
Keesokkan harinya, tubuh Karen mulai membaik. Flo bersyukur, Karen mendengarkan kata-katanya. Bagaimanapun wanita pemilik tubuh ini mencintai Farel, mereka tidaklah berjodoh. Bukankah sampai akhir novel, Karen justru mengakhiri hidupnya?
Bagus Karen. Aku akan memastikan kau tetap hidup dan menemukan kebahagiaanmu sendiri. Kau dan Farel memang tak berjodoh. Sekalipun sekarang Farel mulai mengejar.
Pintu ruang rawat Karen diketuk. Tak lama, seorang Dokter muda masuk dan memeriksa tubuh Karen. Flo tersenyum pada Dokter itu.
"Selamat pagi, Nona Karen," sapa Dokter itu.
"Pagi, Dok," balas Flo.
"Kita lihat kondisinya dulu ya." Flo mengangguk.
Dokter pun mulai memeriksa kondisi tubuh Karen. Setelah beberapa saat, Dokter itu tersenyum padanya. Flo membalas senyum sang Dokter muda yang terlihat tampan itu.
"Sekarang sudah jauh lebih baik. Siang nanti sudah bisa pulang, ya," ucap dokter itu.
Flo terlihat senang mendengar penjelasan Dokter itu. Astrid memeluk putrinya dan mengecup puncak kepala sang putri sayang. Dokter itu semakin tersenyum dan memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih.
"Jangan terlalu lelah dan stress. Agar asam lambung mu, tidak kembali naik. Istirahat yang cukup dan makan teratur. Makanan pedas dan asam, dihindari dulu, ya," terang Dokter itu.
"Iya, Dok. Terima kasih banyak atas bantuannya," ucap Astrid seraya menundukkan sedikit tubuhnya.
"Ah, tidak masalah. Kalau begitu, saya permisi, ya." Flo dan Astrid menganggukkan kepalanya.
Tak lama, Dokter dan perawat pun keluar dari ruang rawat Karen. Astrid mengambil tasnya dan pamit untuk mengurus administrasi kepulangan Karen. Flo menganggukkan kepalanya.
Astrid pun keluar dan meninggalkan Flo sendiri. Ia mengambil ponselnya dan melihat banyak notifikasi pesan dari Farel. Pria itu memberitahu Flo, jika dirinya tak bisa melanjutkan pertunangan.
Deretan pesan yang selalu mengatakan pada Flo, jika pria itu tak bisa menggeser nama Karen dari hatinya. Flo merasa jijik membaca setiap rayuan Farel pada Karen. Pria itu kini terlihat terobsesi pada Karen.
Sungguh menjijikkan. Sebelumnya, kau menyuruh Karen menjauh, membentaknya, dan menghina gadis ini. Sekarang, saat aku merubah dirinya, kau berpaling dan menginginkan Karen? Menggelikan.
Flo meletakkan kembali ponsel itu dan terkejut melihat dokter tampan tadi berada di ruang rawatnya. "Sejak kapan, Dokter masuk?" tanyanya?
"Baru saja. Kau terlihat asyik dengan ponselmu tadi. Jadi, aku membiarkannya," jawab dokter itu.
Flo menganggukkan kepalanya. Dokter itu menarik kursi yang biasa diduduki oleh Astrid. Flo sedikit terkejut melihat sang Dokter yang duduk di dekatnya.
"Apa kau melupakanku, Karen?" Pria itu menopang dagunya seraya menatap Karen lembut.
__ADS_1
Hei, Karen! Dia ini siapa? Rasanya tidak ada nama pria ini di dalam novel? Apa aku melewatkan sesuatu?
"Sepertinya aku benar. Baiklah, aku akan memperkenalkan diri lagi." Dokter itu bangkit berdiri dan merapikan pakaiannya.
Pria itu sedikit berdeham dan mulai menjulurkan tangannya, "Hai, aku Arsen, sahabat kecilmu. Kau pasti lupa padaku, ya?"
Flo mencoba menggali ingatan Karen. Tak hanya itu, ia pun mencoba mengingat kembali isi novel ini. Ia pun teringat pada bagian awal dan akhir, saat tubuh Karen di bawa ke rumah sakit dan tak tertolong. Ya, nama Arsen tertera di sana.
Pria ini juga, yang menangisi kematian Karen. Hal gila lainnya adalah, Flo berniat menjodohkan Karen pada Dokter muda ini. Senyumnya tercipta di wajah cantik Karen.
"Hei! Ingat tidak?" tanya Arsen saat Karen hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaannya.
"Eh, iya. Aku ingat," jawab Flo tergagap.
"Ku pikir kamu melupakanku. Tante saja tak mengenaliku," ucapnya.
Flo mengangguk. Saat pemakaman Karen, pria ini hadir dan tak menunjukkan wajahnya pada Astrid. Namun, sang penulis menggambarkan betapa sakitnya hati pria ini saat kehilangan sosok Karen.
"Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau menghilang begitu saja?" tanya Flo.
"Aku harus belajar. Agar cita-citaku tercapai kan?" Flo tertawa mendengar ucapan Arsen.
Arsen mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Flo. Sebelah alis Flo terangkat dan menatap Arsen bingung. Pria itu terkekeh melihat Flo.
Setelah menulis deretan angka ke dalam ponsel milik Arsen, Flo mengembalikannya. Arsen menyimpan nomor itu dan mencoba menghubungi nomor tadi.
"Itu nomorku. Simpan ya. Aku masih ada pasien. Nanti kita bertemu lagi," ucap Arsen.
Flo mengangguk. Arsen menepuk bahu Karen dan berlalu. Saat pintu ruangan itu terbuka, menampakkan Astrid yang berdiri di depan pintu. Wanita paruh baya itu tersenyum pada Arsen.
"Dasar anak nakal. Tante pikir kau tidak akan memperkenalkan dirimu?" Arsen mengerjap cepat.
"Tante mengingatmu. Tapi, sepertinya kau sengaja," goda Astrid.
Flo melihat Arsen yang menggaruk tengkuknya salah tingkah. "Maaf, Tante," ucapnya.
"Hukum aja, Bun," ucap Flo seraya tersenyum.
Astrid tersenyum. "Kapan-kapan, datanglah ke rumah. Tante akan masak yang spesial untukmu." Astrid menepuk lengan Arsen.
__ADS_1
"Ah, aku jadi tidak enak, Tan," ucapnya.
"Tidak perlu sungkan. Tante sudah menganggapmu seperti putra Tante sendiri." Arsen mengangguk.
Setelahnya, Arsen berpamitan meninggalkan mereka. Astrid masuk dan membereskan barang-barang milik Karen.
***
Setelah beristirahat selama satu minggu, kini Karen kembali melanjutkan kuliahnya. Ia harus mengejar ketertinggalan satu minggu ini. Beruntung, Flo memiliki otak cerdas, hingga gadis itu mampu menolong Karen.
Tengah asyik menyalin catatan seorang teman, Farel duduk di hadapannya. Flo hanya menatap sekilas dan melanjutkan pekerjaannya. Farel terlihat menopang dagu. Membuat Flo risih dan ingin memukul pria itu.
"Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan, silahkan pergi!" usir Flo.
Mata gadis itu masih terlihat fokus dengan catatan di hadapannya. Farel mengambil pulpen di tangan Flo dan membantu gadis itu menulis catatan. Rasa kesal, seketika memenuhi hati Flo.
Kembali Flo merebut pulpen itu dan menatap Farel tajam, "Jangan ganggu aku!" Flo membereskan barang-barangnya dan berniat keluar dari kelas.
Dengan langkah cepat, ia segera keluar dari ruangan itu. Farel dengan cepat pula menarik lengan Karen, hingga gadis itu berbalik. Flo membelalakkan mata saat Farel sudah berada di depannya.
"Lepas!" desis Flo.
"Tidak akan!" jawab farel tegas.
"Karen." Suara itu mengalihkan tatapan Flo dari farel.
Seketika ia tersenyum melihat Arsen. Ia menarik tangannya kuat dari genggaman Farel. Kemudian, menghampiri Arsen. Farel mengernyitkan dahi melihat pria itu. Apa lagi, ia terlihat begitu tampan dan gagah.
Semua mahasiswi mulai memperhatikan ke arah Karen dan pria itu. Ada rasa tidak suka yang menjalar di seluruh tubuh Farel. Dadanya terasa panas. Tangan pria itu pun, mengepal kuat, hingga buku-buku jarinya memutih.
Karen yang terlihat akrab dan tertawa dengan pria itu, membuat hati Farel semakin terluka. Bayangan kesalahannya dulu pun terlintas. Pria itu mengingat bagaimana ia mengusir Karen, untuk menjauh dari kehidupannya dan Gisel.
Sungguh, kini ia merasa tengah menjilat ludahnya sendiri. Ia baru menyadari, jika ruang hatinya, sudah ditempati oleh Karen.
Aku harus bisa meluluhkan Karen.
***
genre ini bikin aku kesel dan pen nangis😭😭😭😵😵😵 pusing mikirin alur cerita. Maaf ya guys, upnya jadi terkesan suka². Karena memang aku kesulitan 🤧🤧
__ADS_1
sampai jumpa lagi ya.
sekali lagi, maafkan aku🙏🤧