
Maaf ...
Maaf karena aku selalu menyusahkanmu.
Maaf ...
Maaf karena aku selalu membuat berantakan ketika kau telah merapikannya.
Maaf ...
Maaf karena aku selalu merusak dan menghilangkan barang-barang.
Ibu ...
Maafkan aku.
Itulah kata-kata yang diucapkan oleh anakku sesaat sebelum ia menjemput ajalnya. Diri ini hanya bisa terdiam melihat satu-satunya anggota keluarga yang tersisa telah pergi untuk selama-lamanya. Menangis pun tidak bisa.
__ADS_1
Suamiku pergi demi wanita lain tidak lama setelah anak ini dilahirkan. Setelah itu, aku memutuskan untuk pindah ke sebuah desa dan di sana aku membesarkan anak ini. Anakku tumbuh dewasa di desa tersebut tanpa sosok ayah di sampingnya. Namun, dia terlihat tidak menghiraukannya. Mungkin dia merasa rasa sayang dan aku yang suka memanjakannya itu sudah cukup baginya.
Anakku tumbuh menjadi anak yang nakal dan terkadang menyusahkan diriku dengan tingkahnya. Namun, aku hanya bisa tersenyum melihat kenakalannya itu. Dia suka membuat berantakan seluruh penjuru rumah dan dia juga sangat ceroboh, sehingga beberapa perabotan di rumah menjadi rusak dan beberapa barang-barangku hilang karenanya.
Tidak selamanya dia menjadi anak yang nakal. Ada kalanya dia menjadi anak yang baik dan rajin, serta suka menolongku seperti yang sedang terjadi sekarang. Hal ini biasanya terjadi ketika hari ulang tahunnya sudah dekat. Namun, aku tahu di setiap perbuatan baiknya, selalu ada keinginan yang tersembunyi. Tahun lalu dia meminta beberapa mainan baru sebagai hadiah ulang tahunnya. Entah apa yang dia inginkan untuk tahun ini. Malam sebelum hari ulang tahunnya, biasanya dia akan mengungkapkan permintaannya.
"Ibu ... Apa Ibu ingat, besok adalah hari ulang tahunku?" tanya anakku yang manis.
"Iya, tentu saja Ibu ingat." jawabku.
"Apa aku boleh meminta hadiah khusus, Bu?" tanya anakku lagi.
"Aku mau bertemu dengan ayah, Bu. Hanya itu saja yang aku inginkan." ucap anakku.
Aku tertunduk mendengar permintaan anakku, tapi seluruh perbuatan baiknya itu patut diberi hadiah yang pantas.
"Baiklah, kau pergilah tidur! Ibu janji besok keluarga kita akan berkumpul kembali." ucapku.
__ADS_1
Keesokan harinya, anakku bangun pagi-pagi sekali. Dia berlari keluar dari kamarnya menuju ruang makan berharap dapat melihat sosok ayahnya. Bukan raut muka bahagia yang ditunjukkan, melainkan seluruh wajahnya pucat dan dia membeku tak bergerak di pintu ruang makan.
"Ibu, siapa pria itu? Kenapa tubuhnya dipenuhi darah?" ucap anakku.
"Dia adalah ayahmu. Ibu kesulitan membujuknya untuk datang ke sini. Jadi, ibu membunuhnya agar mudah membawanya ke sini." jawabku.
"Pembunuh ... Ibu adalah pembunuh. Akan kulaporkan perbuatan ibu." teriak anakku.
Anakku mencoba berlari, tetapi aku berhasil menarik tangannya, kemudian menariknya dan menghempaskannya ke atas meja.
"Hei, Anak Naka, kau mau bertemu ayahmu, kan? Temuilah dia di alam baka." ucapku.
Beberapa kali kuhunuskan pisau ke tubuh anakku. Anakku merintih kesakitan, tetapi aku tidak menghiraukannya dan terus menghunuskan pisau ke tubuhnya.
"Akkhh ... Sakit, Bu." teriak anakku, "Maaf ... Maaf karena aku selalu menyusahkanmu. Maaf ... Maaf karena aku selalu membuat berantakan ketika kau telah merapikannya. Maaf ... Maaf karena aku selalu merusak dan menghilangkan barang-barang. Ibu ... Maafkan aku."
"Baru sekarang kau meminta maaf?" geramku, "kau pikir aku tidak lelah terus merapikan semua yang kau buat berantakan? Kau pikir aku ini tidak marah ketika kau merusak sesuatu? Kau pikir semua barang yang hilangkan dapat kau ganti dengan kata maaf?"
__ADS_1
Hunusan demi hunusan kuberikan ke anakku hingga akhirnya ajal menjemputnya.