
"Kau menginginkan aku kembali? Benarkah? Saat itu aku hanya bertekad untuk berubah. Melanjutkan hidup, dan melupakan dirimu." Karen menatap kedua manik mata coklat di depannya.
Farel mengangguk. Ia menggenggam erat jemari Karen. "Aku tahu dan senang dengan perubahanmu. Kau semakin dewasa. Tapi, aku merindukan sikap manjaku padaku," ucap Farel sendu.
Dunia seakan berhenti dan tak berputar. Flo ingin sekali menarik Karen ke alam bawah sadarnya dan memaki gadis itu. Namun, ia tak berdaya. Ia hanya mampu memaki gadis itu , yang entah didengar atau tidak oleh Karen.
Seperti ucapan Farel, Karen memang terlihat lebih dewasa saat ini. Sudah jauh berbeda dari Karen yang Flo baca dari novel itu.
Dasar pasangan aneh! Cepat kembalikan aku pada tubuh asliku. Toh, kalian sudah bisa bersama kan?
"Lalu, apa sekarang kau akan tetap menjauh dariku?" Karen menggeleng.
"Aku tidak tahu. Yang pasti, saat ini aku hanya ingin bunda bahagia. Selama ini, aku tidak pernah dekat atau memperhatikan bunda." Farel mengangguk mengerti.
"Lakukanlah! Apa aku boleh membantumu mengerjakan tugas?" Karen tersenyum dan mengangguk.
Kini, Flo merasa terkunci dalam tubuh Karen. Ia tak mampu keluar dari sana, ataupun menguasai tubuh itu lagi. Flo merasa jiwanya tengah melayang tanpa tujuan. Frustasi, mungkin kata itu tepat untuk menggambarkan kondisinya saat ini.
Ia hanya mampu melihat dan menonton bagaimana Farel dan Karen terlihat mulai berhubungan baik. Bagaimana Farel bersikap baik dan berkali-kali mengungkapkan cinta pada Karen. Sementara gadis itu, terlihat tersipu.
Flo bisa mendengar semua pembicaraan keduanya, tanpa mampu menginterupsi mereka. Saat Karen berinteraksi dengan sekelilingnya pun, ia hanya menjadi pendengar dan penonton setia. Flo mendengus kesal.
"Karen, kembalikan aku ke asal. Kenapa kau justru mengurungku di sini?" pekik Flo frustasi.
Sayangnya, Karen seperti mengabaikan Flo saat ini. Tidak ada yang bisa mendengar teriakan Flo. Karena dirinya terjebak dalam alam bawah sadar Karen. Entah sampai kapan Flo akan berada di sana.
"Bagaimana caranya aku kembali? C'mon Flo. pikirkan sesuatu. Kamu itu pintar." Flo men-support dirinya sendiri.
Tepat saat Karen tertidur, Flo menyeret jiwa gadis itu untuk bicara. Ia tak bisa membiarkan dirinya berada di dunia yang bahkan tidak ia ketahui kelanjutannya lagi. Hampir keseluruhan novel itu, telah berubah total.
"Katakan padaku, bagaimana caranya aku kembali?" desak Flo.
"Bukan aku tidak ingin membantumu. Tapi aku pun tidak tahu caranya," jawab Karen tak kalah frustasi.
"Argh," pekik Flo kesal.
__ADS_1
Gadis itu terdiam sesaat. Ia mencoba mencari variabel waktu, untuk menemukan jalan kembali pada dunianya. Karen pun mengerti dengan kegelisahan yang Flo rasakan. Ingatan Flo pun melayang pada pertengkarannya dengan Farel kembali terbayang.
"Seingatku, Farel dan bunda baru dua kali bertemu. Tapi, bunda marah saat dia mendatangimu, dan memintamu menjauh darinya," ucap Flo.
"Kau benar. Saat itu, bunda sangat marah dan mengusir Farel." Karen masih mengingat tentang kejadian sebelum Flo memasuki tubuhnya.
"Sekarang, jalan cerita ini sudah berubah total. Bodohnya, kamu menarik aku dan tak bisa mengembalikan diriku!" Karen terkekeh mendengar keluhan Flo.
"Bukan tidak bisa. Sepertinya, ada hal yang harus kau selesaikan dengan tubuhku. Aku sendiri, belum mengetahui apa itu." Flo menghela napas kasar.
"Kalau begitu, sampai waktu itu tiba, biarkan aku yang menguasai tubuhmu." Karen mendelik.
"Tidak! Kau akan membuat aku dan Farel kembali berjauhan!" tolak Karen tegas.
"Tidak akan! Aku akan membantumu menyelidiki pria itu. Aku tidak ingin, dia membuatmu kembali terpuruk dan ingin mengakhiri hidup lagi." Karen menatap Flo.
Terlihat jelas Karen menaruh ragu dalam benaknya. Flo menggenggam jemari Karen dan mencoba untuk meyakinkan gadis itu. Ia hanya ingin memastikan kebahagiaan Karen.
Mau tidak mau, Karen menyetujui permintaan Flo. Apapun yang Flo katakan memang benar. Tidak ada jaminan, Farel akan tulus mencintai dirinya.
"Oke! Aku setuju." Keduanya saling melemparkan senyuman.
***
"Karen!" Suara itu membuat Flo terbangun dan melangkah ke arah pintu.
Ia membuka pintu dan melihat senyum Astrid, ibunda dari Karen. Ia segera memeluk wanita paruh baya itu dan mengecup pipinya. Semata-mata, melepas rindunya pada sang ibu. Sungguh, ia sangat merindukan ibu yang telah melahirkan dirinya. Astrid membelai rambut panjang milik Karen.
"Mandi gih. Kamu ada kuliah 'kan?" Flo mengangguk.
"Farel bilang, akan jemput Karen," ucap Flo.
Flo yang masih memeluk Astrid, bisa merasakan betapa terkejut wanita paruh baya ini mendengar ucapannya. Ia tersenyum tipis sebelum melepaskan diri.
Flo menatap manik mata Astrid dan tersenyum manis, "Dia kemarin menyatakan perasaannya, Bun," ucap Flo malu-malu.
__ADS_1
Flo menundukkan kepalanya. Gadis itu sengaja menguji Astrid. Bagaimanapun, ia harus mencari cara, agar keluar dari novel tersebut. Siapapun, bisa saja dengan sengaja menahan dirinya bukan?
Apakah itu ibundanya Karen? Wajahnya berubah pias.
"Ka-kamu jawab apa?" tanyanya terbata.
"Karen belum menjawabnya. Tapi, Farel bilang, akan menunjukkan kesungguhannya mulai hari ini." Kembali Flo tersenyum menatap Astrid.
Lagi-lagi, raut tidak suka, geram, dan marah terlihat di wajah Astrid. Hanya sesaat, tetapi Flo mampu melihatnya.
Mari kita lihat. Siapa yang akan menang? Aku muak dengan jalan cerita ini. Karen sudah berubah. Meski aku tahu, bucinnya tak bisa lagi tertolong. Lihat saja bagaimana sikapnya kemarin pada Farel? Sungguh membuatku kesal.
Lama terdiam, Flo pun memutuskan untuk membersihkan tubuh Karen. Gadis ini, akan tetap memilih Farel meski telah disakiti. Bahkan, rasa cintanya tak berkurang sedikitpun pada pria itu.
"Karen mandi dulu, ya, Bun." Gadis itu segera berbalik dan kembali masuk ke kamar.
Astrid terdiam menatap punggung Karen hingga menghilang. Ia terlihat menutup matanya sesaat. Setelah itu, ia pun berlalu dari sana.
***
Seperti yang Flo ucapkan tadi, Farel benar-benar datang menjemput karen. Astrid menatap Farel tajam. Pria itu terlihat salah tingkah mendapat tatapan yang terasa menusuk hingga ke jiwanya.
"Bun, Karen pergi dulu, ya," pamitnya.
Astrid tersenyum dan hanya menganggukkan kepalanya. Flo menghampiri wanita yang telah ia anggap seperti ibunya, dan memeluk Astrid dengan erat.
"Bunda gak usah khawatir. Karen tidak akan terjebak lagi dengan cinta buta yang dulu. Farel, harus membuktikan ucapannya," bisik Flo.
Astrid mengangguk paham, "Bunda yakin, kamu tidak akan mau jatuh di lubang yang sama." Flo tersenyum menenangkan.
"Kami berangkat dulu, ya, Bun." Flo mencium punggung tangan Astrid.
Farel pun menghampiri Astrid dan melakukan hal yang sama. Astrid tidak menghindar. Ia hanya mengangguk dan menatap tajam pada Farel, saat ia berpamitan.
***
__ADS_1
Ayo berjuang Farel💪💪💪
Kemarin, ada yang ku revisi ya guys ☺️