
Pernahkah kalian menulis di buku harian? Apa yang kalian tulis di sana? Kegiatan sehari-hari? Curahan hati? Atau mungkin orang yang kalian suka? Sama seperti kalian aku juga menulis yang seperti itu di buku harian milikku, tapi kebanyakan adalah aktivitas dan hal-hal yang menyenangkan atau membuatku senang setiap hari.
Namaku Nathan, aku berumur tujuh tahun, aku bersekolah di sebuah sekolah dasar, dan sedang duduk di kelas dua. Aku tidak terlalu suka keramaian, apalagi bermain dengan anak tetangga. Oleh karena itu, aku lebih suka bermain ke taman ketika malam hari. Suasana sepi dan dingin ini sangat membuatku nyaman. Oh iya, aku juga tidak terlalu suka bermain, seperti ayunan, perosotan, dan lain-lain. Aku hanya mengisi buku harianku di sana dan terkadang sedikit bersenang-senang dengan beberapa orang di sekitaran taman.
Karena kebiasaanku yang seperti ini tidak jarang beberapa anak seumuran menjauhiku dan tidak jarang ada yang memberi julukan-julukan aneh, seperti anak aneh, orang gila, manusia sinar rembulan, anak anti matahari, dan sebagainya. Namun, aku tidak peduli seperti apa mereka memanggilku.
Aku memiliki seorang sahabat yang bernama Rendy, dia satu-satunya orang yang mau berteman denganku. Dia sangat ramah terhadap semua orang termasuk aku. Bahkan, dia mau menerimaku yang dicap sebagai anak aneh, orang gila, dan sebagainya. Kedekatan kami menimbulkan pertentangan terutama dari sahabat-sahabat Rendy.
Setiap hari beberapa dari mereka mengancamku untuk menjauhi Rendy.
"Hey, Anak Aneh, jauhilah Rendy! atau kami akan membuatmu menyesal telah dilahirkan," ucap Regi.
"Benar, kami tidak mau Rendy menjadi aneh sepertimu," ucap Fais.
"Awas saja jika kau masih mendekati dia," ucap Adi.
__ADS_1
Begitulah yang kuhadapi setiap hari. Namun, aku tidak takut sama sekali dengan ancaman mereka.
Suatu hari, Regi, Fais, dan Adi mulai berhenti masuk sekolah. Tidak ada yang tahu keberadaan mereka. Bahkan, keluarga mereka pun tidak tahu hingga seminggu kemudian mereka ditemukan di tiga tempat berbeda. Kondisi mayat mereka pun sama, yaitu telah dikuliti dan penuh tusukan jarum pentul dan paku di sekujur tubuh mereka. Satu per satu teman kelasku pun ikut mati seperti mereka dan dengan kondisi mayat yang sama. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi penduduk. Bahkan, pihak sekolah juga menyuruh kami untuk pulang secara berkelompok dan ditemani seorang guru. Seluruh teman kelasku dibayang-bayangi oleh rasa takut akan kematian. Namun, tidak sepertiku yang selalu tetap tenang. Jika memang maut menjemputku, maka akan kuterima itu.
Hari ini kami belajar Bahasa Indonesia dan kami disuruh untuk menuliskan sebuah cerpen, lalu membacakannya di depan kelas.
Guru mulai memanggil satu per satu murid untuk membacakan cerpen mereka. Selagi menunggu aku mencoba menikmati ketika yang lain membacakan cerpen mereka. Cerita yang mereka buat tidak terlalu buruk. Tibalah giliranku untuk membaca cerpen.
Di sebuah gudang yang terdapat di hutan
Aku menyekap beberapa temanku di sana
Jadi, aku sesekali ingin bermain dengan mereka
Aku menutup mulut mereka agar mereka tidak berisik
__ADS_1
Lalu aku mulai menguliti tubuh mereka
Setelah itu, aku menusukkan banyak jarum dan paku ke sekujur tubuh mereka
Lalu menaburi daging mereka dengan garam dan perasan jeruk
Kubiarkan mereka seperti itu hingga mereka mati
Aku hanya bisa tertawa melihat mereka yang sedang tersiksa
Setelah mereka mati, aku akan membuang mayat mereka di tempat yang berbeda
Tamat
Seisi kelas ketakutan mendengar cerpenku, lalu guruku mulai menyampaikan komentarnya.
__ADS_1
"Kau menulis itu berdasarkan kematian teman-temanmu, kan? Itu sangat tidak baik, seolah-olah kau menganggap kematian mereka sebagai hiburan," komentarnya.
"Kupikir Ibu salah paham, aku hanya menuangkan apa yang ada di buku harianku," ucapku.