
Aku bisa bersumpah melihatnya. Di lantai dua rumahnya ada jendela yang
mengarah ke kamarku dan dari sana dia selalu menampakkan dirinya. Setiap malam
dia berdiri di sana sambil memperhatikan setiap gerak-gerikku. Namun, ketika
aku mencoba menoleh ke arahnya, dia langsung mengalihkan pandangannya. Selalu
saja seperti itu setiap malam. Lama-kelamaan aku bisa gila jika terus seperti
ini.
Aku pindah ke perumahan ini sejak bulan lalu dan sejak itu teror dari
tetanggaku dimulai. Aku mencoba bertanya ke ketua RT dan tetangga-tetanggaku
yang lain tentang orang yang tinggal di sebelah rumahku, tapi mereka selalu
mengatakan bahwa tidak ada yang tinggal di sana sejak lima tahun lalu. Mereka
mulai menjauhiku karena mengira bahwa aku ini sudah gila, tapi aku bersumpah bahwa aku benar-benar melihatnya.
Aku sudah beberapa kali mencoba masuk ke rumah itu untuk mencari tahu
siapa orang itu, tapi aku juga masih diliputi rasa takut. Jadi, aku hanya bisa
mengira-ngira saja. Namun, sekarang aku sudah tidak tahan. Aku memutuskan untuk
masuk ke rumah itu tidak peduli apa yang sekiranya dapat menimpaku.
__ADS_1
Aku sempat terhenti ketika telah sampai di depan pintu rumah itu. Sempat
aku ingin membatalkan niatku, tapi aku sudah benar-benar tidak tahan dengan
gangguan itu dan aku juga sangat penasaran dengan orang itu. Aku pun masuk ke
rumah itu.
Rumah itu sangat berantakan dan berdebu persis seperti rumah yang tidak
pernah ditinggali selama lima tahun. Debu sangat tebal, sarang laba-laba ada di
mana-mana, dan beberapa peralatan ditumbuhi jamur. Baru sebentar saja di dalam
sana perasaanku sudah sangat tidak nyaman, tapi hal itu sama sekali tidak
mengurungkan niatku untuk mencari tahu misteri tentang rumah ini. Aku menyusuri
sejauh ini. Setelah itu, aku pun
memutuskan untuk naik ke lantai dua.
Ketika menaiki tangganya yang terbuat dari kayu, muncul suara berdecit
mengiringi tiap langkahku yang menandakan bahwa tangga ini mulai rusak. Aku
berjalan dengan pelan dan senantiasa berhati-hati. Setelah sampai di lantai
dua, aku mulai menyusuri kamar demi kamar untuk mengecek apakah ada orang atau
__ADS_1
tidak. Namun,tetap saja tidak ada hasilnya.
Tibalah aku di kamar terakhir, dari kamar ini orang tersebut selalu
menatap setiap gerak-gerikku. Perlahan aku membuka pintu. Perlu sedikit tenaga
untuk membuka pintu ini dikarenakan engselnya yang agak macet. Suara decitan
dari engsel pintu memenuhi ruangan. Setelah itu, aku masuk ke dalam kamar itu.
Ketika aku telah ada di dalam, tiba-tiba pintu kamar ini tertutup
sendiri. Aku mecoba membukanya, tapi seolah-olah pintu ini dikunci dari luar
oleh seseorang. Mendobrak pun tiada guna. Tirai jendela pun tertutup sendiri,
lalu barang-barang yang ada di dalam kamar ini mulai bergetar tanpa sebab. Ini
mulai terasa mengerikan. Aku mulai menggedor-gedor pintu dan berteriak-teriak
meminta tolong, tapi hal itu sia-sia saja.
Kepalaku mulai pusing, napasku
mulai sesak, dan pandanganku mulai gelap. Kamar ini sepertinya tidak memiliki
ventilasi udara sehingga tidak ada oksigen di sini. Namun, untungnya aku tidak
perlu bernapas lagi. Orang itu sengaja membuatku tidak nyaman dan memancingku
__ADS_1
ke sini, lalu membuatku terbunuh di sini. Sekarang giliranku untuk menatapi
orang yang selanjutnya akan tinggal di sebelah