
"Anda, baik-baik saja?"
Sayup-sayup, Flo seperti mendengar suara Farel. Ingin ia memperjelas pandangannya. Namun, semakin lama justru semakin buram. Flo pun terkulai dan jatuh.
Farel segera menangkap tubuh Flo dengan sigap. Keringat dingin, membasahi dahi gadis itu. Tanpa pikir panjang, farel membopongnya dan berteriak.
Mendengar suara teriakan, kedua sekretaris tadi segera membuka pintu dan terkejut melihat pemandangan di depannya. Nina, sekretaris Flo, segera menuntun mereka ke ruangan Flo.
Segera ia menghubungi dokter keluarga melalui ponsel. Flo pun dibaringkan di sofa dalam ruangannya. Farel terlihat kalut dan cemas.
"Pak!" Farel menatap sekretarisnya.
Ia pun berusaha tenang dengan menarik napas dalam. Tak lama, pintu ruangan Flo diketuk. Nina segera membukakannya. Masuklah seorang Dokter muda dan mendekati Flo.
"Flo!" seru gadis itu.
Ia segera memeriksa sahabat sekaligus atasannya itu. Ia menggeleng pelan dan menatap Nina, sekretaris Flo. Nina yang ditatap, merasa bingung.
"Apa belakangan ini banyak pekerjaan?" tanya Dokter itu.
"Iya, Dok," jawab Nina seadanya. "Apa asam lambungnya naik lagi?" Dokter itu menganggukkan kepalanya.
Keduanya mendesah. Farel dan sekretarisnya hanya menatap kedua wanita berbeda profesi itu bergantian. Pada akhirnya, Farel berdeham untuk menyadarkan kedua orang tersebut.
"Eh, Pak Farel." Nina menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Maaf, sudah merepotkan, Bapak, tapi Bu Flo baik-baik saja sekarang. Jika, Anda, ingin kembali, silakan," terang gadis itu.
"Tidak apa. Saya akan tunggu sampai dia sadar. Ada yang harus saya konfirmasi," ucap Farel.
Nina dan Dokter itu saling pandang. Nina pun menganggukkan kepalanya. Sekretaris Flo itu mendekati Dokter yang memeriksa Flo tadi dan berbisik padanya, "Tidak gunakan minyak kayu putih saja, untuk menyadarkan Flo?"
"Ah, aku terlalu panik. Sampai lupa," jawabnya dengan berbisik pula.
Farel dan Sekretarisnya hanya mengerutkan dahi melihat perbincangan mereka. Kemudian, melihat Dokter itu mengambil sesuatu dari tasnya. Tak lama setelah itu, Flo terlihat bergerak dan membuka mata perlahan.
"Aku di mana?" tanyanya dengan suara lemah.
"Di ruanganmu." Flo melirik Dokter yang sekaligus sahabatnya di sana.
Flo memijit keningnya pelan. Ia masih merasakan sakit di kepala. Perlahan, Flo mendudukkan diri dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
"Apa asam lambungku naik lagi?" tanyanya.
"Iya. Kau pasti melupakan makan? Apa ada masalah, sampai kau lupa untuk sekedar mengisi perutmu?" Flo hanya menganggukkan kepala.
"Seperti biasa, pekerjaan." Flo menegakkan tubuhnya dan terkejut melihat keberadaan rekan bisnisnya.
__ADS_1
"Loh, Pak Farel masih di sini!"
Farel hanya menatap Flo datar dan bertanya, "Bagaimana?"
Flo mengerutkan dahi bingung. Ia menatap sekretarisnya seakan bertanya. Nina yang mengerti maksud tatapan Flo hanya menggelengkan kepala.
"Masalah pekerjaan tadi, bukankah kita sudah sepakat?" Farel tersenyum kecil.
"Ini bukan masalah pekerjaan, tapi pribadi." Flo meneguk salivanya dengan susah payah.
Dia mencoba mengingat ucapan terakhir Farel beberapa menit ke belakang. Nihil, ia tak bisa mengingat dan berakhir dengan memijit keningnya yang terasa sakit.
"Makan malam," ucap Farel.
Flo mengangkat pandangan dan mengingat ucapan Farel terakhir, sebelum dirinya kehilangan kesadaran. Bertemu dengan Karen dan calon suaminya, itulah yang Flo ingat.
"Ok! Kapan?" tanya Flo.
"Sabtu ini," jawabnya.
Flo hanya menganggukkan kepala, tanda menyetujui keinginan pria itu. Setelah itu, ia berpamitan dan berlalu dari ruangan Flo. Seketika, gadis itu menghembuskan napas seraya memejamkan mata.
"Dia siapa?" Suara itu membuat Flo membuka mata dan menatap sahabatnya.
"Rekan bisnis," jawab Flo jujur.
"Bohong!" tuding sahabatnya yang berprofesi sebagai Dokter.
Gadis itu melangkah perlahan ke meja kerjanya. Meminta Nina membereskan berkas dan membawanya ke mobil. Sementara Flo, mengambil tas dan memilih pulang. Tubuhnya masih terasa kurang fit saat ini.
"Riska," panggil Flo.
Gadis berprofesi dokter itu menoleh padanya. Mengangkat alis dan menunggu Flo melanjutkan ucapannya. Namun, Flo justru terlihat ragu.
"Ceritakanlah!" pinta Riska.
"Nin!" Sekretaris Flo itu menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Duduk dulu! Aku ingin kalian mendengar ceritaku." Nina mengangguk dan mendudukkan dirinya di sofa.
Selama lima menit, Flo hanya terdiam menatap kedua temannya bergantian. "Apa kalian percaya, jika aku bilang, aku pernah masuk ke dunia novel?"
Baik Nina maupun Riska, bertukar pandangan. Setelahnya, mengalihkan tatapan mereka pada Flo, yang notabene sahabat mereka juga. Riska dan nina menghela napas panjang.
"Flo, gue tahu lo itu suka banget baca novel. Tapi, untuk percaya kalo lo masuk ke novel, gue gak bakal bisa percaya!" seru Riska.
Bagaimanapun, Riska adalah seorang yang logis dan tidak percaya dengan hal semacam itu. Sementara Nina, menatap Flo dengan sorot berbeda.
__ADS_1
"Aku percaya." Riska menatap Nina.
"Please, deh, Nin. Ini dunia nyata loh!" Nina tetap menatap Flo.
"Itu sebabnya, lo natap Farel berbeda 'kan?" tanya Nina.
Dalam kondisi seperti ini, Nina akan bersikap layaknya sahabat pada Flo. Sahabat sekaligus atasannya itu menganggukkan kepala benar. Terlihat, Flo seakan mengalami kegalauan saat rapat tadi.
"Apa alasan dia ngajak lo makan malam bersama?" tanya Nina lagi.
"Ucapan terima kasih," jawab Flo singkat.
"Terima kasih?" ulang Riska. Flo menganggukkan kepala.
"Untuk apa?"
"Menyelamatkan gadis antagonis dalam novel bernama Karen. Tapi, aku masih bingung," ucap Flo.
"Kenapa?" tanya Nina.
"Dalam novel, Karen itu akan bertunangan dengan Farel. Lalu, kenapa tadi Farel bilang, kalau Karen baru bertunangan dengan pria yang disukai gadis itu? Kenapa dia tidak bilang dengan dirinya saja?" Nina dan Riska kembali bertukar pandang.
"Kalau itu, lo harus cari tahu sendiri." Flo mengangguk kembali.
***
Hari terus berganti. Beberapa hari ini, Flo terus memikirkan tentang pria yang bertunangan dengan Karen. Ia ingat, dalam novel, Farel memperjuangkan cintanya pada Karen.
Lalu sekarang, siapa Farel dalam dunia nyata? Flo bahkan tak bisa berkonsentrasi dalam bekerja. Hubungannya yang kandas pun, tak lagi menjadi beban dalam benaknya.
Hari itu pun tiba. Farel menghubunginya ke kantor kemarin. Meminta nomor kontak Flo secara pribadi. Siang itu, Flo tengah mengerjakan berkas-berkas yang beberapa hari ini terbengkalai karena memikirkan tentang Karen.
Ponsel Flo yang berdering, membuat gadis itu mengalihkan perhatiannya. Melihat nomor asing, membuat Flo meletakkan kembali ponselnya. Tak lama kemudian, ponselnya berhenti berbunyi.
Namun, berganti dengan sebuah pesan yang masuk. Flo mengambilnya dan membaca pesan. Ternyata, nomor yang menghubunginya adalah nomor Farel.
087xxxx
Aku akan menjemputmu jam enam sore nanti. Ini nomorku. Farel
Flo kembali meletakkan ponselnya setelah melihat jam yang tertera. Ia segera merapikan berkasnya dan membersihkan diri. Sebentar lagi, Farel akan datang menjemputnya.
Tepat pukul 5.30, Flo sudah selesai berhias. Tak lama, terdengar suara sang ibu yang memanggil dirinya.
"Dia siapa? Kamu gak selingkuh 'kan?"
***
__ADS_1
hohoho
masih tertahan 🤭 aku gak bisa janji up jam berapa ya guys. tapi, selesai diketik, pasti aku langsung setor. untuk Morgan, ku skip sebentar ya🤭 menunggu novel ini 20 bab dulu. terima kasih sudah setia menunggu🤗