Merubah Takdir Si Antagonis

Merubah Takdir Si Antagonis
Flo Ambruk


__ADS_3

Waktu terus berlalu dengan begitu cepatnya. Sejak kejadian Flo mendengar pembicaraan Farel, Adrian dan Karen, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pada akhirnya, ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan.


Sudah empat hari, Flo bekerja tanpa mempedulikan kondisi tubuhnya. Gadis itu hanya berhenti saat makan, dan tertidur secara tidak sengaja. Lingkaran bawah matanya pun terlihat mengenaskan.


Meski Flo sudah menutupinya dengan make up, tetapi karena lamanya waktu yang ia habiskan untuk bekerja, tak membuat mata pandanya itu tersamarkan.


Tidak hanya Nina yang merasa iba. Riska pun merasakan hal yang sama. Mereka berpikir, jika Flo merasa cemburu dengan pernikahan Adrian dan Karen. Kedua sahabat baik Flo itu, belum mengetahui beban pikiran lain, yang tengah Flo tanggung.


"Lo, istirahat aja dulu, Flo!" seru Nina.


Gadis yang merangkap sebagai sekretaris Flo itu, memberikan sarannya.Tak bisa Flo pungkiri, ia merasa begitu lelah. Namun, saat ia terpejam, kembali batang wajah Farel yang hadir.


Tanpa Flo sadari, setitik rasa mulai memenuhi hatinya untuk Farel. Gadis itu, terus saja berpikir, jika semua itu akibat kekuatan magis yang Farel miliki.


"Nggak bisa, Nin. Kalau bisa, gue nggak mungkin lembur begini," jawab Flo.


Nina menghela napas lelah. Setelah mengambil berkas yang Flo tanda tangani, ia bergegas kembali ke mejanya. Gadis itu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Tak butuh waktu lama, panggilan itu pun tersambung.


"Gue harus gimana?" tanyanya.


"..."


"Lo, yakin?" Kembali, pertanyaan yang terlontar.


"..."


"Oke, deh!" Nina pun mematikan ponselnya.


Nina membuka tas yang ada di mejanya, lalu mengambil sesuatu. Kemudian, ia berjalan ke arah pantry. Gadis itu mengambil gelas dan mengisinya dengan gula dan teh. Setelah menyeduhnya, seorang office girl datang menghampirinya.


"Eh, Ibu, mau buat apa? Kenapa tidak menyuruh saya?" tanya seorang gadis yang sedikit lebih muda darinya.


"Oh, enggak, kok. Ini sudah selesai." Nina tersenyum pada gadis itu.


"Itu buat, Ibu?" tanya office girl itu lagi.


"Bukan. Untuk Bu Flora." Lagi-lagi, Nina tersenyum.


"Biar saya saja, Bu, yang antar." Gadis itu mencoba menawarkan diri.


"Boleh, ini." Nina pun mengulurkan gelas di tangannya.

__ADS_1


Setelah memastikan karyawan yang mengantarkan teh yang sudah ia campur sesuatu itu, ia kembali ke mejanya. Terlihat mengerjakan tugasnya dengan tenang. Pintu ruangan flora terbuka, menampilkan gadis yang berprofesi sebagai office girl itu, keluar.


"Mari, Bu," pamitnya.


Nina mengangguk dan tersenyum. Setelahnya, wajah ramah itu berubah tegang. Beberapa kali ia menatap ponselnya. Terlihat kegugupan di wajahnya.


Sepuluh menit kemudian, ia mengambil asal sebuah berkas dan mengetuk pintu ruangan Flo. Tidak mendapat sahutan, lantas Nina mendorong pintu dan masuk. Senyum tersungging di wajah cantiknya.


"Akhirnya. Lo, tuh butuh tidur Flo." Nina membalikkan badan dan menutup pintu.


***


Tiga jam kemudian, Flo terlihat menggerakkan kelopak matanya. Ia menggerakkan tubuhnya dan bangkit dari duduknya. Sedikit merasa lebih segar.


"Aku tertidur. Pasti karena rasa lelah," gumamnya.


Flo tidak tahu, jika Nina sengaja membuatnya tertidur. Setelah merenggangkan persendiannya, Flo pun melangkah keluar.


"Nin, apa aku ada jadwal meeting siang ini?" tanya Flo saat tiba di meja Nina.


Nina yang mendengar suara Flo, tersentak. Ia tidak menyangka, jika boss sekaligus sahabatnya itu sudah terbangun.


"Heh! Kok, malah bengong, sih?" Flo menepuk pundak Nina.


"Hem, Bos, tadi ngomong apa?" tanya Nina.


"Jadwal, Nin, jadwal," jawab Flo.


"Gak ada, Bu bos. Bu bos, mau pulang?" Nina menatap wajah Flo penuh harap.


Sebagai sahabat, ia sungguh mengkhawatirkan kondisi sahabatnya ini. Gimana pun, Lo, butuh istirahat lebih, Flo.


Flo menatap jam yang melingkar di tangannya. "Kayanya, iya. Kalau gitu, aku duluan, ya," pamit Flo.


Nina tak mampu menutupi wajahnya yang berbinar mendengar penuturan Flo. Sementara Flo, hanya membalasnya dengan senyuman. Ia segera melangkah ke ruangannya, meminum sisa teh di meja, dan mengambil tasnya dan. Setelahnya, ia pun berlalu.


"Bye, Nin." Flo melambaikan tangannya.


Nina pun, turut membalas lambaian tangan bos, sekaligus sahabatnya itu. Setelah melihat Flo masuk ke dalam lift, Nina melanjutkan pekerjaannya. Masih ada 4 jam, sampai waktu pulang nanti.


***

__ADS_1


Flo masuk ke dalam mobilnya. Ia melajukan kendaraan roda empat itu. Matanya kembali terasa berat. Bagaimana pun, Flo merasa tubuhnya sangat letih. Kembali gadis itu menguap, merasakan kantuk yang mendera.


"Perasaan, aku tadi udah tidur selama tiga jam, deh. Kok, ngantuk lagi ya?" gumamnya.


Flo berusaha menghalau rasa kantuknya. Entah sudah berapa kali, Flo menguap. Bahkan, air matanya terus menetes, akibat menahan kantuk. Setelah beberapa kali mencoba melebarkan matanya, Flo pun mulai kehilangan fokus.


Lambat laun pandangannya memburam. Ia pun tak menyadari, jika mobil yang dikendarainya, tak lagi imbang. Terkadang ia kembali fokus, saat kendaraan di belakangnya membunyikan klakson dengan nyaring.


"Astaga! Aku kenapa, sih? Apa ini efek kurang tidur kemarin, ya? Wah, kalau begini terus, aku bisa celaka!" Flo menepikan mobilnya. Ia mengambil ponsel dan mencoba menghubungi seseorang.


Pandangannya yang tak lagi fokus, ia paksa untuk melihat layar ponsel. Setelah mencari kontak seseorang, Flo pun mulai melakukan panggilan.


"Halo, Nin. Tolong jemput gue, ya. Gue gak bisa nyetir lagi, nih. Mata gue gak tahan pengen merem. Cepat, enggak pake lama!" Tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya, Flo memutus panggilan secara sepihak.


"Kena angin, bikin seger kali, ya," gumamnya.


Flo pun melangkah keluar dan mencoba mencapai halte yang tak jauh dari tempatnya parkir. Baru beberapa langkah ia berjalan, tubuhnya pun ambruk. Ia hanya melihat sekilas, orang-orang yang menghampirinya dan berteriak tidak jelas, sebelum menutup mata.


Pada akhirnya, Flo jatuh tertidur di pinggir jalan. Teh yang telah Nina campur dengan obat tidur, ditambah kondisi tubuh yang letih, semakin membuatnya jatuh dalam tidur.


"Flo," pekik seseorang.


Seorang pria berlari mendekati tubuh Flo yang sudah tidak sadarkan diri. Pria itu mendeteksi denyut nadi Flo. Beberapa menit kemudian, ia mengangkat tubuh ringkih Flo ke dalam mobilnya.


Tidak ada yang memprotes tindakan pria itu. Terlebih, saat pria itu memanggil nama Flo. Mobil pun melaju meninggalkan tempat itu.


"Aris, hubungi seseorang, dan minta dia membawa mobil Flo ke apartemenku!" perintahnya.


"Baik, bos."


Pria itu adalah Farel. Entah takdir apa, yang membuat Farel dan Flo kembali bertemu. Flo yang terus menghindarinya, belum menyadari kehadiran pria ini.


Ada apa dengan dirimu? Kenapa wajahmu terlihat begitu lelah? Kau bahkan sampai tertidur di jalan, seperti tadi.


Farel terus mengamati wajah cantik Flora. Menyingkirkan anak rambut yang jatuh dan menutupi pandangannya. Senyum lembut tercetak di wajah tampan itu. Tepat saat Aris menatap kaca center mobil. Aris bahkan tertegun melihat senyum Farel.


***


Hai, hai, hai... all apa kabar... masih pada nunggu gak, nih kelanjutan cerita Flo? Boleh dong komennya...


Sedikit pemberitahuan, cerita ini gak akan panjang loh, guys... 🤭 jadi, kemungkinan akan segera aku tamatkan...

__ADS_1


__ADS_2