Merubah Takdir Si Antagonis

Merubah Takdir Si Antagonis
Apartemen Farel


__ADS_3

Farel meletakkan tubuh Flo secara perlahan. Menutupinya dengan selimut, hingga batas dada. Setelah memastikan kenyamanan Flo, Farel keluar dari kamar itu. Ia menuju ruang kerjanya dan melakukan pekerjaan yang belum terselesaikan.


Entah mengapa, senyuman tersungging di bibirnya. Cepat-cepat Farel menggelengkan kepalanya. Beberapa menit kemudian, kembali terlihat, raut wajah datarnya. Ria itu pun tenggelam dalam pekerjaan.


Matahari mulai tenggelam dan kembali ke peraduannya. Berganti tugas dengan rembulan, untuk menyinari bumi. Farel masih disibukkan dengan pekerjaannya.


Tepat pukul sepuluh, pria itu mulai meregangkan otot di tubuh kekarnya. Merapikan meja yang berserakan. Setelah itu, ia kembali ke kamar, kemudian membersihkan diri. Sesekali, ekor matanya menangkap sosok gadis yang masih tertidur pulas di ranjang miliknya. Terlihat damai dan tenang.


"Sepertinya, kau akan tidur sedikit lebih lama," gumamnya.


Pria itu pun beranjak mengambil selimut dan bantal dari walk in closet. Menatanya di atas sofa, lalu merebahkan tubuh. Memiringkan tubuh besar itu ke arah sang gadis. Setelah beberapa menit menatap wajah Flo, Farel pun tertidur.


***


Cahaya sang Surya mulai menerobos memasuki kamar yang dihuni oleh Flo dan Farel. Meski tirai tertutup rapat, sang Surya mampu menemukan celah. Mengganggu tidur nyenyak sang gadis. Perlahan, Flo membuka matanya. Ia menatap langit-langit yang dicat berwarna putih.


Flo menarik napas dalam dan terkejut, saat mengendus aroma maskulin yang menyeruak, memenuhi indera penciumannya. Ini bukan di apartemen atau pun rumah mama dan papa. Di mana aku?


Reflek, Flo duduk dan menatap sekitar. Ia mengerutkan kening melihat sekitar. Ekor matanya menangkap sosok yang tertidur di sofa. Flo menoleh, dan menatap lekat-lekat wajah itu. Beberapa detik kemudian, raut wajahnya berubah kesal.


Apa yang terjadi? Kenapa Farel ada di sini? Apa ini apartemennya?


Flo memejamkan mata sejenak. Mencoba menggali ingatan yang terekam, sebelum ia tak sadarkan diri. Namun, ingatannya terhenti saat keluar dari mobilnya.


"Kau sudah bangun?"


Suara bariton itu menyentak rungu Flo. Secepat kilat, gadis itu menoleh pada Farel. Melihat pria itu terduduk dan menatapnya, membuat Flo waspada.


"Kenapa aku ada di sini?" tanya Flo.


"Kau lupa? Kau yang menghubungiku,dan memintaku untuk menjemputmu. Beruntung mudah untuk melacak keberadaanmu." Farel berdiri dan menuju walk in closet.


Sementara Flo mengernyit mendengar pernyataan Farel. Aku menghubunginya? Dia pasti ngarang.

__ADS_1


"Aku tidak mengarang. Jadi, jaga pikiranmu! Kalau kau tidak percaya, lihat saja riwayat panggilan di teleponmu." Farel masuk ke toilet, setelah mengucapkan itu.


Flo terperangah mendengar ucapan pria itu. Gadis itu merasa, jika Farel memiliki kekuatan untuk membaca pikiran. Sedetik kemudian, ia mencari keberadaan barang pribadinya. Ia melihat tas miliknya di atas nakas.


Flo segera turun dari ranjang dan menyambar tas itu. Merogohnya dan mencari keberadaan ponselnya. Tak berapa lama, ia menarik ponsel itu dan mencari data panggilan keluar.


"Hah," gumam Flo.


Gadis itu mengangakan mulutnya lebar. Menyadari kesalahannya, Flo menutup wajah menahan malu. Ah, gara-gara ngantuk, aku jadi salah tekan nomor, jeritnya dalam hati.


Flo berusaha menetralkan diri dan cuek. Menganggap jika tidak pernah terjadi kesalahan. Sejenak ia berpikir, untuk kabur dari tempat Farel. Namun, mengingat kebaikan pria itu, ia tak bisa melangkahkan kakinya.


Pada akhirnya, Flo melangkah keluar dari kamar Farel. Setelah menoleh ke kanan dan kiri, Flo melanjutkan langkah menuju dapur.


"Yah, bagaimanapun, Farel tetap pria 'kan? Tidak salah jika kulkasnya hanya berisi hal-hal seperti ini," gumamnya setelah melihat isi lemari pendingin milik Farel.


Dengan cekatan, Flo menyiapkan sandwich sebagai sarapan. Tidak lupa, ia menuangkan susu, setelah ia hangatkan lebih dulu di dalam microwave.


Selesai menyiapkan sarapan, Flo menarik kursi dan duduk di sana. Ia terperanjat, melihat Farel sudah duduk di sampingnya. Flo sampai tersedak oleh sandwich yang tengah ia kunyah.


Dengan gerakan santai, Farel memberikan gelas berisi susu pada Flo. Gadis itu menerimanya dan menenggaknya cepat.


"Kamu kenapa terkejut begitu?" tanyanya santai.


"Kamu tuh muncul tiba-tiba banget, tahu enggak," gerutu Flo kesal.


"Kamu aja yang terlalu serius, sampai enggak sadar aku udah di belakang kamu," sanggah Farel.


Pria itu mulai menggigit sandwich buatan Flo. Menganggukkan kepala, begitu merasakan nikmat dari sandwich itu. Flo hanya memperhatikan Farel makan. Matanya menatap bibir Farel yang sibuk mengunyah.


Tiba-tiba, Flo meneguk saliva dengan sulit. Pikirannya mulai melayang pada hal lain. Secepat kilat, ia mengalihkan pandangannya.


"Jangan berpikiran yang tidak-tidak! Bersihkan pikiranmu!" Farel segera berdiri dan masuk ke kamar.

__ADS_1


"Astaga! Aku lupa kalau dia punya kekuatan magis. Apa dia bisa baca pikiran juga, ya?" gumam Flo.


Tak lama, pintu kamar terbuka dan menampakkan Farel yang sudah siap berangkat bekerja. Sekilas, Farel menoleh.


"Kau ingin ke kantor, atau pulang dulu?" tanyanya.


"Pulang," jawab Flo cepat.


Farel mengangguk dan mendekati ruang tamu. Rupanya, ia mengambil sebuah kunci mobil. Flo mengernyit melihat kunci yang sangat ia kenali itu. Lagu-lagi, Flo memikirkan hal yang buruk.


"Tidak mungkin, aku membiarkan mobilmu terus berada di sana. Bukankah lebih baik ku bawa ke sini? Siapa tahu, kau membutuhkannya," jelas Farel.


Flo semakin terperangah mendengar penuturan pria itu. Fix, dia bisa baca pikiran, putus Flo dalam hati. Farel meninggalkan Flo lebih dulu. Setelah terdengar pintu tertutup, Flo menghela napas lega.


Gadis itu mulai membereskan meja makan. Bagaimanapun, ia harus membersihkan ruang makan. Sekali lagi, Flo menganggap hal itu sebagai balas budi.


Selesai dengan hal itu, Flo ke kamar. Ia berniat mengambil tasnya dan meninggalkan apartemen milik Farel. Ia menghentikan gerakannya sesaat. Menatap sekeliling dengan cermat.


Dilihat dari sisi mana pun, tidak ada hal berbau magis di sana. Semua benda dalam kamar itu terlihat biasa. Tidak seperti bayangannya.


"Aku pikir di kamarnya akan terdapat benda-benda kuno, atau topi ajaib mungkin. Seperti dalam film Harry Potter. Nyatanya, semua barang di sini, sama saja." Flo menyentuh satu persatu barang di sana.


Puas menatap berkeliling, Flo pun meninggalkan apartemen itu. Ia melangkah cepat menuju lift. Memasuki lift, ia baru menyadari, jika kamar milik Farel berada di lantai teratas.


"Ya, ampun. Aku lupa tanya, mobilku di parkir di mana ya?"gumam Flo.


Ia baru menyadari, jika ia tak menanyakan keberadaan mobilnya. Saat lift berdenting dan terbuka di lantai dasar, Flo melangkah cepat. Namun, langkahnya terhenti, saat melihat pasangan Adrian dan Karen.


Ketiganya saling menatap penuh selidik. Entah apa yang ada dalam pikiran Adrian dan Karen saat ini. Sementara Flo berpikir, jika Adrian dan Karen tinggal di gedung yang sama dengan Farel, atau mungkin, di unit yang sama.


***


Hayo, ada yang mau tebak gak nih???🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2