
Astrid berdiri di depan pintu seraya menatap kepergian Karen dan Farel. Flo bisa melihat kekecewaan di wajah ibunda Karen. Namun, Flo tak mampu berbuat banyak. Pilihan tetap berada di tangan gadis itu.
Karen, seharusnya kau lebih mementingkan perasaan ibumu dibanding pria ini. Cinta ibumu, jauh lebih tulus daripada dia. Flo menatap Farel dengan ekor matanya.
"Aku ingin memperkenalkan mu pada mama," ucap Farel.
Flo menoleh dan menatap Farel, "Untuk?" tanyanya.
"Aku ingin menjadikanmu tunanganku secepatnya." Pria itu menyunggingkan senyum manisnya.
Flo sejenak tertegun. Banyak pertanyaan dalam kepalanya yang muncul setelah pernyataan Farel tadi. Ia merasa Farel terlalu cepat mengambil keputusan.
"Kenapa terburu-buru sekali? Usia kita itu masih muda," tolak Flo secara halus.
Bagaimanapun, mereka baru saja menjalin hubungan. Akan ada banyak orang yang berpikir, jika Karen adalah gadis yang merebut kekasih temannya. Apalagi, hubungan Karen dan Gisel cukup baik saat ini.
"Jika bisa, aku bahkan ingin menikahimu malam ini," bisik Farel.
Flo mendelik sebal. Pria ini benar-benar senang bertindak sesuka hatinya. Ingin sekali Flo menyekik pria yang egois seperti Farel. Malas berdebat, membuat Flo memalingkan wajah dan menatap ke arah luar.
Saat ini, mereka tengah berada di dalam mobil untuk menuju ke kampus. "Memangnya dia pikir menikah itu, semudah membalikkan telapak tangan? Seenaknya aja kalo ngomong!" gumam Flo kesal.
Farel yang mendengar gumaman itu terbahak. Pria itu menyentuh jemari Karen yang berada di pangkuan gadis itu. Flo terkejut dan hampir menghajar Farel, seandainya pria itu tidak buru-buru melepaskan tangan dari jemari Karen.
"Kamu udah jago bela diri, ya?" tanyanya.
"Sedikit," jawab Flo tanpa mengalihkan perhatian dari luar.
"Tadi saja, kamu hampir memelintir tanganku," imbuh Farel.
"Sorry." Hanya itu yang mampu Flo ucapkan.
Jika boleh jujur, Flo tidak menyukai Farel sedikit pun. Pria itu terlalu egois bagi seorang Flo. Belum lagi, ketidaktegasannya pada Karen yang berakhir gadis itu berencana busuk. Namun, pada akhirnya, Karen juga yang menderita dan memilih mati.
Apa dia gak sadar dengan kesalahannya? Dasar cowok brengsek. Ingin sekali aku ******* dirinya hingga menjadi serpihan debu.
__ADS_1
Sisa perjalanan pun mereka habiskan dalam diam. Sesekali, Farel akan menoleh dan mengusap lembut rambut Karen. Wajahnya terus memperlihatkan senyum bahagia. Hal itu, terlihat dari sudut mata Flo.
***
Farel memarkirkan mobilnya tak jauh dari kantin. Dengan terburu-buru, Flo segera turun dan meninggalkan Farel. Tak ingin kehilangan Karen, Farel pun mengejarnya. Langkah kakinya yang lebar, membuat Farel mampu menyusul Karen.
Banyak mata memandang ke arah mereka. Tentu saja, hal itu membuat Flo risih. Raut wajahnya terlihat makin kesal. Dengan sengaja, Farel merangkul bahu Karen. Membuatnya semakin mendelik kesal.
"Singkirkan tanganmu!" Flo melepaskan tangan Farel yang melingkar di bahunya saat mendengar hardikan Arsen.
"Arsen!" ucap Flo terkejut. Kedua mata Flo membola melihat kemarahan di wajah Arsen.
Arsen segera melangkah menarik pergelangan tangan Karen. Menyembunyikan Karen di belakang punggungnya. Farel tak menanggapinya dengan serius.
"Sudah cukup kau menyakitinya!" Farel mengernyitkan dahinya tak mengerti.
"Menyakitinya?" Farel mengulangi ucapan Arsen.
Sementara Flo, merasa terkejut mendengar ucapan Arsen. Pikirannya mulai menduga, jika Arsen pun termasuk orang yang ingin membuat Karen kembali. Apa mungkin dia menjadi salah seorang yang memberatkan aku kembali? apa tujuannya?
Flo tak mampu lagi menahan rasa penasaran yang memenuhi pikirannya. Ia pun menarik lengan Arsen kuat, dan membuatnya berbalik. Mata Flo menyorot tajam.
"Apa maksud ucapanmu? Darimana kau tahu masalah antara aku dan Farel?" Arsen terlihat tenang dan berwibawa.
Ah, sialan! Kalau bukan karena aku ingin segera kembali, sudah ku hajar pria ini!
"Tante Astrid yang memberitahuku. Beliau menghubungiku tadi." Flo menatap kedua manik mata Arsen.
Flo menghela napas kasar dan memejamkan mata. Apa yang Astrid khawatirkan memang benar. Sedetik kemudian, ia kembali membuka matanya. Tanpa berpamitan, gadis itu meninggalkan kampus.
Farel dan Arsen yang berkali-kali memanggilnya pun tak ia gubris. Flo menghentikan taksi dari depan kampus. Meminta sang supir menuju alamat yang ia ucapkan.
Tidak butuh waktu yang terlalu lama, ia tiba di toko kue Astrid, ibu dari Karen. Ia masuk dan mencari keberadaan wanita lembut itu.
"Bunda sudah datang, Nin?" tanyanya pada seorang pegawai.
__ADS_1
"Sudah di dalam, Mba," jawab gadis muda itu.
Flo tersenyum dan berjalan ke ruangan Astrid. Bagaimanapun, Flo tetap mengutamakan kesopanan. Gadis itu mengetuk pintu dan masuk. Astrid tak terlihat terkejut melihat kedatangannya.
"Bunda." Lagi-lagi, Flo mengutamakan kesopanan. Ia menghampiri Astrid dan mencium punggung tangannya.
Astrid terus menatapnya tanpa berkedip. Hal itu jelas membuat Flo sedikit salah tingkah. Flo pun berdeham untuk menetralkan tenggorokannya yang seakan tercekat.
"Bun, Karen ingin bertanya boleh?" tanya Flo.
"Tentang kedatangan Arsen," tebak Astrid santai. Flo menganggukan kepala. Astrid pun mengisyaratkan agar Karen bicara.
"Darimana, Bunda, tahu masalah antara Karen dan Farel?" Flo langsung bertanya pada intinya.
Astrid terlihat diam. Flo menatap mata ibunda dari Karen dalam. Berusaha mencaritahu jawaban dari mata wanita yang terlihat lembut itu. Sementara dari alam bawah sadar sana, jiwa Karen ikut menyelami mata sang ibu.
Sekian detik, hanya keheningan yang menyelimuti ruangan itu. Astrid pun berdeham dan memperbaiki posisinya.
"Karena kau terlihat berbeda sejak tidak mengejarnya lagi. Kau pun terlihat lebih dewasa." Jawaban Astrid, membuat jiwa Karen seketika terdiam. Seolah ia berpikir, sejauh itukah ia dari ibunya?
Flo menatap sendu mata tua itu, "Sejauh itukah aku dengan, Bunda, dulu?" tanyanya.
Wanita itu menitikkan air mata. Namun, secepat kilat ia hapus. Flo terus menatap mata Astrid. Karen sendiri sudah merasakan sesak di dada. Ia menyadari kesalahannya yang lalu.
"Ya, kau dulu hanya memikirkan dia. Seakan Farel adalah pusat hidupmu." Astrid menundukkan wajahnya. Ia tak ingin membuat putrinya semakin bersedih.
Flo merengkuh tubuh Astrid. Ia melakukan itu, berharap Karen merasakan kepedihan ibunya. Tanpa Flo sadari, ia ikut menangis, karena jiwa Karen pun tengah bersedih.
"Maaf, Bunda." Hanya itu yang mampu Flo ucapkan. Kau menangis?
Sekarang aku tahu, alasan diriku tidak bisa kembali. Kuncinya ada pada dirimu, batin Flo
"Seandainya kamu tidak melakukan semua ini, mungkin bunda tidak akan terlalu mengkhawatirkan dirimu," ucap Astrid penuh harap.
"Akan Karen coba. Karen tidak ingin membuat bunda sedih lagi. Maaf, karena selama ini Karen hanya bisa membuat bunda khawatir," ucap Karen.
__ADS_1
Minta maaflah pada bundamu. Habiskan waktu kalian. Semoga, hubungan kalian, jauh lebih baik setelah ini. Flo, sengaja membiarkan jiwa Karen menguasai tubuhnya sendiri.