
(POV FAREL)
Sudah satu bulan aku tidak bertemu dengan gadis bernama Flora. Pertemuan kami memang baru beberapa kali terjadi. Namun, entah mengapa begitu berkesan bagiku
Gadis itu mencuri perhatianku. Bukan karena kecantikan, tetapi ucapan terakhirnya. Karen saja tidak pernah lagi ada dalam hati ini. Mungkin, karena aku sudah ikhlas melepasnya.
Flo, bagaimana dengan kabarnya? Aku merindukan perempuan itu. Satu bulan aku lalui dengan bekerja keras. Berusaha melupakan bayangan gadis itu. Namun, semakin aku berusaha, semakin lekat bayangan itu hadir.
Aku bahkan memilih pindah ke komplek ini. Sudah satu minggu aku menempati rumah yang cukup besar bagi diri sendiri. Hingga rasa sepi yang mengurung.
Pagi ini, aku bangun lebih cepat dari biasanya. Memilih pergi joging disekitar komplek. Anggaplah sebagai usaha untuk mengenal daerah ini.
Peluh membasahi seluruh tubuh. Hampir satu jam aku mengelilingi daerah ini. Berniat ingin melakukan pendinginan, aku memutuskan untuk duduk di taman.
Baru saja kaki ini menginjak taman, terlihat seorang wanita tua yang terjatuh. Bahkan, suara pekikan yang nyaring. Ku percepat langkah hendak membantunya.
"Oma!" Aku menoleh pada gadis di sampingku.
Sejenak aku tertegun melihatnya. Dia, adalah Flo. Gadis yang ku rindukan satu bulan ini. Aku kembali fokus pada sosok wanita tua dalam pelukankan.
Aku mengangkat tubuh renta itu dan menghentikan taksi yang lewat. Meletakkannya di kursi penumpang bagian belakang bersama dengan flo. Aku duduk di samping supir.
"Rumah sakit terdekat, Pak!" perintahku.
Taksi meluncur dengan kecepatan sedikit tinggi. Tak butuh waktu lama, kami tiba di IGD. Aku segera keluar dari taksi dan menarik brankar kosong setelah memberitahu petugas tentang kedatangan pasien.
Aku mengangkat tubuh Oma Flo ke atas brankar. Petugas medis segera mendorong brankar masuk ke IGD. Saat menoleh, Flo hanya terdiam di dekat taksi tadi. Terpaksa aku sedikit membentaknya hingga ia bereaksi dan ikut masuk.
Melihat Flo yang akan berbalik dan mengurus administrasi, membuatku menyuruhnya menunggu di sana. Aku pun menuju tempat administrasi dan mengurus segalanya.
Sayangnya, aku lupa menanyakan nama pasien itu. "Hem, Sus, apa nama pasien bisa ditanyakan saat nanti ke ruang IGD?" tanyaku.
Terlihat perawat itu mengerutkan dahinya heran. Wajar saja kan, aku bertanya itu? Aku ini bukan keluarganya. Tak lama, Aris sekretarisku tiba.
"Ris, tolong bantu saya isi data-data ini. Sisanya akan ku kirimkan melalui pesan. Aku temui Flo dulu!" perintahku
Aku segera kembali ketempat Flo berada. Gadis itu menundukkan kepalanya sedih. Tiba didekatnya, aku hanya bisa menggaruk kepala yang tak gatal. Sedikit salah tingkah di dekatnya.
__ADS_1
Flo menoleh dan terlihat bingung melihatku yang salah tingkah.
***
(POV FLO)
Melihat Oma yang jatuh pingsan, sungguh membuatku khawatir. Bahkan, saat melihat Farel yang menolong, membuat aku terkejut. Ada banyak pertanyaan yang berputar dalam benak. Namun, tak ada satu pun yang mampu ku ucapkan.
Aku kembali tertegun saat Farel bersedia mengurus administrasi Oma. Tak tahu harus berbuat apa, aku pun memilih duduk di depan IGD. Beberapa menit kemudian, Farel kembali. Wajah pria itu terlihat salah tingkah.
"Kenapa?" tanyaku lirih.
"Aku, tidak tahu nama nenekmu," ucapnya.
Ia menundukkan kepala. Wajahnya terlihat memerah menahan malu. Seandainya kondisi Oma tidak pingsan, mungkin aku sudah tertawa keras melihat sikapnya ini.
"Lalu?" Aku sengaja memancingnya.
"Aku menyuruh Aris untuk mengisi data yang ia ketahui lebih dulu." Sungguh, aku menahan tawa melihat wajahnya yang semakin merah.
Farel memberikannya padaku. Saat itu, panggilan tengah berlangsung. Aku pun segera meletakkan ponsel ke telinga. Menjawab semua pertanyaan pria bernama Aris.
"Nama Oma, Erna. Usia 69. Ada lagi?" tanyaku setelah menjawab beberapa pertanyaan itu.
Setelahnya, panggilan terputus. Aku mengembalikan ponselnya dan berkata, "Terima kasih atas bantuanmu. Suatu saat, aku akan membalas kebaikanmu ini."
Aku tersenyum tulus padanya. Entah mengapa, wajah Farel terlihat lucu saat ini. Apa senyumku terlihat aneh, hingga ia tak berkedip?
Ah, sudahlah. Anggap saja dia tidak menatap seperti itu. Aku membuang pandangan darinya. Melihat tatapan pria itu, membuat kinerja jantungku menjadi ekstra. Organ pusat tubuh manusia itu, berdetak begitu kencangnya.
Rasanya, ini kali pertama aku merasakan irama jantung yang seakan menari salsa. Telapak tangan dan kaki juga terasa dingin. Berulang kali aku menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Berharap detak jantung ini kembali normal.
Sayangnya, debaran itu semakin menggila saat Farel duduk di sampingku. Terdengar helaan napas dari pria ini.
"Bagaimana kabarmu?" Aku menoleh dan menatap pria itu.
Entah dia bertanya padaku atau bukan. Namun, jika melihat kondisi sekitar, jelas pertanyaannya mengarah padaku.
__ADS_1
"Kau bertanya padaku?" tanyaku memastikan.
Pria itu mengangguk dan menatap aku dalam. Aku melihat luka di dalam matanya. Apa mungkin dia terluka dengan ucapanku dulu?
"Aku baik," jawabku seraya tersenyum.
Dia membalas senyumku. "Syukurlah." Farel menyandarkan kepalanya ke dinding.
"Aku tidak menduga, takdir mempertemukan kita lagi. Mungkin, Tuhan memberiku kesempatan untuk memikirkan jawaban dari pertanyaanmu dulu."
Ucapannya, membuatku mengerutkan dahi. apa dia belum tahu jawabannya? Selama itukah dirinya bangkit? Sepertinya, Farel adalah tipe pria yang kesulitan, move on.
"Aku bahkan tidak berniat mencari tahu jawaban, Anda! Jadi, tidak perlu terbebani untuk menjawab pertanyaan itu!" ucapku tegas.
"Aku tahu. Tapi, kehadiranmu seakan mendorong aku untuk mencari tahu." Flo hanya tersenyum mendengar tanggapan Farel.
"Keluarga Nyonya Erna!" Panggilan itu membuatku menoleh. Aku segera berdiri dan menghampiri perawat itu.
"Saya cucunya, Sus. Katakan saja," desak Flo.
"Silakan, ikuti saya ke ruang Dokter." Perawat menuntun langkahku menuju ruang dokter.
Tiba di ruang Dokter, Flo dipersilakan duduk. Dokter pun mulai membicarakan kondisi Oma. Stress, adalah penyebab utama kondisi Oma. Aku tahu, aku sudah bersalah pada Oma.
"Tapi, Oma saya baik-baik saja kan, Dok?" tanya Flo.
"Tidak," jawab Dokter itu singkat.
Jawaban Dokter itu, membuat jantungku terasa diremas sekuat-kuatnya. Dadanya terasa sesak dan tak mampu bernapas dengan baik.
Bangun, Flo. Jangan terlalu nyaman dengan mimpimu. Ingat, masih ada keluarga yang selalu men-support dirimu. Cepat buka mata! Pekikku dalam hati.
Tanpa terasa, air mata semakin deras meluncur. Aku tak mampu menahan lajunya. Mendengar penuturan Dokter, Oma terkena serangan jantung, membuatku semakin didera rasa bersalah.
Oma, pasti memikirkan hatiku yang sakit saat ini. Farel yang melihat ku kembali, mendekati dan memberi pelukan. Tepukan pelan terasa di punggung.
Aku menangis di dadanya. Hanya rasa nyaman yang ku rasa saat ini. Aku semakin menenggelamkan wajah di dada bidangnya. Tidak ada kata yang terucap dari bibirnya.
__ADS_1