
Namaku Ina Yumi, berumur 17 tahun, dan sedang duduk di bangku kelas 12
di sebuah sekolah menengah atas. Sebenarnya aku sama seperti siswa-siswi
lainnya, yang membedakan hanya aku suka sekali dengan hal-hal horor dan sadis.
Aku tidak tahu apa yang salah dengan itu, tapi banyak sekali yang memanggilku
dengan julukan-julukan aneh, seperti Gadis Horor, Psikopat, Gadis Gila, dan
lainnya. Tidak hanya itu, beberapa orang bahkan menjauhiku.
Hampir setiap hari aku menerima hal seperti itu. Pada awalnya aku tidak
menghiraukannya, tapi lama-kelamaan hal itu membuatku risih. Aku sudah mencoba
melaporkan ini ke kepala sekolah, tapi kepala sekolah sama sekali tidak
menggubris laporanku dan hanya menganggap itu sebagai candaan dari mereka saja.
Hari ini sekolah dipulangkan lebih awal karena ada berita bahwa kepala
sekolah telah mati dan hari ini akan dimakamkan. Guru-guru memutuskan untuk
melayat ke rumah kepala sekolah. Aku bukannya senang dengan kematian kepala
sekolah, aku hanya senang sekolah dipulangkan lebih awal sehingga waktu untuk
menonton film pun lebih banyak. Aku segera memasukkan barang-barangku ke tas
dan segera pulang. Aku mengunduh film baru di HP-ku dari situs yang sering
kukunjungi beberapa hari yang lalu, tapi aku belum menontonnya. Jadi, ketika
sampai di rumah aku akan langsung menontonnya.
Di situs itu ada banyak sekali orang yang mengunggah video sadis di akun
mereka yang entah dari mana asalnya, tapi hanya satu orang yang selalu
kukunjungi akunnya. Dia selalu menampilkan video secara siaran langsung, tapi
aku tidak pernah sempat menontonnya. Jadi, aku akan mengunduh videonya dan
menontonnya nanti.
Nama samaran dari si pemilik akun adalah Yumina, dia juga yang menyiksa
orang di setiap videonya. Ciri khas dari Yumina adalah di penghujung video, dia
akan memutilasi beberapa bagian tubuh korban yang sudah mati, lalu memasak
daging korbannya. Dia menyisakan kepala korban untuk dikirim ke keluarganya. Dia
adalah buruan polisi sejak lama. Namun, tidak ada yang dapat mengetahui
identitas aslinya karena dia selalu menggunakan topeng di setiap videonya.
Aku sedikit berlari agar bisa cepat sampai di rumah, sesekali ada siswa
yang menyapaku dari jauh dengan julukan aneh. Aku sempat berhenti untuk
berbicara dengan orang itu.
“Hey ... Bisa kau berhenti memanggilku dengan sebutan aneh itu, aku ini
punya nama. Kau pasti juga tidak suka jika aku melakukan hal yang sama
denganmu,” kesalku padanya, tapi aku juga berusaha tetap tenang.
“Ouuch ... Si Gadis Psikopat sedang marah sekarang, nyawaku sedang dalam
bahaya sekarang,” ucapnya.
Aku sedikit mendekat ke arahnya, lalu aku memberikan pukulan yang keras
ke wajahnya itu. Darah mulai keluar dari hidungnya. Dia mulai merintih
kesakitan, tapi aku cukup senang melihatnya yang seperti itu.
“Hah ... Apa yang kulihat ini! Apa kau sedang merintih kesakitan? Apa
kau sedang ketakutan? Dengan nyali seperti ini kenapa kau berani mengolok-olok
orang lain!” ucapku sedikit menghinanya.
“Tunggu! Ina Yumi, aku hanya bercanda!” ucapnya sambil membendung darah
yang keluar dari hidungnya.
“Apanya yang bercanda! Bercanda itu membuat orang lain tertawa, bukan
membuat orang lain sakit hati,” kesalku padanya.
“Ina Yumi, ampun.” Ucapnya, dia membungkuk memohon ampun padaku.
“Kenapa kau sekarang memanggilku dengan nama! Bukan seperti itu kau memanggilku
tadi,” kesalku, aku menggapainya dan mencekik lehernya sekuat tenagaku.
Wajahnya mulai memucat, lalu aku melepaskanya. Dia langsung berlari
menjauhiku, aku sangat senang ketika melihat ekspresinya. Aku kemudian
melanjutkan perjalanan ke rumahku. Aku mempercepat langkahku karena tidak sabar
untuk menonton film.
Setelah sampai di rumah, aku langsung masuk ke kamarku, kemudian menaruh
tasku, lalu mengganti baju. Untuk mendukung suasana, aku menutup semua tirai
__ADS_1
yang ada dan mematikan lampu. Aku juga menyiapkan beberapa camilan untuk
menemaniku menonton. Oh iya, aku ini tinggal sendiri di rumah karena kedua
orang tuaku telah meninggal, jadi tidak ada seorang pun yang akan menggangguku.
Aku menghubungkan HP dengan laptopku agar aku bisa menonton di layar
yang lebih besar. Sebelumnya, aku memindahkan berkasnya terlebih dahulu ke
laptopku, lalu aku pun mulai memutar videonya.
Video kali ini lebih sadis dari biasanya. Pada awal video diperlihatkan
seorang lelaki yang dirantai di atas meja dengan hanya memakai celana di atas
lutut. Yumina mulai menguliti seluruh tubuh lelaki itu, lalu dia mulai
menaburkan garam dan meneteskan perasan air jeruk nipis ke daging si lelaki. Si
lelaki menjerit kesakitan, tapi Yumina hanya tertawa saja melihat si lelaki yang
seperti itu.
Setelah itu, Yumina mulai mencabuti kuku-kuku lelaki itu satu per satu,
lalu memaku tangan dan jarinya. Tidak berhenti di sana, Yumina kemudian
menusukkan jarum-jarum pentul ke seluruh tubuh si lelaki. Yumina juga beberapa
kali menusuk si lelaki dengan pisau, tapi bukan di bagian vitalnya agar si lelaki
tidak langsung mati. Darah mulai mengucur keluar dari tubuh si lelaki.
Setelah itu, Yumina berhenti dan membiarkan lelaki itu. Video tidak
berhenti, hanya Yumina yang berhenti menyiksa si lelaki. Keadaan si lelaki
tampak sangat menyedihkan sekarang. Si lelaki menangis kesakitan dan beberapa
kali ia meminta Yumina untuk membunuhnya.
“Kau, langsung bunuh saja aku, aku tidak kuat terus menahan siksaan
darimu,” pinta si lelaki.
“Membunuh? Kenapa aku harus melakukan itu padamu? Bukan kah aku ini hanya
bercanda saja denganmu. Tanpa kubunuh pun, kau akan mati dengan sendirinya
akibat kehabisan darah. Jadi, tunggu sebentar lagi, Pak. Aku ini sedang mencoba
bersikap baik dengan memberimu waktu menikmati sisa-sisa hidupmu,” ucap Yumina.
“Tapi ... Lebih baik aku mati daripada merasakan luka seperti ini,”
rengeknya.
“Kau ini, berisik sekali! Kita ini sedang bercanda, jadi tertawalah!
30 menit berlalu, akhirnya lelaki itu pun mati kehabisan darah. Yumina
kemudian mulai memutilasi mayatnya menjadi potongan kecil, lalu memasaknya.
Setelah itu, dia menunjukkan hasil masakannya ke kamera dan video pun berakhir.
Keesokan harinya, gosip mulai beredar tentang aku yang memukuli seorang
siswa hanya karena mencari obyek pelampiasan amarah. Gosip itu tentu saja
salah, tapi tidak akan ada yang percaya denganku meskipun aku menjelaskan semua
yang terjadi.
Ketika istirahat, aku dipanggil ke ruang bimbingan konseling bersama
siswa yang kupukul kemarin. Di ruang BK, orang tua siswa tersebut telah
menunggu. Setelah itu, guru mulai bertanya kepada siswa tersebut bagaimana
kronologi kejadiannya.
“Nak, bagaimana kronologinya? Ayo, ceritakan pada ibu!” ucap guru BK.
“Begini, Bu, kemarin aku melihat Ina Yumi berjalan dengan wajah kesal.
Jadi, aku menghampirinya dan mencoba bertanya apa yang terjadi, tapi dia malah
mendorongku ke tanah, lalu mulai memukuliku sambil marah-marah tidak jelas,”
cerita siswa itu.
“Ina Yumi, apakah itu benar?” tanya guru padaku.
“Tidak, Bu, kemarin dia itu mengolok-olokku,
sebenarnya ini telah berlangsung sejak lama. Aku sudah pernah menceritakan hal
ini kepada kepala sekolah, tapi kepala sekolah sama sekali tidak
menggubrisnya,” jelasku.
“Apa benar kau memukulnya?” tanya guru lagi.
“Iya, Bu,” jawabku.
“Ina Yumi, hal yang seperti itu tidak dibenarkan untuk alasan apapun,”
ujar guru itu.
“Jangan bercanda!” bentakku pada guru itu.
__ADS_1
“Tunggu, Bu! Dia itu bohong soal ceritanya,” ucap siswa itu.
“Jadi, yang manakah yang berkata jujur,” tanya guru itu.
“Tentu saja aku,” jawab siswa itu.
“Benar, Bu, anakku ini adalah anak baik. Jadi, tidak mungkin dia akan
mengolok-olok orang lain,” tambah ibu siswa itu.
“Baiklah, Kalian Berdua, bermaafanlah!” ucap guru itu.
“Najis!” bentakku, aku menarik kerah baju
guru itu, kemudian mendekatkan telinganya ke mulutku. “Membusuklah di neraka!”
“Ina Yumi, jangan kurang ajar dengan gurumu!” ucapnya.
“Baru sekarang kalian bertingkah seperti guru!” bentakku, “oh iya, apakah
ada CCTV di sekolah ini? Jika iya, kenapa tidak kita lihat saja kejadian
sebenarnya dari rekaman CCTV.”
“Ada, ayo, ikut ibu ke ruang guru!” ujar guru.
Siswa itu mulai gemetar, dia menolak ke ruang guru dengan berbagai
alasan, tapi ibunya memaksanya untuk membuktikan bahwa anaknya tidak bersalah.
Setelah sampai di ruang guru, siswa itu makin gemetaran, lalu dia menangis dan
mengakui segala perbuatannya. Masalah ini pun selesai, lalu aku dan siswa itu
serta ibunya meninggalkan ruang guru. Setelah sampai di luar ruang guru, aku
menghampiri ibu siswa itu, lalu menarik kerah bajunya dan mendekatkan
telinganya ke mulutku.
“Jika kau tidak punya pengalaman melatih binatang, maka jangan pernah
memiliki anak, ******,” hinaku pada ibu si siswa.
Aku pergi menuju kelas sambil berusaha melupakan semua yang terjadi. Ada
niat untuk membersihkan namaku, tapi apakah akan ada yang percaya padaku? Sejak
hari itu, tidak ada lagi seorang pun yang bicara padaku atau pun mengejekku.
Aku tidak keberatan dengan hal itu, tapi aku sedikit terganggu karena mereka
melakukannya karena takut aku akan menyakiti mereka. Seharian ini aku hanya
diam di mejaku sambil sesekali memainkan HP-ku dan mengunduh beberapa film
horor dan video Yumina yang terbaru.
Setelah sekolah selesai, seperti biasa aku langsung cepat-cepat pulang
ke rumah untuk menonton video dari belahan jiwaku. Setelah sampai di rumah, aku
langsung masuk ke kamarku, kemudian mengganti pakaianku, lalu bersiap-siap
untuk menonton film. Di video kali ini, Yumina menyuguhkan hal baru untuk para
pengunjung setianya.
Pada awal video ditampilkan seorang laki-laki yang kelihatannya seumuran
denganku di rantai di sebuah kursi. Setelah itu, Yumina memotong salah satu
tangan laki-laki itu, kemudian memasaknya di samping laki-laki itu. Laki-laki
itu menangis dengan kencang seraya melihat Yumina memasak daging tangannya.
Setelah selesai memasak, lalu Yumina menghidangkannya di piring, kemudian
mengambil kursi dan duduk di sebelah laki-laki itu.
“Hey, Kau pasti lapar! Jadi, aku akan menyuapimu makanan yang enak ini,”
ucap Yumina seraya memotong kecil daging tersebut.
“Tidak, aku tidak mau memakannya,” teriaknya dengan air mata yang terus
berjatuhan.
“Kenapa?” tanya Yumina dengan lembut, Yumina menatap laki-laki itu. “Apa
semenjijikkan itu dirimu.”
“Tidak, tolong lepaskan aku dan kembalikan ke keluargaku,” pintahnya
seraya menangis.
“Tenang saja! Kau akan kukembalikan ke keluargamu,” ucap Yumina,
“sekarang makanlah! Jika tidak, akan kubuat tidak seorang pun mengenali mayatmu.”
“Ba-baiklah,” ucapnya terbata-bata.
Yumina mulai menyuapi laki-laki itu hingga semua daging yang ia masak
habis. Laki-laki itu tak kuasa menahan air matanya seraya memakan dagingnya
sendiri. Setelah itu, Yumina menaruh piring tersebut, lalu berdiri di belakang
laki-laki itu, kemudian menebas lehernya hingga putus. Selanjutnya, seperti
biasa Yumina memutilasi korbannya, lalu memasak dagingnya dan video berakhir.
__ADS_1
“Akh ... Aku tidak pernah bosan dengan hal sadis,” ucapku, “oh iya,
kira-kira dengan siapa aku akan membuat video untuk diunggah selanjutnya.”