
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Flo saat berdiri di hadapan Arsen.
"Oh, hanya menyerahkan laporan pada Profesor." Flo mengangguk.
Keduanya terlibat obrolan seru, hingga tak menyadari jika banyak mata yang memandang takjub. Mereka tak pernah melihat Karen dekat dengan pria lain, selain Farel. Ini, adalah kali pertama.
Flo yang pada dasarnya tak pernah peduli dengan ucapan orang lain, secara tidak langsung telah mengajarkan gadis itu untuk menutup telinga dari sekitar. Tak peduli dengan gonjang-ganjing mengenai hubungan Karen dan Farel yang beredar luas.
Nyatanya, antara Karen dan Farel, telah usai sejak penolakan pria itu. Bila pada akhirnya, Farel yang berbalik mengejarnya, itu sudah di luar kuasanya.
"Mau pulang, bareng?" tawar Arsen.
"Apa tidak merepotkan?" tanya Flo.
"Tidak kok." Arsen tersenyum menenangkan.
Flo pun mengangguk. Mereka berjalan bersama menuju parkiran. Sesekali, tawa renyah Karen terdengar. Membuat Farel tidak suka. Pria itu, diam-diam memang mengikuti keduanya.
"Karen." Suara itu menginterupsi Karen dan Arsen.
Flo menoleh dan tersenyum. Gisel membalas senyumnya. Sepertinya, Flo salah menilai Gisel. Gadis itu hanya tersesat sesaat. Gadis di depan Flo terlihat menarik napas dalam sebelum bicara.
"Aku mau minta maaf," ucapnya. Gisel menundukkan kepala dan memili jemarinya.
"Maaf?" ulang Flo. Gisel mengangguk yakin.
"Untuk apa? Rasanya, kamu tidak punya salah," ucap Flo bingung.
"Karena aku sempat membentak dan meneriakimu beberapa waktu lalu," lirih Gisel.
"Oh, itu ... tidak apa. Aku tidak marah kok." Flo tersenyum pada Gisel.
Gisel mengangkat pandangannya dan terlihat berkaca-kaca, "Kamu, sudah berubah," ucapnya.
Apakah aku akan segera kembali ke duniaku? Kelihatannya, Karen sudah mulai bisa berinteraksi dengan baik.
"Selama itu ke arah yang lebih baik, aku rasa tidak masalah." Flo kembali menampilkan senyum milik Karen.
Arsen sudah tersenyum gemas melihatnya. Ia sedikit membungkukkan tubuh dan berbisik, "Sepertinya, aku jatuh cinta padamu."
__ADS_1
Flo menoleh cepat. Wajahnya sudah memerah hingga ke telinga. Gisel yang melihat dan mendengar ucapan pria di samping Karen itu pun, ikut tersenyum.
"Kau sudah menemukan pengganti Farel rupanya," ucap Gisel.
"Dia ini temanku," lirihnya. Hei, Karen! Kenapa kau merona mendengar ucapan pria ini? Apa kau menyukainya?
***
Waktu terus bergulir, Karen dan Arsen terlihat semakin dekat. Secara alami, Karen terlihat nyaman bersama dengan pria yang notabene menjadi sahabatnya sejak kecil. Tak jarang, Arsen akan datang menjemput atau mengantar Karen.
Semua itu tak luput dari pengamatan Farel. Dari hari ke hari, hati Farel semakin terasa sakit. Merasa tak lagi sanggup melihat adegan antara Karen dan Arsen. Sebagai seorang pria, ia jelas tahu, jika Arsen menyukai gadis yang sama dengannya.
"Karen," panggil Farel.
Karen menoleh sesaat dan menghela napas kasar. Rasanya aku muak melihat dia! Apa kau masih menyukainya? Ah, aku lupa jika kau hanya akan muncul saat-saat tertentu saja!
Flo mengeluarkan senyum terbaiknya dan mencoba bersikap biasa. Farel pun mendekat dan membalas senyum Karen. Ia berdeham sedikit dan menatap manik mata Karen.
"Aku punya dua tiket nonton. Mau ikut?" tanya Farel seraya menunjukkan tiket itu.
Flo melihat tiket itu, "Kapan?" tanya Flo.
Flo mengembalikan tiket dan tersenyum, "Maaf, aku ada tugas. Mungkin lain kali," tolak Flo.
Setelah itu, Flo berbalik dan meninggalkan Farel yang hanya menatap punggung Karen hingga menghilang. Farel pun mendesah kecewa, saat Karen menolaknya.
"Sekarang kau mengejarnya?" Farel membalikkan tubuhnya dan melihat Gisel berdiri di belakang.
"Bukan urusanmu!" Farel berbalik dan hendak meninggalkan Gisel.
Gisel hanya tersenyum pedih pada sikap Farel yang kini tak lagi memujanya. Dengan berat hati, Gisel pun memilih berbalik dan melihat keberadaan Aris yang tersenyum padanya. Gadis itupun ikut tersenyum.
Sementara itu, Flo baru menapakkan kakinya di dalam perpustakaan. Setelah meletakkan tas dan buku serta laptopnya, Flo menuju rak buku dan mencari beberapa buku penunjang untuk tugas-tugasnya.
Tengah mencari beberapa buku, ia merasa ada seseorang di dekatnya. Flo pun menoleh dan mendapati Farel di sana. Pria itu tersenyum menatap dirinya. Flo kembali fokus pada rak buku.
"Mau aku bantu?" bisik Farel.
"Tidak usah. Aku tidak ingin jadi semakin bodoh." Sebenarnya, ucapan itu bermaksud menyindir Farel.
__ADS_1
Meski Farel tidak menyukai Karen, entah mengapa batin Flo mengatakan mengatakan sebaliknya. Alasan Farel mengusir Karen sebelum gadis itu memutuskan bunuh diri pun, masih menjadi teka-teki.
"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu." Flo membeku.
Ini bukan kali pertama Farel mengucapkan kata itu. Namun, entah kenapa kali ini terdengar lebih tulus di telinga Flo. Perlahan, ia menoleh dan mendapati Farel menatapnya lembut. Tatapan itu begitu dalam dan tak berdasar.
Flo terbuai dan tak menyadari, jika Farel sudah mendekatinya. Perlahan, Farel memiringkan wajahnya dan mulai mendaratkan bibirnya pada pada bibir Karen. Aroma mint dan segar menyapa indera penciuman Karen.
Farel tersenyum, saat Karen tak menolaknya. Dengan cepat, pria itu menggerakkan bibirnya dan mencecap bibir Karen. Flo merasakan tubuh Karen melemas. Ia tak bisa mengendalikan tubuh itu.
Farel menahan tubuh Karen, dengan memegang pinggang gadis itu dan menahan tengkuknya. Flo tak mampu bergerak. Sekedar mendorong Farel pun, ia tak mampu. Ia merutuki Karen yang terbuai dengan bujuk rayu Farel.
Dasar bodoh! Cepat sadar Karen!
Beberapa detik kemudian, Farel melepas lumatannya dan menyatukan keningnya dengan kening Karen. Lagi-lagi, tubuh Karen membeku dan tak bergerak. Bola matanya hanya mampu menatap Farel.
Sial! Karen sempat mengambil alih tubuhnya!
"Aku tahu, cintamu tak akan mudah luntur padaku." Farel memeluk tubuh Karen.
Flo semakin merutuk, saat air mata Karen justru menetes. Air mata sialan! Ngapain juga pake netes?
"Ayo! Kita mulai semua dari awal. Aku akan pastikan kau menjadi satu-satunya." Flo semakin merasa bingung.
Entah perasaanku saja, atau novel ini benar mulai berbeda cerita? Banyak sekali perubahan jalan cerita.
"Lalu, kenapa kau meminta ku pergi dan tak lagi muncul di hadapanmu? Kenapa kau membuat aku memutuskan untuk mati?" tanya Karen dengan bersimbah air mata.
Tidak! Karen, jangan bodoh! Farel tidak sungguh-sungguh dengan kata-katanya! Argh, kenapa kau justru mengambil alih tubuh ini di saat seperti ini?
Farel menatap mata Karen dalam. Ada luka serta kesedihan di dalam mata itu. Membuat Farel semakin didera rasa bersalah pada gadis itu. Ia mengambil kedua tangan Karen dan menciumnya.
"Tapi, doaku didengarkan oleh Tuhan. Dia membawamu kembali." Ucapan Farel, membuat Flo terkejut.
Kalian sengaja membawaku ke sini? Apa maksud kalian? Sial! Aku pasti akan membuat perhitungan pada kalian berdua! Lihat saja nanti!
***
Maaf ya, karena jarang up. klo kurang gereget, tolong maafkan aku. aku kembali meraba cerita ini.
__ADS_1