
"Selingkuh?" ulang Flo.
Dahi Flo berkerut dalam mendengar pertanyaan ibunya. Namun, sang ibu justru menganggukkan kepala dan menatap Flo dengan tajam.
Se-sayang itukah mama pada mas Adri? Bagaimana seandainya, mama dan papa tahu, jika mas Adri sudah memutuskan pertunangan kami secara sepihak?
"Flo gak selingkuh. Pria itu, hanya rekan bisnis. Dia yang akan menangani iklan untuk produk terbaru perusahaan kita." Flo menjelaskan dengan detail.
"Lalu, kenapa harus mengajak kamu makan malam? Sampai dijemput seperti ini, lagi?" Flo menghela napas perlahan.
"Flo juga kaget, waktu dia bilang akan jemput," jawab Flo terlihat santai.
"Ya sudah. Temui dia sana." Flo menganggukkan kepala dan melangkah turun.
"Flo, besok minta Adri mampir, ya. Mama dengar, dia sudah kembali dari perjalanan bisnisnya." Flo menoleh dan kembali berlalu.
Saat Farel melihat Flo, pria itu segera berdiri dan berpamitan pada ibu dari Flo. Setelahnya, kedua orang itu menuju mobil milik Farel. Lagi-lagi, Flo merasa de'javu.
Mobil yang sama saat aku ada di dunia novel. Apa ini nyata? Apa aku kembali terjebak dalam dunia itu?
Tepukan di pundak Flo, membuyarkan lamunannya. Gadis itu hanya tersenyum dan masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian, Farel telah melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
Sepanjang perjalanan, hanya kesunyian yang menemani mereka. Tidak ada satupun yang berniat memulai perbincangan. Sesekali, Farel melihat Flo yang ternyata kembali melamun.
***
Tiba di restoran, Farel kembali menepuk pundak Flo. "Apa, Anda, merasa tidak nyaman dengan undangan saya?"
"Tidak. Saya hanya sedang memikirkan sesuatu," jawab Flo.
Farel mengangguk dan turun. Saat Flo akan membuka pintu, pria itu lebih dulu melakukan hal itu. Flo pun tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Keduanya, melangkah memasuki restoran.
Farel mengajak Flo ke meja yang telah ia pesan. Ternyata, Karen dan pasangannya telah tiba di sana. Flo melihat Karen dan tersenyum.
Dia Karen.
Karen dalam novel, memang ada di dunia nyata. Sementara pasangannya, tidak menoleh sedikitpun. Karen berdiri dan tersenyum padanya. Gadis itu bahkan menghampiri dan memeluk dirinya.
"Terima kasih, karena kau sudah mengembalikan cintaku," bisik gadis itu.
__ADS_1
Flo tersenyum dan menganggukkan kepala. Farel sudah menarik kursi untuk di tempati Flo. Kursi itu, tepat berada di hadapan tunangan Karen.
Flo semakin terkejut melihat tunangan dari Karen. Namun, ia berusaha untuk bersikap biasa saja. Memutuskan untuk tidak mengenal pria itu.
"Selamat, untuk pertunangan kalian," ucap Flo tulus.
"Terima kasih," ucap pria itu datar.
Sial! Kenapa mantan tunanganku justru bertunangan dengan Karen. Tunggu dulu, apa Gisel itu aku? Tapi, aku tidak mengenal dia.
Flo menatap Karen, Farel dan Adrian mantan tunangannya bergantian. Ia merasa terjebak dalam sebuah permainan.
Siapa mereka sebenarnya?
Sepanjang makan malam berlangsung, Flo hanya menjawab pertanyaan mereka seperlunya. Gadis itu bahkan tidak bertanya balik atau berbasa-basi.
"Aku ke toilet dulu, ya," pamit Karen.
Adrian, terlihat menganggukkan kepalanya. Tak lama, ponsel Farel berdering. Pria itu berpamitan untuk mengangkat telepon dan meninggalkan kami dalam kecanggungan.
Flo menyadari, jika Adrian tengah menatapnya. Namun, gadis itu memilih untuk menundukkan pandangannya. Ia tak ingin menanyakan apapun pada pria yang telah memutuskan hubungan mereka secara sepihak.
"Kau baik-baik saja?" Adri bertanya lebih dulu.
"Lihat aku!" Flo tidak melakukan permintaan Adri.
"Kau marah padaku?" tanyanya.
"Tidak ada gunanya aku marah padamu. Jalanilah hidupmu dengan bahagia." Flo bangkit berdiri dan berniat meninggalkan tempat itu.
"Oh, iya. Mama meminta mu untuk mampir besok. Aku belum memberitahu mereka tentang hubungan kita yang berakhir. Jadi, jika kau tidak ingin datang, tidak masalah. Aku akan mengatakan pada mereka jika kau sibuk." Flo segera meninggalkan tempat itu tanpa menunggu Farel ataupun Karen.
***
Setelah makan malam kemarin, Flo memberitahu kedua orang tuanya. Jika hubungan antara dirinya dan Adri, sudah selesai. Mereka terkejut, tetapi tak bisa memaksakan kehendak.
Sejak itu, Flo tak lagi bertemu dengan mereka. Ia memilih tinggal di apartemen dan menjalani kesibukannya sebagai pebisnis. Bukan menghindar, Flo hanya tidak ingin mengikuti permainan yang ia sendiri tidak tahu.
Selama proses pembuatan iklan, Flo bahkan mempercayakan pekerjaan itu pada Nina. Ia meminta Nina untuk merahasiakan keberadaannya dari Farel.
__ADS_1
Farel:
Proses iklan sudah selesai. Apa, Anda, tidak ingin mentraktir saya makan?
Entah apa maksud pria itu menghubunginya. Flo pun tidak menggubris pesan itu. Kembali terbayang olehnya, kehidupan Karen dalam novel. Banyak yang berbeda, antara isi dan kenyataan yang terjadi.
Tak ingin memikirkan itu, Flo kembali memfokuskan pikirannya pada pekerjaan. Ia menghentikan pekerjaannya saat terdengar ketukan di pintu. Dengan malas, Flo melangkah membukakan pintu.
"Darimana kau tahu aku ada di sini?" tanya Flo saat melihat Adri.
"Apa yang aku tidak tahu tentang dirimu." Flo menghela napas kasar.
***
Flo menatap Adri datar. Meski benaknya dipenuhi dengan banyak pertanyaan, Flo tetap menahan diri. Namun, berbeda dengan Adri. Pria itu justru menundukkan kepala.
Kenapa dia terlihat seperti lelah? Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja, sanggahnya dalam hati.
"Ada apa, Mas, mencariku?" tanya Flo.
Adri mengangkat pandangannya menatap Flo, "Aku merindukanmu," ucapnya lirih.
Flo tertawa miris. Gadis itu ingat, selama mereka bertunangan, interaksi yang terjadi sangatlah minim. Karena hal itulah Flo Rida mempercayai ucapan Adri.
"Mas, pikir aku percaya? Selama ini, meski kita dalam ikatan pertunangan, Mas, bahkan tidak pernah berniat untuk mendekatiku." Flo mengungkapkan keluh kesahnya.
"Aku tahu," jawabnya.
"Tidak perlu basa-basi lagi. Katakan saja, apa yang kau inginkan?" desak Flo.
Adri menghela napas kasar, "Maaf, karena selama ini, aku tidak bisa mencintaimu. Bahkan, menjadikanmu alat untuk membuat Karen mencintaiku." Flo tidak mengerti akan ucapan Adri.
Ia tahu pasti, alur dalam novel yang dimasukinya, tidak seperti yang Adri ucapkan. Semua terasa janggal bagi dirinya. Flo memijit pelipisnya yang terasa sakit secara tiba-tiba.
"Kau pasti ingin tahu siapa yang membuatmu masuk ke dalam novel kan?" Pertanyaan Adri, membuat Flo menatapnya tajam.
"Kau ...." Melihat Adri mengangguk, Flo tak mampu melanjutkan ucapannya.
"Novel itu, sudah lama ku tulis. Karakter Karen dalan novel itu, adalah diriku. Sementara Karakter Farel, adalah Karen." Penjelasan Adri, terasa tak masuk akal bagi Karen.
__ADS_1
"Karen dalam novel itu, mati bunuh diri. Namun, saat kamu masuk, dia kembali hidup. Aku, memang sempat berpikiran untuk mengakhiri hidupku, saat Karen lebih memilih sahabatku." Adri melanjutkan ceritanya.
"Apa yang kau ceritakan, di luar nalarku. Aku tidak bisa percaya begitu saja dengan ucapanmu. Semua terasa seperti kebohongan yang kau ucapkan. Mungkin, akan lain ceritanya, jika Karen yang menceritakannya. Mengakui, jika karakter dalam novel itu, layaknya yang tertulis di sana," jelas Flo.