
"Apa alasannya?" tanya Flo.
Saat ini, Flo tengah berada disebuah cafe. Ia meminta bertemu dengan Adri. Pria itu sendiri, menatap datar pada Flo. Sementara gadis itu, menanti jawaban dari calon suaminya.
"Aku bosan," jawab Adri tenang.
"Hah! Bosan. Apa aku se-membosankan itu?" Kali ini, Flo berucap datar tanpa ekspresi.
"Ya!" Jawaban singkat dari Adri, membuat Flo tak mampu berkata-kata.
Flo pun menganggukkan kepala mengerti, "Oke! Kita akhiri hubungan ini." Flo berdiri dan akan meninggalkan tempat itu.
Langkah Flo terhenti, saat pergelangan tangannya ditahan oleh Adri. "Ada apa lagi?" tanya Flo tanpa menoleh.
"Are you oke?" tanya Adri.
Flo terlihat tersenyum. Entah apa arti dari senyumnya itu. Adri sendiri, tidak mengerti.
"Sejak hubungan kita berakhir, kau tidak punya hak untuk mengetahui kondisi hatiku." Flo menarik pergelangan tangannya dan berlalu.
Adri menatap nanar punggung Flo yang semakin menghilang. Tak lama, ia menghela napas dan pergi dari sana.
***
Flo tenggelam dalam pekerjaannya. Sudah satu minggu sejak hubungannya dengan Adri berakhir. Ia bahkan belum mengatakan apapun pada kedua orang tuanya.
Sebagai wanita, Flo tetap merasakan sakit hati, bila diputuskan tanpa sebab. Hanya dengan bekerja, Flo mampu mengalihkan rasa sakitnya.
Siang ini, ia akan mengadakan rapat dengan perusahaan iklan terbesar di kota ini. Produk terbaru dari perusahaannya akan segera dirilis. Suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya.
"Masuk!" perintahnya.
"Siang, Bu. Pak Farel menghubungi, jika beliau tidak bisa hadir siang ini untuk rapat. Beliau, meminta di reschedule saja." Sekretarisnya datang memberitahu.
"Farel?" Nina menganggukkan kepala.
Ah, aku jadi teringat Karen. Flo tersenyum kecil.
"Bagaimana, Bu?" tanya Nina.
Flo tersentak, "Y-ya. Boleh." Nina pun keluar dari ruangan Flo, setelah sedikit menundukkan kepalanya.
Flo kembali fokus pada berbagai berkas yang bertumpuk di mejanya. Terlalu larut dengan pekerjaan, Flo melupakan makan siangnya. Sudah beberapa kali Nina mengingatkan dirinya. Namun, Flo hanya menganggukkan kepala.
__ADS_1
Pada akhirnya, Flo melewatkan makan siang. Sampai jam pulang tiba pun, Flo terus bekerja.
***
Flo baru saja tiba di rumah, saat waktu menunjukkan tepat pukul 12 malam. Rasa lelah yang melandanya, membuat Flo hanya mampu membersihkan tubuh. Setelahnya, ia segera tenggelam dalam tidur nyenyaknya.
Keesokkan harinya, Flo merasakan tubuhnya lemas luar biasa. Namun, gadis itu tetap memaksakan diri ke kantor. Apalagi, akan ada pertemuan yang tertunda kemarin.
"Nin, bagaimana tentang pertemuan yang tertunda kemarin?" tanya Flo saat Nina sang sekretaris masuk.
"Pihak mereka bilang, jam 10 pagi ini, mereka sendiri yang akan datang ke sini." Mendengar ucapan Nina, Flo mengangkat pandangannya dan mengerutkan dahi.
"Kenapa begitu?" tanyanya heran.
"Sekretarisnya bilang, sebagai permintaan maaf." Flo menganggukkan kepala.
"Ubah saja. Katakan pada mereka, untuk bertemu di restoran X. Kamu segera pesan tempat, ya. Kalau bisa, VIP." Nina sang sekretaris mengangguk dan keluar dari ruangan Flo.
Flo melanjutkan pekerjaannya. Menyuapkan berkas penting yang akan ia diskusikan dengan perusahaan broadcasting nanti. Ia dikejutkan dengan kedatangan Nina yang tergesa-gesa.
"Bu," panggil gadis itu.
Flo mengangkat pandangannya dan menatap Nina bingung. "Ada apa, Nin?" tanyanya.
"Pak Farel dan sekretarisnya sudah di lobby," jawabnya lirih.
"Ya, sudah. Siapkan ruang rapat segera." Nina segera keluar dan melakukan perintah Flo.
Flo mempersiapkan berkas dan mengabaikan rasa sakit yang menderanya sejak pagi tadi. Setelah itu, Flo menuju ruang rapat di lantai empat. Jantung gadis itu berdetak dengan cepat secara tiba-tiba. Ia sampai memegang dadanya bingung.
Kenapa jantungku tiba-tiba berulah? Ada apa ini?
Flo menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Tiba di lantai yang dituju, Flo pun segera menuju ruang rapat. Semakin ia mendekat pada ruangan itu, semakin jantungnya berdetak cepat. Berkali-kali gadis itu menarik napas dalam dan menghembuskan perlahan.
Nina membuka pintu saat Flo sudah berada di dekat ruang rapat. Gadis itu pun berbisik pada Flo, memberitahu atasannya, jika Farel sudah di dalam. Ia menganggukkan kepala dan melangkah masuk.
Flo tertegun melihat pria yang duduk di hadapannya. Farel tersenyum pada Flo. Nina pun menepuk pundak Flo pelan.
"Bu," panggilnya.
Flo tersentak dan berdeham untuk menetralkan jantung serta suaranya. Dia Farel? Astaga, apa yang terjadi? Apa aku masih di dunia novel?
"Selamat pagi, Pak," sapa Flo ramah.
__ADS_1
Farel tersenyum dan mengangguk kecil. Setelahnya, mereka pun tenggelam dalam pembicaraan serius tentang peluncuran produk dari perusahaan Flo. Tak butuh waktu lama bagi pria di depan Flo untuk memahami keinginan kliennya.
Flo sampai berdecak kagum mendengar ide yang Farel sampaikan. Bahkan, Farel menunjukkan tampilan iklan bagi produk dari perusahaan Flo secara kasar. Tak butuh waktu lama bagi keduanya mencapai kata sepakat.
***
"Saya minta maaf untuk kejadian kemarin," ucap Farel.
Flo tersenyum dan mengangguk, "Tidak apa. Kami paham."
"Terima kasih atas pengertian, Anda. Kami akan membantu mengiklankan produk, Anda, dengan maksimal." Farel mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan.
Flo pun menyambut jabatan tangan itu dengan senyum ramahnya. "Ah, iya. Sama-sama."
Farel bisa melihat wajah pucat dari Flo. Pria itu bahkan menatap dengan lekat. Hal itu membuat Flo salah tingkah dan ingin menarik tangannya.
"Boleh kita bicara empat mata?" tanya Farel tiba-tiba.
Tidak hanya Flo, Nina dan sekretaris Farel pun terkejut. Namun, tak urung kedua sekretaris itu pun berlalu meninggalkan mereka. Farel dan Flo kembali duduk berhadapan.
"Apa ada masalah lain?" tanya Flo membuka percakapan.
Sejak lima menit yang lalu, Farel tak jua bicara. Matanya hanya menatap Flo dengan lekat. Membuat Flo merasa malu dan salah tingkah.
"Terima kasih atas bantuan, Anda." Pernyataan itu membuat Flo mengangkat kedua alisnya tinggi.
Gadis itu mencoba mencerna maksud ucapan Farel. Setelah mencaritahu, ia tak menemukan penyebab Farel harus mengucapkan terima kasih padanya.
"Bantuan?" Farel mengangguk, "maaf, tapi, bantuan apa, ya?" tanya Flo.
"Karena, Anda, sudah membantu Karen bersatu dengan pria yang disukainya."
Deg,
"Karen?" Jantung Flo semakin berdentang kencang mendengar nama Karen.
Lagi-lagi, Farel menganggukkan kepala. Flo menatap pria di depannya dengan bingung. Ada banyak pertanyaan dalam kepala gadis itu, yang ingin ia ucapkan.
"Secara pribadi, saya ingin mengundang, Anda, untuk makan malam dengan keluarga saya. Termasuk Karen dan calon suaminya." Flo tak mampu bersuara.
Ia hanya menatap Farel dengan tatapan yang tak bisa pria itu mengerti. Flo terdiam hingga ia merasakan sakit yang luar biasa dari perutnya. Farel pun panik seketika.
***
__ADS_1
hohoho
mari kita pertemukan Karen dari dunia novel, yang ternyata ada di dunia nyata dengan Flo. siapa tunangan Karen di dunia asli?