
Farel tidak tahu harus berbuat apa. Ingin ia bertanya masalah yang kini dialami wanita dalam pelukannya. Namun, ia pun takut Flo merasa jika dirinya terlalu ikut campur.
"Sudah lebih baik?" tanya Farel.
Flo mengangguk sebagai jawaban. "Boleh aku pinjam ponselmu lagi?" tanya Flo.
Farel merogoh saku celana trainingnya, dan memberikan ponsel itu pada Flo. Gadis itu tersenyum kecil dan menerima ponsel milik Farel. Ia cukup terkejut saat mengetahui jika ponsel yang ada di tangannya tidak menggunakan kunci layar.
Sebelumnya, Flo tidak memperhatikannya. Tak ingin tahu alasannya, Flo segera men-dial nomor sang papa yang telah ia hapal. Ia memberitahu kedua orang tuanya, perihal kondisi sang Oma.
"Terima kasih," ucap Flo tulus. Farel menerima ponselnya dan membalas senyum Flo.
Keduanya kini terdiam dalam pikiran masing-masing.
***
Seorang pria paruh baya, berjalan tergesa bersama sang istri di lorong sebuah rumah sakit. Satu jam yang lalu, anak mereka memberi kabar, jika ibu dari pihak sang pria, terkena serangan jantung.
"Flo, mana Oma, Nak?" tanya Kirana, mama dari Flo.
Flo berdiri dan memeluk sang mama erat. Tidak ada lagi air mata yang menetes dari matanya. Namun, nada suaranya tetap terdengar sedih.
"Tidak apa. Jangan salahkan dirimu!" Flo mengangguk.
"Oma di dalam. Sebentar lagi, mungkin akan pindah ke ruang rawat," ucap Flo.
Sang papa mendekati Flo dan memeluk anak gadisnya. Farel yang melihat keharuan keluarga mereka, perlahan mulai menyingkir. Sayangnya, Theo, papa Flo, melihat Farel yang mulai menjauh.
"Anak muda!" Farel menoleh mendengar panggilan itu.
Dirinya merasa terpanggil karena papa Flo berteriak saat dia mulai menjauh tadi. Benar saja, Theo bahkan sengaja menghampiri Farel dan menepuk pundaknya pelan.
"Saya berterima kasih atas bantuan kamu. Terima kasih juga karena sudah menemani Flo hingga kami tiba," ucapnya tulus.
"Sama-sama, Om." Farel berucap datar tanpa ekspresi.
"Kalau begitu, saya permisi, ya, Om," pamit Farel.
"Iya." Theo mempersilakan.
"Farel!" Kembali, Farel menoleh dan mendapati Flo tersenyum padanya. Farel mengangguk kecil dan berlalu.
__ADS_1
Setelah kepergian Farel, seorang perawat keluar dan memberitahu, jika pasien akan dipindahkan ke ruang rawat. Flo dan keluarganya mengangguk.
Tak lama, ranjang Oma mulai didorong menuju ruang rawat. Ruang rawat beliau, berada di lantai 5. Ruangan itu terlihat seperti unit apartemennya.
Flo tidak mempermasalahkan uang. Baginya, kesehatan sang Oma, jauh lebih penting. Setelah tak sadarkan diri selama hampir dua jam, Oma mulai membuka matanya.
"Oma," panggil Flo lirih.
Theo dan Kirana mendekati ranjang pasien. Segera, Theo memijit tombol call nurse yang ada di dekat nakas. Tak berapa lama, perawat dan dokter masuk ke ruangan itu Karen dan kedua orang tuanya, memberi ruang pada tenaga medis untuk memeriksa kondisi Omanya.
"Sudah lebih baik. Beruntung segera mendapat perawatan. Tolong, untuk menjaga tingkat stress pasien ke depannya. Saya, permisi!" Setelah menyampaikan beberapa pesan dan memberitahu kondisi Oma, dokter itu berpamitan.
Baik Flo maupun kedua orang tuanya, hanya mengangguk pelan. Flo mendekati sang oma dan mencium keningnya lembut.
"Flo," panggil sang Oma lemah.
"Oma, istirahat saja dulu," ucap Flo. Gadis itu mengembangkan senyumnya, agar sang Oma tenang. Omanya pun mengangguk patuh.
***
Satu minggu berlalu, hari ini, Oma sudah diizinkan pulang. Kondisinya mengalami perkembangan yang cukup bagus. Dokter tetap menyarankan untuk menjaga kestabilan emosi pasiennya.
"Farel!" ucapnya terkejut.
Pria itu tersenyum kecil dan mendekat ke arah Flo. "Sudah bisa pulang?" Flo menganggukkan kepalanya dan kembali membereskan barang sang Oma.
Farel memang hampir setiap hari datang dan menjenguk Oma dari Flo itu. Bahkan, Oma terlihat sangat menyukainya. Membuat Flo merasa tersaingi.
"Hai, Oma cantik," sapa pria itu seraya tersenyum lebar.
Oma membalas senyum Farel dan menepuk sisi tempat tidur di sampingnya."Terima kasih, sudah menemani Oma," ucap Oma tulus.
"Iya, Oma. Aku senang lihat Oma ceria lagi." Farel tersenyum dan menggenggam jemari keriput Oma Erna.
Astaga, aku jadi ngerasa bukan cucu Oma! Eh, kenapa aku jadi iri begini? Mereka seakan sudah lama kenal.
Flo berbalik dan menampilkan senyum terbaiknya. "Sudah. Ayo, Oma."
Oma mengangguk kecil. Farel mengangkat tubuh Oma dan mendudukkan oma di kursi roda. Mereka pun keluar menuju parkiran.
"Kamu bawa mobil?" tanya Farel pada Flo.
__ADS_1
"Iya," jawabnya singkat.
"Pakai mobilku saja. Berikan kunci mobilmu pada Aris. Biar dia yang bawa," titah Farel.
Flo menatap Farel kesal. Melihat wajah Flo yang seakan menelannya hidup-hidup, membuat Farel terkekeh. Aris segera mendekati mereka dan mengambil alih barang bawaan di tangan Flo.
Flo memberikan barang-barang itu. Aris segera memasukkannya ke dalam bagasi mobil Farel. Tak ingin berdebat dan menambah beban pikiran Oma, Flo pun menuruti kemauan Farel.
"Flo, duduklah di depan. Temani Farel." Ucapan Oma, membuat Flo terdiam dan menuruti perintah itu.
Flo pun berpindah duduk di samping Farel. Sepanjang jalan, farel mengajak Oma berbincang. Sementara Flo, menyibukkan diri dengan ponselnya. Tidak ada yang menarik di sana. Gadis itu hanya men-scroll ponselnya tanpa minat.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu merasa tersisih," ucap Farel lirih.
Flo menoleh pada pria di sampingnya. Ia menghela napas perlahan, "Tidak apa," jawabnya.
Flo menyimpan ponselnya dan menatap keluar jendela. Sementara Oma sudah tertidur sejak sepuluh menit yang lalu. Sesekali, Farel menatap wajah cantik Flo dan tersenyum.
"Tidak usah senyum-senyum seperti itu!" seru Flo kesal. Apa dia tidak tahu, aku bisa melihat dari pantulan kaca mobilnya ini? gerutu Flo dalam hati.
"Kau melihatnya, ya? Ku kira kau sedang melamun dan tak melihatnya," ucap Farel dengan senyum menyebalkan di mata Flo.
"Aku tidak buta," jawabnya ketus.
"Kau mau tidak menikah denganku?" Pertanyaan itu, sontak membuat Flo menoleh.
Gadis itu menatap Farel dengan mata yang melebar. Sementara pria itu, terlihat berwajah datar, cenderung tidak ada ekspresi.
"Jangan membuat lelucon! Ini sama sekali tidak lucu," ucap Flo kesal.
"Aku serius," jawab Farel. Pria itu terdengar yakin dengan ucapannya.
"Apa kau sudah menemukan jawaban dari pernyataanku dulu?" Farel terdiam, ia tak mampu menjawab pertanyaan Flo.
Flo kembali membuang pandangan ke luar. Mengajakku menikah? Dasar pria aneh. Di hatimu saja, kau masih bimbang dengan perasaan yang kau miliki pada Karen. Sekarang, kau ingin aku jadi pendampingmu? Hah, gerutunya dalam hati.
"Adrian dan Karen akan menikah dua Minggu lagi." Flo terdiam.
"Jadi, kau mengajakku menikah sebagai pelarian, begitu?" tanya Flo.
Namun, suara Flo terdengar sedang menahan amarah pada Farel.
__ADS_1