Merubah Takdir Si Antagonis

Merubah Takdir Si Antagonis
Bertemu Karen


__ADS_3

Flo terkejut melihat perubahan Gisel. Ya, bagaimanapun gesekan antara Karen dan Gisel memang harus terjadi. Salah satu diantara Karen dan Gisel, tetap harus ada yang kalah bukan? Jika Karen berubah dan memperbaiki nasib, maka Gisel akan berubah ke arah sebaliknya.


"Bukankah kalian akan segera bertunangan? Apa yang kau khawatirkan? Masalah buket bunga yang Farel kirim padaku? Tenang saj, semuanya berakhir di tempat sampah." Flo menepuk pundak Gisel dan berlalu.


Gadis itu tak mempedulikan pandangan Gisel yang tajam padanya. Ia kembali duduk bersama beberapa temannya di sudut. Sementara Gisel, terlihat semakin kesal dan marah pada Karen.


Dari kejauhan, Farel terlihat memperhatikan keduanya. Pria itu menghela napas lelah melihat Gisel yang mulai memusuhi Karen. Farel pun memutuskan pergi dari tempat itu.


***


Flo tengah dalam perjalanan ke toko milik Astrid, ibunda dari Karen. Namun, di tengah jalan dirinya harus menghadapi beberapa orang yang ia ingat, sebagai orang yang disewanya untuk mengganggu Gisel.


Sepertinya, kehidupan kalian bertukar. Ya, bagaimanapun, tokoh antagonis dalam cerita itu, tetap harus ada 'kan?


"Nona, silahkan ikut kami," ucap salah satu pria di depan Flo.


Flo menatap mereka bergantian. Mencoba mengingat, apa yang akan terjadi saat Gisel ada di posisinya saat ini? Ah, saat itu Farel yang menolongnya. Baiklah, harus ku hadapi.


"Katakan pada orang yang menyuruh kalian untuk menemui secara langsung. Aku pasti akan menemuinya. Dia tahu nomor telepon ku. Permisi!" Flo melenggang pergi meninggalkan ketiga orang yang menghadangnya tadi.


"Maaf, Nona. Tapi, Anda harus ikut dengan kami, atau ...." Flo terkekeh dan membuat orang yang mendatanginya itu menatap bingung.


"Apa Gisel yang menyuruh kalian?" Mereka tak menjawab. Membuat Flo yakin, jika Gisel lah dalang di balik kejadian ini.


Flo menarik napas dalam dan menghelanya perlahan, "Katakan pada Gisel, Aku tidak tertarik pada Farel sedikitpun. Sebaiknya, dia memikirkan cara untuk menarik perhatian Farel daripada mengurusi hidupku. Sampai kapanpun, aku tidak sudi berdekatan dengan Farel."


Ketiga orang itu tertegun dan tak mampu membalas ucapan Flo. Dengan cepat, Flo melangkah pergi.


***


Flo tengah membantu Astrid menyimpan kue pesanan ke dalam kulkas. Tak lama, terdengar suara pintu toko yang terbuka. Flo menoleh dengan senyum semanis mungkin. Namun, senyum itu pudar saat melihat kedatangan Farel.


Dengan kurang ajarnya, Farel mengubah tanda di pintu masuk menjadi closed. Flo bersidekap menatap pria itu. Keduanya saling bertatapan.


Flo memicingkan mata saat melihat Farel tersenyum padanya. Ada yang aneh. Tapi, apa?


"Bukan Gisel yang menyuruh mereka. Tapi aku. Jujur, aku sedikit kecewa mendengar ucapanmu pada orang suruhan ku." Flo menatap jengah pada Farel.


"Sebaiknya kau pergi. Aku tidak ingin ada fitnah lain lagi." Flo berbalik.

__ADS_1


Gerakannya terhenti, saat sebuah tangan menahan langkahnya. Flo terdiam tanpa membalikkan tubuhnya.


"Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu."


Kali ini, Flo berbalik dan menatap Farel sengit, "Kau yang dulu selalu menolakku, bukan? Aku hanya melakukan keinginanmu. Aku tahu pasti, kau muak melihat ku. Jalani hidupmu sebagaimana mestinya." Flo melepaskan cengkeraman Farel di lengannya.


Ia membalikan tanda di pintu masuk dengan open. "Silahkan, keluar," usir Flo tanpa basa basi.


Tanpa keduanya sadari, Astrid mendengar semua pembicaraan mereka. Ada rasa puas di hatinya saat mendengar ucapan sang putri. Bagaimanapun, Astrid sangat senang karena Karen tak lagi seperti dulu.


"Bunda bangga padamu, Nak!" Flo tersentak dan menoleh pada Astrid.


"Bunda! Bunda, dengar semua pembicaraan kami?" Astrid menganggukkan kepala.


"Karen, tidak bermaksud kasar pada ...." Astrid memeluk putrinya.


"Tidak apa. Kali ini, bunda tidak melarangmu. Ada saatnya kita bertindak kasar. Kamu sudah melakukan yang terbaik. " Astrid mengusap rambut Karen sayang.


Apa ini? Kenapa rasanya aneh ada yang aneh?


***


Hari pertunangan Farel dan Gisel pun tiba. Karen sengaja tidak hadir dalam acara itu. Meski sebenarnya, Farel sangat menginginkan kehadiran gadis itu.


Ada apa dengan tubuh Karen. Seperti ada kesedihan yang mendalam.


"Kita periksa saja ya, Nak," ajak Astrid.


"Gak usah, Bun. Sebentar lagi juga baikan kok," tolak Flo.


Baru saja Flo mengatakan hal itu, ia tak sadarkan diri. Sayup-sayup Flo mendengar tangis Astrid dan suaranya yang memanggil Karen. Namun, Flo tak mampu membuka matanya.


***


"Kau sudah datang." Flo mengangkat pandangannya dan mendapati jiwa Karen yang sebenarnya.


"Karen!" Gadis itu tersenyum pada Flo.


"Terima kasih sudah membantuku. Tapi, aku menginginkan Farel tetap di sisiku. Apa kau tidak bisa membantuku?" Flo tertawa sinis.

__ADS_1


"Apa kau sebodoh itu? Pria itu tidak pernah menginginkanmu. Untuk apa kau mengejarnya?" Karen justru tersenyum manis. Membuat Flo semakin gemas.


"Kau punya kekasih?" tanya Karen. Flo pun menganggukkan kepala membenarkan ucapan itu.


"Apa kau tahu bagaimana rasanya berpisah dari kekasihmu?" tanya Karen lagi.


"Sejak dulu, aku dan mas Adri tidak selalu bertemu. Hanya sesekali saja." Jawaban Flo membuat Karen tertawa.


"Alasannya, pasti kalian sama-sama sibuk," tebak gadis itu.


"Kau benar."


"Tapi aku berbeda. Aku sangat mencintai Farel. Apa kau bisa mendapatkannya untukku?" Flo mendengus kesal.


"Apa karena ini tubuhmu melemah?" Karen mengangguk.


"Dengarkan aku! Jangan kau sia-siakan hidupmu untuk pria yang bahkan tidak melihat dirimu. Dia hanya akan kehilangan dirimu sesaat. Setelah itu, dia akan kembali lagi pada Gisel." Karen terdiam.


"Bukankah cinta itu memang buta?" ucap Karen setelah mereka terdiam lama.


"Dengar Karen. Perhatikan orang-orang yang tulus padamu. Jangan fokus pada orang yang sebaliknya. Itu hanya akan menghabiskan energimu. Satu hal yang harus kau tahu. Jika kalian berjodoh, suatu saat pasti akan bersatu."


Karen menundukkan kepalanya dalam. Ia terlihat sedang memikirkan ucapan Flo. Selama ini, ia akui jika dirinya hanya terfokus pada Farel. Hidupnya seakan hanya untuk Farel, hingga ia mengabaikan orang-orang yang tulus padanya. Termasuk sang ibu.


"Sekarang, pulihkan kesehatanmu. Jangan bersedih karena cintamu harus berakhir di sini. Aku akan pastikan, akhir hidup yang bahagia untukmu."


Karen tersenyum dan memeluk Flo, "Terima kasih, Flo. Aku berjanji, saat akhir itu tiba, kau akan kembali ke dunia mu." Flo mengangguk.


"Apa kau yang menarikku dalam dimensi ini?"


Karen hanya tersenyum dan mendorong tubuh Flo untuk kembali. Seakan ia enggan menjawab pertanyaan dari Flo.


"Arrgghh," pekik Flo.


***


"Kau sudah bangun, Nak?" tanya Astrid khawatir.


Flo tersenyum dan mengedarkan pandangannya. "Rumah sakit," lirihnya.

__ADS_1


"Kau pingsan tadi, Sayang," Astrid memberitahunya pada Flo.


"Aku tahu, Bun," ucap Flo lemah.


__ADS_2