
"Jika ibumu tak mengizinkan kau dekat dengan Farel, apa yang akan kau lakukan?" tanya Flo pada jiwa Karen.
"Aku tidak tahu. Selama ini, aku tidak pernah memikirkan perasaan ibuku. Yang ku tahu, dia wanita kuat. Meski ayahku sudah lama meninggalkan kami, dia tidak pernah sedikitpun memikirkan dirinya sendiri." Flo hanya menatap Karen.
"Kau tahu kenapa dia kuat?" Karen menggeleng, "karena dia memilikimu." Karen meneteskan air matanya deras. Ia pun memutuskan bertukar tempat dengan Flo.
"Bunda, ayo kita liburan," ajak Karen.
Astrid tersenyum dan menganggukkan kepalanya cepat. "Sudah lama kita gak liburan bersama. Terakhir, saat usiamu 12 tahun."
Karen kembali memeluk bundanya. Pelukan yang lama tak ia rasakan. Karena selama ini, ia hanya memikirkan bagaimana cara mendapatkan Farel. Sedikitpun, tidak pernah lagi memikirkan ibunya.
Flo membiarkan Karen menghabiskan waktu dengan ibunya. Melihat hal itu, membuatnya rindu akan ibunya sendiri. Entah berapa lama, waktu yang telah ia habiskan di dalam novel itu. Samakah dengan waktu di dunia nyata?
***
Karen benar-benar menghabiskan waktu bersama ibunya. Berlibur ke sebuah pantai, tempat mereka dulu sering menghabiskan waktu. Flo menatap dengan senyum dari alam bawah sadar Karen.
Sepanjang hari, Karen tak menggubris panggilan Farel ataupun Arsen. Tanpa Karen sadari, kedua pria itu menemukan keberadaannya. Tidak hanya Karen dan Astrid yang terkejut. Flo yang bisa melihat mereka seakan menonton dari layar tv, mengernyitkan dahi bingung.
"Apa yang mereka lakukan di sini?" tanya Flo.
"Arsen," sapa Astrid.
"Hai, Tante." Arsen mencium punggung tangan Astrid dengan sopan.
Farel pun melakukan hal yang sama. Meski sikap Astrid padanya terlihat tidak suka. Pria itu, mencoba meluluhkan hati ibu dari wanita yang disukainya.
"Arsen, bisa tolong temani Karen?" pinta Astrid.
Arsen terlihat terkejut. Namun, hal itu tak berlangsung lama. Sedetik kemudian, ia menyanggupinya. Karen sadar, ibunya akan melakukan pembicaraan serius dengan Farel. Ada rasa khawatir yang tak bisa Karen ungkapkan.
"Kau takut ibumu tetap tak merestui hubungan kalian?" tanya Flo.
"Bukan itu yang ku takutkan. Entahlah, aku tidak bisa menjabarkan perasaanku."
Flo dan Karen, kini mulai bisa berkomunikasi dengan batin. Apa yang Karen rasakan, kini ikut Flo rasakan. Bagaimanapun, jiwanya masih bergantung pada tubuh Karen.
Karen mulai menjauh dan duduk di bebatuan. Menatap lautan lepas dengan debur ombak yang terdengar merdu di telinganya. Selama beberapa menit, tidak ada pembicaraan apapun antara Arsen atau Karen. Bahkan, Flo menikmati nyanyian alam yang menenangkan.
__ADS_1
"Apa kau mencintainya?" Karen menoleh mendengar pertanyaan yang Arsen layangkan.
"Farel?" Arsen mengangguk.
Matanya masih menatap lurus ke arah cakrawala yang terbentang luas. Karen tak menjawab. Ia kembali menatap lautan.
"Aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku masih merasakan debaran yang sama ketika melihatnya." Jawaban Karen, membuat Arsen mengalihkan tatapan.
Flo yang memang tahu akan hal itu, memilih tidak ikut berkomentar. Bagaimanapun, ini adalah tentang perasaan Karen. Flo, tidak bisa masuk terlalu jauh.
"Bagaimana denganku? Apa kau tidak pernah menaruh rasa yang sama?" Dari suaranya, dapat Flo dan Karen pastikan, pria itu tengah mengiba.
"Arsen, aku sudah menganggapmu sebagai teman dan kakak. Seandainya aku bisa mengendalikan hatiku dengan mudah, sudah sejak lama ku alihkan," terang Karen.
"Jika bisa, aku tidak akan mati bunuh diri. Apalagi sampai membutuhkan bantuanmu, Flo." Ucapan Karen membuat Flo tersenyum.
"Kau benar. Siapa yang tahu, jika hatimu tetap saja utuh milik Farel."
Arsen tak lagi bicara. Karen menoleh, melihat ibunya yang masih terlibat perbincangan dengan Farel. Entah apa yang mereka bicarakan, hingga menghabiskan waktu lebih dari 20 menit.
"Ternyata, aku sudah kalah sebelum berperang," ucap Arsen. Pria itu menundukkan kepalanya dalam.
"Suatu saat, kau pasti akan menemukan wanita yang mencintaimu dengan tulus," ucap Karen, "maaf, karena aku tidak bisa membalas perasaanmu," imbuhnya.
"Tidak apa. Semoga saja, pembicaraan tante dan pria pilihanmu, berujung pada kebahagiaanmu." Arsen mendoakan yang terbaik bagi Karen.
"Semoga," ucap Karen.
Keheningan kembali tercipta. Mereka kembali menikmati ciptaan Tuhan yang terbentang di depan. Tak lama, Sebuah pelukan Karen terima. Ia terkejut saat merasakan pelukan erat dari seorang Farel.
"I love you," bisik pria di belakangnya.
Karen menikmati debar jantungnya yang mulai menggila. Apalagi, merasakan deru napas Farel di daun telinganya. Dari alam bawah sadar Karen, Flo ikut merasa bahagia.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Karen.
Entah sejak kapan, Arsen sudah tak lagi berdiri ditempatnya. Pria itu mulai berjalan menjauh dari kedua sejoli itu. Farel menatap mata Karen dalam.
"Rencana untuk pertunangan kita." Wajah Karen bersemu merah.
__ADS_1
"Semudah itu kau meyakinkan bunda?" Farel mengangguk.
"Benarkah?" Farel tersenyum.
"Ayo, kita tanya pada bundamu," ajak Farel. Karen mengerucutkan bibirnya.
"Tenang saja. Bunda sudah yakin dengan perasaanku padamu," ucapnya.
Farel menarik jemari Karen dan menciumnya. Flo tersenyum menatap pasangan muda itu. Ada rasa rindu pada sang kekasih serta orang tuanya yang muncul tiba-tiba.
Flo pun melihat ada seberkas cahaya nun jauh di sana. Mungkinkah itu pintu untukku kembali? batin Flo.
"Karen, di sana ada cahaya. Apakah itu pintu untuk aku kembali?" tanya Flo.
"Pergilah Flo. Terima kasih untuk semua bantuanmu selama ini. Aku berjanji akan meneruskan semua perjuanganmu. Kembalilah ke duniamu."
Dengan tetesan air mata, Flo mengangguk dan mulai melangkah menuju cahaya itu. Harapan demi harapan, mulai terajut dalam benaknya. Lambat laun, ia tak lagi melangkah. Namun, ia mulai berlari. Air mata semakin deras mengalir.
Rindu itu terasa semakin menggebu. Ia merindukan semua yang ada dalam dunianya. Sedikit lagi, ia akan mencapai cahaya itu. Cahaya yang terlihat semakin terang.
Flo semakin berlari kencang, hingga ia tak mampu melihat karena silau yang ia rasa. Kemudian, ia membuka mata secara perlahan. Hal pertama yang dilihatnya, adalah kamar yang selama ini ia tempati.
Senyumnya mengembang. Ia tahu, kini dirinya berada di dunia yang ia tahu. Tangan Flo terulur untuk melihat ponselnya. Waktu, itulah yang pertama kali Flo pastikan.
Flo mendesah lega saat mendapati, waktu yang terbuang hanya beberapa jam sejak ia tertidur. Rupanya, pertemuannya dengan Karen, adalah mimpi terpanjang yang dialaminya.
Tak lama, ponselnya berdering. Panggilan dari Adri masuk. Senyumnya mengembang sangat manis. Dengan segera, ia mengangkat panggilan itu.
"Halo, Mas," sapanya riang.
"..."
Flo tak dapat mendengar lagi apapun yang Adri katakan. Ponselnya terjatuh dengan derai air mata yang seakan berlomba untuk turun. Lidahnya terasa kelu dan tak dapat berucap.
***
hahaha berhubung aku sudah pusing memikirkan alur mereka di dalam novel, jadi, ku kembalikan Flo ke dunia nyata. akan ku sambung dengan kisah percintaan Flo ya.
maaf, karena aku jarang up. 🤭
__ADS_1
tetap beri aku semangat dengan like, komen dan vote serta hadiah ya guys. thx all😘😘😘