Merubah Takdir Si Antagonis

Merubah Takdir Si Antagonis
Cinta atau Obsesi


__ADS_3

"Aku tahu, kau tidak akan mempercayai ceritaku," jawab Adri.


Flo mendengus keras. Ingin hati mengusir mantan tunangannya ini. Namun, masih ada rasa penasaran dalam diri gadis itu.


"Bagaimana sifat Karen dalam novel itu?" tanya Flo pada Adrian.


Adrian pun menjawab semua pertanyaan Flo. Jika kejadian yang ditulisnya, terjadi saat mereka masih duduk di bangku kuliah dulu. Bagaimana dirinya dulu berusaha menjebak Karen, dan berakhir dengan kemarahan Karen.


Sementara sosok Arsen, adalah Flo sendiri. Flo, bagaikan seorang dokter yang mengobati luka tak kasat mata di hatinya. Bagaimana gadis itu merubah dirinya, dan membawa perubahan pada hidup Adrian sendiri.


Sayangnya, hati Adrian tetap tertuju pada Karen. Cinta itu, bagaikan sudah terpatri dalam hatinya. Sudah ribuan kali Adrian mencoba untuk menghapus nama Karen. Namun, semua terasa sia-sia. Nama itu, semakin tertanam kuat di sana.


Beberapa bulan sebelum Adrian memutuskan hubungan mereka, Karen datang dan menyatakan cinta pada Adrian. Mengatakan jika gadis yang dikejarnya dulu, sangat merindukan dirinya.


Adrian pun mengambil keputusan untuk membatalkan pertunangan antara dirinya dan Flo. Satu minggu kemudian, barulah ia melamar Karen dan bertunangan.


"Maaf, karena kau harus terjebak dalam dunia novel yang ku buat." Flo mendesah kesal.


Antara percaya atau tidak. Seluruh cerita di novel itu, memang sama dengan cerita Adrian secara pribadi. Namun, Flo tidak serta merta mempercayai cerita mantan tunangannya itu.


"Aku tidak tahu. Aku butuh waktu untuk mencerna semua yang terjadi." Adrian menganggukkan kepala.


Pria itu berdiri dan memilih berpamitan. Secara logika, ceritanya memang terasa mengada-ada. Adrian menyadari itu dan memberikan Flo waktu.


***


Flo duduk termenung di balkon apartemennya ditemani segelas coklat panas. Meski matanya menatap pada langit berbintang, tetapi tatapannya terlihat kosong.


Pembicaraannya dengan Adrian dua hari lalu, masih menyisakan banyak pertanyaan dalam benaknya. Bukankah Adrian seorang pengusaha? Sejak kapan pria itu beralih menjadi penulis?


"Aku merasa tidak mengenal dia. Sedikitpun tidak. Meski aku tahu, apa yang dia katakan, adalah kebenaran." Flo bergumam sendiri.


Bunyi bel membuyarkan lamunan Flo. Gadis itu melangkah untuk membukakan pintu. Nina datang dengan senyum menawan. Flo mempersilahkannya masuk.


"Apa yang terjadi denganmu, Flo?" tanya Nina.


Setelah urusan pekerjaan selesai, Nina masih duduk di sana. Gadis itu kali ini bertindak sebagai sahabat Flo. Melihat Flo yang muram, membuat Nina yakin, ada yang tengah sahabatnya ini sembunyikan.


"Pertunangan ku dibatalkan. Aku sudah ceritakan?" jawab Flo.


"Bukan itu. Aku tahu, kamu tidak akan lari dari tanggung jawab, jika hanya karena pembatalan ini." Flo menatap mata Nina.

__ADS_1


Apa yang Nina katakan, memang benar. Nina dan Riska, sangat mengetahui karakter Flo. Flo sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.


"Apa kau percaya, jika aku hanya dijadikan alat oleh Adrian?" tanya Flo.


"Apa?" Flo menganggukkan kepala.


"Brengsek. Ingin sekali ku bunuh pria seperti itu. Apa karena itu, dia tidak pernah bersikap manis padamu?" tanya Nina.


Flo mengendikkan bahunya. Ia tidak tahu mengenai itu. Dari cerita Adrian, ia memang dijadikan alat untuk membawa Karen kembali pada pria itu.


"Nyatanya, aku yang bodoh." Flo menertawakan dirinya sendiri.


"Aku bahkan masuk ke dalam novelnya, dan memperbaiki hubungan mereka. Mungkin, apa yang ku lakukan itu, berimbas pada dunia nyata." Nina membuka mulut tak percaya dengan ucapan Flo.


"Kau, apa?" Flo menganggukkan kepala.


"Kau itu terlalu baik atau ...." Flo terkekeh mendengar pernyataan Nina yang tak ia selesaikan.


"Sepertinya, aku bodoh bukan terlalu baik." Flo yang melanjutkan ucapan Nina.


"Sudah malam. Kau menginap saja," pinta Flo.


"Besok aku ke kantor kok," ucap Flo cepat.


"Lalu pakaian kerjaku?" tanya Nina.


"Badan kita itu sama besar. Pakai saja punyaku." Nina membuka mulutnya, hendak kembali protes.


"Apalagi? Pakaian dalam?" Nina mengangguk.


"Aku punya yang baru. Pakai saja." Flo berlalu masuk ke kamar.


Nina pun mengikuti keinginan atasan sekaligus sahabatnya itu. Mereka tidur di kamar yang sama.


Malam semakin larut. Nina sudah terbuai dalam mimpi indahnya. Namun, Flo masih memikirkan langkah yang akan ia ambil. Apakah harus tetap menjauh, atau membiarkan waktu yang menyembuhkan luka hatinya.


***


Mentari sudah berada tepat di atas kepala saat ini. Flo berniat untuk sekedar mengisi perut setelah keluar dari pabrik. Tidak jauh dari lokasi pabrik, terdapat sebuah mall. Flo pun memutuskan untuk makan di sana.


Ia menuju lantai lima, tempat food court berada. Sambil menunggu pesanannya datang, Flo memainkan ponselnya. Entah drama apalagi, yang harus Flo saksikan sekarang.

__ADS_1


"Hai, Flo," sapa gadis di hadapannya.


Flo memaksakan senyum di wajahnya. Karen, gadis itu berjalan bersama Adrian. Kali ini, wajah Adrian terlihat bahagia. Berbeda dengan saat bertemu di restoran malam itu.


"Hai," sapa Flo kembali.


"Boleh kami gabung di sini?" tanyanya. Flo menganggukkan kepala.


Ingin rasanya Flo pergi dari tempat itu. Namun, ia tidak jadi melakukan hal bodoh itu. Bagaimanapun, Adri dan dirinya hanyalah masa lalu.


"Terima kasih atas bantuanmu," ucap Karen.


Flo menatap Karen bingung. Ia merasa tidak melakukan apapun pada gadis itu. "Memang, apa yang sudah ku lakukan?" tanya Flo.


"Kau membuatku sadar, saat kehilangan perhatian Adrian. Dia, sudah memberitahuku. Kau, membuat dia berpaling dariku. Dan itu, rasanya sakit sekali." Flo mencoba terlihat biasa saja.


Yang Flo tahu, ia jatuh cinta pada Adrian lebih dulu. Adrian yang mengetahuinya, mendekati dan memberi kesempatan untuk membuka hatinya pada Flo.


"Aku membuatnya berpaling darimu?" Karen mengangguk.


Senyum gadis itu terlihat sangat manis. Bahkan, Adrian terus memandanginya. Flo menghela napas perlahan melihat keduanya. Napsu makan Flo menguap setelah mendengar ucapan Karen.


Aku merasa seperti perusak hubungan orang lain. Padahal, Adrian sendiri yang memintaku untuk jadi kekasih dan tunangannya.


"Baguslah." Flo berdiri.


"Aku duluan, ya. Masih ada meeting penting setelah ini," pamitnya.


"Mba, tolong bungkus saja," ucap Flo pada pelayan.


"Oh, iya," jawab pelayan itu.


Flo pun mengikuti langkah pelayan dan akan menunggu pesanannya di sana. Baru satu langkah ia berjalan, Flo berhenti. Gadis itu menoleh pada Adrian.


"Mas, tanyakan hatimu. Apakah kau benar mencintainya, atau hanya sekedar obsesimu saja." Flo melanjutkan langkah setelah mengatakan itu.


Kata-kata Flo, membuat Adrian menatap punggung gadis itu dengan nanar. Mungkin, ucapan Flo mempengaruhi pikirannya.


Tiba di kantor, ia memakan dengan lahap makanan yang tadi ia beli. Bukan karena lapar, tetapi karena rasa kesal. Ia kesal mendengar ucapan Karen tadi. Namun, saat mengingat ucapannya pada Adrian tadi, senyum puas terukir di wajahnya.


Maaf, aku tidak bermaksud menjadi antagonis dalam hubungan kalian. Aku hanya tidak suka dengan ucapan gadis itu yang seolah menuduhku merebut kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2