
"Ibu ... Ayah ... Lebih baik kalian bercerai saja, lalu menikah dengan seseorang yang memiliki anak laki-laki yang lebih tua dariku. Aku ini sangat ingin memiliki kakak."
Hal itu merupakan hal terkonyol yang pernah kukatakan. Ibu dan ayahku marah besar akibat perkataan itu. Salahku memang bertingkah egois seperti itu.
Namaku Yuuji dan aku memiliki seorang adik, tapi aku sama sekali tidak menyayanginya. Adikku sangat menyebalkan dan sangat menyusahkan. Sejak kelahirannya, kasih sayang yang diberikan kepadaku pun terbagi dan aku merasa mereka lebih memperhatikan adikku dibanding aku. Bahkan, ketika ia telah beranjak dewasa.
Aku sangat membenci adikku, entah kenapa ibu dan ayahku lebih percaya kepada adikku dibandingkan aku. Saat adikku merusak sesuatu dia akan melempar kesalahannya padaku, lalu ibu dan ayah akan memarahiku dan tidak mau mendengar argumentasiku. Sungguh sangat mengesalkan. Aku juga ingin diperlakukan seperti itu, tetapi itu terlihat sangat mustahil. Mulai dari sana aku menginginkan seorang kakak laki-laki, seorang kakak yang akan melindungiku dan menyayangiku.
Ibu juga sangat membebaskan adikku, sebaliknya dia terlalu menuntutku. Ibu akan marah jika aku tidak mendapat peringkat pertama di kelas, tetapi hal tersebut tidak berlaku untuk adikku yang bahkan tidak pernah masuk ke-10 peringkat terbesar.
Besok adalah ulang tahunku dan adikku. Aku sangat berharap mendapatkan hal baik besok, eeperti hadiah yang spesial. Namun, ibu dan ayahku sepertinya hanya memperdulikan adikku. Mereka menyiapkan tiga tiket ke taman hiburan untuk mereka bertiga sebagai hadiah ulang tahun untuk adikku, sedangkan aku hanya disuruh untuk menjaga rumah.
Keesoka harinya, aku hanya bisa melihat ketika mobil mereka meninggalkan rumah menuju ke taman hiburan dari kamarku yang ada di atas dua. Merengek ikut pun tidak akan berguna. Jadi, aku hanya bisa diam saja. Bosan rasanya hanya di rumah seharian. Aku pun memasang headset, kemudian menyetel lagu kesukaanku dengan suara yang tidak terlalu besar agar dapat mendengar suara dari luar seraya merapikan kamarku. Setidaknya melakukan ini dapat mengusir rasa bosanku. Setelah itu, aku memutuskan untuk memasak makan siang dan merapikan ruangan lainnya. Perlu waktu beberapa jam untuk melakukan semua itu dan itu sangag melelahkan. Namun, aku cukup menikmatinya. Untuk melepas lelah, aku pun berbaring di sofa sambio menonton televisi dan makan camilan. Ketika sedang asyik menonton televisi, muncul suara ketukan pintu yang sangat mengganggu diriku. Aku cepat-cepat berlari ke arah pintu dan membukakan pintu.
Di depan pintu berdiri seorang laki-laki yang terlihat seumuran denganku. Namun, dia itu cukup tinggi hingga aku harus sedikit menengadah untuk melihat wajahnya. Dia membawa sebuah koper yang cukup besar yang sepertinya berisi pakaian-pakaiannya. Dia langsung mengelus kepalaku dengan tangan besarnya. Rasanya sangat nyaman dan aku seakan hanyut oleh sensasi ini. Tangannya mengelusku dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Dik, kakak pulang." ucap laki-laki itu.
"Kakak? Apa maksudnya?" ucapku kebingungan.
"Aku adalah kakakmu, maaf kakak sudah lama tidak pulang." ucap laki-laki itu.
"Tunggu! Jangan bercanda! Aku ini adalah anak sulung." kesalku.
"Tidak ... Aku serius." ucap laki-laki itu, "boleh aku masuk?"
__ADS_1
"Ah ... Maaf karena kurang sopan. Seharusnya aku mempersilahkanmu masuk sejak tadi." ucapku.
Lelaki itu pun masuk ke rumah.
"Bisa perlihatkan di mana kamarmu?" tanyanya.
"Iya." jawabku singkat.
Kami kemudian berjalan ke kamarku yang berada di lantai atas. Aku masih tidak percaya keinginanku ini dapat terkabul. Aku sangat gugup sekaligus senang dengan kehadirannya.
"Ah ... Kamarmu cukup luas dan cukup rapi, kau sepertinya sangat membersihkannya." ucap lelaki itu, "boleh aku tidur di sini? Lagipula kasur cukup untuk dua orang."
"Ba ... Ba ... Baiklah." jawabku terbata-bata.
Dia lalu mengeluarkan semua barang-barangnya yang ada di dalam koper. Setelah meletakkan barang-barangnya, kami pun turun ke lantai bawah dan pergi ke dapur. Dia mengambil piring dan mengambil nasi serta lauk-pauk, kemudian makan. Seraya dia makan, kami juga mengobrol. Setelah itu, kami ke ruang keluarga. Seharian kami berbincang tentang banyak hal tidak terasa hari pun mulai malam. Ibu dan ayah belum pulang. Jadi, kami memutuskan untuk tidur duluan. Karena ibu dan ayah memegang kunci cadangan, aku pun mengunci pintu agar tidak ada yang bisa masuk ke rumah kami.
Keesokan harinya, kakakku tidak ada di kasurku. Aku berlari cepat ke lantai bawah untuk mencarinya. Aku mencari ke seluruh penjuru rumah. Namun, aku tidak bisa menemukannya. Aku berteriak -teriak memanggilnya, tetapi tetap saja tidak ada jawaban darinya. Ibu, ayah, dan adikku sampai terbangun akibar teriakkanku, kemudian mereka berlari menuruni tangga.
"Hei ... Kenapa kau berisik sekali? Ini masih pagi." geram ayahku.
"Ayah, Ibu, Dik, apa kalian melihat di mana kakak?" tanyaku.
"Siapa yang kau maksud kakak? Kau itu anak sulung." geram ayahku.
Tiba-tiba pintu rumah terbuka dan kulihat kakakku masuk ke rumah.
__ADS_1
"Kakak ... Dari mana saja kau?" tanyaku khawatir.
"Siapa yang kau ajak bicara itu?" kesal ibuku.
"Aku berbicara dengan kakak, lihat ini dia!" ucapku sambil menunjuk ke arah kakak.
"Apa yang kau maksud? Sudah, kembalilah ke kamarmu!" kesal ayahku.
"Dasar gila!" cemooh adikku.
Aku bersama kakakku pun naik ke lantai atas dan masuk ke kamar kami.
"Kakak ... Dari mana saja kau itu?" tanyaku lagi.
"Kau tahu, ada tempat di mana kita berdua bisa bahagia, hanya kita berdua. Apa kau mau ikut bersama kakak ke tempat itu?" tanya kakakku.
"Kemana pun itu, aku akan ikut asal bersamamu, Kak." jawabku.
Keesokan harinya, kudengar suara sirine ambulan di depan rumahku. Pintu kamarku terbuka, ibu membawa dua orang berseragam serba putih ke dalam kamarku, kemudian menarikku ke luar dari kamarku hingga ke mobil ambulan tersebut. Mobil itu membawaku ke sebuah gedung yang sangat besar. Ketika sampai, mereka kemudian membawaku ke sebuah ruangan dan mengunciku di sana.
"Hei ... Maaf jika cara membawamu ke sini agak kasar."
Sebuah suara muncul dari arah belakangku, suara yang sangat kukenali. Itu adalah suara kakak tercintaku.
"Kakak! Apa di sini tempat yang kau maksud itu?" tanyaku.
__ADS_1
"Kita akan bahagia di sini selamanya." ucap kakakku.
Dia berjalan ke arahku, kemudia memelukku erat. Gedung ini dipenuhi oleh orang-orang gila, aku sangat merasa tidak nyaman berada di sini. Namun, asalkan ada kakakku, aku akan tetap bahagia.