Merubah Takdir Si Antagonis

Merubah Takdir Si Antagonis
Kekuatan Magis?


__ADS_3

Flo berjalan gontai meninggalkan mall dan teman-temannya. Bukan rasa sakit yang ia rasakan. Namun kecewa, pada dirinya sendiri. Kecewa, karena ternyata Adri hanya memanfaatkan dirinya.


Dasar bodoh! Mudah sekali aku masuk dalam jebakannya! Tunggu. Jika dia bisa membawaku masuk ke dalam novel, bukankah itu artinya dia memiliki kekuatan magis? Ah, pikiran dari mana itu?


Flo menggelengkan kepalanya kuat, menghalau pikiran yang berkecamuk dalam kepalanya. Tiba di parkiran, Flo segera masuk ke dalam mobil. Belum sempat ia menjalankan mobilnya, terlihat keberadaan Farel, Adrian dan Karen. Flo membuka sedikit kaca samping, untuk mendengar pembicaraan mereka.


"Apa belum cukup kalian menyakiti Flo dengan kekuatan magis kalian?" Pertanyaan itu terlontar dari bibir Farel.


Flo sedikit tersentak mendengarnya. Apa Karen dan Farel pun memiliki kekuatan? batinnya.


"Jika bukan karena kekuatan ibuku, aku dan Adrian tidak perlu menyakiti Flo. Salahmu sendiri yang tidak ingin membantu kami!" Kali ini, Karen yang menjawab.


Flo menangkap nada sinis dari cara bicara Karen. Gadis itu semakin mencengkeram roda kemudi dengan erat.


"Itu, karena Farel pun menyukaimu, Sayang."


Flo terkekeh mendengar ucapan Adrian. Seakan merasa geli mendengar panggilan yang Adrian lontarkan, meski bukan ditujukan padanya.


"Bukan itu alasanku!" Sepertinya, Farel mulai naik pitam.


"Jadi, kau tetap ingin menyalahkan kami?" tanya Karen.


"Kalau begitu, sudah saatnya kau bebaskan jiwa ibumu dari novel itu!"


Flo melebarkan matanya mendengar pernyataan dari Farel. Senekat itukah mereka, hingga mengurung jiwa ibu dari Karen ke dalam novel?


"Akan aku bebaskan, setelah kami menikah," jawab Adrian.


"Bagaimana dengan ingatan Flo?"


Mendengar namanya kembali disebut, Flo menajamkan pendengarannya. Ia terlihat ingin tahu, akan jawaban pasangan yang memiliki magis itu.


"Akan segera kami hapus ingatannya tentang kami, novel itu, juga dirimu."


Jawaban Adrian, membuat Flo terdiam. Sehebat itukah kekuatan kalian? Kenapa baru sekarang kalian hapus ingatan itu? Kenapa tidak sejak awal saja?


"Seharusnya, kalian lakukan itu sejak hubungan kalian berhasil dipersatukan."


Adrian dan Karen terdiam. Selesai bicara, Farel pergi meninggalkan pasangan calon pengantin itu. Flo masih mengamati keduanya dari dalam mobil. Tidak ada niat dalam hatinya, untuk menghampiri mereka.

__ADS_1


***


Flo menjalankan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Kejadian di parkiran mall tadi, terus berputar di benaknya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Haruskah ia senang dengan kenyataan yang mulai terbuka ini? Ataukah dia harus menuntut dari mereka?


Menuntut? Apa yang harus kutuntut, dari mereka? Keadilan? Flo menggelengkan kepalanya bingung.


Seakan tak ingin membiarkan Flo tenang, Farel terlihat berdiri di depan kediamannya. Melihat itu, Flo hanya mampu menghela napas perlahan. Gadis itu pun menghentikan mobilnya dan keluar. Ia berdiri di samping mobilnya dan bersedekap.


"Ada perlu apa?" tanyanya tanpa basa-basi.


"Tidak ada. Hanya ingin melihatmu saja," jawab Farel.


Flo menganggukkan kepala mengerti. "Karena kau sudah melihatku, bisakah kau pergi?" usir Flo dengan halus.


"Kau sepertinya membenciku." Farel melangkah mendekati Flo.


Tak berniat menjawab, Flo hanya mengendikkan bahunya acuh. Bahkan, saat Farel telah berdiri tepat dihadapannya, ia terlihat tak peduli. Farel mulai mengangkat tangannya.


Flo yang melihat gerakan itu, mulai waspada. Kembali teringat akan percakapan Farel, Adrian dan Karen di parkiran tadi.


"Berhenti!" sentak Flo.


Tangan Farel menggantung di udara. Mata Flo terangkat dan menatap nyalang pada pria di depannya. Farel membalas tatapan Flo dengan datar. Tidak ada ekspresi yang terlihat di wajahnya.


Perlahan, pria itu menarik tangannya dan menyimpan ke dalam saku celana bahan yang ia pakai. Tatapannya masih terlihat datar.


"Kau sudah tahu, kami memiliki kekuatan?"


"Pergi! Jangan pernah kau temui aku lagi!" usir Flo terang-terangan.


Kali ini, Flo berkata dengan tegas. Ia merasa lelah menghadapi orang-orang seperti Adrian, Farel dan Karen.


"Baiklah!" Farel berbalik menuju mobilnya.


Tak lama kemudian, pria itu pergi meninggalkan Flo. Flo menghela napas lega. Saat tangan Farel terulur tadi, jujur saja Flo takut m, jika pria itu akan menggunakan kekuatannya. Meskipun tidak tahu, apa yang akan pria itu perbuat.


Dirinya merasa terjebak dalam kehidupan magis yang Adrian dan Farel ciptakan. Berniat merubah takdir seorang tokoh antagonis dalam novel, justru berimbas pada kehidupannya sendiri.


Bagaimana caranya, agar aku keluar dari masalah ini? Mereka memiliki kekuatan. Sementara aku ....

__ADS_1


"Flo."


Suara itu menyadarkan Flo dari lamunannya. Gadis itu tersenyum melihat sang Oma yang datang menghampirinya.


"Kenapa, Oma, keluar?" tanya Flo. Gadis itu mengambil tangan sang Oma dan menciumnya.


"Oma hanya bosan, Sayang. Kenapa kamu melamun di sini? Masih mikirin Adrian?" Pertanyaan bertubi-tubi, Oma lontarkan.


"Enggak, kok, Oma." Flo berusaha menampilkan senyuman termanis, tanpa paksaan.


"Bagaimana dengan pria yang membantu kita saat di taman tempo hari?" Oma menatap Flo lembut.


Flo terdiam. Perlahan, senyum di wajahnya memudar. Apalagi, saat mengingat perdebatan yang di dengarnya tadi. Tidak mungkin aku memberitahu, Oma, hal ini.


"Ah, Tuan Farel," jawab Flo.


Oma menganggukkan kepalanya. Sejenak, Flo terdiam mencoba mencari jawaban yang tepat tentang Farel. Haruskah ia mengatakan, jika Farel pun memiliki hubungan dekat dengan Adrian? Tidak! Jangan gegabah Flo! Jangan pertaruhkan kesehatan, Oma, karena hal ini! Flo memperingatkan dirinya.


"Dia hanya rekan kerja yang kebetulan lewat," jawab Flo setelah beberapa menit kemudian.


Terlihat Oma menganggukkan kepala mengerti. Flo pun mendorong kursi roda Oma masuk ke rumah. Sementara perawat yang menjaga Oma, ia minta untuk segera menyiapkan kebutuhan Oma mandi. Apalagi, hari semakin sore.


***


Malam menyambut. Langit terlihat gelap tanpa cahaya bulan dan bintang. Mungkin, beginilah langit di ibu kota. Banyaknya cahaya yang menerangi setiap sudut, menghalau cahaya bintang dan bulan.


Flo menatap langit yang menaunginya. Namun, secara tiba-tiba, bayangan Farel terlihat mewarnai langit. Membuat Flo kesal dan memilih masuk ke kamarnya.


"Sial! Bisa-bisanya aku melihat wajah itu!" gerutu Flo.


"Apa dia pake kekuatan magis dia, ya? Biar aku kepikiran dia terus, gitu." Flo kembali menggerutu.


"Ah, ngomong apaan sih!"


Flo pun merebahkan tubuhnya. Ia menarik selimut, lalu menutup seluruh tubuhnya. Berharap, jika dengan beristirahat, tubuhnya kembali segar. Tidak hanya itu, pikiran dan jiwanya pun, kembali segar.


"Ah ...." Flo kembali terduduk.


Sudah sepuluh menit ia mencoba untuk tidur. Namun, matanya tak juga ingin terpejam. Hal itu membuat Flo, menggeram marah, hingga ia terduduk.

__ADS_1


"Apa aku dalam pengaruh kekuatan magis mereka lagi? Tidak bisakah kalian melepaskan aku!" seru Flo dengan wajah frustasi.


Sungguh, ia seakan tengah memikul beban yang sangat besar. Namun, apa daya, ia tak mampu berbuat apa-apa.


__ADS_2