
Satu bulan berlalu. Kehidupan Flo terasa seperti semula. Gadis itu tidak peduli, kemana perginya tiga orang yang selalu mengusiknya kemarin. Ia bersyukur, tak perlu lagi merasakan lelah saat mereka menemuinya.
Langit berubah jingga, saat Flo memutuskan kembali. Hari ini, ia akan pulang ke rumah orang tuanya. Pagi tadi, sang mama menghubungi. Memintanya pulang, karena sang nenek baru saja tiba siang tadi.
Flo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Menikmati keramaian ibu kota yang membuat antrian panjang di jalan setiap hari. Saat matahari kembali ke peraduannya, Flo tiba di rumah megah milik orang tuanya.
Senyum hangat ibunya, adalah hal yang paling Flo rindukan dua bulan ini. "Ma," panggil Flo.
Mereka saling melepas rindu. Flo akui, selama dua bulan ini, dirinya tidak kembali ke rumah. Ia tak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir. Menilik kejadian satu bulan terakhir.
"Kamu sehat, Sayang?" tanya sang ibu.
"Sehat. Mama, sendiri?" Flo bertanya balik.
"Seperti yang kamu lihat," ucap sang ibu.
Flo tersenyum melihat sang mama berputar, memperlihatkan kebugaran tubuhnya. Mereka pun masuk ke dalam dan melihat sang nenek yang tengah duduk di ruang keluarga.
"Oma." Flo memeluk neneknya dengan penuh kerinduan.
"Cucu nakal. Apa kau tidak berniat menjenguk nenek tua ini?" gerutu sang nenek.
Flo terkekeh mendengar gerutuan sang nenek. "Mana mungkin. Flo sedang sibuk, Oma. Rencananya, akhir bulan ini Flo akan ambil cuti dan menemui, Oma."
"Mana tunanganmu, Sayang?" Flo terdiam. Senyumnya menghilang, kala sang nenek bertanya.
"Kami ... sudah putus sejak satu bulan yang lalu," ucapnya lirih.
Flo menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah pada keluarga besarnya. Hening. Semua mata tertuju pada Flo. Sementara gadis itu, tak berani mengangkat pandangannya.
"Apa itu alasannya kamu pindah ke apartemen?" Suara ayahnya terdengar lirih di rungu Flo.
Flo hanya menganggukkan kepalanya. Ada rasa sakit saat mendengar suara sang ayah yang bernada kecewa. Bagaimana tidak, masalah ini, Flo tutupi dan simpan sendiri.
"Flo tidak ingin membuat, Papa dan Mama, khawatir," jawab Flo lirih.
Mamanya pun mendekat dan memeluk putri semata wayangnya itu. Ibu mana yang tidak sedih melihat putri yang dikandungnya menderita sendiri.
__ADS_1
"Jangan menanggung segalanya sendiri, Nak! Mama merasa tidak berguna jika putri mama, justru tersakiti sendiri. Apapun yang terjadi, katakan pada kami," ucap mama Flo.
Flo menganggukkan kepala dan terisak di pelukan sang mama. Sisa hari itu pun, mereka habiskan dengan berbagi cerita. Mulai dari Adri yang meminta putus, sampai kedatangan pria itu kemarin. Hanya kisah Adri yang membawanya ke dalam novel, yang tidak Flo ceritakan.
***
"Anggap saja kalian tidak berjodoh," komentar sang Oma.
Flo, papa dan mamanya mengangguk. Apa yang sang Oma katakan memang benar. Setelah cukup lama bercengkerama dan makan malam, Flo pamit hendak tidur.
Sekian lama ia mencoba menutup matanya, mata itu tak jua terpejam. Flo terduduk, mendesah berat, menyugar rambutnya dan kembali membaringkan tubuh. Berusaha untuk tertidur meski pikirannya tak tenang.
Gadis itu bahkan tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya sendiri. Ia merasa tak lagi memikirkan masalah Adrian, Karen ataupun Farel. Sampai fajar menyingsing, Flo tak jua mampu memejamkan matanya.
"Sepertinya, insomnia ku kambuh," gumamnya.
Flo memilih joging di sekeliling rumah sebelum bekerja. Belum sempat ia keluar untuk joging, sang Oma memanggilnya.
"Flo," panggil sang Oma.
Flo menghampiri Omanya. Mencium kedua pipi keriput wanita itu, dan memeluk hangat. "Oma sudah bangun?" tanya.
Flo mengangguk dan mulai menggandeng sang Oma berjalan keluar dari rumah. Sepanjang jalan, mereka bertukar cerita. Mengingat masa kecil Flo yang begitu bahagia dan penuh warna.
Sesekali, mereka tertawa saat mengingat hal yang lucu. Keduanya duduk di taman yang ada di tengah komplek. Menikmati sinar mentari pagi yang hangat, dan melihat beberapa anak yang tengah bermain di sana.
"Flo, jangan terlalu terbebani dengan sakit hati. Oma tahu, kamu pasti terluka dengan hubungan yang diputus secara sepihak kemarin." Flo menatap sang Oma sendu.
Ia tahu, keluarganya begitu peduli pada masa depan Flo. Namun, Flo sendiri merasa takut untuk membuka hati kembali. Bukan tanpa sebab ia merasakan hal itu. Dimanfaatkan itu, rasanya amat menyesakkan dada.
"Flo tahu, Oma. Untuk saat ini, Flo nyaman dengan kesendirian ini," jawab Flo.
"Oma, suka kue pukis kan?" tanya Flo tiba-tiba.
"Kau masih ingat kesukaan oma?" Flo mengangguk. Oma Flo terkekeh dan mengangguk sebagai jawaban.
"Kalau begitu, biar Flo belikan dulu." Flo berdiri dan hendak menuju penjual kue pukis.
__ADS_1
"Kau mau beli kemana, Sayang?" tanya Omanya khawatir.
"Itu," ucap Flo seraya menunjuk penjual kue pukis di seberang taman.
"Ya, sudah. Oma tunggu di sini, ya." Flo mengangguk.
Dengan langkah cepat, Flo menuju ke penjual kue pukis. Ia memesan beberapa porsi untuk ia bawa pulang, dan dibagikan pada para pekerja di rumahnya. Sesekali, ia melihat ke arah Omanya.
Saat Flo akan kembali, ia terkejut saat melihat sang Oma terjatuh. "Oma!" pekik Flo.
Ia segera berlari untuk melihat kondisi sang Oma. Flo segera berlutut melihat Omanya yang jatuh pingsan. Gadis itu mulai berteriak panik melihat kondisi Oma yang tak sadarkan diri.
Seorang pria yang baru saja selesai joging pun terkejut. Ia membantu Flo untuk mengangkat tubuh Oma dan menghentikan taksi. Flo terkejut saat mendengar suara pria itu.
"Rumah sakit terdekat, Pak!" pinta pria itu.
Flo menoleh dan melihat wajah pria yang sudah membantunya. Dari profil samping pun, ia sudah mengenal siapa orang yang sudah membantunya. Ia tak mampu menggerakkan lidahnya.
Sampai taksi berhenti di depan IGD, Flo tak mampu bicara. Lagi-lagi, pria itu menarik sebuah brankar dan mengangkat tubuh wanita tua itu.
"Sampai kapan kau akan diam di sana?" tanya pria itu.
Flo menggelengkan kepalanya pelan dan melangkah memasuki IGD mengikuti perawat.
"Silakan, urus administrasinya dulu," ucap perawat pada Flo.
"Ah, i-iya," jawab Flo.
Flo berbalik dan hendak melangkah. Namun, langkah gadis itu terhenti saat pria itu menyentuh pundaknya. Ia menahan Flo dan memintanya menunggu di depan ruang IGD.
"Aku saja yang urus. Kau tunggu di sini." Pria itu segera berbalik meninggalkan Flo dalam kebingungan.
Flo duduk dengan gelisah. Merutuki dirinya yang mengabaikan kondisi sang Oma. Seharusnya, ia tak terlalu jauh berjalan dari rumah hingga ke taman.
Oma pasti kelelahan. Ini semua salahku.
Batin Flo berkecamuk. Ia menyalahkan dirinya sendiri. Merutuki kebodohan yang ia lakukan. Bahkan menambah beban sang Oma dengan masalah percintaannya.
__ADS_1
Seharusnya, aku tidak perlu membebani Oma dengan masalah pertunangan ku yang batal.