener cowo lo Tar, gue gak ada kesempatan lagi deketin lo dong. Keliatannya dia tajir banget." Ucap Aldi yang ditertawai Martin.


"Dia kakak gue." Jawab Tari dengan santai.


Saat Shila mau nanya lagi, tiba-tiba ketua kelas datang dan memberi tahukan bahwa guru nya sedang ada rapat, tetapi memberikannya tugas.

__ADS_1


Bel istirahat berbunyi


Tari mengajak Yesi ke toilet, dan Shila yang lebih dulu pergi ke kantin karena takut gak kebagian meja.


"Udah Tar? Tanya Yesi"


"Udah, Shila mana Yes? Tanya Tari yang tidak melihat keberadaan Shila.


"Ke kantin, takut gak kebagian meja." Ucap Yesi.


Dan benar saja, sesampainya di kantin mereka melihat semua tempat duduknya penuh, dan beruntung Shila sudah mendapatkan meja.


Saat hendak nyamperin Shila, tiba tiba dari arah belakang ada yang sengaja menabraknya.


"Upsss sorry sengaja" ucap Amanda dan  kedua temannya, yang dibelakangnya diikuti oleh Zaky dan kedua temannya juga.


Saat Tari mau pergi, tiba-tiba Amanda memancing emosinya lagi dengan menarik kalungnya Tari sampai putus.


"Uuu sorry ketarik." Ucap Amanda sambil senyum miring.


"Maksud lo apa tarik kalung gue?" Ucap Tari dengan nada tinggi.


"Sengaja biar lo marah terus gak betah dan keluar dari sekolah ini." Ucap Amanda dengan mengangkat sebelah alisnya.


Saat melihat kalung Tari yang ditarik Amanda, Zaky teringat sama teman kecilnya yang sekarang entah dimana keberadaannya.


Flashback on


Saat itu Zaky mengajak Mentari ke taman paforit mereka, di sana Zaky memberikan sebuah kalung.


"Mentari ku, aku punya sesuatu buat kamu." Ucap Zaky waktu itu.


"Sesuatu apa Bintang ku?" Tanya Tari dengan penasaran.


"Enggak ah, nanti kamu pergi ninggalin aku disini." Jawab Tari dengan mengerucutkan bibir. Ternyata mengerucutkan bibir adalah kebiasaan Tari sejak kecil, dirinya menganggap supaya orang kasihan terhadap dirinya.


"Janji gak akan ninggalin, aku cuma mau ngasih kamu sesuatu." Ucap Zaky meyakinkan


Akhirnya Tari pun tutup mata, dan Zaky memasangkan sebuah kalung berbentuk Bintang.


"Kamu boleh buka mata kamu sekarang." Ucap Zaky.


Tari pun membuka mata nya dan melihat apa yang ada dilehernya itu.


"Ini buat aku?" Tanya Tari dengan polos.


Zaky pun mengangguk dan menjawab.


"Yang bintang buat kamu, yang matahari buat aku, kamu suka?" Ucap bintang pada Tari


"Suka, aku suka banget. Makasih ya Bintang ku." Ucap Tari sambil tersenyum bahagia.


"Sama-sama Mentari ku." Ucap Zaky dengan tersenyum balik.


Semenjak kejadian itu mereka tidak pernah bertemu lagi, bahkan nomor ibunya Mentari pun tidak bisa dihubungi. Zaky mencari nya sampai sekarang, tetapi hasilnya nihil.


Flashback off


"Balikin kalung gue." Melotot nya Tari.


"Ambil aja sendiri kalo bisa." Ejek Amanda dan melempar-lemparkan kalungnya pada teman-temannya.


Sedangkan Zaky terus bergelut dengan pikirannya, dirinya memikirkan perihal kalung Tari itu. Akhirnya Zaky tersadar oleh teriakan Tari.


"BALIKIN." Teriak Tari.

__ADS_1


"Woyy berisik lo." Ucap Zaky dengan melotot kearah Tari.


Aldi melihat kejadian itu dan langsung merebut kalung yang ada ditangan Amanda saat Amanda lengah.


"Tar kalung lo." Ucap Aldi yang memperlihatkan kalungnya yang hendak direbut balik oleh Amanda.


"Apaan sih lo ikut campur urusan gue." Ucap Amanda dengan nada tinggi.


"Wah ada jagoan ternyata." Ucap Zaky sambil berjalan nyamperin Aldi dan Martin.


"Lo gak malu apa gangguin cewek, kek bukan cowo aja lo." Ledek Aldi


Seketika amarah Zaky naik dan langsung memukul pipi bagian kiri Aldi. Dan Aldi pun membalas pukulan Zaky di area bibir sebelah kanan dan langsung berdarah.


Semua orang yang ada di kantin bersorak ada yang mendukung Zaky dan ada juga yang mendukung Aldi.


Tari yang panik langsung menghalangi Aldi dari pukulan Zaky.


Kedua sahabatnya Tari kaget melihat apa yang dilakukan Tari, alhasil Tari kena pukulan dan jatuh pingsan. Tanpa pikir panjang Aldi langsung menggendong Tari ke UKS.


"Gara-gara lo ya temen gue jadi pingsan, kalo ada apa-apa gue gak segan laporin lo kepsek." Ucap Yesi dengan marah dan langsung mengikuti Aldi ke UKS.


Zaky tanpa rasa bersalah langsung duduk dan menyuruh kedua temannya memesan minuman.


"Sayang bibir kamu berdarah." Ucap Amanda.


Zaky tanpa merespon, karena ia masih kepikiran kenapa kalung Tari sangatlah mirip dengan kalung milik teman kecilnya dulu.


Saat kedua temannya Zaky datang membawa minumannya, mereka bertanya.


"Zaky lolo gak lupa kan nanti sore lo balapan lagi?" Ucap Leon


"Pasti gue datang." Jawab Zaky dengan senyum miring


"Sayang kamu mau balapan?" Tanya Amanda


"Iya, kamu liat ya?" Tanya Zaky yang berharap Amanda datang.


"Gak bisa sayang, aku harus nemenin mama aku arisan, gak papa ya aku gak ikut kamu?" Jawab Amanda yang sebenarnya hanya alasan saja.


Sementara di UKS, Tari masih belum sadar. Bu Mira dan Om Yanto yang mengetahui Tari pingsan mereka langsung datang ke UKS.


"Pak apa sebaiknya kita memberi tahu pada orang tuanya Tari tentang keadaan Tari?" Tanya Yesi.


"Sebaiknya jangan, tunggu dulu sampai jam pulang. Jika nanti Tari masih belum sadar, bapak akan menghubungi orang tua nya." Jawab om Yanto.


Semua temannya mengangguk.


"Kalian kembali ke kelas aja, biar gak ketinggalan pelajaran." Ucap bu Mira


"Baik bu, kamu permisi." Ucap Yesi dan keluar, dan mereka berjalan beriringan menuju kelasnya.


Dikelas, saat guru sedang menjelaskan Zaky malah melamun. Dia terus-terusan memikirkan perihal kalung milik Tari.


Pletakkkk


Sebuah spidol guru mendarat di kening Zaky, Zaky pun akhirnya tersadar.


Bel pun berbunyi, tandanya pulang.


Yesi, Shila, Aldi dan Martin pergi ke UKS untuk melihat Tari.


"Tari, akhirnya lo udah sadar." Ucap Yesi dengan senang


Tari hanya tersenyum, karena nyeri di pipinya dan pusing kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2