Mi Tesoro : Creepypasta

Mi Tesoro : Creepypasta
Warna-Warni Dalam Hitam dan Gelap


__ADS_3

"Aku mau mengatakan sesuatu. Aku ingin memutuskan hubungan kita sampai sini. Maaf jika aku telah mengecewakanmu. Bahkan, menyakiti hatimu serta kepercayaanmu. Entah kenapa aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Kau ingat atas ucapan yang dulu? Ternyata diantara kita pasti ada yang mengucapkan putus dan tidak kusangka itu adalah aku. Aku mengucapkan selamat tinggal pada hubungan kita."


Mungkin itu adalah kalimat paling menyakitkan yang pernah kudengar. Aku yang mulai merasakan bahagia kembali terjatuh ke dalam jurang kesedihan yang gelap dan dipenuhi warna hitam. Aku yang dari dulu selalu ditelantarkan dan tidak pernah merasakan kasih sayang, ketika ada orang yang menyelamatkanku dari jurang kesedihan itu dan ketika telah sampai di atas, lalu dia mendorongku jauh lebih dalam lagi. Sejak hari itu, aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi dan akan tetap berada di jurang kesedihan yang gelap dan dipenuhi warna hitam ini.


"Membosankan, kenapa waktu berjalan lambat ketika aku berada di sekolah? Apa ada alat pengatur waktu di sekolah ini?" gerutuku sepanjang waktu istirahat.


Seorang gadis mendekat ke arahku.


"Yukki, kudengar ada murid baru di kelas sebelah, apa kau mau ikut aku melihat dia?" ajak Yuri salah satu sahabat baikku, "kudengar dia sangat tampan, loh!"


"Kau saja, Yuri. Aku ingin membusuk di sini saja sampai pulang sekolah," balasku.


"Baiklah jika itu yang kau inginkan," ucap Yuri.


Bersama Yuri beberapa siswi lain juga pergi untuk mengintip murid baru yang ada di kelas sebelah. Tidak lama, bel berbunyi menandakan waktu istirahat yang telah usai. Siswa dan siswi yang berada di luar pun masuk ke kelas, kemudian guru masuk bersama seorang siswa yang terlihat asing bagiku.


Apa dia si murid baru? Kenapa dia ada di kelas ini? Apakah dia salah masuk kelas? Siapa pun dia jika kehadirannya tidak menggangguku, maka aku tidak peduli. Dia pun mulai memperkenalkan dirinya.


"Hai semua, perkenalkan namaku Takeshi Akeru dan mulai hari ini aku akan menjadi bagian dari kelas ini." ucap si anak baru itu.


Seisi kelas hanya terdiam ketika dia telah selesai memperkenalkan dirinya, lalu dia pun duduk di kursi kosong yang tersisa. Setelah itu, pelajaran dimulai dan guru pun mulai menerangkan pelajaran. Pelajaran pun terasa sama membosankan seperti waktu istirahat tadi. Bahkan, aku hampir tertidur akibat guru yang sangat pintar dalam mendongeng.


Pelajaran selanjutnya adalah metafisika dan untungnya guru tidak dapat hadir untuk mengajar. Aku sangat senang karena bisa tidur. Bahkan, tugas yang ditinggalkan oleh guru pun tidak akan kukerjakan.


Baru saja aku mau membaringkan tubuhku, si murid baru itu menghampiri mejaku dan duduk di sebelahku.


"Hai, apa kabarmu?" sapa dia memulai pembicaraan.


"Murid Baru, jangan menggangguku karena aku ini mau tidur. Soalnya, aku tidak pernah merasa cukup kalau tentang waktu tidur," balasku sambil memalingkan wajah.


"Jangan begitu, kita ini masih muda, loh! Banyak yang bisa kita lakukan. Oleh karena itu, jangan hanya menghabiskan waktu dengan tidur," ucapnya panjang lebar, "bisa bantu aku mengerjakan tugas ini. Aku ini masih asing dengan mata pelajaran ini."


"Baiklah, tapi jangan menggangguku lagi jika ini sudah selesai," ucapku, aku mengeluarkan buku dan alat tulisku. "Aku ini selalu tidur larut. Jadi, aku selalu mengantuk pagi harinya."


"Begadang itu tidak baik untuk kesehatan, loh!" ucapnya.


Aku terpaksa mengerjakan tugas seraya membantunya. Tidak terasa bel pulang sekolah berbunyi.


"Terima kasih telah membantuku, Yukki," ucap si murid baru, dia tersenyum lebar ke arahku. "Kau itu sangat imut jika kuperhatikan lebih dalam."


Tanganku bergerak sendiri melayangkan sebuah tamparan ke wajahnya, lalu aku pun berlari menjauh darinya. Pikiranku tidak karuan di sepanjang jalan pulang. Aku tidak mau mendengar omong kosong itu lagi. Semua laki-laki itu sama saja, awalnya mereka berjuang keras untuk mendapatkan hatiku, lalu mereka menjatuhkanku begitu saja. Setelah cukup lama berjalan, lalu aku pun sampai di neraka yang kusebut dengan rumah. Aku tinggal bersama ayahku yang seorang pensiunan dan pecandu alkohol. Sejak ibuku meninggal, rumah ini tidak terurus lagi. Sampah mengelilingi kami dan bau alkohol pun memenuhi rumah.


"Ayah, aku pulang," ucapku seraya memasuki rumah.


"Yukki, kenapa kau lama sekali? Ayo, belikan alkohol untuk ayah!" perintah ayahku


"Ayah, lebih baik gunakan saja uang pensiunanmu untuk sesuatu yang lebih berguna, seperti menyewa asisten rumah tangga atau jasa pembersih rumah. Rumah ini sudah seperti tempat sampah. Bahkan, mungkin lebih buruk," ucapku.


Ayah mendekat ke arahku, kemudian menarik rambutku.


"Kau sudah berani menentang ayahmu!" kesal ayahku.


"Ayah, itu sakit!" ucapku mengerang kesakitan.


"Lakukan saja apa yang ayah perintahkan!" kesal ayah, dia kemudian menamparku. "Setelah itu, bersihkan rumah dan keluarkan semua sampah ini! Kau tidak suka kotor, kan?"

__ADS_1


Setiap hari selalu saja seperti ini, yang dia pedulikan hanya alkoholnya. Jika saja ibu masih hidup, aku pasti tidak akan ditelantarkan seperti ini dan aku tidak akan menerima perlakuan kasar dari ayah. Seharian ini aku dibuat lelah olehnya. Dia memberi banyak tugas, seperti menyapu, mengepel, membuang sampah, memasak, mencuci, dan lainnya.


Aku berbaring di atas kasurku mencoba menghilangkan lelah, lalu kudengar ketuka berasal dari jendelaku.


"Itu mungkin hanya ranting pohon," pikirku, "kamarku berada di lantai dua. Jadi, tidak mungkin ada orang yang dapat mengetuk jendelaku."


Ketukan itu semakin lama semakin keras dan itu sangat menggangguku, lalu aku berjalan menuju jendela untuk melihat penyebab suara mengerikan itu, kemudian membukanya.


"Ah .... Monster!!!" teriakku ketika membuka jendela, itu adalah Takeshi. Dia menggunakan tangga untuk menggapai kamarku.


"Yukki ... Jangan berisik!" teriak ayahku dari lantai bawah, dia lebih sering tidur di sofa daripada kamarnya.


"Ada apa?" ucapku sedikit berbisik.


"Kau belum meminta maaf untuk yang tadi siang, loh!" ucap Takeshi.


"Ah ... Maaf, aku hanya tidak menyukai ketika kau memujiku," ucapku.


"Kau bilang bahwa kau selalu tidur larut, memangnya apa yang kau lakukan ketika malam?" tanya Takeshi.


"Ketika siang hari aku terlalu sibuk membereskan rumah. Jadi, aku akan menikmati hidup ketika malam hari," balasku.


"Apa mau keluar sebentar?" ajak Takeshi.


"Untuk apa? Aku sekarang sangat lelah," ucapku.


"Langit malam ini sangat indah. Jadi, aku ingin mengajakmu ke taman untuk menikmati langit malam yang dipenuhi bintang," terang Takeshi.


"Maaf, aku sedang sibuk," ucapku, lalu aku membanting jendela dan menutup tirai.


"Tidak, cari saja orang lain," ucapku.


"Aku akan terus di sini dan mengetuk jendelamu hingga kau mau menerima ajakanku," ucap Takeshi.


Aku kembali ke kasurku, kemudian membaringkan tubuhku. Kupikir yang dia katakan itu tidak sungguh-sungguh. Namun, dia mulai mengetuk jendelaku lagi. Kubiarkan dia terus mengetuk hingga dia lelah, tapi iblis itu benar-benar tidak mau membiarkanku beristirahat. Aku beranjak dari kasurku, lalu membuka jendela.


"Takeshi ... Hentikan!" bentakku, "baiklah, aku akan menerima ajakanmu, tapi sebentar saja."


"Terima kasih, Yukki," ucap Takeshi.


Udara terasa sangat dingin dan suasana di sekitar pun sangat menyeramkan, rasanya aku ingin cepat-cepat pulang. Setelah sampai di taman, kami duduk di bangku taman dan sedikit mengobrol. Sembari mengobrol, kami juga memandangi langit malam. Langit memang terlihat sangat indah malam ini. Aku sangat benci terlalu dekat dengan laki-laki, tapi berbeda dengan Takeshi. Kehadirannya membuatku sangat nyaman dan bahagia, rasanya aku ingin selalu dekat dengan dia. Jurang yang gelap dan dipenuhi warna hitam ini perlahan diterangi oleh cahaya yang berwarna-warni. Namun, rasa sakit di hatiku masih belum hilang.


"Hari sudah mulai larut. Jadi, aku harus segera pulang, terima ka ..." ucapanku terhenti setelah menyadari bahwa Takeshi telah menghilang, "kemana iblis itu ..."


Aku mencari ke sekeliling dan kulihat secarik kertas di bangku tempat Takeshi tadi duduk. "Kau itu sangat imut" begitulah yang tertulis di kertas itu. Marah yang kurasa, tapi seluruh kemarahan itu hilang setelah membaca kertas itu. Aku kembali ke rumahku dan membaringkan tubuhku di kasurku, kemudian tidur tidak sabar untuk bertemu Takeshi esok harinya.


Keesokan harinya,


Ketika aku berjalan menuju sekolah aku tidak sengaja bertemu dengan Takeshi. Dia menghampiriku dan berjalan beriringan denganku.


"Yukki, apa kabarmu?" sapa Takeshi.


"Baik,", jawabku singkat, aku menatap tajam ke arah Takeshi. "Kenapa kau meninggalkanku semalam?"


"Aku tidak mau kau menamparku lagi karena itu sakit, loh!" terangnya.

__ADS_1


Wajar jika dia tidak mau ditampar lagi, tapi meninggalkan seorang gadis di malam yang larut itu cukup kejam.


"Oh iya, boleh aku tahu sosial media yang kau punya?" tanyanya.


"Untuk apa?" tanyaku.


"Aku hanya ingin memblokirnya," canda Takeshi, lalu dia tertawa lepas.


"Oh ... Baiklah," ucapku dengan nada seperti sedang marah, lalu aku mengeluarkan teleponku. "Baiklah, akan kusebutkan satu persatu."


Aku memberitahu semua sosial media yang kupunya, lalu Takeshi berlari menjauh dan tidak lama dia langsung menghilang dari pandanganku.


"Yukki, bagaiman kabarmu?" ucap Yuri yang tiba-tiba muncul.


"Aku baik-baik saja," balasku.


"Yukki, dengan siapa kau bicara tadi?" tanya Yuri.


"Takeshi," jawabku singkat.


"Takeshi siapa?" tanyanya lagi.


"Si murid baru," jawabku, aku sedikit kebingungan dengan tingkah Yuri. "Apa kau lupa dengan Takeshi?"


"Jadi, si murid baru itu bernama Takeshi," ucapnya, lalu kami berjalan berdampingan menuju sekolah.


Aku sangat bersemangat pergi ke sekolah tidak seperti biasanya, mungkin karena di sana aku bertemu Takeshi. Semakin hari kami semakin dekat, tapi semakin hari pun seluruh temanku yang lain menjauhiku. Aku tidak tahu mengapa, tapi aku merasa itu bukan hal yang perlu dikhawatirkan.


Dengan adanya Takeshi aku tidak membutuhkan yang lain lagi. Aku sangat senang, pada awalnya dia hanya menerangi jurang itu dengan cahaya, tapi lama-kelamaan dia mulai menarikku dari jurang itu.


Suatu hari, hari yang tidak akan pernah kulupakan, hari ketika Takeshi menyatakan perasaannya padaku. Senang sekali kurasa dan aku berharap kebahagiaan ini akan berlangsung selamanya.


"Takeshi, ayo ke rumahku! dan akan kuperkenalkan kau pada ayahku," ajakku.


"Yukki, lebih baik jangan lakukan itu," ucapnya.


"Tidak apa-apa, jangan malu-malu!" ucapku.


Hari itu juga aku memperkenalkan Takeshi kepada ayahku. Meskipun awalnya Takeshi menolak, tapi setelah sedikit kubujuk, lalu dia pun mau.


"Ayah, aku ingin memperkenalkan pacarku padamu," ucapku.


"Pacar? Di mana dia?" ucap ayahku, dia terlihat sangat kebingungan.


"Di sampingku, Yah," ucapku.


"Hentikanlah! Omong kosong ini," bentak ayah, "lupakanlah tentang pacar khayalanmu itu."


"Apa yang kau maksud ayah? Aku tidak berkhayal sama sekali!" ucapku, air mata jatuh membasahi pipiku.


Hubungan kami mendapat pertentangan dari ayahku. Setelah itu, dia mengirimku ke sebuah gedung yang sangat besar dan dipenuhi oleh orang gila untuk memisahkan aku dengan takeshi. Meskipun begitu, hal ini tidak cukup untuk memisahkan kami. Takeshi menerobos masuk ke kamar tempat aku dikurung dan dia selalu menemaniku di sana. Kami bahagia di sana untuk selama-lamanya.


Suatu hari, Yuri datang mengunjungiku, kunjungan pertama dan terakhirnya.


"Yukki, si murid baru itu bukan bernama Takeshi. Seharusnya aku sudah sadar sejak hari itu. Kenyataan pahit bahwa kau mengidap skizofrhenia," ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2