Merubah Takdir Si Antagonis

Merubah Takdir Si Antagonis
Jawaban itu ada pada hatimu


__ADS_3

Adrian menghentakkan bokongnya di sofa apartemen miliknya. Ia baru saja kembali setelah mengantar Karen, tunangannya. Pria itu menyandarkan kepala pada sandaran kursi.


Obsesi atau cinta?


Kata-kata Flo, seakan bergaung di telinga. Memaksa diri untuk melihat sudut terdalam hatinya. Benarkah ia masih mencintai Karen, ataukah cinta itu sudah hilang?


***


Flo melanjutkan pekerjaannya hingga larut malam. Sejak hubungannya berakhir dengan Adri, ia selalu bekerja sampai jam 9 malam di kantor. Setelah itu, baru memutuskan kembali ke apartemen.


Flo tiba di parkiran dan akan pulang. Namun, bayangan seseorang yang berdiri di dekat mobilnya, membuat ia terkejut. Pria itu pun seakan telah melihat keberadaannya.


"Farel?" Pria itu tersenyum padanya. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Flo.


"Sulit sekali menemuimu. Aku ingin bicara." Flo mengangkat sebelah alisnya.


"Maaf, aku lelah dan ingin pulang sekarang," tolak Flo.


"Ayo, aku antar." Flo menatap Farel kesal.


"Pakai mobilmu saja. Nanti, aku pulang dengan taksi atau akan menghubungi sekretarisku."


Flo menghela napas kasar. Malas berdebat, membuat gadis itu merogoh tasnya dan melemparkan kunci mobil pada Farel. Mereka pun masuk ke dalam mobil.


Sepanjang jalan, Flo hanya menatap ke luar dan tidak berniat bicara. Hati dan tubuhnya terasa lelah luar biasa. Membuat mood gadis itu turun drastis.


"Kau, menghindari ku?" tanya Farel.


Flo menoleh dan menatap profil samping Farel. Pria itu tampan. Sangat tampan. Tidak beda jauh dengan Farel yang ada di dalam novel. Hanya saja, pria di samping Flo adalah versi dewasanya.


"Untuk apa aku menghindarimu?" Flo balik bertanya.


Pria itu mengendikkan bahunya, "Hanya kau yang tahu jawabannya."


"Bukan kau yang ku hindari." Flo memilin jemarinya.


"Karen dan Adrian 'kan?" Flo hanya mengangguk.

__ADS_1


"Apa hubunganmu dengan Adrian?" tanya Farel lagi.


"Mas Adri, adalah mantan tunanganku." Flo tak memperhatikan perubahan raut wajah Farel.


"Apakah Karen benar adikmu?" Flo menoleh dan menanti jawaban Farel.


Farel tak menjawabnya. Flo pun mengalihkan pandangannya dan mendesah pelan. "Tidak perlu dijawab, jika kau tidak ingin menjawabnya."


"Dia sahabat yang sudah ku anggap seperti adik sendiri." Flo terkekeh.


"Tidak akan pernah ada persahabatan yang murni, antara pria dan wanita. Salah satu dari kalian, pasti memendam rasa." Pernyataan Flo, membuat Farel menginjak rem hingga mobil terhenti mendadak.


Dengan santai Flo menatap Farel, "Pulanglah! Aku akan pulang sendiri!" Flo membuka seat belt dan hendak berpindah posisi.


Namun, Farel menarik jemari Flo, "Biar aku antarkan." Farel kembali menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.


Sisa perjalanan, hanya diisi dengan kebisuan di antara mereka. Keduanya, sibuk dengan pikiran masing-masing. Flo sendiri, merasa terlalu ikut campur dengan hubungan orang lain.


Kenapa aku merasa jadi orang jahat? Hari ini, aku sudah membuat dua pria yang dekat dengan Karen, berada dalam kebimbangan.


***


Cinta. Aku memang pernah mencintainya. Bahkan, rasa itu masih ada. Hah,


Farel memejamkan matanya sesaat, kemudian ia berlalu untuk membersihkan tubuhnya. Mungkin saja, ketika tubuhnya segar rasa itu kembali terkubur seperti sebelumnya.


Sementara jauh di tempat berbeda, Karen tengah menatap langit pekat dari jendela kamarnya. Lampu memang telah ia padamkan. Namun, matanya enggan tertutup.


Pikirannya kembali melayang pada ucapan Flo. Meski ucapan Flo ditujukan pada Adrian, tetapi kata-kata itu tetap mempengaruhinya. Biasanya, Karen akan menghubungi Farel dan mempertanyakan hal ini. Namun, entah kenapa kali ini, ia tak ingin mengganggu pria itu.


Hatinya tengah menimbang. Apakah Karen sungguh mencintai Adrian seperti ucapannya, atau hanya sekedar kehilangan perhatian yang Adrian berikan dalam jangka waktu yang panjang?


Flo sendiri, tidak bermaksud menyinggung mereka. Ia merutuki dirinya yang terlalu ikut campur dengan urusan ketiga orang itu. Terkadang, ia memang sulit untuk mengontrol ucapannya.


Dasar bodoh. Kenapa aku harus membuat mereka dalam dilema? Aku kan tidak menaruh dendam.


Flo kesal pada dirinya sendiri. Berkali-kali ia mengusap wajah, menjambak rambut, dan menghela napas. Sungguh, ia merasa malu jika harus bertemu dengan mereka lagi.

__ADS_1


Keesokkan harinya, Flo akan menuju kantor. Namun, ia kembali dikejutkan dengan kedatangan Adrian. Pria itu bahkan sudah berdiri di depan pintu apartemennya.


"Mas Adri, ngapain?" Flo memang memanggil Adrian dengan panggilan Adri. Panggilan sayang yang Flo sematkan untuknya.


"Ingin menjemputmu," jawab Adrian.


"Mas, kan sekarang sudah punya tunangan. Lebih baik, Mas, antar jemput tunangan, Mas, saja," tolak Flo.


"Aku ingin bicara denganmu." Flo tak lagi menjawab.


Hah, susah sekali hidupku. Kenapa mereka selalu menggangguku? Tidak tahukah dia aku tidak ingin bertemu?


Flo tak menggubris ucapan Adrian dan memilih pergi. Namun, Adrian mengikuti gadis itu hingga ke dalam lift. Di dalam kotak persegi panjang itu pun, keduanya hanya terdiam.


Menunggu Adrian bicara, rasanya seperti waktu berjalan lambat. Flo pun berdeham sedikit dan menatap Adrian. "Apa yang ingin, Mas, bicarakan?" tanya Flo.


"Aku memikirkan setiap ucapanmu kemarin."


Flo bergeming. Wajahnya terlihat datar. Tidak terlihat ekspresi apapun dari sana. Sepertinya, gadis itu masih menunggu Adrian menyelesaikan ucapan yang terjeda dari mulut pria itu.


Flo menghela napas kasar, "Jadi?" tanyanya.


Adrian menatap mata Flo dalam. Seakan, tengah mencari jawaban dari sana. "Bantu aku mencari jawaban atas pertanyaanmu kemarin. Benarkah ini cinta atau obsesi?"


Flo terkekeh sesaat, "Hanya hati dan pikiranmu yang tahu jawabannya." Flo membalas tatapan mata Adrian.


"Dengar, Mas! Jawaban itu hanya ada dalam dirimu. Kau lebih tahu isi hati, pikiran dan perasaanmu sendiri. Bagaimana perasaanmu pada Karen pun, hanya dirimu yang tahu!"


Tepat saat Flo menyelesaikan kalimat terakhirnya, lift berdenting. Mereka tiba di area parkir. Tanpa berbalik lagi, Flo melangkah meninggalkan Adrian dalam kebisuan.


Lepas dari Adrian, Flo kembali harus berhadapan dengan Farel. Pria itu sudah menunggunya di parkiran kantor. Seandainya bisa, mungkin Flo sudah mengumpat kesal saat ini.


Sejak kembali dari dalam novel, yang Adrian akui dialah penulisnya, Flo merasa hidupnya penuh dengan drama. Tidak ada satu hari pun yang terasa tenang.


"Kau juga ingin tahu jawaban pernyataan ku kemarin? Apakah kau mencintai Karen, atau tidak?" Farel terdiam.


Pria itu mengangkat kedua alisnya tinggi. Seakan bicara 'bagaimana kau tahu hal itu?' pada Flo. Gadis itu menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia melangkah lebih dekat dan berhenti dua langkah dari Farel.

__ADS_1


"Jawabannya, tanyakan pada hatimu. Hanya dirimu yang tahu jawaban itu. Jangan datang padaku untuk mempertanyakan jawabannya! Pergilah!"


Flo melangkah meninggalkan Farel sendiri. Pria itu menatap nanar punggung Flo yang semakin menjauh.


__ADS_2