
You Are Mine
Akhir-akhir ini hubunganku dengan pacarku sudah mulai renggang. Aku takut hubungan yang telah kami jalani selama lima tahun ini berakhir begitu saja. Semua ini dimulai sejak acara reuni sekolahnya. Waktu itu, dia mengajakku ke acara reuni bersama teman-teman SMA-nya. Dia memperkenalkan diriku dengan semua teman-temannya. Awalnya tidak ada yang terjadi, tapi ketika dia bertemu dengan mantan kekasihnya ketika SMA dulu, dia mulai berubah. Di saat acara reuni pun, yang diajaknya berdansa adalah mantan kekasihnya, bukan aku. Aku sangat kesal dengan hal itu. Kami bertengkar hebat ketika acara itu telah usai dan saat itu juga kami mulai jarang berkomunikasi. Pernah sekali kami bertemu, tapi pertemuan itu agak canggung akibat pertengkaran waktu itu.
“Hai, lama tidak bertemu,” ucapnya, “apa kabar?”
“Aku baik, bagaimana denganmu?” ucapku.
“Aku juga baik,” ucapnya, “oh iya, maaf ya soal yang waktu itu.”
“Aku juga, tidak seharusnya aku mempermasalahkan hal yang sepele,” ucapku.
Kami tidak banyak mengobrol sama seperti pertemuan sebelumnya. Namun, aku sudah merasa senang. Tidak lama kemudian, dia lergi ke toiket untuk beberapa saat. Katanya ibunya baru saja mengiriminya pesan dan dia akan mencoba untuk menelepon ibunya.. Sekitar lima menit dia berada di toilet. Setelah itu, dia minta izin untuk pulang.
“Maaf, ibuku menyuruhku untuk pulang sekarang,” ucapnya.
“Tapi kita baru saja bertemu,” ucapku.
“Iya, tapi ibuku bilang ini penting sekali. Besok kita ketemuan lagi ya,” ucapnya.
Aku merasa janggal dengan hal ini, dia pasti menyembunyikan sesuatu dan gerak-geriknya terlihat mencurigakan. Oleh karena itu, aku mengikuti dia secara diam-diam. Dia melajukan motornya dengan cukup cepat sehingga aku beberapa kali hampir kehilangan dia. Benar saja perkiraanku, dia berhenti di sebuah permakaman dan kuburan mantan kekasihnya lah yang pasti dikunjunginya. Padahal aku telah membunuh mantan kekasihnya, tapi dia tetap tidak bisa melupakannya. Apa yanh membedakan antara aku dengan dia? Sakit sekali yang kurasa, susul saja sekalian pacarmu itu.
__ADS_1
Tiga tahun berlalu sejak hari itu, kini aku dan pacar tersayangku telah menjalani kehidupan rumah tangga. Sakit hatiku atas hari itu perlahan sirna. Karena kami telah menikah, seharusnya dia telah melupakan mantannya itu.
"Akh ... Semuanya telah siap. Tinggal menunggu suamiku pulang, lalu kami akan makan malam bersama. Oh iya, karena masih ada waktu sebelum dia pulang, lebih baik aku berdandan terlebih dahulu," pikirku.
Aku berjalan menuju kamarku, lalu mulai berdandan. Sebenarnya, ini sudah lewat dari jam dia biasanya pulang, tapi aku tetap berusaha berpikir positif. Selagi menorehkan make-up ke wajahku, aku juga mengira-ngira apa yang sekiranya terjadi hingga membuat suamiku pulang terlambat. Setengah jam lebih aku bersiap-siap di kamar, lalu bel rumah pun berbunyi.
Samar-samar kudengar suara teriakan suamiku, "ma ... Mama ... Pap sudah pulang."
"Iya, Pa, Mama segera datang," teriakku dari dalam kamar.
Aku beranjak dari tempat duduk, lalu segera berlari membukakan pintu untuk suamiku.
"Iya, nggak apa-apa," ucapnya, dia lalu memelukku, kemudian mencium keningku. "Maaf, ya, Papa telat pulangnya."
"Iya, aku paham kalau kamu itu sibuk. Lagipula, kamu kerja juga demi aku," ucapku, "ayo sana, ganti baju kamu, lalu kita makan malam."
Suamiku lalu menuju kamar kami, kemudian mengganti pakaiannya. Aku segera pergi ke dapur untuk mempersiapkan makan malam kami. Setelah itu, aku kembali ke kamar untuk memanggil suamiku. Aku sangat terkejut ketika mengetahui suamiku tidak ada di kamar, lalu aku juga mengecek ke kamar mandi dan suamiku juga tidak ada di sana. Aneh sekali, ke mana dia pergi?
Setelah itu, aku keluar dari kamar mandi dan mencoba mengecek ruang lain. Namun, tiba-tiba suamiku telah berdiri di depan lemari seraya mengganti pakaiannya. Aku sungguh terkejut dengan hal ini, aku langsung mendekati suamiku.
"Loh! Pa, kamu dari mana?" tanyaku.
__ADS_1
"Eh ... A-aku, da-dari," dia sedikit memalingkan pandangannya, "kamu lagi apa di sini?"
"Aku cari kamu, loh, dari tadi," ucapku.
"Sudah, sudah. Yuk! Kita makan malam," ajaknya.
Lalu, kami menuju dapur untuk makan malam. Kejadian tadi masih membekas di pikiranku. Terlebih lagi, suamiku juga mengalihkan pembicaraan tadi. Aku menjadi cukup pemasaran, tapi aku tidak tahu harus berbuat apa. Keesokan harinya, ketika aku sedang menyapu di kamar kami, aku menemukan lantai yang dibawahnya seperti tidak ada apa-apa. Ketika aku mengetuk-ngetuknya, lantai tersebut mengeluarkan bunyi seperti ada ruang di bawahnya. Aku mencoba melepas lantai itu. Bagian lantai itu ternyata sangat mudah untuk di lepas. Aku melihat ada tangga menuju ke bawah. Apakah ini sebuah basement? Jika iya, mengapa aku tidak pernah diberi tahu? Aku lalu turun ke sana dan alangkah terkejutnya aku, ruangan ini penuh dengan foto mantan suamiku beserta puisi cinta untuknya. Marahdan sedih bercampur kurasakan sekarang ini. Tiba-tiba, bel rumah berbunyi. Aku segera menutup lantai itu lagi, lalu bergegas membukakan pintu.
"Mama, Papa pulang," ucap suamiku.
"Eh, Papa, tumben pulangnya secepat ini," ucapku terkejut, "sana ganti baju, aku siapin makanan dulu."
Suamiku langsung menuju kamar untuk berganti baju. Pelan-pelan, aku mengikuti suamiku dan kulihat dia diam-diam masuk ruangan bawah tanah yang kulihat tadi. Ternyata, cinta mati suamiku itu adalah mantannya. Aku ini hanya pelaruan saja olehnya. Aku pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan. Air mata membasahi pipiku seraya aku menyiapkan makanan untuk suamiku.
Tiba-tiba, sebuah suara muncuk dari belakangku, "hey! maaf, ya, kalau lama,"
Itu suamiku. Dadaku terasa sangat sesak. Suamiku berjalan mendekatiku. Kuambil pisau yang ada di dekatku. Setelah suamiku sangat dekat denganmu, kutusuk perutnya itu. Suamiku terduduk akibat tusukan tadi, sia mencoba menutupi luka di perutnya dengan tangannya.
"Apa yang kau lakukan?" ucap suamiku.
"Kau sangat mencintai mantanmu itu, kan? Kau juga sampai membuat ruangan khusus di bawah kamar kita, tempat untuk kenanganmu dengannya. Kalau begitu, susul saja dia," ucapku.
__ADS_1