Mi Tesoro : Creepypasta

Mi Tesoro : Creepypasta
Sutradara Film Pendek


__ADS_3

   Namaku Ina Yumi, berumur 17 tahun, dan sedang duduk di bangku kelas 12


di sebuah sekolah menengah atas. Sebenarnya aku sama seperti siswa-siswi


lainnya, yang membedakan hanya aku suka sekali dengan hal-hal horor dan sadis.


Aku tidak tahu apa yang salah dengan itu, tapi banyak sekali yang memanggilku


dengan julukan-julukan aneh, seperti Gadis Horor, Psikopat, Gadis Gila, dan


lainnya. Tidak hanya itu, beberapa orang bahkan menjauhiku.


   Hampir setiap hari aku menerima hal seperti itu. Pada awalnya aku tidak


menghiraukannya, tapi lama-kelamaan hal itu membuatku risih. Aku sudah mencoba


melaporkan ini ke kepala sekolah, tapi kepala sekolah sama sekali tidak


menggubris laporanku dan hanya menganggap itu sebagai candaan dari mereka saja.


   Hari ini sekolah dipulangkan lebih awal karena ada berita bahwa kepala


sekolah telah mati dan hari ini akan dimakamkan. Guru-guru memutuskan untuk


melayat ke rumah kepala sekolah. Aku bukannya senang dengan kematian kepala


sekolah, aku hanya senang sekolah dipulangkan lebih awal sehingga waktu untuk


menonton film pun lebih banyak. Aku segera memasukkan barang-barangku ke tas


dan segera pulang. Aku mengunduh film baru di HP-ku dari situs yang sering


kukunjungi beberapa hari yang lalu, tapi aku belum menontonnya. Jadi, ketika


sampai di rumah aku akan langsung menontonnya.


   Di situs itu ada banyak sekali orang yang mengunggah video sadis di akun


mereka yang entah dari mana asalnya, tapi hanya satu orang yang selalu


kukunjungi akunnya. Dia selalu menampilkan video secara siaran langsung, tapi


aku tidak pernah sempat menontonnya. Jadi, aku akan mengunduh videonya dan


menontonnya nanti.


   Nama samaran dari si pemilik akun adalah Yumina, dia juga yang menyiksa


orang di setiap videonya. Ciri khas dari Yumina adalah di penghujung video, dia


akan memutilasi beberapa bagian tubuh korban yang sudah mati, lalu memasak


daging korbannya. Dia menyisakan kepala korban untuk dikirim ke keluarganya. Dia


adalah buruan polisi sejak lama. Namun, tidak ada yang dapat mengetahui


identitas aslinya karena dia selalu menggunakan topeng di setiap videonya.


   Aku sedikit berlari agar bisa cepat sampai di rumah, sesekali ada siswa


yang menyapaku dari jauh dengan julukan aneh. Aku sempat berhenti untuk


berbicara dengan orang itu.


   “Hey ... Bisa kau berhenti memanggilku dengan sebutan aneh itu, aku ini


punya nama. Kau pasti juga tidak suka jika aku melakukan hal yang sama


denganmu,” kesalku padanya, tapi aku juga berusaha tetap tenang.


   “Ouuch ... Si Gadis Psikopat sedang marah sekarang, nyawaku sedang dalam


bahaya sekarang,” ucapnya.


   Aku sedikit mendekat ke arahnya, lalu aku memberikan pukulan yang keras


ke wajahnya itu. Darah mulai keluar dari hidungnya. Dia mulai merintih


kesakitan, tapi aku cukup senang melihatnya yang seperti itu.


   “Hah ... Apa yang kulihat ini! Apa kau sedang merintih kesakitan? Apa


kau sedang ketakutan? Dengan nyali seperti ini kenapa kau berani mengolok-olok


orang lain!” ucapku sedikit menghinanya.


   “Tunggu! Ina Yumi, aku hanya bercanda!” ucapnya sambil membendung darah


yang keluar dari hidungnya.


   “Apanya yang bercanda! Bercanda itu membuat orang lain tertawa, bukan


membuat orang lain sakit hati,” kesalku padanya.


   “Ina Yumi, ampun.” Ucapnya, dia membungkuk memohon ampun padaku.


   “Kenapa kau sekarang memanggilku dengan nama! Bukan seperti itu kau memanggilku


tadi,” kesalku, aku menggapainya dan mencekik lehernya sekuat tenagaku.


   Wajahnya mulai memucat, lalu aku melepaskanya. Dia langsung berlari


menjauhiku, aku sangat senang ketika melihat ekspresinya. Aku kemudian


melanjutkan perjalanan ke rumahku. Aku mempercepat langkahku karena tidak sabar


untuk menonton film.


   Setelah sampai di rumah, aku langsung masuk ke kamarku, kemudian menaruh


tasku, lalu mengganti baju. Untuk mendukung suasana, aku menutup semua tirai

__ADS_1


yang ada dan mematikan lampu. Aku juga menyiapkan beberapa camilan untuk


menemaniku menonton. Oh iya, aku ini tinggal sendiri di rumah karena kedua


orang tuaku telah meninggal, jadi tidak ada seorang pun yang akan menggangguku.


   Aku menghubungkan HP dengan laptopku agar aku bisa menonton di layar


yang lebih besar. Sebelumnya, aku memindahkan berkasnya terlebih dahulu ke


laptopku, lalu aku pun mulai memutar videonya.


   Video kali ini lebih sadis dari biasanya. Pada awal video diperlihatkan


seorang lelaki yang dirantai di atas meja dengan hanya memakai celana di atas


lutut. Yumina mulai menguliti seluruh tubuh lelaki itu, lalu dia mulai


menaburkan garam dan meneteskan perasan air jeruk nipis ke daging si lelaki. Si


lelaki menjerit kesakitan, tapi Yumina hanya tertawa saja melihat si lelaki yang


seperti itu.


   Setelah itu, Yumina mulai mencabuti kuku-kuku lelaki itu satu per satu,


lalu memaku tangan dan jarinya. Tidak berhenti di sana, Yumina kemudian


menusukkan jarum-jarum pentul ke seluruh tubuh si lelaki. Yumina juga beberapa


kali menusuk si lelaki dengan pisau, tapi bukan di bagian vitalnya agar si lelaki


tidak langsung mati. Darah mulai mengucur keluar dari tubuh si lelaki.


   Setelah itu, Yumina berhenti dan membiarkan lelaki itu. Video tidak


berhenti, hanya Yumina yang berhenti menyiksa si lelaki. Keadaan si lelaki


tampak sangat menyedihkan sekarang. Si lelaki menangis kesakitan dan beberapa


kali ia meminta Yumina untuk membunuhnya.


   “Kau, langsung bunuh saja aku, aku tidak kuat terus menahan siksaan


darimu,” pinta si lelaki.


   “Membunuh? Kenapa aku harus melakukan itu padamu? Bukan kah aku ini hanya


bercanda saja denganmu. Tanpa kubunuh pun, kau akan mati dengan sendirinya


akibat kehabisan darah. Jadi, tunggu sebentar lagi, Pak. Aku ini sedang mencoba


bersikap baik dengan memberimu waktu menikmati sisa-sisa hidupmu,” ucap Yumina.


   “Tapi ... Lebih baik aku mati daripada merasakan luka seperti ini,”


rengeknya.


   “Kau ini, berisik sekali! Kita ini sedang bercanda, jadi tertawalah!


   30 menit berlalu, akhirnya lelaki itu pun mati kehabisan darah. Yumina


kemudian mulai memutilasi mayatnya menjadi potongan kecil, lalu memasaknya.


Setelah itu, dia menunjukkan hasil masakannya ke kamera dan video pun berakhir.


   Keesokan harinya, gosip mulai beredar tentang aku yang memukuli seorang


siswa hanya karena mencari obyek pelampiasan amarah. Gosip itu tentu saja


salah, tapi tidak akan ada yang percaya denganku meskipun aku menjelaskan semua


yang terjadi.


   Ketika istirahat, aku dipanggil ke ruang bimbingan konseling bersama


siswa yang kupukul kemarin. Di ruang BK, orang tua siswa tersebut telah


menunggu. Setelah itu, guru mulai bertanya kepada siswa tersebut bagaimana


kronologi kejadiannya.


   “Nak, bagaimana kronologinya? Ayo, ceritakan pada ibu!” ucap guru BK.


   “Begini, Bu, kemarin aku melihat Ina Yumi berjalan dengan wajah kesal.


Jadi, aku menghampirinya dan mencoba bertanya apa yang terjadi, tapi dia malah


mendorongku ke tanah, lalu mulai memukuliku sambil marah-marah tidak jelas,”


cerita siswa itu.


   “Ina Yumi, apakah itu benar?” tanya guru padaku.


   “Tidak, Bu, kemarin dia itu mengolok-olokku,


sebenarnya ini telah berlangsung sejak lama. Aku sudah pernah menceritakan hal


ini kepada kepala sekolah, tapi kepala sekolah sama sekali tidak


menggubrisnya,” jelasku.


   “Apa benar kau memukulnya?” tanya guru lagi.


   “Iya, Bu,” jawabku.


   “Ina Yumi, hal yang seperti itu tidak dibenarkan untuk alasan apapun,”


ujar guru itu.


   “Jangan bercanda!” bentakku pada guru itu.

__ADS_1


   “Tunggu, Bu! Dia itu bohong soal ceritanya,” ucap siswa itu.


   “Jadi, yang manakah yang berkata jujur,” tanya guru itu.


   “Tentu saja aku,” jawab siswa itu.


   “Benar, Bu, anakku ini adalah anak baik. Jadi, tidak mungkin dia akan


mengolok-olok orang lain,” tambah ibu siswa itu.


   “Baiklah, Kalian Berdua, bermaafanlah!” ucap guru itu.


   “Najis!” bentakku, aku menarik kerah baju


guru itu, kemudian mendekatkan telinganya ke mulutku. “Membusuklah di neraka!”


   “Ina Yumi, jangan kurang ajar dengan gurumu!” ucapnya.


   “Baru sekarang kalian bertingkah seperti guru!” bentakku, “oh iya, apakah


ada CCTV di sekolah ini? Jika iya, kenapa tidak kita lihat saja kejadian


sebenarnya dari rekaman CCTV.”


   “Ada, ayo, ikut ibu ke ruang guru!” ujar guru.


   Siswa itu mulai gemetar, dia menolak ke ruang guru dengan berbagai


alasan, tapi ibunya memaksanya untuk membuktikan bahwa anaknya tidak bersalah.


Setelah sampai di ruang guru, siswa itu makin gemetaran, lalu dia menangis dan


mengakui segala perbuatannya. Masalah ini pun selesai, lalu aku dan siswa itu


serta ibunya meninggalkan ruang guru. Setelah sampai di luar ruang guru, aku


menghampiri ibu siswa itu, lalu menarik kerah bajunya dan mendekatkan


telinganya ke mulutku.


   “Jika kau tidak punya pengalaman melatih binatang, maka jangan pernah


memiliki anak, ******,” hinaku pada ibu si siswa.


   Aku pergi menuju kelas sambil berusaha melupakan semua yang terjadi. Ada


niat untuk membersihkan namaku, tapi apakah akan ada yang percaya padaku? Sejak


hari itu, tidak ada lagi seorang pun yang bicara padaku atau pun mengejekku.


Aku tidak keberatan dengan hal itu, tapi aku sedikit terganggu karena mereka


melakukannya karena takut aku akan menyakiti mereka. Seharian ini aku hanya


diam di mejaku sambil sesekali memainkan HP-ku dan mengunduh beberapa film


horor dan video Yumina yang terbaru.


   Setelah sekolah selesai, seperti biasa aku langsung cepat-cepat pulang


ke rumah untuk menonton video dari belahan jiwaku. Setelah sampai di rumah, aku


langsung masuk ke kamarku, kemudian mengganti pakaianku, lalu bersiap-siap


untuk menonton film. Di video kali ini, Yumina menyuguhkan hal baru untuk para


pengunjung setianya.


   Pada awal video ditampilkan seorang laki-laki yang kelihatannya seumuran


denganku di rantai di sebuah kursi. Setelah itu, Yumina memotong salah satu


tangan laki-laki itu, kemudian memasaknya di samping laki-laki itu. Laki-laki


itu menangis dengan kencang seraya melihat Yumina memasak daging tangannya.


Setelah selesai memasak, lalu Yumina menghidangkannya di piring, kemudian


mengambil kursi dan duduk di sebelah laki-laki itu.


   “Hey, Kau pasti lapar! Jadi, aku akan menyuapimu makanan yang enak ini,”


ucap Yumina seraya memotong kecil daging tersebut.


   “Tidak, aku tidak mau memakannya,” teriaknya dengan air mata yang terus


berjatuhan.


   “Kenapa?” tanya Yumina dengan lembut, Yumina menatap laki-laki itu. “Apa


semenjijikkan itu dirimu.”


   “Tidak, tolong lepaskan aku dan kembalikan ke keluargaku,” pintahnya


seraya menangis.


   “Tenang saja! Kau akan kukembalikan ke keluargamu,” ucap Yumina,


“sekarang makanlah! Jika tidak, akan kubuat tidak seorang pun mengenali mayatmu.”


   “Ba-baiklah,” ucapnya terbata-bata.


   Yumina mulai menyuapi laki-laki itu hingga semua daging yang ia masak


habis. Laki-laki itu tak kuasa menahan air matanya seraya memakan dagingnya


sendiri. Setelah itu, Yumina menaruh piring tersebut, lalu berdiri di belakang


laki-laki itu, kemudian menebas lehernya hingga putus. Selanjutnya, seperti


biasa Yumina memutilasi korbannya, lalu memasak dagingnya dan video berakhir.

__ADS_1


   “Akh ... Aku tidak pernah bosan dengan hal sadis,” ucapku, “oh iya,


kira-kira dengan siapa aku akan membuat video untuk diunggah selanjutnya.”


__ADS_2