Military Sweet Love

Military Sweet Love
Sebuah Kecurigaan Di Kantor Republik


__ADS_3

Jenderal muda Duu Arven menjadi komandan upacara hari ini. Semua pasukan memberikan penghormatan pada bendera, penuh dengan penghayatan. Mempertahankan kemerdekaan tidak semudah saat meraihnya. Ayesa menghayati pelaksanaan itu juga, sampai berlinang air mata.


Beberapa jam kemudian, mereka memasuki kantor. Ayesa memukul-mukul betisnya, terasa pegal sekali. Upacara kantor militer lebih disiplin, tidak seperti dia sekolah dulu. Masih ada siswa yang tertawa-tawa, saat pengibaran bendera dilaksanakan.


"Kenapa pacar? Capek iya?" Qairen mengedipkan mata, muncul tiba-tiba saja.


"Jangan panggil aku sebagai pacarmu." Menjawab dengan cuek.


Qairen memegangi perutnya. "Kamu masak saja di dapur, aku belum sarapan pagi."


Ayesa melawan, merasa diperlakukan pembantu militer. "Aku tidak mau, bawa saja seorang Bibi untuk memasak."


"Cepat, aku tunggu di sini. Dapur militer tidak jauh, sangat dekat dengan kantor. Bisa turun lewat tangga pintu belakang." Qairen memberitahu Ayesa, seolah dia masih karyawati baru yang tidak tahu apa-apa.


"Aku tidak bisa memasak, aku adalah nona manja." Ayesa beralasan.


"Jangan seperti ini nona, anggap saja mengurangi hutang budi."


"Baiklah komandan Qairen." Ayesa akhirnya menurut saja, melihat mata Qairen melotot.


Duckin memasuki ruangan komandan tentara, karena ada musibah yang telah terjadi. Kabar ini pasti sangat menyedihkan, untuk semua penghuni asrama militer. Ayesa bertemu Duckin di depan pintu, namun memilih berlalu saja.


"Lapor komandan Qairen, lahan pertanian kita terbakar. Ini semua disebabkan oleh rokok yang mengenai ramput ilalang, dan ranting-ranting kering. Saat api dipadamkan, hanya bisa menyelamatkan beberapa meter saja." ujar Duckin.

__ADS_1


"Segera cari siapa yang membuang rokok sembarangan." titah Qairen.


"Siap laksanakan titah komandan Qairen." Badan berputar balik, langsung pergi.


Qairen selalu mencurigai Duu Goval, karena satu-satunya orang yang memusuhi Qairen adalah dia dan pasukannya. "Apa mereka berbuat ulah, untuk balas dendam?"


Ayesa mengomel lalu memasukkan banyak kulit bawang, juga dikasih saos dan kecap. Jelas-jelas masak sayur terong dan kacang buncis, namun diolah seperti memasak mie kuah. Ayesa sampai ke ruangan menahan tawa, lalu meletakkan makanan di meja.


Qairen tersenyum tenang, melihat kulit bawang. "Ini apaan si? Aku rasa tidak berniat kerja asisten baruku."


Ayesa tersenyum semanis gula "Aku akui tidak bisa masak, namun seperti inilah hasil dari pemaksaan."


Qairen mendekat ke arah dagunya, berbicara sangat dekat "Aku tidak percaya."


Sementara di sisi lain, tepatnya istana panglima perang negara barat. Darkwin memberikan berita, yang akan membuat telinga Lungdon berbunga.


"Tuan besar, aku sudah menyuruh mata-mata membakar lahan pertanian milik pasukan komandan Qairen." Darkwin ajudan setia memberi laporan.


"Ajudan Darkwin, kali ini kerjamu sangat bagus. Aku ingin memberikan hadiah, sebotol bir tidak cukup bukan?" Lungdon memastikan, dengan tatapan berbinar.


"Hahah... tuan besar tahu saja, aku ingin mengonsumsi minuman keras satu lusin." Darkwin tertawa bangga, penuh kemenangan.


"Komandan Qairen itu berani melawan kita, padahal jabatannya dalam negeri masih rendah."

__ADS_1


"Benar tuan besar, membuat kita gagal menjajah negara Glowing." Darkwin kesal.


"Tenang, kemenangan ada di pihak kita. Rakyat mereka besok bisa tunduk pada kita, karena presiden Zicko sudah sakit-sakitan." Tersenyum jahat.


Ayesa melihat ponselnya, yang masih menunjukkan pukul 17.00. Harusnya masih ada beberapa jam di kantor, namun semua tugasnya sudah disiapkan. Dia bersantai saja, sambil melihat foto ibunya. Qairen masuk ke ruangan asisten, lalu menatap sekeliling dengan tidak biasa.


"Kok ruangan ini sangat kotor, apa putri tunggal presiden tidak bisa beres-beres." Bergumam, namun kedengaran orangnya.


"Komandan tidak punya pekerjaan lain iya, hingga ada waktu untuk berkomentar?" Ayesa melihatnya dengan kesal.


Qairen tersenyum menyebalkan. "Asisten Ay, aku selalu ada waktu untukmu. Menemani nona kemanapun juga mau, aku rasa nona perempuan beruntung. Banyak gadis di luar sana berusaha mencari perhatian, namun tidak berhasil mendapat lirikanku sama sekali." jelasnya, dengan percaya diri.


"Komandan cuma pamer karena banyak yang naksir, sungguh kekanak-kanakan. Jika menemaniku selalu bersedia, maka ikutlah mati denganku ke jurang." Ayesa cemberut, diganggu Qairen terus menerus.


"Boleh asisten Ay, tapi tidak bisa sekarang. Nyawaku sangat berharga, untuk membantu banyak orang."


"Tidak punya pendirian, omong kosong belaka." jawab Ayesa, berhasil merendahkan diri Qairen.


"Memangnya hidup nona tidak berharga, hingga mengajak mati bersama? Bukankah masih harus mengalahkan Bibi dan Adik sepupu? Ayah juga butuh dukungan nona, makanya Tuhan membiarkan asisten Ay hidup hingga sekarang." Qairen menggenggam kedua sisi meja, lalu melihat wajah Ayesa dari dekat.


Ayesa memundurkan sedikit wajahnya, merasa deg-degan. "Komandan terlalu jauh memasuki kehidupan diriku. Melihat dari seluruh aspek, kita bukanlah apa-apa. Kecuali satu, terikat hutang budi."


"Bukan hanya itu nona, sebenarnya kita rekan kerja yang akur." ujar Qairen.

__ADS_1


"Kenyataannya, tidak seperti ucapan komandan yang manis." Ayesa beranjak dari duduknya, malas dipandang Qairen dari dekat.


__ADS_2