
Belum sempat Farel menjawab, mereka tiba di kediaman Flo. Kedua orang tua Flo yang memang sedang menunggu, segera menyambut kedatangan mereka.
Flo menarik napas dalam dan mengubah raut wajahnya. Ia membuka seat belt dan menapakkan kakinya di tanah. Ia menampilkan senyum terbaik pada Theo dan Kirana, orang tua Flo.
Farel sendiri, membuka pintu belakang dan kembali menggendong tubuh tua milik Erna, Oma dari Flo. Pria itu membawa Oma menuju kamar yang ditempati. Flo menurunkan kursi roda.
"Biar saya saja, Nona," ucap Aris.
"Tidak apa," jawab Flo seraya mendorong kursi roda.
Aris pun menurunkan barang yang ada di bagasi. Setelahnya, membawa ke dalam rumah. Kedua orang tua Flo, sudah mengikuti langkah Farel ke kamar Oma.
***
Kini, mereka berkumpul di ruang tamu. Oma baru saja tertidur setelah makan dan minum obat. Flo duduk di samping ibunya Kirana. Sang ayah, duduk di sofa tunggal. Sementara Farel, ada di hadapan Flo dan ibunya.
"Saya, sebagai anak dari Oma Erna, sekaligus ayah dari Flora, ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya pada, Nak Farel," tutur Theo.
"Tidak apa, Om. Tidak usah terlalu formal seperti ini. Saya senang bisa membantu. Bagaimanapun, Flo dan saya sempat menjalin hubungan kerjasama. Jadi, tidak ada salahnya saya menolong dia," jawab Farel seraya menunjuk Flo.
Theo tersenyum ramah pada Farel. Begitupun dengan Kirana. Hanya Flo yang terlihat datar. Farel sedikit berdeham, menarik perhatian ketiga orang yang ada di sana, padanya.
"Saya ingin menyampaikan sesuatu." Theo mengangkat kedua alisnya. Pertanda ia mempersilakan.
"Saya ingin melamar Flo untuk menjadi pendamping saya." Kirana melongo mendengar penuturan Farel.
Flo mengangkat pandangannya dan menatap pria itu tajam. Tak pernah terlintas dalam benaknya, jika Farel akan mengungkapkan niat itu pada kedua orang tuanya. Sementara Theo, terlihat tak berekspresi.
"Masalah itu, sepenuhnya kami serahkan pada Flo. Karena, Flo lah yang akan menjalani bahtera rumah tangga nantinya." Theo menatap sang putri teduh.
Flo menarik bibirnya, membentuk lengkungan senyum yang menawan. "Maaf, Farel. Sejujurnya, aku belum siap membuka lembaran baru. Masih ada rasa sakit saat aku harus berhadapan dengan masa laluku," terang Flo.
"Aku mengerti. Aku akan memberimu waktu sebanyak yang kau inginkan. Aku tidak ingin kau merasa terpaksa."
Ada keharuan yang menembus dinding hati Flo. Ia tersenyum tipis mendengar penuturan Farel tadi.
"Terima kasih," ucap Flo. Farel menganggukkan kepalanya.
***
__ADS_1
Satu minggu berlalu sejak lamaran Farel yang mendadak. Flo sendiri, sudah disibukkan dengan berbagai agenda, hingga mereka melupakan tentang lamaran itu.
Bahkan, selama satu minggu ini, baik Flo maupun Farel, tak saling menghubungi. Tidak juga melalui pesan singkat.
"Bisa-bisanya ngajakin nikah, tapi dia ngilang kaya hantu!" gerutu Flo pagi itu.
Beruntung, ia masih berada di dalam mobil, hingga tidak ada orang yang melihatnya bicara sendiri. Bisa dipastikan, orang akan berpikir jika dirinya mengalami gangguan jiwa.
"Kenapa aku kesal, ya? Aarrgghh." Entah kenapa, mood Flo tiba-tiba berantakan.
Tiba di kantor, Flo berjalan cepat menuju ruangannya. Wajahnya yang ditekuk, membuat para karyawannya tak berani menyapa seperti biasa. Nina, sang sekretaris pun, mengerutkan dahinya saat melihat Flo tiba.
Dia kenapa? Kok mukanya kaya lagi kesel? batin Nina.
Gadis itu pun masuk ke ruangan Flo untuk membawa berkas yang harus ia tandatangani. Namun, Nina terperanjat saat Flo menatapnya tajam. Jantung Nina seakan memompa lebih cepat melihat aura Flo pagi itu.
"I-ini berkas yang ha-harus, Anda tandatangani, Bu," ucapnya pelan di akhir kata.
Flo menarik napas dalam dan memejamkan matanya. Menghembuskannya perlahan dan menetralkan emosi yang sempat berkecamuk dalam dada.
"Sorry, Nin," ucap Flo lirih.
Gadis itu mengangguk dan mendekat pada Flo. Mengulurkan berkas itu dan menunggu di sana.
Flo mengangguk, "Kau benar. Aku merasa jenuh dan butuh hiburan. Tapi, Oma masih belum terlalu fit."
Flo menundukkan pandangannya. Sejujurnya, ia merasa lelah dengan hidupnya yang seakan monoton dan tak ada semangat. Namun, mengingat kondisi sang Oma yang masih butuh perhatian, Flo berpikir ulang untuk berlibur.
Nina mendekatinya dan memeluk sahabat sekaligus atasannya. "Bagaimana kalau malam ini kita nongkrong. Jangan terlalu memikirkan pekerjaanmu. Sesekali, kau butuh bersantai."
Flo tersenyum dan menganggukkan kepala, "Ajak Riska sekalian!" titah Flo.
Nina mengacungkan ibu jarinya, tanda setuju. Hati itu pun mereka mulai dengan segala kesibukannya. Sejenak, Flo mampu mengalihkan perhatiannya dari Farel.
Tepat pukul lima sore, Nina masuk ke ruangan Flo dan membereskan pekerjaan gadis itu. Flo terkejut melihat Nina membereskan berkas yang sedang ia baca.
"Aku masih kerja loh, Nin," protes Flo.
"Siang tadi, kita udah janji mau hangout 'kan." Nina mengingatkan Flo.
__ADS_1
"Ah, iya." Flo hanya menyengir kuda menatap sahabatnya itu.
"Ayo! Riska langsung ke sana katanya." Nina menarik tangan Flo setelah mengambil tas Flo yang ada di atas meja.
Mereka pun berjalan beriringan menuju parkiran. Sesekali, mereka membicarakan masa kuliah dulu dan tertawa.
"Eh, pake mobil siapa nih?" tanya Nina.
"Mobilku aja. Nanti, kalian nginep di rumahku, ya," ajak Flo.
"Dengan senang hati," jawab Nina seraya menampilkan senyum cantiknya.
***
Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di mall terbesar yang ada di Jakarta. Riska sudah menghubungi Nina tadi. Gadis itu bilang, sudah menunggu di cafe dekat dengan bioskop.
Flo dan Nina segera masuk ke dalam lift dan menuju lantai lima, tempat bioskop berada. Mengedarkan pandangan dan mencari sosok Riska. Gadis itu melambaikan tangan pada Flo dan Nina. Keduanya, segera menghampiri Riska.
"Udah lama?" tanya Flo.
"Belum kok. Mau nonton gak?" Riska terlihat antusias.
"Ada film bagus?" Nina balik bertanya.
Riska terlihat berpikir dan memicingkan mata melihat daftar film. Karena posisi cafe yang berhadapan dengan bioskop, memudahkan Riska melihat daftar film yang akan ditayangkan.
"Gimana kalau ...." Ucapan Riska terhenti saat sebuah suara menyapa mereka.
"Hai, Flo," sapa suara itu.
Ketiganya mengalihkan perhatian pada asal suara. Flo menatap datar pada pasangan itu. Sementara Nina dan Riska, saling bertukar pandang.
Karen, ucap Flo dalam hati.
"Mumpung bertemu di sini." Gadis cantik itu mengeluarkan sesuatu dari dalam goodie bag yang dibawanya.
"Ini. Jangan lupa datang, ya!"
Flo mengulurkan tangan dan melihat aksara yang tertulis di sana. Tertera nama Karen dan Adri di sana. Bahkan, terpampang jelas foto prewed mereka sebagai latar undangan itu.
__ADS_1
"Selamat untuk kalian. Aku akan usahakan untuk datang." Flo tersenyum meski harus memaksa.
Nina dan Riska menatap Flo sendu. Ikut merasakan sakit yang Flo rasakan, meski kenyataannya, bukan sakit yg ia rasa.