Mi Tesoro : Creepypasta

Mi Tesoro : Creepypasta
Aku atau Kau?


__ADS_3

Namaku adalah Annie dan aku bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit. Bekerja di rumah sakit itu cukup menyenangkan. Jika para wanita lain harus membeli parfum sebagai pengharum, maka aku cukup berkumpul di sekeliling obat-obatan. Ketika bosan pun, aku bisa sedikit menghibur diri dengan bermain bersama pasien.


"Tiit ... Tiit ..." bunyi bel panggilan dari pasien memenuhi ruanganku.


"Ah ... Panggilan dari pasien tiada hentinya hari demi hari. Namun, ini adalah kewajibanku untuk merawat pasien." keluhku dalam hati.


Setelah mendengar bunyi bel panggilan itu, aku bergegas menuju ke kamar pasien yang memerlukan bantuanku. Panggilan itu berasal dari kamar bernomor 25 yang dihuni oleh seorang lansia.


"Ah ... Pria tua itu, ada apa lagi dengan dia? Sudah puluhan kali dia memencet bel panggilan itu. Memangnya sangat sulit baginya membiarkanku beristirahat. Jika dia memiliki tenaga untuk memencet bel itu, dia seharusnya dapat mengurus dirinya sendiri dengan tenaganya yang ada itu." gerutuku sembari berjalan cepat ke arah kamar pasien di kamar bernomor 25.

__ADS_1


Ruanganku berada di lantai satu, sedangkan kamar pasien itu berada di lantai dua. Karena rumah sakit tempatku bekerja tidak memiliki lift, maka satunya-satunya cara ke lantai dua hanyalah lewat tangga.


"Hah ... Seharian ini aku naik-turun dibuatnya." gerutuku.


Lima menit berjalan, akhirnya aku pun sampai ke kamar pasien tersebut. Pria tua itu terlihat menjijikkan, air liur terus menetes keluar dari mulutnya.


"Su ... Su ... Sus, da ... Da ... Ku terasa ... Sesak lagi." balas pasien itu terbata-bata.


"Pak, aturlah nafas Anda dengan baik dan jangan memikirkan hal yang berat-berat." saranku pada pasien itu.

__ADS_1


Pasien ini sangat merepotkanku. Namun, aku juga sekaligus merasa kasihan padanya, karena tidak seorang pun anggota keluarganya yang mau menjenguknya. Sepertinya aku bisa bermain sebentar dengannya, kemudian akan kuhilangkan semua penderitaannya. Kuambil beberapa obat dan sebuah suntikkan, kemudian kucampurkan obat-obat tersebut secara acak dan tanpa takaran. Namun, itu sudah cukup untuk membunuhnya. Ini yang aku maksud bermain dengan pasien. Aku akan menyuntikkan campuran beberapa obat yang kucampur secara acak dan tanpa takaran khusus, kemudian menyuntikkannya ke pasien yang menyedihkan seperti pasien ini. Ketika obat itu mulai bereaksi dengan tubuh pasien, biasanya mereka akan kejang-kejang dan sekujur tubuhnya menjadi pucat. Sangat menyenangkan ketika melihat mereka tersiksa sebelum kematiannya seperti itu. Hal ini yang membuatku masih bertahan untuk bekerja di rumah sakit ini yang dipenuhi oleh pasien yang sangat menjijikkan.


Aku sudah sering bermain dengan pasien-pasien dan tidak seorang pun mengetahui hal keji yang kulakukan. Tempat ini sangat menyenangkan bagiku. Namun, suatu hari seorang wanita melamar untuk bekerja sebagai perawat di sini. Sejak kehadirannya, aku hampir tidak pernah lagi bermain dengan pasien. Perawat itu dikenal ramah ke setiap pasien dan dalam sekejap dia menjadi sangat terkenal di kalangan pasien. Hal itu sama sekali tidak mengganguku, tapi entah kenapa aku selalu merasa bahwa perawat itu selalu mengikuti dan mengawasi gerak-gerikku.


"Ha ... Sangat mengesalkan. Jika dia terus mengawasiku, aku tidak bisa bermain dengan pasien lagi." geramku, "akan kuberi dia pelajaran."


Kupersiapkan obat-obat dan suntikkan yang biasa kugunakan untuk bermain dengan pasien. Perawat itu sedang berada di kamar mandi. Diam-diam aku memasuki kamar mandi, kemudian menyuntikkan campuran obat itu ke tubuhnya. Perawat itu mulai kejang-kejang dan sekujur tubuhnya pun mulai memucat. Akhirnya, setelah kematian perawat ini, aku dapat kembali bermain dengan para pasien.


Keesokan harinya, perawat Annie ditemukan mati di kamar mandi dengan sebuah suntikkan di tangannya.

__ADS_1


__ADS_2