Mi Tesoro : Creepypasta

Mi Tesoro : Creepypasta
Matilah Kau dan Jadilah Milikku


__ADS_3

Yuri adalah sahabat sekaligus gadis pujaanku. Aku sangat mencintai dia karena sosoknya yang sempurna itu. Yuri sangat cantik, pintar, bahkan dia sangat ramah kepada semua orang. Aku sudah beberapa kali menyatakan perasaanku padanya. Namun, dia selalu menolaknya dan cuma ingin menjadi sahabatku saja.


Meskipun banyaknya penolakan dari Yuri, hal itu tidak menghancurkan persahabatan kami. Kami semakin akrab setiap harinya, kami pergi dan pulang sekolah bersama, makan siang ketika istirahat pun kami bersama. Rasanha kami seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta, seakan-akan hanya ada kami berdua di dunia ini.


"Yuri ... Pagi." sapaku pada Yuri, "kau terlihat bingung dan gelisah, apa ada yang menjanggal perasaanmu?"


"Hmm ... Ada surat yang ditinggalkan oleh seseorang di laci mejaku." balasnya dengan sedikit terbata-bata.


"Apa itu surat cinta? Jika ia, dia akan berurusan denganku." ucapku sedikit bercanda.


"Bukan, lihat saja isinya." ucap Yuri.


Kulihat isi surat itu dan alangkah terkejutnya aku ketika melihat isinya.


"MATILAH KAU DAN JADILAH MILIKKU!"

__ADS_1


Begitulah yang tertulis di surat itu. Surat itu terlihat ditulis menggunakan darah sebagai tintanya. Aku berusaha menenangkan Yuri seraya menyingkirkan surat itu dari pandangannya. Keesokan harinya, sebuah surat kembali ditinggalkan oleh seseorang dan benar seperti dugaanku, suratnya sama seperti yang kemarin.


Surat itu nampaknya benar-benar membuat Yuri ketakutan karenanya.


"Yuri ... Hei, sudah jangan takut, laporkan saja perbuatan iseng ini ke pihak sekolah. Pasti mereka akan memikirkan cara untuk menangkap pelakunya." ucapku mencoba menenangkan Yuri.


"Iya, benar yang kau katakan, segera akan kulaporkan hal ini ke pihak sekolah." balas Yuri menerima usulku.


Yuri bisa sedikit bernafas lega sekarang. Namun, aku ragu apakah masalah ini akan cepat terselesaikan. Pihak sekolah dan kami pun bekerja sama untuk menangkap si pengirim surat. Meskipun sudah dilakukan bermacam cara untuk menangkap si pengirim surat. Akan tetapi, semua usaha yang dilakukan dengan mudahnya digagalkan si pengirim surat, seolah-olah dia sudah mengetahui semua rencana kami.


Aku pun pergi ke rumah Yuri.


"Kira-kira kemana perginya Yuri, apa dia tidak tahu bahwa seisi kelas mengkhawatirkannya?" gerutu dalam setiap lamunanku seraya berjalan menuju rumah Yuri, "apa keluarganya tahu di mana dia?"


Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, aku pun sampai di rumah Yuri.

__ADS_1


"Permisi ... Selamat siang, om, tante." ucapku seraya mengetuk pintu rumah Yuri.


Seorang pria tua membukakan pintu dan mempersilahkan aku masuk.


"Oh, kau, apa kau juga mencari Yuri?" tanya pria itu.


"Oh, iya, aku diutus pihak sekolah untuk menyampaikan surat panggilan ini." ucapku, "apa Yurinya ada?"


"Sudah seminggu ini Yuri tidak pulang ke rumah, kami telah melaporkan ini ke pihak berwajib." ucap pria itu.


"Ah, baiklah kalau begitu, maaf mengganggu. Saya pulang dulu." ucapku


Setelah itu, aku pun berjalan pulang menuju rumahku.


"Ah.... Melelahkan saja, kenapa mereka menyuruhku menyerahkannya ke keluarga Yuri. Kenapa tidak langsung ke Yuri saja." geramku seraya berjalan pulang ke rumah, "oh iya, aku belum berkunjung ke tempatku mengubur Yuri hari ini. Yuri akhirnya kau menjadi millikku seutuhnya."

__ADS_1


__ADS_2